Mei 122017
 

    China kerahkan banyak kapal di Laut China Selatan (LCS) © Reuters/U.S. Navy

Beberapa hari yang lalu JakartaGreater dalam artikelnya menyebutkan bahwa China saat ini berencana mengembangkan sebuah drone tempur yang memiliki kemampuan sea-skimming, mampu melayang 50 cm diatas permukaan laut.

Selain itu, drone (pesawat tak berawak) tempur tersebut mampu terbang dengan ketinggian maksimum 3.000 meter, memiliki waktu operasional 90 menit (tergantung ketinggian) serta mampu membawa persenjataan hingga 1 ton (1.000 kilogram) dengan berat lepas landas maksimum 3 ton (3.000 kilogram).

Berikut kita simak analisis seorang pakar militer dari Rusia, Vasily Kashin dalam wawancara dengan Sputnik News dalam artikel: What Makes New Chinese Sea-Skimming Combat Drone Perfect for South China Sea.

Menurut Kashin bahwa drone dengan kemampuan lepas landas dari air tersebut sangat cocok untuk penempatan di pulau dan fasilitas yang dikendalikan oleh Beijing di Laut China Selatan (LCS). Tidak seperti pesawat terbang, drone bisa tetap digunakan meskipun landasan terbang di pulau-pulau tersebut telah hancur.

“Dengan kode indeks CH, drone tersebut di analogikan sebagai kendaraan tempur udara jenis Rainbow (pelangi). Kemungkinan, drone tempur baru tersebut dikembangkan oleh akademi ke-11 dari China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC)”, kata Kashin.

Laporan media tidak memberikan rincian tentang kecepatan drone itu. Akan tetapi, biasanya ekranoplan (kendaraan menyerupai pesawat terbang yang beroperasi atas efek tanah) punya kecepatan antara 500 – 550 km/jam. Kashin mengatakan bahwa dengan waktu penerbangan selama 90 menit, drone itu diperkirakan mempunyai kecepatan 600 km/jam dan juga dapat terbang di ketinggian 1-6 meter di atas air.

Dalam analisisnya Kashin mengatakan bahwa drone itu memiliki tiga tujuan utama

  • Pertama, dirancang untuk memberikan serangan pada target permukaan yang luas.
  • Kedua, bisa digunakan untuk serangan torpedo yang cepat pada jarak jauh.
  • Ketiga, untuk mengisolasi daerah maritim.

Karena memiliki ketinggian operasional yang rendah, maka drone tersebut tidak akan sesuai untuk misi pengintaian.

“Mungkin, sebagai gugus tugas pertama, ia bisa membawa hulu ledak yang kuat dengan berat hingga 1 ton. Dalam skenario seperti itu, drone hanya bisa sekali pakai (tidak dapat digunakan kembali), juga lebih lambat dari rudal anti-kapal. Pada saat yang sama, operasional penerbangan rendah akan memungkinkan perjalanan sedikit menyentuh permukaan air”, kata ahli tersebut.

Kashin juga berasumsi bahwa biaya unit drone baru bisa jauh lebih rendah dari rudal jelajah anti kapal, terutama rudal supersonik, karena desain bodi dan mesinnya pasti lebih murah.

Pakar militer juga menyebut bahwa China saat ini juga sedang mengerjakan suatu teknologi yang disebut swarming drone (drone yang bergerombol). Konsep itu mengacu pada sejumlah drone otonom, yang dapat saling berkomunikasi serta mendistribusikan peran dalam sebuah misi. Teknologi serupa telah digunakan pada rudal anti kapal yang dikembangkan oleh Rusia, seperti Granit dan Vulkan.

“Secara teori, meski dengan kecepatan terbang yang rendah, namun drone jenis baru itu bisa beroperasi dalam satu kelompok, saling mendistribusikan arah serangan. Dengan demikian, mereka bisa menembus kelompok pertahanan udara angkatan laut musuh. Drone juga bisa dilengkapi dengan perangkat radio, pernika dan juga pelindung lapis baja”, tambah Kashin.

Apalagi, serangan oleh drone baru ini bisa dikoordinasikan bersama dengan senjata lainnya, termasuk rudal jelajah anti kapal dan rudal balistik serta pesawat tempur. Drone baru juga bisa membawa torpedo, menjadikannya sebagai rudal anti-kapal yang dapat dipergunakan kembali.

“Dalam skenario kedua ini, drone akan terbang ke lokasi target yang mungkin dan menjatuhkan torpedo, informasi mengenai target kemungkinan bisa diperoleh melalui sistem pengintai bawah laut yang telah dikembangkan oleh China, atau bisa juga berkoordinasi dengan pesawat anti kapal selam”, kata Kashin.

Selanjutnya, menurut ahli militer tersebut, drone baru bisa digunakan pada skenario ketiga yang secara hipotetis dapat terlibat untuk menyerang target darat, hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan torpedo serang darat buatan China (sejenis torpedo Shkval, Rusia).