Nov 202018
 

Leopard 2 TNI AD commons.wikipedia.org

Jakarta, Jakartagreater.com   – Anggota Komisi I DPR RI Bobby Rizaldi menilai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang baru harus memprioritaskan pengadaan alat utama sistem senjata (Alutsista) baru, jangan membeli yang bekas, dirilis Antara, Senin, 19-11-2018.

“KSAD yang baru diharapkan jangan membeli Alutsista bekas lagi,” kata Bobby pada Senin 19-11-2018 di Jakarta. Saat ini jabatan KSAD masih diemban Jenderal TNI Mulyono dan akan memasuki masa pensiun pada Januari 2019.

Bobby mengatakan keberpihakan KSAD, terhadap Alutsista baru harus diutamakan sehingga jangan sampai membeli tank bekas lagi. Dia mengatakan kalau dihitung dari jumlah unit antara Alutsista baru dan bekas, pasti berbeda kemampuan anggarannya karena beli produk baru pasti lebih mahal.

“Namun, ada hitungan rasio ‘minimum essential forces’ (MEF), antara Alutsista, prajurit dan teritorial wilayah,” ujarnya. Selain itu dia menilai KSAD harus bisa mengejawantahkan misi visi Panglima TNI yang mendukung program Nawacita Presiden Joko Widodo yaitu menyelaraskan penguatan wilayah teritorial matra darat yang sekaligus bersinergi menjaga soliditas dengan matra TNI lainnya.

Bobby juga mengomentari terkait usulan kelompok sipil yang mengusulkan agar Presiden melihat rekam jejak calon, hal itu kalau sebatas usul saja tidak masalah. Namun menurut dia, secara logika, 10 kandidat yang disebutkan kelompok masyarakat sipil itu ketika sudah berada pada jabatan saat ini, seharusnya sudah tidak ada rekam jejak negatif mengenai HAM.

Sebelumnya, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memberikan pertimbangan rekam jejak HAM calon KSAD kepada Presiden Jokowi.

Koalisi masyarakat sipil menyampaikan daftar 10 calon nama KSAD kepada Komnas HAM untuk dilakukan “screening” karena dinilai berpotensi mengisi jabatan tersebut.

Berikut adalah 10 nama Perwira tinggi tersebut:

  1. Letnan Jenderal Agus Surya Bakti (Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan) Akmil angkatan 1984
  2. Letnan Jenderal Doni Monardo (Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional) angkatan 1985.
  3. Letnan Jenderal Tatang Sulaiman (Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat) angkatan 1986
  4. Letnan Jenderal Andika Perkasa (Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) angkatan 1987
  5.  Letnan Jenderal Anton Mukti Putranto (Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat) angkatan 1987
  6.  Letnan Jenderal Muhammad Herindra (Inspektur Jenderal TNI) angkatan 1987
  7.  Mayor Jenderal Joni Supriyanto (Komando Daerah Militer Jaya/Jayakarta) angkatan 1986
  8.  Mayor Jenderal Besar Harto Karyawan (Komando Daerah Militer III/Siliwangi) angkatan 1986
  9.  Mayor Jenderal Wuryanto (Komando Daerah Militer IV/Diponegoro) angkatan 1986
  10.  Mayor Jenderal Arip Rahman (Komando Daerah Militer V/Brawijaya) angkatan 1988.

 

Bagikan:

  45 Responses to “DPR Mengimbau, Jangan Lagi Beli Alutsista Bekas”

  1.  

    Ya,kalau mau yang baru,gampang kok.
    Ditambah lagi dananya.jangan mau yang baru tapi dananya minim.

  2.  

    beli bekas jangan, klo dapat hibah terima saja.
    kemudian diupgrade…..

  3.  

    BUng TNPhd……………Ane mau tanyak F16Viper itu pesawat JADUL apa Bekas kah ?? Kwakkk…………….Kwkak……………Kwakkkk……………..

    Mau beli Su,35 harus beli pewsawat JADUL dan BEKAS hahahaaa

    Ini gimana ceritanya. mending beli Grepeng mas bro….

  4.  

    Kalo mau baru, emang dananya cukup pak?
    Kalo sudah baru memang kapal perang itu gak pakai radar, rudal pak?

    Indonesia sangat kurang serius mengalokasikan dana untuk pengadaan alutsista.
    Singapura saja gdp nya 4 kali lebih kecil dari indonesia alokasi dananya masih lebih tinggi dari indonesia.
    Turki saja gdp $850 juta, alokasikan $19 juta
    Indonesia? Gdp $1+ triliun, cuma alokasikan $8 juta. Malu deh

  5.  

    Biar bekas tp klo spt leopard dan M113, masih punya efek gentar lho pak. Tinggal upgrade peralatan pendukungnya saja ke teknologi yg lebih modern. Sdh murah plus canggih.
    Gak semua bekas itu merugikan lho pak, di saat anggaran militer blom bisa dicukupi, maka pengadaan spt leopard dan M113 sangat tepat.

  6.  

    Kalau beli Alutsista ….bekas …Entah apa Nama nya…refurbished…versi upgrade …cuci gudang Alutsista…
    Tidak Ada masalah…yang penting bukan pesawat…Kapal perang… Dan Kapal selam…
    Kalau sebatas tank seperti leopard…marder Dan M113 plus paladin Ya tidak apa apa sih …
    Kan bisa diperbaiki Dan masih aman dipakai…

  7.  

    fokus ke yg ini adek adek…..
    “program Nawacita Presiden Joko Widodo yaitu menyelaraskan penguatan wilayah teritorial matra darat yang sekaligus bersinergi menjaga soliditas dengan matra TNI lainnya.”

    kemarin bahas poros maritim, sekarang topiknya diganti penguatan matra darat…..
    nenek moyang kita pelaut, tpi kitanya(sebagian) bukan pelaut……

  8.  

    Namanya juga mau penggantian KSAD. KSAD itu memang untuk matra darat.

    Sekarang kalau untuk matra darat butuh banyak sekali kendaraan tempur lapis baja. Sedangkan jumlah kebutuhan tidak sebanding dengan jumlah produksi inhan lokal yang terbatas. Untuk itu perlu beli dari luar negeri.

    Namun kendaraan tempur dari luar negeri pun jika dibeli baru juga mahal harganya. Yang harganya agak miring ya alutsista bekas.

    Bahkan harga tank Leopard bekas yang diretrofit (Leopard RI) per unitnya hanya USD 1,7 juta – jauh lebih murah dari tank medium Harimau kita.

    Selain tank, ada lagi ranpur lapis baja untuk angkut personil infantri (APC) untuk mengawal tank kita.

    Nah untuk APC beroda rantai, kita belum bisa produksi. Ada yang murah hanya sekitar USD 0,2 juta per unit yaitu M113. Sedangkan RI butuh banyak sekali APC jenis ini.

    Mohon dibedakan antara angkut personil jenis truk, jenis panser lapis baja beroda 6 dan 8, juga lapis baja beroda rantai. Semua dibutuhkan, dan semua tidak bisa digantikan dengan jenis lain. Misalnya APC roda rantai tak bisa digantikan APC roda ban 6×6.

    Karena dibutuhkan dan keterbatasan dana, pembelian alutsista bekas ini tak bisa dihindari.

    Kebutuhan minimum ranpur lapis baja khusus untuk TNI AD adalah 3728 unit, sedangkan yang sudah dicapai saat ini baru 1976 unit, masih butuh (3728 – 1976 = 1752) unit lagi.

    Itu berarti untuk roda rantai dibutuhkan tambahan separuh dari 1752 unit itu.

    1752 / 2 = 876 unit ( 3 brigade ).

    Dari 876 unit roda rantai itu dibagi menjadi :

    – 270 tank roda rantai bermeriam 105 mm.
    – 270 IFV roda rantai sekelas Marder.
    – 336 APC roda rantai sekelas M113.

    Sedangkan untuk tambahan ranpur 876 unit yang lain akan menggunakan panser beroda 6×6 dan 8×8 (termasuk Pandur) dengan komposisi (meriam, IFV dan APC) sama dengan yang beroda rantai.

    Tambahan 1752 unit ini harus selesai sebelum tahun 2024.

  9.  

    bisa apa DPR atas molornya su,35..bisanya ini tahun rame”,rebutan kursi,berapa kali negeri ini dapat barang rongsokkan,belum yg bau” korup,mana itu suara DPR atas kasus helicopter yg di halim,,ahhh dah pada tau lah,,,coba kalau pahlawan! lancarkan tu su,35.

  10.  

    Ya gpp juga klo bekas. Sekelas AS juga pada situasi damai dan perang tidak bisa lepas dr kekuatan alutsista taktis bekasnya. Baru-baru ini titah yang mulia Trump juga mau mengoperasionalkan kembali kapal perang bekas US Navy.

    Segeralah pesan Leopard bekas batch II

    •  

      Tidak Ada masalah kalau beli bekas baru …refurbished…versi upgrade.
      Extra stock produksi …
      Cuci gudang Alutsista …
      Entah apa pun Nama nya…
      Yang penting barang nya kondisi nya bagus ..siap dipakai tempur Sungguh an..
      Soal ada anggota DPR banyak Omongan Dan saran …itu Karena dia perlu publikasi Dan asli nya mereka itu Tidak Pernah tahu masalah yang dihadapi TNI Dan mereka itu Tidak Pernah perduli sedikit pun ..

  11.  

    ASAL JANGAN BEKAS MANTAN. ANCOR MINE

 Leave a Reply