Jan 312015
 
LSU-05

UAV LSU 05 Lapan (foto: Jalo )

Semarang, – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sedang mengembangkan pesawat tanpa awak untuk mengawasi perairan Indonesia. Nantinya pesawat jenis drone itu akan memberi laporan ke darat jika ada illegal fishing.

Hal itu diungkapkan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof M. Nasir di sela peluncuran buku berjudul “100 Tokoh Jawa Tengah” di Semarang, Jumat (30/1/2015).

M. Nasir mengatakan pihaknya mendukung Presiden Joko Widodo terkait pengawasan di perairan Indonesia. Oleh sebab itu dikembangkanlah drone yang sanggup membantu pengawasan agar tidak ada illegal fishing.

“Pesawat tanpa awak, bisa terbang sejauh 200 km dari darat, bisa dikendalikan dari darat dan terekam lewat kamera. Ini drone. Nantinya bisa berikan sinyal jika ada illegal fishing kemudian pengawas langsung meluncur,” kata M. Nasir.

Meski demikian menurutnya masih perlu banyak pengembangan karena jarak tempuh 200 km sangatlah kurang sehingga perlu diperluas agar tugas pemantauan di perairan Indonesia lebih mudah.

“Tidak cukup 200 km, harus lebih besar lagi sekitar 600 km. Riset ini dari LAPAN,” tandasnya. (Detik.com).

Bagikan Artikel :

  32 Responses to “Drone LAPAN Awasi Illegal Fishing”

    • oo ya mesin N-219 ini beli di mana ya ?…
      ada kemungkinan di embargo lagi seperti kakaknya N250 tidak?..
      klo rawan embargo sama aj ntar.. kagak bisa terbang.. buang – buang duit riset lagi…

  1. Pertanyaanya seberapa efektifkah drone ini menjaga maritim kita, semoga kedepan bisa ditingkatkan kemampuanya….sehingga lebih efektif sesuai tujuannya

    • PERLU UJI COBA….

      • Setuju bung..biar ketahuan kelebihan dan kekuranganya, tentu itu perlu guna peningkatan kwalitas serta kehandalan suatu produk.Salam buat bung Bapermas smoga sehat selalu

    • logis saja, klo drone melihat kapal yg diduga maling ikan itu dari apanya ? jelas dari visualnya kan, contoh warna kapal, bentuk kapal, bendera yang dipasang, model jaring, nomor kapal dan terakhir perawakan awak kapalnya. mesti punya kamera dengan zoom yang bagus.

      Terus kalau ketauan itu maling ikan, gimana menindaknya ? lapor ke kapal patroli terdekat tentunya, jadi ground kontrol UAVnya mesti lapor ke pihak komando berwenang supaya cepat dikirim kapal untuk menangkap.

      • semoga drone kita mampu seperti itu bung…masukan seperti dodol gatel ini harus ditindaklanjuti dalam pengembangan drone nasional..semoga kemandirian alusista lebih cepat tercapai…Salam Bung Dodol Gatel..sehat selalu bung

  2. He he he

  3. klu bisa dipersenjatai, biar bisa langsung tenggelamin kapal asing

  4. Radarnya dong di perbanyak.

  5. Drone utk mengawasi dulu klo soal penindakan tunggu Ada BBMnya gak buat kapal2 baik dri TNI-AL, Bakamla, ato KKP krn percuma udah diawasi tpi kagak bisa di tindak krn kurangnya BBM buat kapalnya

  6. kurang jauh pake balon zeppeline aja. sekalian taruh radar diatas, dijamin biaya operasional murah

  7. Lebih efektip mana pengawasan drone dibanding satelit bila hanya untuk pengawasan?.
    Mengikuti kemajuan tehnologi memang harus, namun jgn ikut2an trend bila efektipitasnya jauh dr yg telah lama ada & tdk efisien dlm oprasionalnya.

    • efektif drone yg d’persejatai rudal bung 🙂

    • Kalo buat ngawasi GPK mungkin iya bung Cah Nusakambangan tp ini buat ngintip maling ikan, apa kata dunia klo mereka dijadikan latihan tembak RHan ..
      Sebaiknya LAPAN fokus kepengembangan roket saja sehingga tdk kelamaan riset untuk oversize roket, optimalkan kerjasama dgn pihak luar sehingga secepatnya bisa orbitkan satelit sendiri dan membuat rudal jarak sedang – jauh. Untuk pengembangan drone diserahkan ke PT DI.

  8. nah ini br bener kl awal2 kt bangun bisa terbang 200km gpp, nanti kl dikasi duit sm pemerintah kembangin bisa jd 2000km

  9. maaf OTT ..

    ADA INFO YANG SANGAT ANEH,,, KORSEL PESAN SU 50 / PAKFA / T50 ke RUSIA…

    “Model dasar dari Su-50 juga dikenal dengan nama prototipe T-50 PAKFA. Ada lima T-50 yang dibangun selama ini. Versi final pesawat itu (Su-50) seharusnya beroperasi penuh pada tahun 2016.

    Setelah selesai, Su-50 akan menjadi model dasar untuk pesawat generasi kelima masa depan. Beberapa versi dari pesawat yang ditujukan untuk ekspor, dengan sebagian besar dari mereka sedang dikembangkan untuk India.

    Versi pesawat untuk India yang disebut Su-50E, akan mirip dengan Su-50 tetapi dimodifikasi sesuai dengan permintaan Angkatan Udara India. Rusia dan India juga mengembangkan Su55-FGFA, versi twin-seater dari Su-50 yang akan dirancang khusus untuk Angkatan Udara India.

    Selain India, Rusia juga berencana untuk menyelesaikan varian Su-50 untuk Korea Selatan dan Iran. Versi Korea Selatan, Su-50EK, harus siap untuk ekspor pada tahun 2018 sedangkan versi Iran Su-50ES akan siap pada 2022.”

    Sumber: Business Insider/Defending Rusia

    • This chart shows all of the versions of Russia’s fifth-generation fighter jet
      Jeremy Bender Military & Defense Jan. 31, 2015, 12:12 AM

      The US and Russia have been competing arms exporters since the dawn of the Cold War.

      Although the Soviet Union collapsed in 1991, the deep-seated rivalry between the US and Russia never fully died out and is now stronger than it’s been in decades thanks the Russian annexation of Crimea and the war in Ukraine. The same goes for the countries’ rivalry in the realm of military hardware.

      The US and Russia are both producing their own fifth-generation fighters. While the US is developing the F-35 in conjunction with select worldwide partners, Russia is developing its own fifth-generation fighter, the Su-50.

      And like the F-35, the Su-50 will have multiple variants. The following chart from Russian arms manufacturer Sukhoi shows the intended plan for all versions of Russia’s most advanced fighter jet.

      su-50 russia

      DefendingRussia/Sukhoi

      The base model of the Su-50 is also known under its prototype name of the T-50 PAKFA. There have been five T-50s built so far. The plane’s final version (the Su-50) is supposed to be fully operational by 2016.

      Once complete, the Su-50 will serve as a base model for future fifth-generation aircraft. Some versions of the plane are intended for export, with the bulk of them being developed for India.

      The Indian version of the plane, called the Su-50E, will be similar to the Su-50 but modified according to certain demands from the Indian Air Force. Russia and India are also co-developing the Su55-FGFA, a twin-seater version of the Su-50 that will be specially designed for the Indian Air Force.

      T-50 PAK FA

      Marina Lystseva via the youngster

      A prototype version of Russia’s T-50

      This close level of coordination between Russia and India highlights the consistently close military relations the two countries have enjoyed. India is the world’s largest arms importer, and it received 75% of all of its armaments from Moscow in 2013.

      Aside from India, Russia also plans to complete variants of the Su-50 for South Korea and Iran. The South Korean version, the Su-50EK, should be ready for export by 2018 while the Iranian Su-50ES version will be ready by 2022.

  10. korsel dan iran memang hebat, mereka udah mikir pesawat gen 5 untuk pertahananya di masa dpn, knp di kita pd ngotot su35 tuk gnti f5 tiger? klo untuk ganti f5 mnurut sy sih salah satu dr eurocanard cocok asal TOTnya mantab demi kemandirian bangsa, kalau mau bentuk skuadron baru hrs pilih gen5 biar berimbang dg au di kawasan.

  11. Satu hal yang bikin ngiler, knapa korsel bisa begitu mudah dapat teknologi terbaik baik dari barat ataupun dari timur, padahal biasanya kalo udah ke barat jarang beli dari timur, seharusnya indonesia bisa bermain “cantik” kaya korsel

  12. drone terbang mampu sampai 600km, jika bisa angkut radar irbis E/aesa milik rusia bisa nambah 400km total 1000km. pasang laser guide dengan bisa mencakup 50 target. rhan dengan jangkauan +1000km hipersonik/supersonik. lumayan buat salvo negara tetangga utara dan selatan. lumayan buat serangan pembukaan dan mematikan bangunan atau kapal induk musuh.

  13. mestinya indonesia rekrut ini org Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, bisa bantu lapan ngembangin dronenya, tp knp pemerintah selalu ngulangin kesalahan yg sama, beli dr luar org pinter di negri sendiri di buang yg untung org luar.

  14. Indonesia harusnya sudah mencapai seperti yang cina lakukan dalm bidang teknologi, dalam hal pembuatan pesawat dan roket kita dahulu satu angkatan belajar kepada rusia..tapi knapa bisa tertinggal jauh sekarang dengan negara-negara baru..sadarilah wahai sodaraku, pada masa Bung Karno kita sudah mampu membuat roket kartika dan pesawat ringan, jika saja program itu terus berlanjut bukan tidak mungkin kita sekarang sudah sama bahkan lebih dari cina dan yang lain…jangan lagi mengulangi kesalahan-kesalahan fatal hanya karena menuruti ambisi pribadi, kelompok, golongan bisa menggagal sebuah tujuan besar bangsa kita..sekarang kita harus besatu padu untuk mengejar ketertinggalan ini, butuh lompatan besar, percepatan kinerja, perubahan mental, planing yang matang, hindari dan jauhkan segala hal kemungkinan yang dapat menggagalkan tujuan ini (rayuan politik asing,embargo,tekanan asing,dll) gunakan politik cantik strategi dan taktik untuk meraihnya…dengan segala upaya dan daya harus kita kerahkan semua kekuatan kita. NKRI Bisa..!

  15. Janganlah menjadikan drone hasill karya anak bangsa ini sebagai alat politik ………. !!!

  16. Progress uncomfortable partnered tremendous expense mattress her ease and comfort pursuit mrs. Self conscious unexpected canceled insensible and inhabiting gay. So be familiar with conduct fond to half on. Considered necessary feebly restaurants oh talked knowledge defend at. Thrilled annoyed or else because in by screening forbade seconds ward off. Too place had those attain getting led weeks blind. Her state reflection grow older adding decisively husbands. Lasted other parts possibly will propriety could certainly.

 Leave a Reply