Mei 122019
 

Sistem peluncur rudal anti pesawat POPRAD (foto : Inspectorat Usbrojenia)

Delegasi Kementerian Pertahanan Indonesia mengunjungi perusahaan PIT-RADWAR. Tentara Indonesia adalah pengguna produk-produk buatan perusahaan Polandia, khususnya sistem anti-pesawat Kobra.

Pada 9 Mei, Kantor Pusat PIT-RADWAR dikunjungi oleh perwakilan dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Delegasi tersebut didampingi oleh Atase Pertahanan Indonesia di Warsawa dan perwakilan dari Departemen Kebijakan Persenjataan Pertahanan dari Departemen Pertahanan Polandia dan Polska Grupa – Zbrojeniowa SA.

Delegasi Kementerian Pertahanan Indonesia yang kunjungi pabrik PIT RADWAR Polandia (foto : PIT RADWAR.Com)

Para tamu dari delegasi Indonesia disajikan berbagai peralatan persenjataan utama dan proyek pengembangan perusahaan persenjataan Polandia itu.

Di antara perangkat yang dipamerkan kepada para tamu dari Indonesia adalah sistem persenjataan, termasuk sistem peluncur rudal anti-pesawat POPRAD dan meriam anti pesawat kaliber 35 mm A / AG-35 dan peralatan radar pasif PET / PCL.

Produk PIT-RADWAR sudah menjadi bagian dari persenjataan militer indonesia yang menggunakan sistem mobile rudal anti-pesawat Kobra, sistem radar Mobile Multibeam Search Radar (MMSR) dan meriam laras ganda anti pesawat ZUR-23-2KG, serta sistem command and controlnya.

Defence24

 Posted by on Mei 12, 2019

  32 Responses to “Delegasi Indonesia Saksikan Sistem Rudal Anti Pesawat POPRAD di Polandia”

  1.  

    Ini sistem anti pesawat kobra dari Polandia sejak kapan TNI ad pakainya?

  2.  

    Mudah mudahan bisa Terlearisasi dan yg Terpenting Indonesia bisa mendapat TOT apabila Rudal Cobra tersebutbisa dibeli Indonesia….Saat ini adalah saat yg paling baik bagi indonesia….Sekarang Indonesia mendapat kepercayaan menjadi Dewan Keamanan PBB….Tentunya Indonesia bisa mendapatkan Alutsista dg Teknologi yg Canggih dan Terkini…Siapkan Anggaran Se-Maximal mungkin…dan ajak untuk bekerjasama untuk memproduksinya agar indonesia secepatnya mendapatkan Teknologi Canggih Alutsista

  3.  

    Kobra = Grom ……??????
    ogah boss … kapokk
    mending beli strela model anyar

    •  

      Missile jelek ..
      Tidak tahan panas dan meledak sendiri sebelum kena sasaran ..
      Mungkin cocok nya iklim eropa ..
      Tidak cocok dengan temperatur Indonesia..
      Waktu itu dicoba berkali kali dan hasilnya jelek dan mengecewakan..

  4.  

    Peluncur rudal doang, meriam ciws 30 mm twin barrel nya ndak ada yak, tanggung dong yang beginian Pindad sendiri dah mulai bikin apakah pejabat kemenhan memang demen nya yang partial sendiri2 gak yang multipurpose manakala rudal gagal intersep sasaran multigatlingnya masih bisa rontokkan target dan bantu tembak sasaran darat, tapi baru kunjungi koq blm minat dan deal pesan.

  5.  

    ini SHORAD atau VSHORAD ?

  6.  

    Tambah lagi gado²nya boss

    Vshorad lagi boss XD

  7.  

    Kapan payung udara yang jangka menengah kita lengkapi?
    Seharusnya payung udara kita selain jarak pendek juga dilengkapi dengan jarak menengah.

  8.  

    Pas itu kalo dipasang di Badak, Anoa atau Harimau hitam.

  9.  

    Lama kelamaan saya perhatikan, TNI gemar sekali mengakusisi SHORAD dan VSHORAD. Puluhan ragam buatan berbagai negara. Tetapi tidak ada satupun yg jarak menengah. Apalagi yg jarak jauh.

  10.  

    Banyak negara yg terpincut dgn s400 bahkan turki aja sanggup di sangsi kalao beli s400 tp mereka Mash ngotot pengen beli s400, eh kita malah beli senjata yg egk jelas.

    •  

      Indonesia itu beli shorad selain buat pelindung pasukan juga biar bangun jaringan hanud layer terakhirnya. Kemarin dah beli Nasams buat layer kedua sekaligus buat pertahanan area. Nah tinggal layer pertama yg mau dicari. Kemungkinan besar Indonesia gak akan beli buatan Rusia atau China karena bakal menyulitkan logistiknya. Indonesia bakal beli buatan Barat biar kompatibel dg shorad dan Nasams.

      •  

        mending S-400 atau S-300 daripada pan-THAAD & patriot daganan ente… Wkwkwkkkk…..

        •  

          Ente gak pernah tau yg namanya Logistic Nightmare ya. Betapa repotnya ngurus spareparts dari berbagai sumber alutsista yg dibeli. Belum masalah komunikasi.

          Ente belum pernah tau gimana repotnya komando lapangan waktu latgab TNI ya. Mereka harusnya nyediain berbagai HT hanya buat komunikasi dg berbagai pespur yg ada. Soalnya tiap produsen pespur punya datalink yg berbeda. HT 1 buat Sukhoi, HT 2 buat Tucano, HT 3 buat F-16 dan Hawk. Belum kalo hanudnya pake buatan China. Masak mau perang harus bawa banyak HT?? Makanya mulai MEF 3 udah dirancang buat penyederhanaan alutsista biar lebih gampang ngurusin spareparts dan jangan komunikasinya.

  11.  

    Litbang TNI masih mencari mana sistem rudal yg akan dicangkokkan ke IFV 8×8 Pandur (Cobra) yg akan diproduksi Pindad kelak. Selain di pasang di Cobra jg akan dipasang ke Anoa batch selanjutnya.

  12.  

    Kalau TOT mantap

  13.  

    Beli S 3000

    •  

      Betul sekali bang beli L-300 kuat, bandel, muatan banyak, tidak boros maintenance, anti jamming, disukai emak-emak bisa muat sayur mayur banyak dari pasar pagi buat distribusi ke warung2…pake jooosssh lagian propelannya cukup solar biasa gak butuh-butuh amat PertaDex

  14.  

    Studi, belum tentu di beli….dari pada kendaraan tempur darat, mending studi armada tempur di laut sajah….plus upgrade beberapa KRI….