Jun 062018
 

Jet tempur siluman F-35 AS lepas landas pada 28 Juli 2015 © USAF via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Departemen Pertahanan AS telah setuju dengan laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah (GAO) bahwa mereka harus menyelesaikan defisiensi kritis pada jet tempur F-35 sebelum meminta dana untuk membayar produksi tingkat penuh pesawat tersebut.

Seperti dilansir dari laman Flight Global, menunggu resolusi atas defisiensi kritis pada F-35 Lightning II dapat menunda produksi massal tingkat penuh yang direncanakan oleh Pentagon akan dimulai pada tahun 2021.

Pentagon sebelumnya telah berencana untuk menunda penyelesaian sejumlah masalah atau defisiensi penting yang telah ditemukan saat pengujian hingga keputusan produksi tingkat penuh diambil pada bulan Oktober 2019, menurut laporan GAO yang dirilis 5 Juni. Namun, laporan tersebut menyebutkan adanya kekhawatiran bahwa memperbaiki defisiensi setelah memulai produksi tingkat penuh dapat menciptakan biaya tambahan bagi pemerintah.

Pada bulan Januari 2018, dilaporkan bahwa program jet tempur F-35 mengungkap ada 966 masalah, dimana 111 masalah berada pada kategori satu yang bisa membahayakan keselamatan, keamanan atau persyaratan penting lainnya dan sebanyak 855 masalah berada pada kategori dua, yang dapat menghambat atau membatasi keberhasilan misi, menurut GAO.

Dari total 966 defisiensi tersebut, setidaknya ada 25 masalah kategori satu dan sekitar 165 masalah kategori dua yang tidak akan dapat diselesaikan sebelum produksi tingkat penuh yang telah direncanakan.

Masalah kategori satu yang direncanakan oleh Kantor Program Bersama (JPO) akan di pecahkan setelah produksi tingkat penuh termasuk kendaraan udara, avionik, senjata, perangkat lunak dan sistem propulsi.

JPO sekarang berencana untuk menyelesaikan semua defisiensi kritis pada jet tempur F-35 itu sebelum memasuki tes dan evaluasi operasional awal, yang diantisipasi untuk dilaksanakan pada musim gugur tahun 2018, menurut GAO.

  13 Responses to “Defisiensi Kritis Bisa Tunda Produksi Tingkat Penuh F-35”

  1.  

    maju kena mundur gak mungkin. lockheednya nyantai, pentagon y pusing. tapi emang standar sana soal kualitas sangat tinggi. kalo di tempat lain mungkin sudah masuk jalur produksi itu.alasannya sambil jalan.

  2.  

    sejauh ini hanya f35i israel yang mungkin plg canggih

  3.  

    Ternyata msh canggih peralatan indutri film hollywood

  4.  

    Wah… lha kok banyak banget… 966 masalah… & 111 masalah masuk kategori membahayakan… trs kapan rampungnya kalo bgt…

  5.  

    Tunggu konfirmasi sales dadakannya aja, apa aja tar pembelaannya!he3

  6.  

    F-35 Sbg Workhouse
    setelah Renstra IV Selesai, Pada
    Tahun Itu Kebutuhan MRO, Logistik,
    Perawatan & Perbaikan Sdh
    Tersedia Bg F-35, Sdngkan PT DI
    bisa ambil bagian dg Offset 35/40%
    Plus Pelatihan Pilot & Karyawanx
    Shg Biaya Operasional tdk terlalu
    Tinggi Karena Melibatkan PT DI,
    Dan Jgn Lupa F-16 V Pd Tahun Itu
    Tdk di Produksi Lg, Apa Bisa
    Indonesia Memesan F-35, Yg Jelas
    Bisa Lewat Program Foreign Military
    Sales (FMS)
    Ketik Hastag #F35forIndonesia

  7.  

    Akhirnya ada yg jujur juga, emang dari awal ini adalah pesawat riset, jadi kemungkinan tidak maksimal sudah terbaca, itu cukup pakai analisa businessman aja, beda banget kalau analisa dari chipeng malo*n, jadi ngawur deh

    😎

  8.  

    Begitu banyak masalah yg ada sampai 966 masalah, jadi bagus mana f35 dgn viper? yg cocok untuk Indonesia yg mana? Atau semua nya emang gak cocok dgn kondisi geografis Kita?