Dukung Program Maritim RI, AS Bantu Rp441 Miliar

52
101
Menko Kemaritiman, Indroyono Soesilo, dan Dubes AS untuk Indonesia, Robert Blake, dalam pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Menko Kemaritiman, Indroyono Soesilo, dan Dubes AS untuk Indonesia, Robert Blake, dalam pertemuan di Jakarta beberapa waktu lalu. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
AS juga bantu program pemberantasan pencurian ikan di laut Indonesia

VIVA.co.id – Pemerintah Amerika Serikat menyatakan dukungan bagi Indonesia dalam pembangunan maritim dan perikanan. Maka AS sudah memberi bantuan atas program itu.

“Kami sudah memberikan bantuan untuk sektor maritim dan untuk perlindungan ikan sebesar US$35 juta [sekitar Rp441 miliar],” kata Duta Besar (Dubes) AS untuk Indonesia, Robert O. Blake, di Sekolah Tinggi Kelautan (STP), Pasar Minggu Jakarta, Selasa 20 Januari 2015.

Pemerintah AS juga akan membantu pemberantasan penangkapan ikan tanpa izin (illegal fishing) di Indonesia. “Kami akan bantu pemberantasan atas penangkapan ikan yang tak berizin atau melanggar hukum (unreported and unregulated fishing)  di laut Indonesia,” kata Blake.

Selain itu, lanjut Blake, AS akan melakukan kerja sama dalam dunia pendidikan, sehingga sumber daya manusia (SDM) memiliki kualitas baik.

“Kami akan memberikan beasiswa kepada para mahasiswa master dan doktor untuk menimba ilmu di salah perguruan tinggi di AS, seperti Mississipi State University. Dan nantinya para lulusan tersebut bisa menerapkan ilmunya di Indonesia,” tuturnya.

Dengan program dukungan dan bantuan dari AS, Blake mengatakan, Presiden Joko Widodo sangat tertarik dengan program tersebut.

“Kami akan mendonasikan dana bantuan tambahan sebesar  US$33 juta. Dan dananya sekarang sedang dalam proses, supaya bisa cepat keluar,” lanjut Blake. (VIVA.co.id)

52 KOMENTAR

  1. Sebaiknya bantuan ini di di tolak sebelom efeknya mencedarai hati rakyat indonesia,, efek Dr kebijakan ini lbh besar keuntungan amerika,, amerika tdk akan pernah rugi membantu indonesia, siapkan tenaga nuklir untuk menyaingi ekonomi amerika..

  2. Cerita lama akan berulang kembali suatu hari nanti akan di dekte dan “tersandera”, bener2 syarat kepentingan asing. Sepertinya kok susah sekali setiap pemerintahan utk mempunyai kemandirian dan nasionalisme dalam kebijakan pemerintahan. Gimana ya perasaan “kawan lama” dari rusia dan cina melihatnya. Ngono yo ngono, neng ojok ngono banget toh….

  3. that’s the truth, mbok dewor. there’s no free lunch.

    tidak ada bantuan yang tanpa embel-embel apapun. minimal dengan embel-embel menjaga hubungan baik antar negara, menjalin persahabatan antar warga/personil (mis. bantuan pendidikan sipil/militer, pertukaran pelajar, dll), akuisisi data bersama (mis. data seismografi ataupun cuaca).

    bantu membantu itu bagian dari tata-krama pergaulan internasional. makanya Indonesia bersemangat membangun pusat pendidikan pasukan perdamaian di Bogor salah satunya agar kita bisa membantu dalam penyelesaian konflik-konflik. agar kita bisa menjalin persahabatan dan hubungan baik dengan banyak negara

    boleh mengkritisi bantuan dari negara mana pun tapi dengan ilmu, data dan referensi. jangan asal “njeplak” atau hanya berdasar like and dislike. lebih baik diam, mengamati dan berusaha mencerna jika tidak paham.

    cmiiw

    • Diam kalaw aset semua dikuasai asing kita jadi penonton anak cucu saya jadi tki tki gitu maksud anda.sekarang zaman revolusi mental bung setiap wara negara berhak menyampaikan aspirasi selagi garia koridor hukum.

      Walau pun comet sangat menyinggung tapi itu salah satu obat bagi pemerintah skr nanti yg akan datang

      Wajar jika sebagian masyarak awan seperti saya sedikit banyak curiga kami masyarakat biasa taruma akibat ula amerika

      Dampa tdk berasa bagi anda orang kaya

      Salam dari kuli bangunan salam persatuan nkri.

      • perbedaan pendapat ga usah di bawa ke perbedaan status atau kekayaan, bro. orang dinilai dari pendapat dan argumennya.

        adalah gegabah serta merta menuduh orang lain lebih kaya lalu karena posisi/statusnya itu membuat ia berbeda argumen. biasakan menilai apa bukan siapa.

        revolusi mental mestinya juga mengajarkan berpikir kritis dan realistis

    • Nanti kalo udeh pade lulus,lalu bali dimari nanti ilmunye siape coba yg mau di amalin dimari?. (ini Same aje pahamnye ya barat strong!) haeeduh dari jaman cing harto ame jaman ne mangsih tetep Same aje, tuh cing. tak ade ilmu dari timur pade generasi,ye.(tak ade orang lulusan timurr tuk ngimbanginye. Bijimane’ lagi dah!..piss

  4. Apa tidak belajar dari sejarah ini bagsa kita.

    Saya mancing di kolam sangup bayar jika tdk dapat ikan saya beli.

    Jelas jelas prinsip ekonomi menggeluarkan modal sekecil mungkin menghasil kan untung semua bukit dan lembah papua. Semua ladang minyak di lautan nkri. tuhan ada kah sosok mikir kan anak cucu kami kelak. Jika tidak ada lebih baik kiamat biar secepatnya di kumpul di padang mahsar.

  5. bung lombok@ mrk bukanya gak tau,mrk tau cuma mrk emang gak mau tau,,itulah yg terjadi,sbnr nya banyak pjbt2 kita itu org yg pintar2,,pandai dan berwawasan luas,tp masalahnya mrk tdk menggunakan kepintaranya untuk memjukan NKRI,jika ada yg bgtu selalu sj ada yg menjegal entah apapun itu,dan jika org2 sprti itu sdh banyak dlm lingkup pejabat dan petinggi kita alamat jelas tinggal menunggu waktu untuk negara ini hancur….!!!salam

  6. Ingat Pidato Presiden Obama sewaktu Kuliah Uum di Kampus UI beberapa tahun yll, dimana salah satu point diantara eberapa point adalah memberi kesempatan pada para generasi muda yg berbakat agar mau menimba ilmu di AS.
    Dengan demikian, nanti mind set-nya gampang di atur, setelah pulang ke tanah air.
    Mau????

    • Jika memakai logika anda maka ilmuwan2 kita yang bekerja di BATAN, LIPI, BPPT, LAPAN, PUSPITEK adalah orang-orang yang mindsetnya gampang diatur Jerman, Belanda, Perancis, Inggris, Jepang, Australia dan Amerika Serikat. Karena mereka menimba ilmu di negara-negara tersebut.

      Xenophobia jangan dipelihara.