Jun 072012
 

Salah satu pembelian alutsista TNI yang paling mengguncang dan ramai dibicarakan adalah pembelian satu frigat Sigma 10514 dari Damen Schelde Naval Shipbuilding – Belanda, seharga 220 juta USD. Tragisnya, PT PAL hanya mendapatkan nilai pekerjaan 7 juta USD atau senilai kurang dari 3%. Transfer of technology sebesar 3 %, bisa dikatakan nyaris tidak ada artinya atau basa basi semata, untuk memenuhi syarat ToT yang ditetapkan pemerintah RI.

Lalu bagaimana dengan rencana pembangunan Light Frigat Nasional/ Kapal Patroli Kawal RUdal (PKR) yang dicanangkan sejak tahun 2007 ?. Apakah akan kembali dipesan ke Damen Schelde Naval Shipbuilding – Belanda ?.

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin, Belanda membolehkan transfer teknologi (ToT) dengan syarat Indonesia membayar 1,5 juta USD. Hal ini belum termasuk ToT instal sistem senjata yang juga dikenakan biaya khusus.

Keganjilan itu membuat mantan Sekretaris Presiden Mayjen (Purn) TB Hasanuddin berencana melayangkan protes kepada Kementerian Pertahanan, yang merupakan rekan kerja dari Komisi 1 DPR RI.

“Mengapa harus memaksakan diri membeli dari Belanda? Padahal pabrik kapal Orrizonte dari Italia menurut PT PAL sudah menawarkan diri bekerjasama membangun kapal itu di Indonesia dengan local content minimal 25% dan siap melibatkan perusahaan lain di dalam negeri seperti PT Pindad, PT Karakatau Steel dan lain-lain,” ujar Hasanuddin.

Sigma 10513 Tarik Ben Ziad Maroko


Sikap pemerintan yang terkesan bersikeras untuk bekerjasama dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding – Belanda, memunculkan tanda tanya besar. Padahal Indonesia sudah memiliki pengalaman buruk dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding tentang pengadaan 4 Korvet Sigma.

Pembelian alutsista dari Damen Schelde Belanda dianggap bertentangan dengan semangat Keputusan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang pengadaan Alutsista, terutama pasal 4 ayat 2 (d): “Dalam pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI sekurang kurangnya memiliki syarat alih tehnologi/produk bersama untuk kepentingan pengembangan industri pertahanan dalam negeri.”

Ada keterangan yang menarik dari PT PAL, tentang rencana kerjasama membuat Kapal PKR. PT PAL mengaku lebih cocok bekerjasama dengan Galangan kapal Orizzonte Sistemi Navali (Fincantieri), Italia, dibandingkan Damen Schelde Belanda. Alasannya, Damen Schelde tidak memberikan transfer teknologi yang berarti bagi PT PAL.

Bahkan PT PAL telah mempublikasikan Light Frigate Mosaic 2,2 Fincantieri Italia, sebagai Kapal PKR yang akan dibangun oleh PT PAL, Surabaya. Galangan kapal Orizzonte Sistemi Navali (Fincantieri) juga bersedia membangunn Light Frigat di Indonesia dengan ToT 25 %. Namun Kementerian Pertahanan tetap saja memilih Damen Schelde Belanda.

Frigat Orizzonte Mosaic 2,4 Italia


Frigat Orrizonte
Apakah Frigat Orrizonte Mosaic 2,2 yang ditawarkan Italia buruk ?.
Light Frigat Orrizonte Mosaic 2,2 atau 2,4 buatan Italia telah dipesan oleh Israel. Selain itu, Fincantieri sedang membuat 21 Frigate/ Dstroyer FREMM (European Multi Mission Frigates), hasil kerjasama Italia dan Perancis. Dua frigat dengan panjang dan lebar 140 x 20 meter, telah diserahkan. Frigate kedua yakni ‘Virginio FASAN’ diserahkan akhir Maret 2012, ke pihak pemesan: Italia dan Perancis.

Dengan reputasi yang dimiliki oleh Fincantieri Italia ini, wajar banyak pihak yang merasa aneh dengan sikap pemerintah yang ngotot membuat Light Frigat ke Belanda.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah PT PAL yang bekerjasama dengan Damen Schelde, tidak siap membangun kapal PKR di Surabaya, sehingga Kementerian Pertahanan terpaksa membangunnya di Belanda ? Pertanyaan ini terkesan kontradiktif dengan keadaan di lapangan karena PT PAL telah mengosongkan satu dok, bahkan baja untuk PKR telah dipotong.

Kata kuncinya muncul ketika Kemneterian Pertahanan dan Mabes TNI menemui Duta Besar Belanda di Jakarta, Tjeerd F. De Zwaan. “Ya, kami meminta dukungan Belanda untuk lebih konsisten dalam supervisi pembangunan kapal tersebut, karena ada beberapa hal yang tidak bisa dikerjakan PT PAL,” ujar juru bicara TNI Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul.

Hal ini bisa menunjukkan PT PAL memang belum siap secara teknologi ditambah lagi dengan Damen Schelde yang juga tidak mau terbuka untuk membagi teknologi Light Frigate Sigma. Akibatnya proyek pembangunan kapal PKR menjadi tertunda-tunda dan menghabiskan waktu yang tidak perlu.

Sementara dengan waktu yang berjalan, TNI AL dihadapkan pada target pemenuhan MEF (minimum essensial Force) tahun 2014. TNI AL akhirnya memilih jalan tengah dengan terlebih dahulu mengejar kebutuhan kuantitas MEF.

Dana pembangunan kapal PKR dialihkan sebagian untuk membeli 3 Light Frigate/ Korvet Nakhoda Ragam Class milik Brunei Darussalam, seharga 300 juta USD.

Light Frigate Nakhoda Ragam Class


Sementara sisanya 200 juta USD dibelikan 1 Light Frigate Sigma 10514 yang rbaru ampung di awal tahun 2017. Light Frigat Sigma ini tentu tidak dilengkapi senjata dan electronic walfare, karena harganya terlalu murah. Maroko membeli Light Frigate Sigma 10513 seharga 400 juta USD, hampir dua kali lipat harga Sigma 10514 Indonesia. Kemungkinan pengadaan persenjataannya, diambiil dari anggaran tahun 2014 ke atas, karena Frigate pun baru rampung awal tahun 2017. Termasuk anggaran untuk ToT perakitan kapal dan sistem senjata. Kasus ini mirip dengan pengadaan pesawat tempur Sukhoi TNI AU.

Pemerintah sebenarnya nyaris melepas proyek Light Frigate Sigma 10514. Hal ini diindikasikan ketika Kemenhan dan Mabes TNI, mempertanyakan keseriusan Belanda tentang pembangunan kapal PKR, kepada Duta Besar Belanda di Indonesia. Namun di saat dead-lock tersebut, TNI pun berniat mendatangkan main battle tank/ MBT Leopard dari Belanda.

Rencana pengadaan MBT Leopard 2A6 sempat terkendala, sehingga Indonesia mencoba membelinya ke Jerman. Namun tak lama kemudian Belanda mengizinkan pembelian MBT Leopard 2A6. Dua minggu kemudian, muncul lagi beritau, pemerintah RI dan Belanda sepakat membangun satu Sigma 10514 di Belanda. Tampaknya pembelian dua alutsista berbeda ini, dijadikan dalam satu paket negosiasi.

Sebagian dari 100 MBT Leopard untuk TNI AD didatangkan dari Jerman. Dan jangan lupa, ketiga korvet Nakhoda Ragam milik Brunei Darussalam, saat ini sudah dilego dan berada di Galangan kapal Lursen Jerman.

Ketiga Light Frigate Nakhoda Ragam sudah 10 tahun bersandar di Lursen , sehingga akan direpowering oleh TNI. Negosiasi pembelian MBT Leopard dari Jerman, ToT sistem senjata Leopard dan pembelian plus repowering Light Frigate Nakhoda Ragam, tampaknya menjadi satu paket.

Nakhoda Ragam Class di Lursen Jerman


Dengan adanya lika liku diplomasi dan pengadaan Alutsista seperti itu, akan membuat Rencana postur TNI AL 2004-2029 akan banyak dievaluasi dan direvisi. Diharapkan evaluasi dan revisi tersebut tidak mengubah Blue Print Postur TNI AL ke depan.

Dengan banyaknya kebingunan dan tanda tanya tentang pembelian Alutsista TNI AL, menunjukkan Blue Print Postur TNI AL belum jelas atau belum disosialisasikan dengan baik. Rakyat berhak mengetahui secara garis besar postur pertahanan militer mereka, karena rakyatlah pemangku kekuasaan tertinggi di Indonesia. (Jkgr).

  18 Responses to “Diplomasi Sigma 10514 dan Leopard 2A6”

  1. Anjing menggong-gong, kabilah berlalu,… maju terusss negaraku,… maju terusss bangsaku menuju INDONESIA BARUU bermartabat, adil, sejahtera, bebas aktif ikut serta menciptakan keadilan kedamaian dunia

  2. yang perlu diluruskan, beda antara TOT dengan mengerjakan sebagian dari alutsista tersebut, kalo dikatana indonesia hanya mendapat bagian 3% TOT itu salah, tapi PT PAL mendapat 3% bagaian pengerjaan PKR, dan mendapat keuntungan 7 juta, tapi TOT teknologi harus membayar 1,5 juta ya itu pantas, namanya mendapat ilmu ya harus bayar dan kita belom taukan apa itu TOT-nya. kalo dikatakan PTPAL akan dapat mendapat bagian 25% pengerjaan orrizantte itu yang mesti dipertanyakan, apakah sudah mampu membuat frigate yang diinginkan TNI. yang jelas pasti belom mampu saat ini.
    Masalah membayar TOT ya itu lumrah saja, sama saja kita membeli 3 ks dari korea, satu buah full dikerjakan korea, satu buah dikerjaka di korea tapi engineer kita ikut mengerjakan sambil belajar, dan yang satu dikerjakan di indonesia tapi indonesia harus membayar $1,05 Milyar, artinya harnya full dengan membeli 3 buah KS yang semuanya dikerjakan HDW. dan bayangkan membayarnya jauh lebih mahal, tapi ilmu yang diperoleh tidak bisa dinilai $350 juta. malah jauh lebih mahal kan membayarnya. itu karena TOTnya memang banyak sekali karena indonesia/ PT PAL memang belum punya kemampuan sama sekali dalam teknologi KS. sama juga denga proyek K/IFX, nilai yang dibayar indonesia juga jauh lebih besar, tapi ilmu membuat fighter juga tidak bisa dinilai dengan itu.
    Jadi biar jelasnya Pak TB sebaiknya menjelaskan proyek PKR jangan sepotong-sepotong dan jangan bikin orang banyak bingung.
    maju terus TNI dengan proyek 10 PKR sampai 2024..!

  3. BTW ilustrasi PKR digambar pertama bagus sekali, pake CIWS skyshield. apa ini gambar yang benar2 ingin dirancang? admin bisa kasi informasi?

  4. Ya gambar kapal itu yang dikeluarkan oleh Damen Schelde Naval Shipbuilding – Belanda untuk Sigma 10514 Indonesia.

    Link http://www.damennaval.com/nl/news.htm?item=33

    The main characteristics of the SIGMA PKR 10514 are:
    Length: 105 mtr
    Width: 14 mtrs
    Displacement: approx 2400 tons
    Propulsion: Combined Diesel and Electric(CODOE)
    Crew: 100 + 20 spare accommodation
    Combat System:
    Extensive Air, Surface and Sub-Surface Surveillance capabilities.
    Guided missile Systems and gun systems for Anti-Air Warfare and Anti-Surface Warfare
    Torpedo systems for Anti-Submarine Warfare
    Active and Passive Electronic Warfare Systems
    Tacticos Combat Management System
    Also, the SIGMA PKR 10514 will be able to carry an organic helicopter.

    The ship will be built according to the successful SIGMA modular building strategy, as a sequel to the earlier built four SIGMA Corvettes for TNI AL. This means that modules of the frigate will be built in Europe as well as locally at PT PAL in Surabaya Indonesia. The assembly and trials of SIGMA PKR 10514 will take place in and from Surabaya, Indonesia.

    Publication date: 05-6-2012

  5. sangat menggembirakan, tetapi menyedihkan jika memang PT PAL sebagai tertuduh ternyata belum mampu untuk membuat PKR secara mandiri. ada baiknya frigate dari italia dan perancis kita dekati untuk urusan TOT. yang pasti dukungan untuk 10 PKR tetap ada, sekarang pertanyaannya bagaimana sikap PT PAL, KEMENHAN, PEMERINTAH duduk bersama mencari solusi terbaik jika memang kemampuan PT PAL renadah diperbaiki sehingga proses TOT PKR baik dari Perancis, italia atau belanda bahkan mungkin jerman bisa diaplikasikan di galangan kapal PT PAL.

  6. Gimana sih ini analisa berita di atas, yang bingung mah bukan rakyat tetapi LSM dan agen asing yang dibayar untuk cari informasi isi perut TNI. Rakyat memang berhak tahu, dan informasi bisa di share sepanjang tidak membahayakan RI. Membuka blue print alutsista hingga 2029 yang akan dibeli sama saja memberi kunci jawaban soal Ebtanas ke negara tetangga. Negara lain bisa segera mengoreksi strategi & alutsista yang akan dibeli agar nanti mudah menjawab soal-soal TNI dan segera keluar ruangan ujian sebagai pemenang.

  7. Kalau saya jadi KemnHam saya tidak akan pernah beli senjata dari VOC.

  8. Tni tau yg kita tdk tau..jayalah tni

  9. rasanya tni tdk perlu terlalu mananggapi orang2 yg slalu mempertanyakan ini itu………….tni tinggal menjalankan blue print yg sudah d tetapkan………..dan yg pasti tni lebih tau apa yg hrs d lakukan untuk memperkuat pertahanan nasional……

  10. Animasi kapal perang yg lagi dibikin Australia. –> AWD animation – HD version http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=LTY3H4PjtKs#!

    Video animasi soal kemampuan PKR belum ada ya?

  11. Apa Brunei ikut andil ya dlm hal ini…?Maju terus TNI AL.

  12. hahaha ternyata sistem borongan toh belinya. good job. indonesia banget. sip dah

    • yg orrizonte mosaic..napa kaga dipilih ya..tot nye mayan noh..ape kalah canggih..apa kalah borongan bang 😀

      • Mending visbi bung akung. Lagian jauh lebih canggih NR class timbang PKR makanya beli kosongan di isi sendiri lebih aman. Namanya juga orang indonesia sukanya gado2 kayak gambar paling bawah walo omongannya bubur 😀

        • hahaha..benerbang freax..ama jago ngoprek..kapal miring aja bisa ampe jadi lurus bikin geleng2 bulenya noh.. 😆 tapi sayang ya tuh NR ga diambil blue print nye bang..tiga biji cukup lah jd stop gap…

          • Ngga usah lah bung akung. Kita bukan cina yang suka poto kopi. Kita tu plagiat ulung. Yang asli ama yang palsu bagusan yang palsunya. Kan NR class nya udah punya tinggal hitung ulang terus PKR nya di buat siluman model visbi. Jadi model baru deh yang isinya gado2. Superior dah. Jadi inget keris purba yang di temuin di bawah laut jepang. Udah ratusan tahun tapi ngga ada karatnya. Kalo ngga salah ada 20 macam bahan untuk membuat tuh keris. Link ya hilang seperti omongannya bung satrio. Kalo kita bisa buat lagi untuk kulitnya pasti sip dah buat lontong

 Leave a Reply