Agu 282016
 

Selama beberapa tahun terakhir, China tampaknya telah membangun sejumlah besar instalasi radar di kepulauan Laut China Selatan. Fasilitas ini, berpotensi digunakan untuk berbagai tujuan, karena secara drastis meningkatkan kesadaran real-time dan kemampuan intelijen China atas sebagian besar wilayah.

Lebih jauh lagi, instalasi radar tampak kurang mengancam, dibandingkan misalnya sistem rudal permukaan-ke-udara atau pangkalan udara, namun sebenarnya memberikan keunggulan yang signifikan atas kekuatan lain yang beroperasi di Laut China Selatan, menurut sebuah artikel yang diposting di situs blog asal Australia.

Jaringan radar ini berkembang pesat, ditambah dengan pertumbuhan jaringan satelit militer dan intelijen Beijing (banyak fasilitas radar tersebut juga sedang dilengkapi dengan uplinks satelit) akan memungkinkan China untuk lebih melacak aset militer asing di wilayah tersebut.

“Yang semua ini memungkinkan kemampuan arsenal rudal balistik China menjadi lebih canggih dan dapat diandalkan melumpuhkan target di cakrawala, memperluas ancaman yang lebih kredibel dari zona identifikasi A2/AD (Anti-Access/Area Denial) yang mencakup semua target bergerak – termasuk kapal induk”, seperti disebutkan artikel itu.

Selanjutnya, fasilitas ini juga memungkinkan China untuk melakukan jamming dan mengganggu radar serta sensor elektronik musuh.

AS, bagaimanapun bersemangat untuk menerima tantangan itu dan meningkatkan kemampuan perang elektronik di kawasan Laut China Selatan juga. Misalnya, pada bulan Juni Washington mengerahkan empat EA-18G Growler pesawat serang elektronik Angkatan Laut AS ke Filipina untuk “misi pelatihan bilateral” – jenis pesawat yang mampu melakukan jamming radar seperti yang digunakan oleh Beijing di Laut China Selatan.

“Spektrum elektronik, sebagian besar luput dari pandangan mata publik, menjadi daerah yang berkembang aksi/reaksi yang dinamis antara China dan Amerika Serikat di Laut China Selatan. Kontes ini, jika tumbuh dan terus berlanjut, hanya akan menambah ketegangan dan risiko eskalasi di Laut China Selatan”, menurut penulis.

Sumber: Sputnik News

Bagikan: