Dubes Prancis: Kebijakan Ekspor Jerman Mengancam Proyek Eropa

Tank tempur utama Leopard 2A7 Angkatan Darat Jerman © P. Steffen/DPA

JakartaGreater.com – Patungan Prancis-Jerman yang berusaha membuat tank, drone dan jet tempur bisa berisiko karena pendekatan Berlin terhadap ekspor senjata, menurut Duta Besar Prancis memperingatkan. Sebagai akibatnya, kini semakin banyak perusahaan yang mengembangkan alutsista “bebas” dari komponen buatan Jerman, seperti dilansir dari laman Deutsche Welle (DW).

Duta Besar Prancis untuk Jerman, Anne-Marie Descotes, pada hari Senin memperingatkan bahwa “kebijakan ekspor senjata” Jerman beserta aturan perizinannya mengancam proyek pertahanan Prancis-Jerman (Franco-German) di masa depan.

Pernyataan itu datang ketika kedua negara Eropa berusaha untuk membentuk kerjasama pertahanan yang lebih dekat dan untuk mempererat hubungan antara parlemen mereka.

Dalam esai yang diterbitkan oleh Akademi Federal Jerman untuk Kebijakan Keamanan, dia mengatakan bahwa Jerman memiliki kecenderungan untuk melihat “ekspor alutista” sebagai masalah politik dalam negeri, tetapi kebijakannya masih “memiliki konsekuensi serius bagi kerjasama bilateral disektor pertahanan dan penguatan kedaulatan Eropa”.

Situasi yang “tidak dapat dipertahankan”

Kebijakan ekspor senjata Jerman yang tidak dapat diprediksi dan waktu tunggu yang lama untuk pemberian lisensi ekspor adalah masalah khusus, kata Descotes. Hal ini berdampak pada proyek-proyek besar Prancis-Jerman untuk mengembangkan tank , jet tempur dan drone baru.

“Situasi ini tidak bisa dipertahankan,” tulisnya. “Kemungkinan untuk ekspor yang realistis berdasarkan aturan-aturan yang jelas dan dapat diprediksi adalah prasyarat penting untuk kelangsungan hidup industri pertahanan Eropa kita”.

Diperlukan lebih banyak ekspor

Descotes menunjuk bahwa tidak ada prosedur standar untuk pembelian peralatan militer di Eropa, sesuatu yang didukung oleh Prancis tetapi Jerman sejauh ini menolak. Ini telah mendorong negara-negara anggota Uni Eropa (UE) untuk membeli senjata di luar benua biru dan memecah-belah pasar Eropa.

Dia melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa ekspor diperlukan untuk menambah volume penjualan dan menurunkan harga senjata. Jika tidak, negara-negara Eropa perlu meningkatkan pengeluaran militer hingga 4 persen dari output ekonomi mereka.

Senjata ke Arab Saudi

Pemerintah Jerman baru-baru ini memperpanjang pembekuan sementara ekspor senjata ke Arab Saudi hingga akhir bulan. Itu diberlakukan setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Larangan ekspor senjata ke Saudi membuat marah mitra Eropa yang khawatir hal itu akan membahayakan miliaran euro dari pesanan militer, termasuk kesepakatan £ 10 miliar atau sekitar $ 13,18 miliar (€ 11,65 miliar) untuk menjual 48 jet tempur Eurofighter Typhoon ke Riyadh yang akan dipimpin oleh BAE Systems Inggris. Perusahaan Jerman membangun sekitar sepertiga dari komponen pesawat tersebut.

Kesepakatan Prancis-Jerman

Descotes mengatakan tidak dapat diterima bahwa Jerman secara sepihak dapat memveto dan membahayakan ekspor sistem senjata oleh negara lain hanya karena itu mengandung komponen dalam jumlah kecil yang dibangun di Jerman.

Duta Besar menyarankan agar Prancis dan Jerman terus bekerja dalam beberapa minggu mendatang untuk menyelesaikan perjanjian bilateral untuk hanya mengizinkan masing-masing negara untuk melarang ekspor senjata satu sama lain dalam kasus luar biasa yang; yang terkait langsung kepentingan negara atau keamanan nasional.

Perjanjian itu, juga akan mencegah Jerman atau Prancis untuk saling menghalangi ekspor satu sama lain, dengan dasar bahwa komponen-komponen tersebut diproduksi di dalam negeri.

Tinggalkan komentar