Drone dan Satelit Militer untuk Pantau Wilayah Perbatasan

ilustrasi (Drone MQ-1 Predator (U.S. Air Force photo/Lt Col Leslie Pratt)

TNI AU berencana menempatkan drone di wilayah perbatasan, terutama di Natuna dan Tarakan, serta akan mengadakan pengadaan drone yang lebih besar setingkat predator, sehingga mampu terbang dengan radius yang lebih luas yang akan terhubung dengan program pengadaan satelit militer oleh Kementrian Pertahanan. Satelit ini nantinya nanti dapat digunakan oleh drone yang dikembangkan TNI AU, sehingga daerah-daerah yang memerlukan perhatian, dapat diawasi.

Rencana penempatan drone tersebut, disampaikan oleh KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP di Lanud Iswahjudi Madiun, 3/3/2017, seperti dilansir oleh Siagaindonesia.com.

KSAU menambahkan, Program kedepan TNI AU segera melengkapi alutsista mereka dengan pesawat MRT (Multi Role Tanker) Airbus 330, sehingga bisa mendukung penerbangan untuk air refueling. TNI AU juga akan membangun network centric warfare, sehingga dapat memberikan data link kepada pesawat-pesawat tempur dan yang tidak kalah pentingnya dapat memberikan data link kepada kapal-kapal perang, bahkan dalam suatu pertempuran Tank Leopard pun dapat diberikan datanya.

Drone dalam Operasi Tinombala

Di balik Tim Alfa 29 Batalyon Infantri 515 Kostrad yang berhasil menembak mati gembong teroris paling dicari, Santoso, dalam baku tembak di hutan Pegunungan Biru, Tambarana, Poso Pesisir Utara, Sulawesi Tengah, 18 Juli 2016, ada peran besar pesawat tanpa awak atau drone TNI AU dari Skadron 51.

Komandan Pangkalan TNI AU Supadio Pontianak, Marsekal Pertama Tatang Herlyansah mengatakan, peran drone dalam operasi Tinombala, untuk memantau pergerakan Santoso dan anak buahnya selama di hutan pegunungan Poso.

“Kita telah dilibatkan dalam satgas Tinombala, salah satunya Skadron 51, yang ikut memantau pergerakan Santoso,” ujar Marsma Tatang, di Danlanud Supadio Pontianak, Kalimantan Barat, 21 Juli 2016.

Selama operasi Tinombala berlangsung, Skadron 51 terus memantau keadaan dan memetakan hutan yang menjadi tempat persembunyian Santoso dan anak buahnya.

Pantauan drone kemudian menjadi bahan data bagi tim untuk mengetahui akurasi keberadaan kelompok yang telah berafiliasi dengan kelompok radikal ISIS tersebut.

“Data yang disampaikan dari pemantauan udara ini dapat secara akurat ditindaklanjuti pasukan di darat, sehingga dapat melumpuhkan Santoso dan anak buahnya,” ujar Marsma Tatang.

Drone yang dipakai dalam operasi Tinombala termasuk jenis drone cukup canggih. Drone Skadron 51 dapat terbang selama 14 jam. Selain itu, pesawat tanpa awak ini juga mampu memantau lebih lama di udara untuk areal pemantauan seluas 200 kilometer persegi.

Sumber : Siagaindonesia.com & Liputan6.com

Sharing

Tinggalkan Balasan