Jan 172014
 
Modul PKR Sigma 10514 Indonesia dikerjakan bersamaan di Indonesia dan Belanda (photo:damen.com)

Modul PKR Sigma 10514 Indonesia dikerjakan bersamaan di Indonesia dan Belanda (photo:damen.com)

Pemotongan baja pertama (Steel Cutting) Frigate PKR Sigma 10514 dilakukan bersamaan pada tanggal 15 Januari 2014 di PT PAL Surabaya – Indonesia dan di DSNS Vlissingen – Belanda. Pembangunan kapal perang PKR Sigma ini sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati pada Desember 2012 dalam bentuk Menteri Pertahanan Indonesia dan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) menandatangani kontrak untuk pembuatan Frigate PKR SIGMA 10514 yang pertama.

Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) akan membangun dua modul dari PKR Sigma 10514 pesanan Indonesia, lalu  mengirimkannya ke galangan kapal PT PAL Surabaya, Indonesia. Konstruksi yang simultan serta pengujian modul di dua lokasi yang berbeda, menandakan strategi pembangunan modular yang unik dari DSNS. Sebuah metode yang belum pernah dilakukan dalam industri perkapalan angkatan laut.

Semua modul akan diintegrasikan dan dirakit di Galangan kapal PT PAL Surabaya, di bawah pengawasan DSN, yang kemudian disusul dengan uji pelabuhan dan uji di laut lepas.

Frigate Kedua
Disaat bersamaan, proses rekayasa untuk PKR SIGMA kedua sedang berlangsung dan konstruksinya diharapkan mulai sekitar enam bulan ke depan. Kontrak untuk pembuatan Frigate PKR Sigma kedua ditandatangani bulan Desember 2013.
Dijadwalkan frigate PKR Sigma akan diterima TNI AL pada tahun 2016.

Karakteristik utama
:

• Length: 105 mtr
• Width: 14 mtrs
• Displacement: approx 2400 tons
• Propulsion: Combined Diesel and Electric(CODOE)
• Crew: 100 + 20 spare accommodation
• Helicopter: ability to carry an organic helicopter
• Combat System:
– Extensive Air, Surface and Sub-Surface Surveillance capabilities
– Guided Missile Systems and gun systems for Anti-Air Warfare and Anti – Surface Warfare
– Torpedo systems for Anti-Submarine Warfare
– Active and Passive Electronic Warfare Systems
– Tacticos Combat Management System

(Damen.com)

  24 Responses to “Modul PKR SIgma 10514 Dikerjakan Simultan”

  1. Kabar penawaran carier pesanan royal navy yang batal kok tidak berhembus lagi?..masa mama eli tida singgung-singgung itu lai…oi.?

  2. @Bung diego kebanyakan ngasih artikelnya ini langsun 4 jadi saya harus loncat loncat menjelaskan berbagai info,,maaf warjager kalau saya banyak koment,,
    mungkin pertanyaan diantara para warjager sbb
    KENAPA kok lama jadinya PKR tsb dan baru potong baja kemarin padahal kontrak sudah dilakukan thn 2012 dan 2013,,?
    PIHAK damen selaku pemenang Tender setelah mendapatkan kontrak dari kemenhan mereka pasti menunggu Down Payment (DP),menunggu kejelasan tambahan dana tuk senjatanya dan mereka menunggu kejelasan pesanan kedua berkaitan dengan berapa banyak modul yang akan dibuat dan apa saja ,and berapa perangkat teknologi pendukung kapal tersebut yang harus dipesan dari luar damen,'(sekalian mempertimbangkan faktor ekonomis)

    Setelah damen mendapatkan DP mereka memesan,memastikan dan mengamankan DISTRIBUSI semua teknologi pendukung kapal tersebut mulai dari radar.cms.armament,engine dll.
    Setelah mereka mendapatkan vendor vendor tersebut (membuat kontrak) baru pihak Damen dan PT PAL melangkah ketahap selanjutnya yaitu pemotongan baja pertama.
    Kejelasan pasokan vendor akan segala teknologi yang akan dipasang MEMPENGARUHI model dari plattform yang akan dibuat dalam bentuk modul modul tersebut
    Contoh masih bingungnya memakai CIWS apa yang akan dipasang di PKR mau memakai milineum atau phalank akan ditempatkan dimana ,itu akan mempengaruhi pengerjaan modul dan struktur rancang bangun kapal tersebut berkaitan dengan berat dan ,dimana pasangnya dan jaringan penginstalan ciws tersebut,

    Setelah fix semua apa aja teknologi yang akan diinstal dan kepastian pasokan teknologi dari para vendor maka modul dibuat dan melakukan pemotongan baja,(jadi sudah tidak bisa diubah lagi model,jenis senjata cms ,engine yang akan disandang PKR 10514.
    Karena pengalaman saat pembelian Sigma yang terdahulu banyak tambal sulam dilakukan karena ada radar,senjata,dll yang tidak termasuk dalam kontrak sehingga perlu anggaran baru dan pengerjaan penginstalan lagi.cmiiw

    Disitu keprofesionalan pihak damen yang perlu dicontoh
    sedangkan disini biasanya KEBALIKANNYA pengerjaan KCR ,,pemotongan baja dilakukan terlebih dahulu yang penting fisik dulu ada dan beroperasi setelah itu baru bingung mau diisi radar apa senjata apa,,cms apa..sehingga nanti hasil akhir kcr tidak bisa maksimal karena kalau keberatan membawa armament maka mesin yang sudah diinstal akan kepayahan berlarinya,,padahal menyandang nama kapal cepat,,demikain juga cms nya biasanya penentuan cms berpengaruh dengan jaringan penginstalannya dianjungan,,jadi kesannya gak rapi dan pating trembel (jawa),
    radar yang dipakai kcr sekarng belum standart kapal tempur,,demikian juga senjatanya dennel vektor itu bukan standart kcr yang modern dan mestinya juga memakai CIWS
    Semua itu dikarenakan faktor ANGGARAN ,,,kenapa gak sekalian membeli KCR yang sudah MATANG desainnya seperti yang dilakukan pada PKR 10514 ini,

    Mungkin itu yang bisa saya sampaikan mohon maaf bila ngawur

    • Sorry Mas Satrio. Seharusnya yang sejenis saya gabungkan saja. Next akan dibikin begitu.
      Thanks

    • Maksudnya KRI Diponegoro dkk..?

    • Saya juga lost track komen mengenai Sigma. Di sini ajah nanya-nya

      bung @Satrio ….. :mrgreen:

      HMS Daring yang mau mampir dilengkapi 2 oerlikon dan 2 phalanx. Pantasnya Sigma class 10514 minimal 1 oerlikon dan 1 CIWS lain di belakang. Perlindungan dari close-in treath permukaan harusnya berbentuk kubah (imaginary) sempurna. Sementara Sigma hanya setengah kubah menghadapi ancaman dari depan saja. Bagaimana strategi Sigma class dgn 1 oerlikon di depan menghadapi ancaman close-in dari belakang? Apa akan mengandalkan manpad?

      Satu lagi, Fatahilah class upgrade terbatas atau masuk program SLEP (Service Life Extension Program)? Jika masuk SLEP sampai kapan Fatahilah class diharapkan akan terus operasional?

      • Sebenarnya kalau dalam theater defensif PKR akan head on dengan armada kapal lawan yang dihadapinya dari posisi depan,.,jadi ancama rudal yang datang akan dari depan kecuali ditembak dari pespur dari arah belakang dan itu berarti payung udara sudah lumpuh ,,,(analogi sebuah perisai pasukan PHH yang scoupnya perlindungan dari arah depan karena demonstrannya dari depan,,kalau ada dari belakang demonstrannya berarti kecolongan penyusup :D)

        Melihat Doktrin yang masih defensif ciws dibelakang itu tidak diperlukan karena potensi ancaman terbesar itu dari depan.,kemudian potensi ancaman dari samping dan itu masih bisa diatasi dgn milenium dan salvo mica/tetral.
        Kecuali nanti sudah pree empty strike di MEF 3 berperan blue navy control akan ditambahkan ciws debelakang

        Sementara biila benar ada rudal dan ancaman datang dari belakang (penyusup)
        yaa pakai manuver ngepot titik joss bung Now
        hehehehe

        • Masuk akal, MEF3 blue water navy yang wara wiri ke samudera baru memasukan ancaman pertempuran 360. Vietnam sudah memiliki coastal defense, jika mengingat tahap level TNI maka coastal defense untuk choke point diperlukan saat ini (MEF2) yang masih menekankan pada pertahanan daripada kemampuan preemtive.

          Jika mengikuti strategi umum sepertinya TNI juga menganut faham serupa dgn negara2 lain. Memperkirakan masa depan TNI kita bisa baca2 teori Alfred Mahan untuk memperkirakan modernisasi dan alutsista terkait, apalagi Indonesia negara maritim. Sepertinya prediksi ke depan TNI AL akan jadi matra utama menggeser AD adalah perkiraan yang tidak sepenuhnya ngawur. Pasca MEF3 Penerbal mungkin akan mengoperasikan pesawat jet tempur 🙂

    • penjelasannya kumplit, terima kasih bang Satrio.

  3. Tenang saja Bro…berdasarkan riwayat pengembangan terdahulu…sisi lambung belakang minimal dipasam SAM seperti Frigate Jerman….itupun dalam formasi tempur boleh jadi PKR akan di backup calon Fregate class atau riil destroyer sebagi flagship yang akan hadir di penghujung MEF 2 atau MEF ke 3….

    • waduh masih lama bang.

      • Sabar Bro….; tidak juga lambat, kita tidak ingin kejadian tahun 60 an terulang kembali Cepat kita bangun modernisasi alutsista untuk menghadapi pembebasan irian barat cepat juga ambruk; di tongkrongan sebelah di bahas tuh ….ALRI pernah diperkuat armada dari rusia 1 Cruiser Irian eks Swerdlov Class, 8 Destroyer Siliwangi eks Skorry Class, 8 Frigate Siliwangi eks Riga Class serta dari italia masing-masing 2 frigat/ corvete pattimura eks albatros dan soerapati eks Almirante clemente…ditambah juga 12 kapal selam Tjakra eks whiskey class….belum termasuk kapal tjepat seperti macan tutul cs……kita tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, pernah diembargo barat tapi juga tidak survive mempertahankan alutsista blok timur…..lain cerita kalau tetangga di selatan makin ber-ulah dalam kategori mengancam….. jangankan cruiser Moskva Class atau Petr Velikiy kapal selam nuklir terbaru Severodvinsk class pun sanggup kita datangkan jaminan nya SDA kita…(diluar Minyak Bumi lho, tau sendirikan kita sekarang net importir)…..membangun angkatan perang dalam masa damai haruslah secermat mungkin terlebih dengan persyaratan TOT; tapi yakinlah Bro sebagaimana di kekuatan udara selain Su 35; bakalan hadir 3 skadron Gripen E/F plus erieye (lebih superior dari milik Thailand yang seri C/D) bakalan mengisi stop gap sebelum IFX hadir di 2030-2040; karena itu sudah dilirik kemhan mengingat opsi TOT plus jaminan pinjaman satu skadron full capability yang sangat menggiurkan…. plus bonus akselerasi program IFX…..pasti disemua matra pembangunan modernisasi alutsista trendnya akan seperti itu……

  4. Senang memang mendengar kabar SIGMA yang sudah pasti 😀

    Tapi bagaimana dengan KRI Klewang itu, kemudian T.O.T rudal C-705 dengan China juga belum tau kelanjutannya ??

  5. tuh di gambar kapalnya ada tulisan modul 3 + 5. maksudnya apa yah? gagal paham ane

  6. KELUH KESAH DARI WEB TETANGGA
    —————————————————————————————————————–

    saya amat kecewa apabila membaca di laman2 web seberang dimana mereka sudah siap2 untuk terima Nakhoda Ragam class…sedangkan sepatutnya dan logikanya korvet Brunei itu dapat pada kita Malaysia kerana similarities dari segi sistem dan persenjataan yg mirip Lekiu class frigate….
    budgetary reason menyebabkan kita terlepas Nakhoda Ragam kepada Indonesia…satu kerugian….

    *MMP

    • Bisa kasih alamat web nya bang ???

      • bung @GM, ini bukan saat yang baik untuk peminat militer jiran. Nahkoda Ragam class sebelumnya memang ditawarkan kepada TLDM dan beberapa AL negara tetangga, tapi yang ada budget dan minat hanya TNI AL, makanya kita dapet murah.

        LCS Gowind juga reject-an TNI AL tapi kemudian dipilih oleh MOD jiran, alasannya ga tau kenapa tapi denger2 TLDM sendiri sebagai user sebenernya ingin Sigma class. Mungkin Gowind lebih gede sabetannya kali :mrgreen: bisa bernasib sama seperti kejadian pengadaan Scorpene dan AV8 yang overpriced.

        Yang lebih tragis, setelah acara buang uang pada mega proyek KS dan AFV kemudian tiba2 program lain terhenti karena alasan dana (misal program MRCA), bahkan program yang harusnya adalah pengeluaran rutin seperti peremajaan rudal yang masuk masa kadaluarsa. Akibatnya, corvette Laksamana class baru2 ini turun pangkat jadi fast attack craft karena rudal dan peluncurnya dicopotin dan hanya dilengkapi utama.

        Penurunan bobot akibat hilangnya launcher dan rudal ini memang akan membuat Laksamana class bisa melaju lebih cepat, tapi tanpa rudal anti kapal dan anti pesawat hanya cocok untuk ngejar nelayan dan harus kabur jika menghadapi kapal perang lawan, bahkan jika lawannya adalah PKR 40 🙂

        • bro nowyoudont;
          tentang “pengeluaran rutin (malaysia) seperti peremajaan rudal yang masuk masa kadaluarsa” ..
          bisa kasih sumbernya ? tks

          • Itu kesimpulan yang diambil berkaitan dengan nasib Laksamana class yang saat ini turun pangkat jadi FAC (fast attack craft) karena launcher rudal dan torpedonya dicopotin (bukan diganti baru) hingga hanya dilengkapi meriam utama saja.

            Alasannya adalah karena rudal dan torpedo Laksamana class sudah kadaluarsa dan pemerintah Malaysia tidak menggantinya dgn rudal yang baru. Padahal kan masa kadaluarsa rudal jelas dan harusnya bisa dianggarkan untuk biaya perawatan berkala.

            Alasannya adalah karena tidak adanya dana. Malaysia berencana terus menurunkan anggaran pertahanan mereka sampai setidaknya 2015 berkaitan dengan upaya mereka mengurangi defisit anggaran negara yang terus membesar. Defisit anggaran dan rasio hutang Malaysia saat ini termasuk yang terbesar di Asteng, Indonesia -dalam hal ini- jauh lebih baik

            Untuk melihat perbandingan hutang negara2 bisa dilihat disini . Pilih “Public debt as % to GDP” sebagai gambaran fair kesehatan keuangan negara tertentu.

  7. gan,..
    blh nanya gx ?
    soal kapal selam kilo class yang mau di beli tni,…sdh smpai thp mn nego nya

  8. Apa ada info terbaru dari program PKR SIGMA 10514 ini bung @diego? :mrgreen:

 Leave a Reply