Drone Elang Hitam Uji Terbang Oktober 2020

Bandung, Jakartagreater.com    –   Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Gita Amperiawan mengatakan pesawat udara nir awak (PUNA /Drone) Medium Altitude Long Endurance (MALE) Elang Hitam, bakal uji terbang perdana pada Oktober 2020.

“Kemudian kita lanjut ke proses sertifikasi untuk flight test,” ujar Gita kepada ANTARA di hanggar PT Dirgantara Indonesia (DI) di Bandung, Jumat, 13-03-2020.

“Jadi tes terbang, akan dikerjakan sampai 2021 untuk bisa dapatkan type certificate sebagai MALE Surveillance. Dan kita akan lanjut terus mengintegrasikan senjata, weaponize. Nah itu kita mengharapkan di 2023 itu type certificate untuk kombatan MALE bisa kita dapat,” ujar dia.

MALE Elang Hitam merupakan Drone yang dikembangkan oleh konsorsium yang melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), PT Dirgantara Indonesia, PT LEN, Institut Teknologi Bandung (ITB), Kementerian Pertahanan, TNI Angakatan Udara dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Uji terbang Drone Elang Hitam akan dilakukan di lokasi sebenarnya pesawat tanpa awak tersebut akan digunakan untuk pengawasan, seperti perairan Natuna di Kepulauan Riau.

Sebelumnya Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, pembangunan Drone Elang Hitam sebagai pesawat tanpa awak dengan kemampuan kombatan akan diakselerasi.

“Rencana percepatan pembangunan PUNA Elang Hitam, sudah kami paparkan saat agenda rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin 2-3-2020, di gedung DPR RI, Jakarta. Paparan terkait penguasaan teknologi Drone tersebut juga saya sampaikan selanjutnya kepada Menristek/BRIN pada agenda Rakor Kemenristek/BRIN,” katanya.

Prototipe PUNA Elang Hitam (EH-1) juga sudah ditampilkan dalam Pameran Industri Pertahanan yg digelar oleh Kementerian Pertahanan. Saat itu Presiden Joko Widodo bersama Menko Polhukam, Menteri Pertahanan, Kepala KSP juga telah melihat langsung Drone Elang Hitam buatan anak bangsa itu, ujar Hammam.

Skema pengembangan awal Drone MALE Elang Hitam tersebut akan memiliki sertifikat sebagai Drone tempur pada 2024. Namun jika ada percepatan diharapkan di 2021 sudah dapat beroperasi guna menjaga kedaulatan wilayah tanah air, seperti di langit Natuna, dan kawasan T3 lainnya (Terluar, Terdepan, Tertinggal).

“Semoga percepatan pembangunan Drone Elang Hitam ini, dapat segera terwujud. BPPT bersama Konsorsium PUNA MALE Kombatan, siap melakukan akselerasi,” ujngkapnya.

7 pemikiran pada “Drone Elang Hitam Uji Terbang Oktober 2020”

    • Saya suka generasi2 optimis spt adek alexander ini. Selalu menjadi penyemangat bagi para ahli R&D terutama bidang alutsista di negeri ini. Itu yg diperlukan bagi bangsa ini dek. Dng mwmberi semangat pun sdh cukup memberi kontribusi positif bagi perkembangan alutsista dalam negeri.
      Jng spt cara berpikir dek lintang yg kancrut itu ya dek. Selain gak kebagian jatah othak, dan berpikirnya hanya menggunakan dengkul koplaknya itu, jg cara komennya spt anak2 lulusan PAUD….xicixicixicixi

        • Masalah SU-35, pespur Rusia yg Stroongg Binggiiit itu agak ruwet dek.
          Masalah pertama
          AS melarang transaksi dng dolar, jika ada bank penjamin yg melakukan transaksi dlm dolar utk pembiayaan pespur ini akan kena black list.

          Masalah kedua
          Komoditi imbal dagang yg disepakati ternyata oleh Rusia hanya akan dibayar harga terendah dan flat selama masa tenggang waktu kesepakatan pengiriman. Krn beralasan berlaku hukum pasar yaitu supply and demand. Jika stock lokal banyak dan dijamin ketersediaanya dlm jangka waktu tertentu maka harga akan turun dan stabil dek pada lokalan Rusia, Sementara RI menginginkan harga yg berlaku adalah harga pasar dunia. Disini letak alotnya negosiasi.
          Krn sesungguhnya Rusia lebih menginginkan dana tunai atau menggunakasn fasilitas kredit ekspor sejati dlm transaksi ini.

          Masalah ketiga
          AS akan berlakukan sanksi CAATSA jika RI mendatangkan SU-35 duluan. Maunya mereka F-16 Viper dkk nya harus segera kontrak dan kepastian pembayaran DP, baru mereka tdk akan berlakukan CAATSA. Jd harap maklum kalo Viper dkk dr AS akan datang duluan dek.

          Yg begini ini gak pernah bisa dipikirkan oleh si lintang kancrut sang fans boy barat amatirandek. Soalnya mikirnya pake dengkul dia dek…..xicixicixicixicixi
          (becanda dek)

          • Yg bikin mandeg itu bukan CAATSA tapi karena Indonesia itu anehnya minta bayar pake imbal dagang sedangkan kalo beli dari negara lain termasuk China sekalipun gak pake imbal dagang.

            Disisi lainnya Skema Offset yg bakal diterima oleh Indonesia masih belum jelas padahal Indonesia membutuhkan pengetahuan dalam bidang pengembangan pesawat tempur dan seeker rudal.

      • Bahkan Rusia gak pernah sekalipun ngasih TOT atau Offset saat beli Alutsistanya sebelumnya. Nggak ngasih ilmu buat perkembangan RnD Indonesia. Jaman Habibie saat program pengadaan F-16 pertama (Program Peace Bimasena) Indonesia udah dapet offset memproduksi beberapa sparepart F-16 tuh. Jadi sebelum ada UU No.16 Tahun 2012, USA udah memberikan komitmen buat Indonesia, gak kayak Rusia. Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh

Tinggalkan komentar