Mar 022016
 

Silang sengkarut mengenai batalnya pemesanan AW 101 rupanya belum surut juga semenjana dengan berita rencana pemesanan helikopter Chinook yang lagi-lagi diutarakan pejabat dari Boeing.  Tentu melihat rencana besar pelengkapan Kowilgabhan di rembang wilayah negara saat ini, doktrin serta pengejawantahannya memerlukan upaya nyata dalam pemenuhannya. Mencoba mengumpulkan berita-berita lama berguna untuk menunjukkan bagaimana kerangka pikir perumus tata kelola alutsista kita, khususnya pemutakhiran pemilikan helikopter TNI, ada beberapa hal yang saya asumsikan berlaku di sini.

Paparan mengenai Chinook :

Kutipan Dari Majalah Combat Aircraft Februari 2015

image001

“US Army akan menggunakan CH47 F sejumlah  440 unit sampai tahun 2018. Sudah 300 CH47 F unit yang didistribusikan dari 2006 sampai Februari 2015

“Transisi penggunaan dari CH47 D ke CH47 F cukup sulit untuk pilot pemula. Di mana pada CH47 D manual terbang dalam bentuk petunjuk masih banyak digunakan sedangkan pada CH47 F instrumen digital display di kokpit menggantikan banyak tombol dan saklar , sistem digital display kokpit ini disebut Common Avionics Architecture Systems (CAAS). CAAS terdiri dari 5 display yang dapat disusun untuk menunjukkan hal-hal berbeda termasuk display peta pergerakan. Sebelumnya pada CH47 D ini berupa pad di pangkuan yang mengganggu saat pad itu memanas.”

image003

Kokpit Chinook CH47 D

“Sejak dibuat dalam konsep pada tahun 1950 dan diproduksi pada tahun 1962 lebih dari 1200 unit Chinook dibangun  dari Boeing Philadelphia dan lini produksi ini masih sibuk sampai 2020. US Army ialah pengguna utama . Boeing sudah mendistribusikan 300 unit CH47 F dari 464 unit pesanan dari pengadaan 2 kontrak tahun berjangka, termasuk juga diantaranya bagi penjualan FMS.Juga kelanjutan pembangunan lewat lisensi Chinook Jepang oleh Kawasaki Heavy Industri dan  Italia lewat Agusta Westland.”

“Kedua dari Jepang, Inggris ialah pemakai setia Chinook mulai dari versi HC 1 pada tahun 1980 dengan armada yang akhirnya diperkembangkan serta pemutakhiran HC 2 standar yang merupakan identik dengan CH47 D. Chinook Inggris telah menerima beragam pemutakhiran serta peningkatan instrumen krusial sistem operasi.  Pada tahun 2008 RAF mengumumkan rencana pemutakhiran 38 standar HC 2 menjadi HC 4, 8 HC 3 menjadi HC 5 dan 14 CH47 F yang baru alias HC 6 yang keseluruhan dioperasikan 60 unit chinook pada tahun 2015.

Ekspor CH47 juga dibuat beragam negara, Australia,Kanada, Belanda, Turki, dan UEA. India setuju memesan 15 unit dan tambahan pembelian juga dilakukan Arab Saudi. Boeing merencanakan Chinook akan terus beroperasi hingga 2060 setidaknya dan belum merencanakan penggantinya.

Importer terbesar Chinnok ialah Jepang sebanyak 99 unit yang dipesan sejak 1984.  Darinya 94 unit dibuat secara lisensi oleh Kawasaki dari awal 2014.

Australia awalnya menggunakan 12 CH47 C lalu berjenjang meremanufaktur selanjutnya meremajakan standar ke CH47 D. Sekarang AD Australia  menukar  6 CH47 D ke 7 CH47 F.

Kanada setelah menggunakan 6 CH47 D dari surplus US Army di akhir 2008 kemudian membeli 15  CH47 F baru.

Mesir menggunakan CH47 C versi buatan Agusta Westland dan lewat kontrak FMS  pada tahun 1998 menambah 4 CH47 D langsung dari (surplus) US Army. Selanjutnya Boeing mendapat kontrak pemutakhiran 12 CH47 C ke standar CH47 D beserta tambahan baru 6 CH47 D.

Libya juga menggunakan 20 CH47 C sejak 1970 dari pabrikan Italia Elicotteri Meridionali(sekarang Agusta Westland) yang kemudian pada tahun 2003 dijual ke UEA.

UEA pada agustus 2008 membeli 4 CH47 F dan 6 lagi pada tahun 2013 yang rencana sebenarnya ialah 16 unit yang berarti akan ada pesanan  6 unit lagi CH47 F nantinya.

Maroko pada tahun 2009 mengajukan pembelian 3 CH47 D untuk melengkapi 12 CH47 C yang sudah ada. Bahkan pada tahun 2013 pengajuan rencana pembelian 3 CH47 D lagi dilakukan.

Korean selatan mengoperasikan 30 unit CH47 D.

Iran mengoperasikan 70 Chinook (mungkin versi C) sejak dari zaman Syah Iran.

Yunani menggunakan 9 CH47 C buatan Agusta yang kemudian ditingkatkan ke versi D. Selanjutnya pesanan 4 lagi dilakukan ke agusta pada tahun 1999.  Juga pemesanan ex-Us army 10 tipe D yang ditingkatkan lewat pemasangan pencurah Chaff dan pengecoh Flare.

Turki telah memesan 6 H47 F lewat program FMS serta mengakuisisi tipe C milik spanyol sejumlah  17 unit yang segera distandarkan ke tipe D.

Italia sebagai pemegang lisensi Agusta telah memiliki kemampuan pemutakhiran CH47 C ke tipe D dengan mesin baru Honeywell  T55-L-712E, bilah rotor komposit, sistem transmisi yang baru. Militer Italia sendiri memesan ICH47 F dari Agusta setelah mendapat lisensi nya dari Boeing pada Juli 2008.

Belanda  memiliki 7 CH 47 C dari Kanada yang kemudian merubahnya ke standar D. Penerimaan kedua sebanyak 6 unit. Sekarang pesanan sebanyak 11 unit tipe F dilakukan.”

Kutipan Dari Majalah Airforce Monthly Mei 2015

image005

Kokpit Chinook CH47 F

“ Menhan Philip Dunne menyatakan pemerintah Inggris  akan melanjutkan investasi memajukan armada helikopter Inggris sampai 2025 dengan anggaran sampai 11 billion poundsterling.  Dan telah dimulai pemutakhirannya sampai  4 tahun di tahun 2015 sudah diinvestasikan 6 billion poundsterling”

6 dari 14 Chinook CH47 F yang dipesan sejak 2011 sudah dikirimkan. Juga pemutakhiran HC4 (upgrade dari HC 2) HC 5(upgrade dari HC 3) termasuk program peningkatan mesin dan kokpit (lewat proyek Julius) suite defensive aid (proyek Baker) dan system komunikasi (proyek Benic). RAF akan mengoperasikan 60 Chinook yang terdiri 38 HC4, 8 HC5 dan 14 HC6.”

“19 dari 30 dari Merlin HM2 dari program update senilai 780 million poundsterling  diantaranya peningkatan kokpit, konsol awak kru dan avionic. Penggunaan layar sentuh dan peningkatan kemampuan deteksi menjejak target serta pembagian data saat terbang bersama kendaraan lain.”

“Belanda memesan 17 CH47 F senilai 1,05 billion dollar termasuk spare mesin 12 unit . Ini menggantikan 11 CH47 D.”

US Army memesan 32 unit CH47 F  senilai 3,4 billion dollar.”

image007

Chinook pendaratan air

Kutipan Dari Majalah Combat Aircraft Oktober 2015

“US Army telah mengirim 3 CH47 D lewat FMS senilai 78,9 million Dollar”.

Paparan mengenai Apache :

Kutipan Dari Majalah Combat Aircraft November 2014

“AH64 E (Echo) sebenarnya merupakan AH64 D block III yang mulai diperkenalkan sejak juli 2006 yang mulai dikirimkan sejak november 2011 . Pada oktober 2012 AH64 block III didesain ulang sebagai AH64 E. Total 634 AH64 D akan dirubah ke AH64 E selain sejumlah 56 baru yang menambahkan jumlah total 690 AH64 E. Seluruh pengiriman direncanakan selesai tahun fiskal 2027. Selain itu dari foreign military sale terdapat pesanan 30 dari Taiwan, 70 Saudi Arabia, 36 Korea Selatan, 8 Indonesia, diperkirakan 24 untuk Irak dan sejumlah agenda untuk India.”

image008

AW64 D Apache

Kutipan Dari Laman IHS Jane Maret 2015

“Upaya Inggris untuk  mempertahankan kemampuan armada Heli serang Apache mengalami penundaan setelah adanya lobby dari Agusta Westland. Disebabkan ketertinggalan teknologi atas 66 unit Apachenya Dephan Inggris akan segera menggantikannya dengan pembelian AH 64E baru langsung dari Boeing.

Menurut BBC, Boeing menawarkan penjualan AH 64E seharga 20 million Poundsterling per unit (lewat kemudahan paket beserta pengadaan US Army ). Jika Apache tipe E tersebut diproduksi secara lisensi Agusta Westland maka harganya akan berlipat menjadi 44 million Poundsterling per unit.

Saat untuk memutuskan menjadi semakin kritikal bagi Dephan Inggris, diantaranya sudah ketidak adaan Chip processor bagi Apache seri awal itu dan antrian produksi yang baru akan tersedia pada 2017, Dephan Inggris mengkhawatirkan jeda waktu dari keadaan ini menimbulkan kesenjangan operasional saat armada AH 1 dipensiunkan sedang AH 64E baru diperkenalkan. Oleh sebab itu keputusan baru akan diambil pada maret 2016 yang itu berarti penggantian baru mungkin akan terjadi pada tahun 2020.

Dephan Inggris sendiri dalam program kemampuan kelangsungan (CSP) merencanakan bahwa Helikopter serang mendatang  sejumlah 50 unit sebagai opsinya meski enggan untuk memastikan tentang telaahnya. AH 64E sendiri menjadi pilihan yang terfavorit , sedangkan tender Heli lain dikesampingkan.

Upaya lobby Agusta Westland sendiri dipandang sebagai cara untuk menahbiskannya dalam pengembangan program Apache Inggris di masa mendatang, juga patut dicatat, meski keterlibatannya dalam pengadaan AH 1 mempermahal harga per unitnya namun patut diakui bahwa produknya lebih superior daripada apa yang dimiliki AS dan pengguna lain.

Baik sebagai pembuat airframe Apache di pabrikan Yeovil, di selatan Inggris, Agusta juga bertanggung jawab dalam peningkatan mesin asli General Electric T700 ke Rolls Royce RTM 322 yang lebih tangguh, peningkatan kemampuan tangkal balas/counter measure lewat Helicopter Integrated Defensive Aids System (HIDAS), sistem komunikasi khusus Inggris, Penyesuaian persenjataan baru, Integrasi tanki anti peluru, selain juga marinisasi airframe didalamnya termasuk pemasangan peralatan tambahan dan juga fitur operasi perairan lainnya.

Mesin baru tersebut juga menunjang kemampuan pada kondisi panas-dingin di afganistan saat penggelarannya, pula mast-mounted radar masih terpasang di mana pada Apache AS radar tersebut dilepas karena berat dan pembebanan daya mesin. Sedang pada operasi di Libya Apache AH 1 dioperasikan dari dek HMS Ocean dengan sedikit penyesuaian dilakukan sebelumnya.

Hal lain mengapa Agusta Westland terlibat dalam pengadaan awal Apache ialah sertifikasi Airframe dari Inggris. Ini merupakan alasan penting untuk syarat pengadaan berkaca pada kasus masalah Rivet sambunga pada RAF RC 135W yang didatangkan dari AS.

Paparan mengenai Merlin :

Kutipan Dari Laman Army-Technology.com

image010

AW 101 ialah heli angkut kelas Merlin-Cormorant atau juga dikenal EH 101 dibuat oleh Agusta Westland (dahulu EH Industries) merupakan joint venture Agusta Italia dan perusahaan GKN Inggris (Westland) yang sekarang sepenuhnya dimiliki Finmeccanica Italia. Lebih dari 190 unit diproduksi.

Dari keseluruhan 22 AW 101 HC 3 yang telah dikirimkan ke RAF Inggris, awal mulai beroperasi ialah pada tahun 2001. Juga sejumlah 44 unit diserahkan ke Royal Navy Inggris. Agusta Westland dianugerahi kontrak 5 tahun pertama dari 25 tahun Integrated Merlin Operational Support (IMOS) pada tahun 2006 (berakhir pada 2031). Kontrak IMOS berikutnya senilai 570 million Poundsterling (903 million dollar) untuk periode 2011-2016. Italia sendiri memesan 20 AW 101 dengan opsi kelanjutan 4 unit lagi. 9 standar Merlin ASW, 1 unit menggunakan komunikasi L-3 HELRAS Active Dipping Sonar (sonar celup yang terkait ke helikopter),  4 unit dengan opsi tambahan 2 unit standar AEW, 4 unit standar heli utilitas dan,4 unit untuk standar misi pendukungan Amfibi ASH (amphibious support helicopters) telah dikirimkan antara juli 2000 sampai agustus 2009.

Pada Maret 2010 IAF India menanda tangani kontrak senilai 753 million dollar untuk sejumlah 12 unit Merlin.

Kanada memesan 15 AW 101 versi Merlin Cormorant untuk misi SAR yang mulai beroperasi tahun 2002. Denmark memesan 14 unit  untuk standar SAR dan pengiriman pasukan pada 2001 dengan penyerahan mulai tahun 2006.

Portugal memesan 12 unit standar SAR (search and rescue)  dan CSAR (combat SAR) di tahun 2002 dengan mulai penyerahan 2004 serta tuntas seluruhnya pada juli 2006.

image012

AW 101 Merlin/Cormorant

Kawasaki menyerahkan helikopter lisensi Merlin AW 101 Jepang pada Maret 2007. Pada tahun 2003 Jepang memesan 14 AW 101 untuk standar helikopter perlengkapan misi  penyapu ranjau serta standar angkut survei antartika.

Pada tahun Juli 2002 Agusta Westland menandatangani kespakatan dengan Lockheed Martin untuk pemasaran bersama juga produksi versi komersil di Amerika, US 101. Pada Februari 2005 helikopter ini dipilih sebagai US Marine One.

Helikopter Merlin/Cormorant versi AL dapat dipersenjatai 2 misil anti Kapal, atau 4 torpedo beserta depth Charge. Stub Wings juga dapat dirancang untuk menggotong pod roket.

AW 101 juga dilengkapi infrared jammer NEMESIS, direct infrared countermeasure (cegah tangkal), pendeteksi serangan rudal, pelepas chaff dan flare,pendeteksi laser dan sistem peringatan. Untuk angkut, Merlin dapat membawa 30 pasukan duduk (MI 17 35 orang) atau 45 orang berdiri (untuk ukuran tentara Eropa) juga dapat diisi 16 tandu, dan lewat pintu belakang ramp door dapat dimuati kargo 3 ton. Kait angkut dapat membawa beban hela 6 ton. Mesin Merlin dapat menggunakan 3 General Electric CT 7-6 atau 3 Rolls Royce RTM 322 (yang sama dengan AH 1 Apache Inggris). Mesin General Electric digunakan Italia dan AS sedangkan Rolls Royce oleh Inggris, Kanada, Jepang, Denmark dan Portugal. Jangkauan tempuh helikopter dapat diperjauh karena penggunaan Hover in Flight Refuelling (HIFR). Dapat juga melakukan buddy to buddy refueling antar helikopter Merlin.

 

Kutipan Dari Laman AinOnline Januari 2014

“Biaya yang direncanakan Dephan Inggris untuk perbaruan 25 AW 101 Merlin HC3 ke HC4 ialah  330 Million Poundsterling. Menhan Phillip Hammond menyatakan hal tersebut saat mengunjungi pabrik Agusta di Yeovil. Dia juga menyatakan bahwa pabrikan tersebut memperoleh kontrak lanjutan 5 tahun untuk integrasi sistem operasional pada armada Apache AH1 sebesar 430 million Poundsterling.

Kutipan Dari Majalah  Combat Aircraft  Januari 2014

“ Inggris telah memesan 62 AW 159 Wild Cat.RAF telah mengoperasikan 38 Chinook HC 2 dan 8 HC 3 yang akan diupgrade lewat proyek Julius. Jumlahnya kelak akan beroperasi 70 unit Chinook. Isu pembelian Chinook juga berhadapan dengan isu saratnya pesanan di Boeing philadelphia yang memunculkan spekulasi bahwa produksi lisensi dimungkinkan jika jumlah signifikan akan diproduksi di Inggris. Rencana penambahan Chinook telah menyisihkan rencana jangka panjang 3,5 billion pengadaan 120 angkut medium untuk menggantikan 120 heli baru menggantikan Super Puma HC 2 dan Sea King HC 4 pada 2020.  Penambahan armada Merlin berarti RAF Merlin HC 3 akan diserahkan ke Commando Helicopter Force untuk menggantikan Sea King HC 4 berdampingan operasinya dengan Merlin HM 1. Itu juga berarti Inggris akan menyederhanakan tipe helinya menjadi Chinook, Merlin, Wild Cat dan Apache.Jadi RAF hanya akan mengoperasikan Chinook.”

image014

Elbit D-NVG Helm

 “Upgrade keseluruhan Merlin HC 3 termasuk performa, tambahan proteksi. Juga termasuk upgrade helm Elbit Systems Display night Vision Googles (D-NVG). Helm ini memungkinkan pilot tidak perlu melihat kokpit karena NVG tube memproyeksikan tampilan digital pada gelas helm.  Pilot harus sudah terbiasa terbang dengan NVG kemudian mempelajari simbologi D-NVG.”

image016

Elbit D-NVG Helm

Kutipan Dari Laman Military-Factory.com

Angkatan Udara Indonesia telah memesan kuantitatif 12 unit air frame Merlin.

Rangkuman

Setelah mencermati beberapa petunjuk di atas maka ada asumsi yang dapat dibuat mungkin sumir tapi tidak dapat begitu saja dinafikan. Pemesanan sebuah alutsista selain membahas rincian produk, tenor pembayarannya, juga mengikuti agenda lini produksi. Dari hal ini dapat Kita tarik simpulan meski Boeing menyatakan penawaran untuk apache dan chinook bagi Indonesia, nyata bahwa lini produksi mereka membuat kita menunggu dengan waktu yang pasti akan menggeser prioritas MEF jika itu kita lakukan.

Tidak dapat ditutupi bahwa beberapa produk lisensi mampu memberikan pilihan yang berarti kalau tidak bisa dikatakan mengimbangi produk asli, selain menawarkan kesesuaian piranti serta kelengkapan pengguna, pengembangan dalam prosesnya memberikan peluang pihak pemesan mendapat keuntungan komersil lain.

Lesunya pasar tersegmentasi, serta persaingan teknologi yang ketat telah menyebabkan pergeseran teknologi mengikuti hukum pasar, kompromi merupakan jalan terbaik sembari tidak melepaskan kaidah manfaat dan keuntungan.

Oleh karena itu dapat ditarik simpulan, menurut saya, bahwa pesanan baik Apache mau pun Chinook Indonesia tidak akan dikerjakan oleh lini Boeing. Selain tenggat waktu lini produksi yang tidak bersesuai, ada pihak lain, yakni Finmeccanica, atau sebut Agusta Westland yang akan sanngup mengerjakannya. Agusta sudah terbukti mampu membuat AW 64 D atau AH-1 Apache yang mampu dioperasikan dari kapal tempur juga di daerah gurun dengan ambang batas kerja maksimal. Itu juga bersesuaian dengan rencana TNI yang akan menempatkan Apache di Natuna.  Daya tawar penundaan penggantian AW 64 D ke standar AH 64 E merupakan kejelasan bahwa pemerintah Inggris selain melindungi produksi salah satu pabrikan juga karena baiknya performa produk Apache Inggris yang hingga kini masih mampu mengoperasikan 66 unit miliknya. Selain itu opsi integrasi piranti atau persenjataan tetap terbuka selama Agusta turut terlibat di dalamnya.

Agusta juga mampu membuat dari jenjang air frame untuk CH47 D dari sebelumnya tipe C serta mampu berproduksi dalam jumlah maksimal di kurun waktu yang relatif. Agusta juga mampu menjalankan jenjang peningkatan kemampuan chinook dan itu telah dilaksanakan di inggris.

Akhirnya, seperti dilontarkan Military-Factory.com bahwa Indonesia juga memesan Merlin dari Agusta semakin jelas bahwa paket pengadaan keluarga heli Finmeccanica membawa persaingan baru setelah sebelumnya, Finmeccanica yang mengakuisisi Agusta Westland berusaha diakuisisi juga oleh Boeing!! Pengadaan Merlin yang disuarakan Kasau sebenarnya jika dicermati tidak pada semata kasus Presiden Satu Merlin VVIP, melainkan karena penggelaran dengan Merlin memberikan pilihan lain. Kenapa dikatakan pilihan lain? Karena fungsi-fungsi Puma yang sudah operasional 25 tahun lebih itu tidak dapat melakukan beberapa hal. Dahulu rencana pelengkapan super puma dengan torpedo berakhir dengan keraguan penurunan performa. Lain hal TNI AU memerlukan helikopter yang membawa lebih beban, dapat dioperasikan di medan ekstrem dan menjalankan misi pengangkutan unit organik yang essensial. Membawa beban 6 ton, mampu beroperasi di Antartika (di daerah Puncak Jaya Wijaya pasti juga bisa!) serta mampu menjalankan misi ASW,AEW,SAR,CSAR, Mine Swiper tentu berguna bukan saja bagi TNI AU, melainkan TNI AL. Apakah nanti mencakup Basarnas juga,atau agar tidak mencolok sebaiknya digunakan Bakamla saja yang tiba-tiba mendapat konsentrasi anggaran yang “wah”?. Proses yang akan menjawabnya. Hanya saja jelas bahwa pemesan Merlin benar-benar diperlukan TNI AU untuk mengkoordinasi daerah satelit atau sebut saja kepulauan disekitar Lanud dan Satrad. Nilai plusnya juga, jika pesanan Merlin dan Apache tersebut dari Agusta Westland, mesin dua helikopter itu dapat dipertukarkan. Sesuatu yang tidak akan terjadi bila itu lansiran produk Apache terhadap Chinook. Oh ya! Jepang yang hanya memesan 14 saja bisa dapat lisensi lho?..

Salam Tabik. Salam buat Bung Nuncaku semoga jadi bacaan menarik.

 

Oleh : Blaze

  66 Responses to “Di Dove Sei, Chinook ?”

  1. Bisa coment

  2. Borong semua, yg penting punya dulu

  3. Heli-heli ini battle proven statusnya, sudah tepat langkah pemerintah mengakuisisinya.
    Pertanyaan kita selanjutnya, lobby apakah yang membuat RI dapat memilikinya & berapa jumlah ‘sebenarnya’…?

    • Yang jelas ada program finmeccanica baru saja ini bung. Dan jangan lupa basarnas sudah pesan aw 139 bung. Mengenai rencanan akuisisi tipe heli, jajanan heli finmeccanica bisa banyak bung, mangusta, wild cat, aw 139, merlin, …

  4. Tanggal muda nihh pantesan paparan artikelnya lengkap n keren..

    Trus Indonesia kpn datangnya, masih lama kalo ngliat mayor dan minornya..

    • Itulah bung PKB nunggu deak apache 2017 itu masuh berdesakan dengan rencana guardian AS yang sampai 2027. Sedang chinook baru 2020 longgarnya. Itu belum lagi antrian sesuai indent pesanan. Wadaoooe, pusing pala barbie.
      Maka itu biar bukan generasi terbaru, bisa saja pemerintah mengambil rencana pesanan ke finmeccanica, yang terbukti pengerjaannya pada chinook dan apache cukup cepat, apalagi kalau pesanan chinook inggris itu dikabulkan lisensinya, tinggal sorong kita.
      Kita tak mau berandai-andai apakah sekali lagi ada deal terkait hadirnya bapak besar (ingat agenda Kemenhan inggris, dan waktu kunjungan beliau) di Inggris waktu itu, serta kepastian kita ikut gerbong pesanan Kemenhan Inggris. Yang jelas suara agusta cukup kencang di sini.
      Salam bung PKB

      • Kyknya yg sangat dibutuhkan dalam jangka 10 taon ke depan adlh chinook dan apache, mengingat dinamika militer dan politik kawasan yg begitu cepat dan sulit diduga. Apache sbg alat tempur sedangkan chinook bisa berfungsi jg utk misi bantuan kemanusiaan.

        Lebih cepat sangat lebih baik bagi Indonesia memiliki jenis jenis heli tsb. Sebab, kita blm mampu bikin sendiri scr mandiri. Biarpun jg nantinya ada bayang bayang embargo, tapi akan lebih berat lg resiko yg bakal tjd jika kita tdk didukung dgn heli modern dan penuh kapabilitas. Seandainya nanti di embargopun yg penting kita adh mendayagunakan semaksimal mungkin barang tsb utk menjaga keutuhan dan martabat bangsa. Yaah.. memang pilihan yg sulit.

        Semoga sj, seandainya ada deal besar baik yg resmi maupun yg tanpa pemberitaan semua itu segera bisa bergabung dgn TNI.

        Salam bung Blaze..

  5. Sudah dibayar Lunas 32 biji pakai expor tahu tempe kata Narayana Asli yang kagak tahu kemana rimbanya lagi tuh orang

  6. wew … panjang bingits …

  7. Hmm,… udah gak takut kena embargo lagi nie sepertinya,… atau mungkin udah punya langkah antisipasi kedepan kalo diembargo lagi sepertinya,…

  8. klw awam sperti saya mlihat sih cuma dari pisiknya, AH64D gotong radar, varian E sudah pakai helm buat oprasi malam laut. Jadi kalau pilih varian D, tetap saja kurang pas di hati. Walau sudah link, tetapi kekhususan unik heli ini, duh.. Tapi berhubung ada hibah okelah, asal diupgrade ke E boleh saja.

    • Bung Ino, sayangnya airframe chinook tipe F, tidak bisa melanjutkan dari tipe D. Maka dari itu, tidak mengapa jika TNI memesan tipe D ke Finmeccanica, tinggal nanti avionik disetarakan ke tipe F jika bisa. Kalau menunggu pesanan chinook ke boeing bisa garing kita bung! Italia saja masih pesan airframenya ke boeing untuk tipe F.
      salam tabik

  9. Antri2..oleh krn.itu..mengapa pemimpin negri ini ..menekankan mandiri..

  10. tibatiba bakamla dapet durian runtuh… nah ini berita yang negara lain pada ga suka..

    • Ya Bung Iman, mengapa bakamla bisa memesan “kapal induk” yang semacam LHD itu, berarti memang yang dikejar divisi angkut dulu baru tempur. Nanti bisa kebalik hibahnya, bakamla ke TNI AL bukan sebaliknya seperti sekarang.

  11. Artikel yg menarik utk ditelan pelan² … sangat masuk logika dg paparan terstruktur,
    hambatan utama msh urusan budget duit nya, perlu anggaran besar utk memenuhi keinginan tsb., perlu kesiapan PT DI utk menampung limpahan ToT nya … buat user utk operate & maintenance jg perlu pelatihan lg.
    walau byk tantangan … tapi hrs yakin bisa dilaksanakan, step by step lebih masuk akal … semoga

    • bung Den, bahkan beberapa tahun lalu kita hanya bisa bermimpi, sekarang kita menemukan bahkan rolls royce akan membuat perakitan mesin di sini.
      salam tabik.

  12. PT.DI trus mau d kmanakan klo helikopter puma n sejenisx lini produksix d hentikan klo jdi kerjasama jangka pnjang dgn agustawestland tuk mnjadikan helikopter merlin dkk d akusisi oleh militer indonesia bisa kcouw nih hbungan PT.DI sm airbus jikalau ntar PT.DI jdi ngerakit chopperx agustawestland….ya mau gak mau buat perusahaan lg sejenis PT.DI biar d genapin ilmux biar klo dah mmpu bisa mmbuat chopper made in indonesia…kita tggu kebijaksanaan petinggi negara ini situasi makrox complicated…pinter2 silahturami deh

  13. laris manis banget boieng….masi ingat pembelian boeing pesawat komersil yg ratusan dari maskapai Indonesia, sungguh kelewatan kalo boeing mempersulit TNI mengakusisi apache dan chinook..benar benar lobby yg sangat mahal buat mendapatkan perkutut dan kutilang dari paman sam.. oppssss…kebuka deh clue nya

    • Apakah kita akan menikmati pesanan penyertaan ,semodel rencana pemesanan guardian ke AS oleh Inggris? Harga per unitnya memang lebih murah cuma keputusannya baru maret ini (kalau tidak ada halangan lagi).
      Jika benar skenario besar yang terjadi, peta produksi heli di indonesia bisa berubah lagi bung.
      salam tabik.

  14. Bung Diego, terima kasih sudah diangkat jadi artikel. Semogo cuplikan dari majalah bekas bermanfaat.
    salam tabik Bung Diego.

  15. Kalau tidak bisa korupsi dgn AS. Jgn produknya dilecehkan. Contoh, kasus korupsi Rem f16 pakai jasa william. Jangan dibilang F16 ga berguna buat patroli. Buktinya patroli ujung sumatra pakai F16. Bukti lain, AS tidak keberatan bahkan dikasih KS canggih. Jadi mari saling nahan nafsu. Smua yg bagus kita petik hikmahnya.

    • Karena itu bung kita cukup hati-hati dengan boeing atas pesanan militer. Meski pun sekali lagi chinook (dan mungkin apache) tidak akan berada di bawah penerbad melainkan di bawah penerbad kostrad (semacam Combat SAR, atau special operation and rescue SOAR, cmiiw). Jumlah yang dipesan cukup signifikan. Sulit membayangkan kita akan membeli apache dalam sekian skuadron. Kita akan benar-benar meniru inggris di mana apache hanya mendampingi pengamanan heli misi, entah angkut entah aew.
      Begitu juga chinook, karena mencukupi 3 divisi kostrad, paling hanya mentok 24 unit itu sudah s banyak.
      Bagaimana penerbad? Ya, kembali ke laptop, kembali ke mi 17, yang pasti jumlahnya lebih banyak seperti india. Bahkan thailand sekarang berpaling ke tipe ini untuk kuda bebannya.
      Salam tabik bung llow

  16. Soal AW “VVIP RI-1” sebenarnya hanya krn blow up media saja yg tidak berimbang sehingga gagal tercapai kesepakatan..Padahal Kasau juga sudah memaparkan Fungsi dan Speks AW-101 tapi kemudian malah serasa dihakimi oleh berbagai media yg “maaf” kurang senang dengan embel2 VVIP makanya dibenturkan ke hal2 yg saya rasa malah tidak membahas hal2 teknis misal Harga yg lebih mahal, Tidak Cinta produk2 dalam negeri hingga isu mematikan Industri dirgantara Nasional, ya semoga saja akusisi Heli2 jenis lain nya tidak mengalami hambatan sehingga lini heli TNI segera terpenuhi minimal dari segi fungsinya terlebih dahulu

    • Paling sedih bung Ryan kalau dikatakan tidak cinta produk dalam negeri. Memang caracal dikerjakan dengan sebagian komponen buatan dalam negeri beserta tenaga ahlinya, namun patut dicermati juga rencana penawaran merlin.
      Ingat jepang saja yang memesan 14 bisa beroleh lisensi, padahal kabarnya kita memesan 12 unit. Apa iya, kita tidak jadi mengambil kemungkinan lisensi. Ini produk awal operasional 2001 lho!? Jadi teknologi trendi, kemampuan di medan ekstrim antartika juga oke, belum varian laut, angkut dan aew juga ada.
      Saya khawatir karena kue puma tersenggol seperti inggris, airbus cemas pasar asean juga redup. Berlebihan kalau karena indonesia memegang lisensi airbus lalu indonesia juga jadi miniatur produk airbus. Buat apa beli fennec coba? Toh kita punya mi 35. Kalau butuh scout/latih sudah ada colibri. Dipakai heli utilitas juga nanggung, mau beli litlle bird md 500 model sonora juga buat apa. Beli heli tigre kita juga nggak.
      Saya gak tau kalau rencana membeli heli mangusta misalnya dikawinkan dengan gandiwa bisa berlangsung atau tidak. Atau timbul kegaduhan lagi.?
      Salam tabik bung

  17. ada kmaren humas TNI yg kurang enak aja sebenarnya. Di media begitu njelek2kan PT.DI. Apa perlu rakyat bongkar2 kejelekan TNIAU? Ah lebih bagus saling memuji aja dah.

    • kita semua adalah keluarga bung, dari sabang sampe merauke..soo.apa kita tega bongkar aib keluarga kita sendiri….??? kita wajib terus bersatu, saling mengingatkan dan melindungi.

    • Itulah bung Seldom, maksud hati ingin memberikan penekanan betapa pentingnya pesanan merlin (bisa lisensi juga nantinya mungkin) yang keluar justru bahasa kepongahan.
      Atau memang petinggi TNI merasa terbelenggu dengan komitmen PT.DI seolah-olah hidup mati. Setelah c 27 spartan kemarin gagal, masa iya merlin gagal juga, padahal rencana awal 12 unit. Di Agusta westland sendiri sudah teriak-teriak ditelikung AS 565 dauphin. Berarti sudah jelas agusta ngotot mengeGOLkan produk selain Merlin bukan? karena selain sudah merasa pasti menang di Merlin, mengapa tidak menawarkan keluarganya?
      Harusnya TNI terbuka mengenai road map rotary wing kita, mana angkut ringan, medium, berat juga intai,serang,serbu, pandu elektronika,SAR,misi NAVAL jadi persaingannya jelas. PT DI juga mesti membuka diri, jangan karena jadi perpanjangan airbus lalu membiarkan dirinya jadi pelanduk. Eh, Airbus dan Agusta yang bersaing, PT.DI dan pemerintah yang kelihatannya lebih “berdarah-darah” konfliknya.
      Salam tabik bung.

  18. susah seklai ya bung kita datangin chinook, pdahal kita sangat butuh. tapi ane yakin kapan hari CH47 F pasti datang kemari untuk gabung dengn TNI AU.

    • Kalau ch 47 F bisa lama bung Wizz, justru kalau pesan tipe D kita bisa ke finmeccanica/agusta westland. Untuk pengadaan US Army, National Guard, belum yang tipe mh 47 bisa garing kita kena antrian bung. Jika benar memang demikian TNI memesan merlin, bisa jadi chinook dan apache kita pesan ke sana jua.

  19. wujudkan tni kuat, jgn cuma wacana..

  20. sudron asw punya ide. sudron vvip jg punya ide. Bermusyawarah di Sidang stakeholder. Bukan di tivi.

    • Skuadron Kavleri*
      ska100 pakai EC dopler.
      ska45 pakai AW
      ska airlifter pakai chinook.
      Kostrad : Apache+ Blackhawk.
      MiG
      yg kurang tau dimana posisinya?

      • Kalau blackhawk, mungkin kita kebagian dari versi pzl mielec s70i bung, persis miliki brunei yang sebagian dihibahkan ke sonora.
        Kalau merlin masuk, blackhawk akan tersingkir, persis waktu pengadaan inggris.
        Sisanya mengamini aja bung BHL

  21. mantep.. ini heli yg bisa ngangkut kopi segede gaban kaya di iklan kan?

  22. Mencerahkan sekali artikelnya @bung blaze

  23. berarti ada korelasinya bung Mega? Kita ingin heli apache dalam jumlah “BANYAK”,bisa dioperasikan diperairan, dan bisa dikirim dalam waktu dekat.
    Asumsi saya, pesanan guardian ke AS hanya gugur tanggung jawab saja. 8 cukuplah, itu pun harga 80 juta dollar per unit (cmiiw), bandingkan dari rencana penawaran AW ke inggris 44 juta poundsterling (anggap 60 juta dollar kali ya?). Tapi buat apa kita yakin guardian siap uji perairan jika kita ditawari WAH 64 D buatan AW yang selain tangguh di medan kering berdebu juga tangguh di medan basah bergaram.
    Selain itu versi yang sudah dimarinisasi apache lebih tahan wilayah berkorosi apa pada WAH 64 D, jadi klop bukan bung. Tidak pesan banyak di AS, tapi pesan di negara lain. Dan ingat bung mesin RTM 322 Rolls Royce itu yang selain berdaya besar, tahan cuaca juga bisa dipertukarkan dengan mesin Merlin.
    salam tabik bung Mega

  24. Perlu diperjelas lagi ini barang, ini heli chinook kan bukan heli chinaak. Ntar dikira heli buatan china lagi. Pusing….

  25. analisa yang bagus bung blaze. kadang kala orang kita mudah dipelintir oleh kepentingan tertentu tanpa mau melihat kemungkinan2 yang lebih baik di masa depan yang bisa kita peroleh dengan menggunakan produk lain. good job. pekerjaan team analis tni sejauh ini sangat bagus dan progresnya mulai transparan dan akuntabel.

    • Kalau ditarik konklusinya memang demikian Bung Alugoro.
      1. Kita berencana memesan chinook
      2.Memesan Apache
      3.Memesan Merlin
      4.Tetap pesanan Caracal
      5.AL ingin heli asw, aaw,asuw
      6.AU Ingin heli angkut medium
      7.Apache bisa beroperasi di natuna
      8.Kostrad butuh heli yang bisa angkut KH 179 meriam 155 mm
      9.AL perlu kapur mine sweeper
      10.Pesanan boeing apache di atas 2017
      11.Pesanan chinook di atas 2020
      12. Inggris pesan Guardian baru 50 unit
      13.Keputusan Inggris maret 2016.
      14.Finmeccanica pemegang lisensi CH47 D,Apache AH 64 D
      15.Jepang memesan 14 unit merlin dan lisensi

      Semoga asumsinya benar, karena kemungkinan besar kita mengincar ini bung Alugoro.
      Salam Tabik

  26. monggo bikin perusahan yang bisa bikin pesawat n heli lagi biar ad pilihan lain ato PT DI jadi 2 heeeeeee

    • Hlaaaas…ini bung Eka yang jadi masalahnya bukan? Finmeccanica akan gandeng siapa? Padahal dia dapat proyek hawk kita (cmiiw), terus inggris pasrah banget kita gak pesan pespur pengganti bae hawk itu (beda jelas saat penawaran lynx, sampai pangeran kerajaan datang sendiri).
      Apakah kali ini regio yang digandeng bung Eka Wastu.
      Menunggu Proses.

  27. Intinya semoga Pemvelian APACHE plus Chinhook plus MI 17, dll dapet TOT.
    dan nantinya pembuatan Spare Part, body, dll bisa di buat dsini…
    seperti Heli Caracal.

    • Kalau chinook, apache tetep ikut lini produksi inggris bung Urang. Kita bisa berharap pada Produk Merlin dan keluarganya, mangusta, wild cat misalnya.
      Untungnya produk agusta di asean banyak juga, jadi lisensi mungkin kita upayakan.
      Kita berharap proses berlangsung ke arah sana bung Urang.

  28. jangan lupa kertajati gosip nya mau bikin bengkel las mirip di bdg,..
    lebih gede lagi bandara nya.

  29. pemborosan anggaran nih pejabat wisata ke radar india dan ks. nuklir as.

  30. kalau memang sepenting itu,
    ASALKAN AW101 MAU JOIN SEPERTI DOLPIN,
    maka gk perlu pertimbangan lagi, itu wajib dan harus diambil.

    • Bung Ahli, apakah PT.DI mau menggandeng Finmeccanica? Karena mereka punya kesepakatan eksklusif dengan air bus. Cuma ini kesepakatan terbuka, karena kita tidak ada kesepakatan dengan korea atas heli sirion (cmiiw) atau dengan turki. Dengan bell, juga tidak atau pun sikorsky. Baik sikorsky mau pun pzl mielec juga belum ada kejelasan . Apakah nanti kita menghapus huey kita dan memakai black hawk ? Sulit dipastikan.
      Namun yang jelas dengan tidak sampai 10 tahun dari MEF II tahun 2024 terlalu lama memesan di boeing baik untuk apache dan chinook. Kita butuh apache dan chinook secepatnya. Belum lagi tipe heli misi lain bagi AL,AD dan AU saya kira perumus buku putih kita menelaah semua rencana.
      Salam bung Ahli

  31. ikut nyimak pembelian alussita chinnook,apache dan black hawk(kalo jd versi baru) lumayan biarpun dalam jumlah kecil,dalam penguatan unsur darat,tapi kurangnya arhanud bisa menjadi baik bergerak tidak bergerak akan menjadi sasaran empuk pespur,sistem arhanud lawan

    salam damai selalu sekalian absen met siang:)

    • Bung bukek, black hawk mungkin saja, tapi dengan siapa kita pesan pzl mielec polandia atau sikorsky. Jika kita menggunakan banyak versi bisakah kita mendapat kemudahan?
      Kalau mengacu kasus inggris saat tender tandingan Merlin vs blackhawk, blackhawk tersisih. Karena apa? Selain diproduksi bersama, versi naval, sar dan aewnya berkualitas. Jepang bahkan bisa mendapat lisensi hanya dengan memesan 14 unit, mengapa kita tidak.
      Out Of topic ya bung. AU butuh heli multi fungsi. Ingat konsentrasi lubang kita ke timur lho bung. Ingat satrad saumlaki dekat timor leste itu? Ingat juga pemerintah sedang fokus pengelolaan blok gas masela yang tidak jauh dari sana. Menurut Anda siapa yang mengawai ALKI III di sana? AU plus AL paten di sana.
      Karena itu bung Bukek saya sangsi blackhawk dipilih jika kita bisa melisensi merlin, bukan hanya 11-12 tapi lebihnya buaanyaak.
      Mengenai arhanud kita lihat apa yang ditawarkan di saumlaki.
      Salam bung

 Leave a Reply