Feb 232019
 

Wakil Presiden AS Mike Pence (kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) © Reuters

JakartaGreater.com – Pemerintahan Trump mencoba menjadikan konferensi Timur Tengah minggu ini di Warsawa sesuai dengan maksudnya yang ingin dilakukan oleh pemerintah, yakni latihan menghancurkan Iran yang nantinya membuat orang Eropa untuk lebih banyak turut serta, menurut analis Paul R. Pillar di National Interest.

Tetapi konferensi tersebut malah menjadi apa yang oleh kebanyakan pemerintahan Eropa memperingatkan bahwa itu adalah: sebuah demonstrasi dan bukan persatuan AS-Eropa tentang kebijakan terhadap Iran karena hasilnya adalah perpecahan. Dan bahwa pernyataan akhir konferensi sama sekali tak menyebutkan Iran harus menjadi kekecewaan besar bagi pemerintah.

Dalam kampanye obsesifnya untuk memicu “permusuhan maksimum” terhadap Iran, pemerintahan Trump malah terisolasi kecuali untuk bermitra dengan rival regional Iran, yakni Israel, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Rezim-rezim ini memiliki alasan mereka sendiri untuk menjaga Iran tetap menjadi kasta rendah – alasan yang berbeda dari kepentingan AS dan berbeda dari kesukaan akan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

Ketiga negara tersebut bertanggung jawab atas banyak penggunaan kekuatan militer ekstrateritorial tanpa diundang – mulai dari perang ofensif Saddam Hussein, perang ofensif Amerika Serikat di Irak dan intervensi lain, dan juga intervensi Turki di Suriah utara – serta metode destabilisasi yang lebih tidak teratur negara-negara lain di Timur Tengah selama 40 tahun terakhir.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu © Amir Cohen via Reuters

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat dianggap sebagai “pemenang” di Warsawa karena menggunakan konferensi untuk menunjukkan bahwa Israel dapat bersikut dengan para pemimpin Arab. Itu setelah pertemuan sisi dengan menteri luar negeri Oman bahwa Netanyahu berkomentar dalam wawancara berbahasa Ibrani tentang Israel dan negara-negara Arab berbagi “kepentingan bersama dalam perang melawan Iran”.

Kantor Netanyahu kemudian mengubah dalam terjemahan bahasa Inggrisnya untuk menunjukkan bahwa ia hanya bermaksud menggunakan makna metaforis “perang”. Terlepas dari masalah terjemahan, pemerintah Netanyahu telah makin meningkatkan retorika anti-Iran yang sudah intens, seperti baru-baru ini mengakui untuk pertama kalinya melakukan serangan udara berulang-ulang di Suriah.

Pemerintahan Netanyahu sangat menghargai setiap adanya transaksi terbuka kepada pemerintah Arab dengan menunjukkan bahwa mereka tidak perlu untuk mengakhiri pendudukan pada wilayah Palestina dan melakukan bisnis yang bermanfaat dengan tetangga regional.

Pemerintahan Trump malah menunjuk pada transaksi semacam itu dalam mengklaim keberhasilan di Warsawa. Menolak adanya tekanan internasional untuk mengakhiri pendudukan meliputi hampir semua diplomasi Israel dan mencakup dimensi Eropa Timur.

Presiden AS, Donald J. Trump © Voice of America via Wikimedia Commons

Mengimbangi penentangan Eropa Barat terhadap pendudukan adalah alasan utama Netanyahu menyesuaikan diri dengan rezim Hungaria, Viktor Orban, terlepas dari otoritarianisme Orban dan kebiasaan menyalahkan George Soros atas segala hal yang buruk di Hongaria.

Konferensi Warsawa meninggalkan dunia dengan hal-hal lama yang sama berkenaan dengan kampanye permusuhan maksimum terhadap Iran dan pemerintahan Trump berbaris di belakang beberapa saingan regional Iran bahkan ketika ini berarti berbaris melawan seluruh dunia.

Namun terlepas dari isolasi yang relatif ini dan bola kecil yang dimainkan pemerintah mengenai masalah tersebut, masih berbicara seolah-olah Amerika Serikat akan dapat menentukan apa yang harus dilakukan oleh seluruh dunia.

Nada tersebut meresapi pidato dari Wakil Presiden Mike Pence di konferensi, dimana keluhannya tentang pemerintah Eropa tidak “kooperatif” dengan sanksi AS terdengar seperti murid sekolah yang memarahi murid lainnya karena menghindari disiplin.

Yang tidak disebutkan dalam pidatonya adalah bahwa Amerika Serikat — bukan orang Eropa, dan bukan Iran — yang secara terang-terangan melanggar tidak hanya Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (alias kesepakatan nuklir Iran) akan tetapi juga tentang Resolusi Dewan Keamanan PBB No.2231 yang disahkan dengan suara bulat dan yang merupakan dukungan komunitas internasional atas JCPOA.

Pence menyerukan kepada pemerintahan Eropa untuk melanggar kewajiban mereka sendiri dan untuk menunjukkan penghinaan terhadap Dewan Keamanan PBB seperti halnya yang dilakukan oleh pemerintahan Trump.

Pence juga memiliki kata-kata kasar tentang “kendaraan tujuan khusus”, semacam “barter clearing house” yang baru-baru ini didirikan yang diharapkan orang Eropa akan memungkinkan setidaknya barang-barang kemanusiaan untuk dijual ke Iran sementara tinggal di luar sistem perbankan formal dan diluar jangkauan sanksi AS.

Mekanisme baru mungkin hanya memiliki efek marjinal kepada perdagangan dengan Iran, tetapi memiliki signifikansi yang lebih besar untuk kepentingan jangka panjang Amerika Serikat. Ini adalah satu lagi indikasi bagaimana dunia semakin muak dengan bagaimana Amerika Serikat mengejar tujuan-tujuan politiknya yang sempit dengan mengeksploitasi keunggulan ekonominya dan menemukan cara untuk mengatasi atau meniadakan keunggulan tersebut.

Jika sebuah negara adidaya yang terisolasi, terus berusaha melakukan hal-hal yang tak pantas yang dilakukannya terhadap Iran, ia akan melihat bahwa kekuatan supernya berkurang lebih cepat dan di masa depan, akan menjadi kurang mampu memaksakan kehendaknya pada banyak masalah yang tidak ada hubungannya dengan Iran.

  2 Responses to “Drama Anti Iran oleh “Pemerintahan Trump” Gagal di Warsawa”

  1.  

    Amer jelas KO lah, Iran jual murah minyak ke Eropa sedangkan amer maksa Eropa suruh beli f35, produk tidak moncer

    😎

  2.  

    #”Walaupun tdk pernah ada pemilihan umum di hutan,toh macan tetap merasa si raja hutan,terkadang dia lupa yg ia makan seekor landak”. saatnya no! USA polis wolrd.