Dances with Vipers

Bell USMC AH-1 Viper. (@ Gerry Metzler via commons.wikimedia)

Jakartagreater.com  –  14-11-2019- Rencana penguatan Alutsista TNI AU dengan F-16 blok 72 Viper telah menemui titik terang dengan telah diumumkannya oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna tentang pengadaan 32 unit yang diperkirakan akan mulai berdatangan mulai tahun 2020.

Proses pengadaan Alutsista selalu melalui proses diplomasi, negosiasi serta anggaran yang cukup rumit. Ibarat membeli barang di Mall, proses pembelian dimulai dari ketertarikan pada display, mock up hingga barang nyata yang dipertontonkan saat adanya expo.

Sebelum ditandatangani perjanjian kontrak hingga dimulainya produksi, seringkali dilakukan kunjungan pejabat Militer maupun non militer ke negara pembuatan Alutsista dimaksud. Mengingat keterbatasan anggaran yang tersedia maka pengadaan cenderung memperhatikan siklus hidup produk, efisensi dan efektifitas anggaran.

Selain pola pembiayaan dari anggaran negara terdapat pula skim pembiayaan melalui barter dengan barang hasil natura seperti yang saat ini masih berlangsung dan nampaknya akan diteruskan untuk pengadaan Alutsista dari Rusia.

Seandainya skim pembiayaan barter ini berlaku untuk produsen dari negara NATO maka kemungkinan penguatan Alutsista Indonesia akan semakin cepat dan memberikan efek keseimbangan neraca perdagangan antara negara pembeli dan penjual. Salah satu Hot Spot yang patut diwaspadai Indonesia adalah masalah sengketa laut China Selatan.

Bell AH-1 Viper. ( @ US Navy)

Penguatan pangkalan militer di Natuna harus memperhitungkan faktor jangkauan dari pengerahan Alutsista yang ada. Untuk patroli dan pertahanan pangkalan TNI AL sebaiknya mulai mempertimbangkan untuk pembentukan Skadron Heli Serang dan pembelian heli Bell AH 1Z Viper. Pilihan ini didasari pada harga yang lebih murah dari AH 64 Apache.

Harga baru heli Boeing AH 64 Apache bisa berkisar di harga 61Juta US$ sementara heli Bell AH 1Z Viper berkisar di harga 31Juta US$. Spesifikasi teknis yang perlu dipertimbangkan yakni AH 64 Apache memiliki kecepatan maksimum 300km/jam, kecepatan jelajah 275km/jam dan jarak tempuh 476km, sementara heli AH 1Z Viper memiliki kecepatan maksimum 411 km/jam, kecepatan jelajah 296 km/jam, jarak tempuh 685 km.

Maka tidak heranlah US Marine saja lebih memilih menggunakan AH 1Z karena faktor jarak tempuh yang lebih jauh dan akan lebih jauh lagi apabila diterbangkan dari kapal frigate/destroyer.

Mengingat Pangkalan militer Natuna terletak di tengah lautan maka pilihan Alutsista yang memiliki jangkauan operasi udara yang cukup jauh setidaknya meliputi kombinasi AH 1Z Viper dan F16 Viper karena telah memliki conformal fuel tank yang dapat menambah jarak tempuh penerbangan.

Penulis: Ayoeng Von Karawang

5 pemikiran pada “Dances with Vipers”

  1. Pertimbangan bukan dr sisi murah saja.bung. UU No. 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan mengatur bahwa pembelian alutsista harus berperan meningkatkan peran industri dalam negeri.

    Dengan Boeing perusahaan yg memproduks heli AH-64 Apache, sdh ada kedepakatan kerjasama dng PT. DI terkait industri penerbangan sipil maupun militer. Artinya kerjasama menyangkut pesawat fixed wing maupun rotary.
    Sementara PT. DI dng Bell hanya pd rotary saja sampai saat ini. Itu yg harus dipikirkan. Artinya kedepannya PT.DI bakal bisa bekerjasama utk pemasok suku cadang pesawat keluaran Boeing, setelah berakhirnya kerjasama dng Airbus. Feedback itu yg ditangkap pemerintah dan PT.DI.
    Adapun masalah bobot ringan dan berat sptnya bukan menjadi syarat utama pembanding. Toh Apache memang difokuskan utk TNI AD didarat. Bukan utk melengkapi fregate maupun corvette TNI AL yg hanya bisa didarati heli ringan dan utk fungsi ASW.
    Beda lg jika nanti TNI AL sdh menginginkan LHD.
    Jng membandingkan hanya dr.segi kecepatan saja bung. Krn ini bukan balaspan. Tp jg fungsi tempurnya. Apa AH 1Z Viper sdh memiliki kelengkapan misi tempur spt yg dimiliki Apache.? Itu pertanyaannya. Krn dominan utk misi tempur bukan misi adu kecepatan.

  2. Heli serang viver sendiri pasti cukup berguna bagi marinir indonesia utk melindungi pasukan dan tank amfibi dr udara misalnya utk menghancurkan MBT dan ancaman lain yg ada diudara mengingat heli yg dimiliki AL saat ini lebih fokus utk angkut personil dan ASW.heli serang AH 1Z Viver sendiri dipersenjatai dgn rudal anti tank agm 114 hellfire dan rudal udara keudara aim 9 sidewinder

  3. Viper di pakai oleh marinir AS karena mereka masih punya pangkalan kapal induk. AD sudah punya macam heli tempur, kalaupun AL punya, ya belum perlu perlu amat. Cukup mengandalkan pesawat patroli CN saja sdh cukup. Penting sekali adalah AL wajib punya jetpur sendiri, paling tidak sekelas F18 atau MIG 29, dobel tangki.

  4. Us marine lebih memilih heli serang AH 1Z VIPER ketimbang Apache pasti bukan punya perbandingan hitung2an misi tempurnya’ contoh lainnya saat us marine lebih memilih f15x ketimbang f35 yg memiliki teknologi canggih KATANYA,,,,masalah kerjasama dengan boeing udah pasti jalan, helikopter serang AD kan jg mau ditambah jd kemungkinan apche tetep dibeli’ kita gk bisa memaksakan pilihan AL harus sama dengan AD, mereka punya medan pertempuran yg berbeda jd mereka lebih tau apa yg mereka butuhkan.

Tinggalkan komentar