Jul 122018
 

Ilustrasi duel antara pesawat tempur F-35 dan A-10 © US. Air Force via POGO.org

JakartaGreater.com – Akhirnya jet tempur generasi kelima F-35 bertempur melawan pesawat dukungan serang udara A-10 yang sebenarnya. Tes yang tidak dipublikasikan itu dimulai tanggal 5 Juli dan akan berakhir pada 12 Juli, menurut salinan jadwal uji yang ditinjau oleh Pusat Informasi Pertahanan di Proyek Pengawasan Pemerintah, sepeti dilansir dari laman POGO.org.

Tapi tes tersebut dirancang untuk tidak mengungkapkan nilai real pada kemampuan F-35 untuk mendukung pasukan darat pada situasi tempur yang realistis sebagai ganti pesawat serang A-10.

Tes dukungan udara jarak dekat harus melibatkan sejumlah besar pasukan darat pada simulasi tempur yang sangat cair di berbagai medan, dalam beberapa hari. Ini harus menguji kemampuan pilot untuk melihat target dari udara dalam situasi yang kacau dan selalu berubah.

Tes itu juga harus mencakup cara menguji kemampuan program untuk melakukan beberapa serangan dalam sehari, karena pertempuran yang sesungguhnya tak mungkin berhenti dan menunggu pesawat terbang kembali ke lokasi.

Tapi sesuai jadwal Angkatan Udara, tes hanya dilakukan selama empat hari di padang pasir California dan Arizona. Dan, menurut sumber yang terkait erat dengan pengujian, tidak satu pun simulasi pengujian itu diikuti oleh pasukan darat, atau berbagai situasi tempur yang dinamis, yang berarti pengujian CAS untuk F-35 tersebut hampir tidak mewakili misi yang harus dilakukan oleh pesawat dukungan udara jarak dekat.

Tes-tes yang dilaksanakan tersebut malah menempatkan para petinggi Angkatan Udara AS (US Air Force) ke dalam posisi yang sulit.

Mereka menginginkan agar senjata terbesar dan prioritas tertinggi untuk dibeli, tetapi jet tempur multi-misi F-35 yang telah menghabiskan hingga $ 400 miliar masih terus bermasalah, padahal itu juga telah direncanakan untuk mengganti pesawat dukungan udara jarak dekat A-10.

Dengan kata lain, pengujian CAS pada F-35 ini dirancang oleh seseorang yang memiliki kepentingan finansial dalam program F-35 dan bukan oleh orang-orang yang kepentingan utamanya adalah mengharapkan kinerja optimal F-35 dalam pertempuran.

Banyak petinggi U.S. Air Force yang bersikeras menentang uji CAS F-35, mengklaim bahwa F-35 itu untuk melakukan misi secara berbeda sehingga tidaklah adil untuk membandingkan kinerjanya dengan A-10.

Pengujian terbaru dilaksanakan karena Kongres AS telah mengamanatkannya hampir tiga tahun lalu. Senat menetapkan kriteria ketat dan skenario khusus untuk pengujian. Termasuk mendemonstrasikan kemampuan F-35 untuk mengidentifikasi secara visual pasukan teman dan pasukan musuh dalam skenario siang dan malam tanpa kendali serangan terminal gabungan yang mengarahkan serangan tersebut.

Rencana yang telah disetujui oleh Kongres AS itu termasuk jadwal untuk pengujian dan pendanaan pada rentang uji taktis yang rumit dengan target-target tempur realistis, serta sulit ditemukan ataupun dijaga oleh sistem rudal dan senjata pertahanan udara secara hati-hati.

Pengujian hingga saat ini telah mengungkap bahwa F-35 memang tidak mampu untuk melakukan sebagian besar fungsi yang diperlukan sebagai pesawat dukungan serangan udara jarak dekat yang dapat diterima, dan tampaknya kriteria yang sudah digariskan oleh Kongres dan pejabat penguji tidak akan memberikan hasil yang diinginkan oleh para petinggi Angkatan Udara AS.

Solusi Angkatan Udara: Dirancang untuk Menyesatkan

Para pemimpin Angkatan Udara AS akhirnya memiliki solusi sederhana atas dilema ini. Mereka mementaskan “quickie test” di areal pelatihan yang ada dan menciptakan skenario yang tidak realistis dengan mengandaikan kekuatan musuh yang bodoh dan inert (tak berdaya), sehingga membuat pengujian F-35 terlihat bagus.

Menurut keterangan dari sumber yang terlibat langsung dengan A-10 versus F-35 dan ingin tetap anonim, program pengujian dirancang tanpa pernah berkonsultasi dengan pakar Close Air Suport, pilot A-10 dan kendali serangan darat gabungan di Angkatan Udara AS.

Skuadron Tes dan Evaluasi 422 Angkatan Udara di Pangkalan Udara Nellis, Nevada yang mempertahankan divisi pengujian A-10. Tetapi tidak seorang pun dari unit uji operasional berkontribusi pada desain pengujian tersebut.

Bahkan yang lebih parah lagi, tak ada perwakilan Angkatan Darat atau Marinir yang berpartisipasi. Seharusnya pasukan yang bertempur di darat memiliki kepentingan utama dalam dukungan udara jarak dekat yang efektif, mengecualikan mereka dari proses ini adalah suatu kelalaian.

Acara pengujian ini seharusnya dirancang oleh Joint Strike Fighter Operational Test Team yang bertugas merancang semua tes untuk F-35. Daripada melalui saluran yang tepat, desain pengujian ini malah diserahkan kepada konsultan Tactical Air Support Inc., sebuah perusahaan yang menyediakan pesawat musuh untuk melayani sebagai lawan dalam pelatihan tempur udara untuk US Air Force.

Dengan kata lain, pengujian CAS pada F-35 tersebut dirancang oleh seseorang yang memiliki kepentingan finansial dalam program F-35 dan bukan oleh orang-orang yang kepentingan utamanya adalah pada kinerja optimal F-35 dalam pertempuran.

  One Response to “Duel Close Air Support F-35 dan A-10 Hanyalah Manipulasi?”

  1.  

    Terkesan dipaksakan!

 Leave a Reply