Dilema Strategis AS: Izinkan Rusia Lebih Dominan di Afrika Atau Pilih Bermitra dengan Diktator?

JakartaGreater.com – Izinkan Rusia untuk melakukan apa yang mereka sukai di Afrika atau bermitra dengan “para pemimpin Afrika” dengan sejarah kejahatan perang dan kecenderungan perilaku genosida?

Seperti dilansir dari laman News REP pada hari Senin, 11 Februari, itulah teka-teki yang dihadapi oleh para pemimpin militer dan diplomat Amerika. Kamerun, khususnya, adalah salah satu contoh yang lebih baik dari perjuangan antara geopolitik dan masalah hak asasi manusia (HAM).

Baru-baru ini menurut Jenderal Thomas Waldhauser, kepala Komando Afrika AS (AFRICOM), memberikan pengarahan kepada Komite Layanan Bersenjata Senat yang berfokus pada kekhawatiran militer Amerika Serikat di negara Afrika.

Berkenaan dengan hubungan militer antara Amerika Serikat dengan Kamerun dan kepemimpinan politik di negara itu, Jenderal Waldhauser berkata, bahwa “Kami sangat tegas dengan Presiden Biya soal perilaku pasukannya, kurangnya transparansi, dapat berdampak signifikan pada kemampuan kami untuk bekerja dengan mereka. “Dia menambahkan bahwa mereka telah menjadi mitra yang baik dengan kami, dalam kebijakan kontra-terorisme”.

Meski demikian, Jenderal Waldhauser menjelaskan bahwa AFRICOM kini prihatin dengan banyaknya laporan kejahatan perang dan kekejaman yang dilakukan di negara Afrika. Baik Jenderal Waldhauser atau Duta Besar Peter Henry Barlerin telah berhadapan dengan Presiden Kamerun Paul Biya mengenai tuduhan ini. Menyuarakan keprihatinan mereka, karena pemerintahan Trump memutuskan untuk memotong bantuan militer ke Kamerun.

Tetapi perkembangan di benua Afrika mungkin berarti bahwa A.S. tidak memiliki banyak pilihan mitra dan bahwa itu harus dilakukan dengan apa yang tersedia. Dan dalam pengarahan yang sama, Jenderal Waldhauser menekankan ancaman yang berasal dari keterlibatan Rusia di Afrika sub-Sahara.

“Dengan mempekerjakan penasihat militer kuasi-tentara bayaran yang didanai oligarki, khususnya di negara dimana para pemimpinnya mencari pemerintahan otokratis yang tak tertandingi, kepentingan Rusia telah mendapatkan akses ke sumber daya alam dengan persyaratan yang menguntungkan”, tutur Jenderal Waldhauser.

“Beberapa pemimpin Afrika bahkan telah siap menerima jenis dukungan ini, dan menggunakannya untuk mengkonsolidasikan kekuatan dan otoritas mereka. Ini terjadi di Republik Afrika Tengah, tempat para pemimpin terpilih menggadaikan hak mineral – untuk sebagian kecil dari nilainya – guna membeli senjata Rusia”, tambahnya.

Rusia juga aktif di negara-negara Afrika lainnya. Ambil contoh Sudan. Di sana, perusahaan militer swasta Rusia (PMC) telah membantu diktator Sudan, Omar Al-Bashir untuk mempertahankan kekuasaan ditengah pergolakan rakyat.

Duta Besar Barlerin pun mengatakan, “Kami tak akan menghentikan kerjasama keamanan dengan Kamerun. Kami memiliki perbedaan, Kamerun adalah negara berdaulat dan Amerika Serikat adalah negara berdaulat. Dan hubungan antara Kamerun dengan Amerika Serikat sangat baik dan telah berlangsung lama dan kami bermaksud untuk melanjutkan hubungan itu”.

Pasukan Amerika Serikat di Kamerun sebagian besar peduli dengan pelatihan mitra Kamerun mereka dalam keterampilan dasar militer dan kontra-terorisme.

TERPOPULER

Tinggalkan komentar