Jun 122017
 

Sukhoi Su-35S. (© Flickr/ Pavel Vanka)


Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Yuri Borisov, mengatakan bahwa pihaknya akan memodernisasi jet tempur Su-35S, dengan mempertimbangkan kinerja mereka dalam operasi yang sedang berlangsung di Suriah.

Pakar penerbangan Viktor Pryadka mengatakan kepada Sputnik, apa yang masih harus dilakukan untuk membuat Su-35S “sempurna untuk ekspor.”

“Kami bahkan mungkin terus melakukan uji coba sampai kami yakin bahwa semua kerusakan telah diperbaiki,” kata Borisov saat berkunjung ke Pabrik Penerbangan Gagarin di Komsomolsk-on-Amur.

Dia mengatakan bahwa selama tahap awal penggunaannya di Suriah, pesawat tersebut biasanya menyedot kerikil kecil dan puing-puing kecil dari landasan pacu saat lepas landas, dan juga memiliki masalah dengan lampu sorot dan layar komputer, yang semuanya telah ditangani dan diperbaiki.

“Pilot kami yang ditempatkan di Suriah mengatakan bahwa ini adalah salah satu jet terbaik di dunia saat ini dalam hal efisiensi penerbangan dan teknis, serta juga ketika sampai ke lokasi tembak senjata onboardnya,” ujar Borisov.

Su-35S merupakan versi modifikasi dari pesawat tempur Su-35 dan merupakan pesawat tempur generasi 4 ++.

Dalam sebuah wawancara dengan Sputnik, Direktur Umum Aliansi Teknologi Penerbangan (Avintel) Viktor Pryadka, menunjuk pada sistem senjata onboard pesawat sebagai alasan yang mungkin untuk upgrade yang direncanakan.

“Sejak dimulainya produksi skala massal, sistem Su-35S ‘telah mendekati kesempurnaan. Namun, dengan pengalaman penggunaan tempurnya (di Suriah), saya rasa mereka ingin membawa sistem onboard fire control, homing, dan target yang sesuai dengan kecepatan,” kata Pryadka.

Dia menambahkan bahwa Su-35S “sempurna untuk diekspor,” dengan syarat bahwa perhatian maksimal diberikan pada kualitas produksinya.

Viktor Pryadka mencatat bahwa senjata onboard pesawat lainnya bisa memerlukan tingkat penyetelan tertentu.

Sumber: Sputnik News

  39 Responses to “Digunakan di Suriah, Rusia Terus Sempurnakan Jet Tempur Su-35S”

  1. sahur….sahur….sahur :toast

  2. Wah… Jangan2 beneran su 35 di suriah ini yg buat dikirim ke indonesia… Nanti pas sampai banyak pasirnya dong wkkkk

  3. Rusia mmg membantu operasi di suriah untuk test alutsistanya agar bisa dipromosikan ….bantuan rusia sekitar 400juta dolar…tapi yg didapat dari promosi suriah sdh mencapai 2M …
    :cool

    • USA sama juga bung, kalau rusia punya visi misi yg lumayan bagus yaitu sekutunya Suriah & basmi hama wereng isis.
      Lah USA? Salah satu tujuaannya di Suriah adalah menjatuhkan presiden negara lain yg sah, itu sudah terbukti di Irak.
      Apa hasil Sekutu di Irak? Nothing.
      Malah akibatnya suram sekali, coba liat Alqeda, Isis, organisasi lainnya yg menjamur setelah Irak hancur itukan akibat hasil Sekutu, coba tarik benang merahnya inti dr niat teroris itu apa? Tujuan utamanya pasti bunuh setiap jengkal masyarakat Barat (Sekutu).
      Bahkan ada beberapa organisasi teroris yg tak rela dapat umpan nyawa dr warga negara sekutu ditukar dgn uang.

  4. Mungkin ini jawaban yg dicari2 forum GI sebelah..
    – Dia menambahkan bahwa Su-35S “sempurna untuk diekspor,” dengan syarat bahwa perhatian maksimal diberikan pada kualitas produksinya.

    Dalam perdebatan Downgrade/Tidak, karna selama ini mereka fans GI mgkin merasa pihak berwenang Rusia tdk prnh memastikan SU-35K Versi Ekspor itu sama dgn versi lokal,
    Menurut saya mungkin bedanya di source code yg lbh rumit dan di source codelah membedakan SU-35S dgn SU-35K karna setau saya Rusia sampai tunda2 ekspor ke China karna takut kena jiplak keduax kalinya

    • GI maksudnya gripen bung?… Ane pernah berkunjung ke blognya sales gripen, isinya kebanyakn memang segala isu kejelekan su35… Tapi yg bikin kesel itu sikap salesnya menyudutkan project pespur kita IFX… Artikel2nya seakan -akan nyumpahin ga berhasil :batabig

      Ckckck… Sy sebagai orang indonesia aja berharap itu proyek berjalan lancar kok.

      • Iya bung mksdnya blog sales itu :D
        Hahahaha saya juga baca itu isi blog dan komentarnya bung, maniak gripen semua padahal dasar buktinya gak ada alias “Mungkin, bisa aja, kemungkinan, sepertinya, dll” lah yg bukti kongkritnya belum jelas, coba logis aja deh gmna bisa itu sales gripen tuduh SU-35K downgrade sedangkan SU-35 baru sampai di China baru 4unit di bulan desember dan belum battle proven sama sekali, lalu drmn pula dia dapat data menuduh downgrade? Sedangkan militer china saja yg sudah mengoperasikan tdk mengeluh apa2, kan lucu itu sales gripen.
        ya mau gimana lg bung, kalau kita dukung su-35 disana lgsg dikutuk bung dblg sales,
        Huehehe
        Soal mengutuk IFX juga bukan main, ya kalau kritik wajarlah tapi kalau sampai mengutuk seperti di blog tsb saya angkat tangan ngakak :D :D :D :D

      • Setuju bung, saya kira Gripen indonesia blunder ketika mendoakan IFX batal, itu yg bikin tidak simpati dengan GI.
        Masalah persaingan dengan su35 silakan banting-bantingan, tapi masalah nasionalisme dan semangat mandiri lain cerita.
        Ibarat kita belajar bikin mobil tentunya belum sempurna, ditengah jalan sudah dikudeta ditawari mobil murah china dengan syarat tidak jadi bikin mobil sendiri?
        Masalah su35 vs gripen, lucu bin ajaib, yg satu heavy yg satu medium, yang satu Udah operasional (su35) yang satu masih diatas kertas?
        Coba cek berita prototype gripen yg sdh release 2016 sampe sekarang belum ada kabar hasil test flight nya.
        Yg satu Udah mondar mandir di suriah.
        Bener Kata bung “akan akan akan (gripen)” vs “jika jika kalo kalo (su35)”

        • Lebih Lucunya Lagi Si Dark Rider Malah Senang Bila Proyek KF-X/IF-X Batal… Dan Yg Lebih Lucu lagi Si Dark Rider Bilang Bahwa Su-35 Kalah Pertempuran BVR Dgn F-16. Padahal Dlm Kenyataanya Su-35 Bisa Men Shoot Down Dan Mendeteksi RCS Dari F-16 Lebih Dulu Plus Faktor Yg Paling Penting Dlm Pertempuran BVR Itu Jangkauan Radar Bukan Jangkauan Rudal…

        • Iya lucu segala sesuatu dibilang rongsokan2… Muja pespur kok udah kek kelompok occult garis keras :nohope:
          Sifat yg berlebihan seperti itu malah mencoreng nama sang pespur sendiri bagi orang lain seperti sy juga jadi berpikirnya itu pespur jebakan batman xixixi

      • Oh si gripen Indonesia dan Dark Rider itu ya ?

        Mereka ngawur.

        Yang benar itu : Gripen untuk mengisi penambahan skuadron yang dibutuhkan sampai 2024.

        IFX belum bisa diproduksi sampai 2026 sementara RI butuh penambahan skuadron itu segera.

        Saya tebak terdiri dari :

        24 – 28 Gripen C/D MS.20 untuk Kohanudnas
        36 – 48 Gripen E/F atau disebut juga Gripen NG untuk penambahan skuadron workhorse.

        Itu sebabnya raja dan ratu Swedia bela-belain datang ke sini.

        Sedangkan untuk Sukhoi dan pespur double engine lainnya masih ada kesempatan.

        Selain pengganti F5 yang sudah diambil Sukhoi masih ada (menurut Ayam Jago di lapak sebelah) tambahan :

        1 skuadron air superiority (16 – 24 unit)
        2 skuadron (32 – 48 unit) bomber (kelihatannya ini yang pernah dibilang Madoka dari defense pk sebagai “maritim striker” dengan calon kuat kemhan Su-32FN)

        Jadi sampai 2024 ada total 14 skuadron tempur (menurut Ayam Jago)

        • Bung TN,
          Jika Gripen C/D yang dibeli? sepertinya tidak…bahkan untuk AU swedia sendiri type ini sdh diskontinue.
          Jika Gripen N/G yang dibeli? sepertinya waktunya tidak ngejar dan sesuai. Brazil sendiri diprediksi baru akan menerima Gripen N/G tahun 2023an.
          Jika memang second layer untuk workshore (pengganti Hawk 109/209) prediksi saya adalah FA50, kenapa :
          1. lini produksi tersedia dengan cepat
          2. harga setengah dari Gripen N/G , fitur sangat-sangat lumayan, bisa dicek sendiri (APG67 , Head up display/HUD berlayar MFD, HOTAS, NVIS, INS/GPS, IFF, datalink, CMDS, 4.5 ton senjata, dan F404-GE-102 mach 1.5 sama dengan Hornet atau rafale.)
          3. Pilot kita sudah familiar dengan F16, TA50 yang memang se-type.
          4. semua opsi armament dari F16 (yg kita punya saat ini) compatible dengan FA50

          Kelemahan utama akuisisi FA50 ini adalah faktor deteren.
          tetapi faktor deteren ini dengan adanya pembelian SU35 dan SU34 akan terjawab/tertutupi.
          Secara jangka panjang setelah nanti lahirnya IFX, maka FA50 ini bisa berubah peran menjadi latih tempur tahap akhir / konversi.
          Pilihan pespur kelas ini selain FA50 adalah F16 viper, JFsulfur, Tejas, Gripen sendiri ….

          • Sehina itukah Gripen disandingkan dgn FA-50? :D
            DarkRider mewek nanti bacanya bung :ngakaks

          • heheh, Maaf Bung Chaplin bukan itu maksud saya membandingkan Gripen vs FA50.
            Konteks komen saya adalah menjawab prediksi Bung TN, Jika memang dicari second layer kita maka yang paling masuk akal saat ini adalah FA50 s/d tahun 2025. Bukan berarti FA50 superior daripada yg lain, tetapi lebih masuk akal dengan sikon kita saat ini.
            Beli Su35 saja alotnya minta ampun masalah duitnya, belum lagi “iuran” IFX per tahun.
            Pilihan lain F16 Viper (bekas tidak diijinkan lagi) , yang jelas mahal.
            Tejas dan Sulfur tidak direkomendasikan.

        • saya masih tetap pada pendapat penambahan
          16 + 1 FA50
          32 F16V
          32 SU35

          untuk gripen NG silakan saja dengan segala opsinya..
          yg menarik adalah pembelian sepaket dengan AWACS..
          jika beli sekalian saja sebanyak yg mampu dibeli… agar negosiasi TOT dan offshare lebih bagus.. dan urungkan dulu beli yg lain untuk AU. 64 gripen NG mungkin cukup agar bisa diproduksi di Indonesia dg TKDN yg sesuai UU. 64 berarti 8 paket (8 gripen ng + 1 awacs).. akhirnya kita punya 64 workhorse dan 8 awacs.. ahh sudahlah…

    • Alotnya deal rusia dan china dalam pembelian su35 adalah karena china meminta konversi bahasa rusia ke china, dan paket teknologi Saturn.
      Akhirnya permintaan ini tidak dikabulkan

      • Benar bung seno, mungkin itu salah satu poin yg membedakan SU-35S dan SU-35K.
        Pernyataan DR soal Downgrade sama sekali tidak terbukti, alias HOAX.
        Btw saya tetap mendukung Gripen dibeli, karna Gripen lbh afdol dibagia cost operasionalnya digunakan untuk pemenuhan pespur Medium Indonesia :D
        Tp untuk pemenuhan pespur Heavy saya tidak permasalahkan RI beli SU-35 karna jelas samasekali tidak ada bukti kongkrit soal Si DR tuduh Downgrade, karna dimana2 semua pahamlah ada pembedaan alutsista untuk lokal dan untuk ekspor yg pastinya inti pembedaan nama tsb dibagian lbh “rumit” untuk dipreteli..
        Itu pendapat saya.

        Have a nice day to work untuk semua warjager :shakehand
        (Diabaikan saja Si DR itu jgn dendam ke Maniak Glipen, ingat puasa) :D :Peace:

  5. suka atau tdk suka,..medan perang mmang guru trbaik tuk penyempurnaan senjata perang, dan ini sdh dibuktikan amrik & bbrapa negara barat utk menyempurnakan alat2 perang mrk, suatu hal yg jarang di dapat rusia…

  6. kayaknya makin dekat nih pesawat bakal datang ke Indonesia

  7. di zaman soekarno seorang jendral pun protes terhadap presiden,
    jendral : tuan kapan peralatan tempur kita dari uni sovyet datang? medan tempur kita sudah mendesak dukungan itu.
    soekarno : halahhh lebay banget, loe itu jendral bukan hansip seperti forum jakartagreater fanboy onani otak maunya buru buru datang.

  8. Jd enak ni, saya gk perlu lg nulis email dan nickname sebelum komen. :2thumbup

    Semoga sekses selalu dah jktgr :malu

  9. Bung Senopati dan bung Bhisma,

    FA-50 memang tetap akan diambil tetapi bukan untuk menambah skuadron namun sebagai pengganti Hawk sebelum tahun 2026.

    Sedangkan Gripen C/D melihat sifatnya yg bisa didaratkan di mana saja asal panjang landasannya 800 meter, varian gripen ini saya prediksi akan mengisi skuadron untuk kohanudnas. Namun ini bukan versi C/D biasa. Ini adalah versi Ms.20. Jumlah order 24 – 28 unit. Bukankah Gripen C/D lebih cepat diproduksi daripada Gripen NG ? Jika kontrak di ttd pada 2017, tahun 2018 kita akan sudah terima unit pertama Gripen C/D dan unit terakhir diterima akhir tahun 2019 atau paling telat tahun 2020.

    Sedang untuk mengisi 3 skuadron tambahan prediksi saya akan dipilih 1 skuadron F16V (24 – 28 unit) dan 2 skuadron Gripen E/F/NG (32 – 48 unit).

    Masih terkejar bagi RI untuk bikin gripen NG sebab Brazil dan Swedia bersama2 bikin Gripen NG mulai 2019

    https://www.google.co.id/search?client=ms-opera-mobile&site=webhp&ei=9WQ-WbSXLo7-0gSsooZo&q=gripen+ng+sweden+production+begin+2019&oq=gripen+ng+sweden+production+begin+2019&gs_l=mobile-gws-serp.3..30i10k1.65236.81991.0.82538.39.39.0.0.0.0.202.5957.0j37j1.38.0….0…1.1j4.64.mobile-gws-serp..6.33.5207…35i39k1.3EPMvGyv3mU

    Dengan produksi 60 NG untuk Swedia plus 36 NG untuk Brazil (20 – 22 unit dibuat di Swedia dan 14 – 16 unit dibuat di Brazil).

    60 Swedia + 36 Brazil = 96 unit NG

    14 diproduksi di Brazil.

    96 – 14 = 82 unit diproduksi di Swedia.

    Jika first delivery akhir tahun 2019 dan ada 24 unit line production di Linkoping maka 82 unit ini diharapkan selesai pada :

    82 / 24 = 3,41 dibulatkan 4 tahun.

    Jadi 82 unit yang diproduksi di Swedia akan selesai pada 2019 + 4 = 2023.

    Tahun 2023 itupun masih di pertengahan tahun sebab 3,41 x 12 bulan = 41 bulan

    1 tahun ada 12 bulan, 3 tahun = 3 x 12 = 36

    41 bulan – 36 bulan = 41 – 36 = 5

    Tahun 2023 bulan Mei adalah last delivery untuk Gripen NG (untuk Swedia dan Brazil) yang diproduksi di Swedia.

    Jadi jika RI ambil 48 unit Gripen NG dengan skema TOT dan jatah produksi seperti Brazil maka :

    A / 48 = 14 / 36

    A = (14 x 48) / 36 = 672 / 36 = 18,67

    Jadi 18 unit diproduksi di RI dan (48 – 18) = 30 unit diproduksi di Swedia.

    Line produksi di Swedia 24 unit per tahun = 2 unit per bulan.

    Jadi hanya butuh 30 unit / 2 unit = 15 bulan produksi di Swedia.

    Jika produksi dari Juni 2023 maka 15 bulan kemudian jatuh pada September 2024 latest delivery dari 30 unit Gripen NG hasil produksi di Swedia.

    Jika RI dianggap sepintar Brazil yang mulai mengerjakan unitnya sendiri sesudah unit ke 22 diterima maka RI bisa mengerjakan unitnya sendiri sesudah bulan ke 11 atau pada bulan ke 12 sesudah Juni 2023 yaitu jatuh pada bulan Mei 2024.

    Jika RI produksi juga 2 unit per bulan maka pada akhir 2024 / awal tahun 2025, sudah ada (12 – 5) x 2 = 7 x 2 = 14 unit Gripen NG bikinan RI dan 30 unit Gripen NG bikinan Swedia sehingga 14 + 30 = 44 unit Gripen NG di RI, masih kurang 4 unit lagi yang bakal selesai di bulan Maret 2025.

    • dana kita kurang untuk fokus pada 48 gripen..
      karena pespur air superiority dan strike sudah deal..
      saya masih berharap itu saja dulu bung TN…

      asal pengadaan tak jalan ditempat.. minimal ada kemajuan di semua matra termasuk di tupoksi kemenhan..
      vietnam sudah mengincar posisi 14 GFP… makin dekat saja mereka xixixixi

      • Bung Bhisma,

        Sasaran 2024 adalah 112 unit SETARA sukhoi dan 80 unit SETARA F16.

        jadi biaya bisa dibagi untuk 2 periode pemerintahan (2014 – 2019) dan (2019 – 2024)

        jadi soal biaya saya prediksi nggak masalah asal ada komoditi untuk membayarnya.

    • Apakah jika Austria, Norwegia, Afsel jadi akuisisi Gripen NG lebih dahulu dari kita, so menambah panjang antrian produksi , Kita masih berminat akuisisi Gripen NG ini bung TN?
      Berarti bisa molor looo sampai 2026 ?

      • Jika ketiga negara ini duluan memesan maka RI bisa switch 36 – 48 unit Gripen NG ini dengan 40 unit FA-50 (setara 20 unit Gripen) dan 28 unit F16V yang setara dengan 28 unit Gripen NG.

        Namun tersirat dari kunjungan Raja dan Ratu Swedia bahwa RI sudah mantap untuk akuisisi Gripen, setidaknya yang versi C/D MS.20 terlebih dulu.

        Target 2024 pespur SETARA F16 yang 80 unit ini, sudah ada 38 unit, jadi tinggal 80 – 38 = 42 unit lagi.

        42 unit ini bisa diisi dengan 28 Gripen C/D dan 14 unit F16V.

        Atau bisa juga diisi Gripen semua.

        Namun jangan terpaku pada jumlah 80 unit sebab bisa berkembang jadi 112 unit tergantung kondisi kawasan.

        112 – 38 = 74 unit

        74 unit ini bisa diambil juga dari Gripen dan F16V atau dari Gripen semua.

        Yang jelas ada heavy, ada medium dan ada light.

        Pemenuhan 112 heavy dan 80 medium adalah prioritas, jika hasilnya lebih dari itu malah lebih baik.

  10. Bung Senopati dan bung Bhisma,

    FA-50 memang tetap akan diambil tetapi bukan untuk menambah skuadron namun sebagai pengganti Hawk sebelum tahun 2026.

    Sedangkan Gripen C/D melihat sifatnya yg bisa didaratkan di mana saja asal panjang landasannya 800 meter, varian gripen ini saya prediksi akan mengisi skuadron untuk kohanudnas. Namun ini bukan versi C/D biasa. Ini adalah versi Ms.20. Jumlah order 24 – 28 unit. Bukankah Gripen C/D lebih cepat diproduksi daripada Gripen NG ? Jika kontrak di ttd pada 2017, tahun 2018 kita akan sudah terima unit pertama Gripen C/D dan unit terakhir diterima akhir tahun 2019 atau paling telat tahun 2020.

    Sedang untuk mengisi 3 skuadron tambahan prediksi saya akan dipilih 1 skuadron F16V (24 – 28 unit) dan 2 skuadron Gripen E/F/NG (32 – 48 unit).

    Masih terkejar bagi RI untuk bikin gripen NG sebab Brazil dan Swedia bersama2 bikin Gripen NG mulai 2019

    https://www.google.co.id/search?client=ms-opera-mobile&site=webhp&ei=9WQ-WbSXLo7-0gSsooZo&q=gripen+ng+sweden+production+begin+2019&oq=gripen+ng+sweden+production+begin+2019&gs_l=mobile-gws-serp.3..30i10k1.65236.81991.0.82538.39.39.0.0.0.0.202.5957.0j37j1.38.0….0…1.1j4.64.mobile-gws-serp..6.33.5207…35i39k1.3EPMvGyv3mU

    Dengan produksi 60 NG untuk Swedia plus 36 NG untuk Brazil (20 – 22 unit dibuat di Swedia dan 14 – 16 unit dibuat di Brazil).

    60 Swedia + 36 Brazil = 96 unit NG

    14 diproduksi di Brazil.

    96 – 14 = 82 unit diproduksi di Swedia.

    Jika first delivery akhir tahun 2019 dan ada 24 unit line production di Linkoping maka 82 unit ini diharapkan selesai pada :

    82 / 24 = 3,41 dibulatkan 4 tahun.

    Jadi 82 unit yang diproduksi di Swedia akan selesai pada 2019 + 4 = 2023.

    Tahun 2023 itupun masih di pertengahan tahun sebab 3,41 x 12 bulan = 41 bulan

    1 tahun ada 12 bulan, 3 tahun = 3 x 12 = 36

    41 bulan – 36 bulan = 41 – 36 = 5

    Tahun 2023 bulan Mei adalah last delivery untuk Gripen NG (untuk Swedia dan Brazil) yang diproduksi di Swedia.

    Jadi jika RI ambil 48 unit Gripen NG dengan skema TOT dan jatah produksi seperti Brazil maka :

    A / 48 = 14 / 36

    A = (14 x 48) / 36 = 672 / 36 = 18,67

    Jadi 18 unit diproduksi di RI dan (48 – 18) = 30 unit diproduksi di Swedia.

    Line produksi di Swedia 24 unit per tahun = 2 unit per bulan.

    Jadi hanya butuh 30 unit / 2 unit = 15 bulan produksi di Swedia.

    Jika produksi dari Juni 2023 maka 15 bulan kemudian jatuh pada September 2024 latest delivery dari 30 unit Gripen NG hasil produksi di Swedia.

    Jika RI dianggap sepintar Brazil yang mulai mengerjakan unitnya sendiri sesudah unit ke 22 diterima maka RI bisa mengerjakan unitnya sendiri sesudah bulan ke 11 atau pada bulan ke 12 sesudah Juni 2023 yaitu jatuh pada bulan Mei 2024.

    Jika RI produksi juga 2 unit per bulan maka pada akhir 2024 / awal tahun 2025, sudah ada (12 – 5) x 2 = 7 x 2 = 14 unit Gripen NG bikinan RI dan 30 unit Gripen NG bikinan Swedia sehingga 14 + 30 = 44 unit Gripen NG di RI, masih kurang 4 unit lagi yang bakal selesai di bulan Maret 2025.

    Xixixi

  11. Wah kok dobel ya.

 Leave a Reply