Jan 172015
 
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj (kanan) menjawab sejumlah pertanyaan wartawan usai melakukan pertemuan di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, 24 Desember 2014. Kunjungan Presiden Joko Widodo ke PBNU untuk meraih dukungan soal hukuman mati bagi terpidana pengedar narkoba dan upaya gerakan deradikalisasi di Indonesia. ANTARA/Widodo S. Jusuf

Presiden Joko Widodo (kiri) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj (kanan) menjawab sejumlah pertanyaan wartawan usai melakukan pertemuan di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, 24 Desember 2014. Kunjungan Presiden Joko Widodo ke PBNU untuk meraih dukungan soal hukuman mati bagi terpidana pengedar narkoba dan upaya gerakan deradikalisasi di Indonesia. ANTARA/Widodo S. Jusuf

TEMPO.CO, Jakarta – Rencana pemerintah Indonesia menghukum mati 20 terpidana narkotik, enam di antaranya akan digelar besok, mendapat kecaman keras dari pegiat hak asasi manusia dan dunia internasional.

“Pengumuman akan dilaksanakannya eksekusi mati terhadap enam terpidana narkoba di Indonesia, termasuk seorang warga Negara Belanda, sangat disesalkan,” kata Federica Mogherini, Perwakilan Tinggi Uni Eropa Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan sekaligus Wakil Presiden Komisi Eropa, dalam pernyataan pers yang diterima Tempo, Jumat, 16 Januari 2015.

Uni Eropa juga menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk tidak meneruskan eksekusi mati terhadap terpidana lain dan mempertimbangkan moratorium hukuman mati sebagai langkah awal menuju penghapusan hukuman mati secara menyeluruh.

Senada dengan sikap yang diambil Uni Eropa, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Georg Witschel, juga meminta Indonesia menghentikan eksekusi.
“Jerman, seperti seluruh anggota Uni Eropa lainnya, menentang diberlakukannya hukuman mati. Hal itu tidak efektif dalam menurunkan angka kejahatan. Terutama dalam kasus pelanggaran narkotik,” kata Witschel lewat akun Facebook Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Jumat.

Sedangkan aktivis HAM internasional, Human Rights Watch, menuding Indonesia memberlakukan standar ganda soal hukuman mati. “Pemerintah Indonesia yang mengejar grasi bagi Ahmad di Arab Saudi sementara terus memberlakukan hukuman mati adalah kemunafikan terhadap hak untuk hidup,” kata HRW, yang menyebutkan pengampunan yang diupayakan Indonesia terhadap Satinah binti Jumadi Ahmad, TKI yang diganjar hukuman mati pada 2010, dan berhasil dibebaskan pada 2014.

HRW mengingatkan bahwa Komite HAM dan pakar PBB telah mengutuk pengenaan hukuman mati dalam kasus narkoba. Komisaris Tinggi PBB Bidang Kejahatan dan Narkotika juga telah menyatakan keprihatinan serius atas penggunaan hukuman mati dalam kasus narkoba. “Semua ini membuat penetapan hukuman mati oleh Indonesia terkait dengan narkoba sangat menjijikkan,” kata HRW.

Adapun Amnesty International menagih janji pemerintah Joko Widodo untuk meningkatkan penghormatan terhadap HAM. “Ini akan menjadi kemunduran besar jika pemerintah meneruskan rencana mengeksekusi 20 orang tersebut tahun ini,” kata Rupert Abbott, Direktur Riset Asia Tenggara dan Pasifik Amnesty International, kemarin.

Keenam orang yang akan dieksekusi Minggu ini adalah seorang warga Indonesia, Rani Andriani alias Melisa Aprilia, dan lima warga negara asing, yakni Daniel Enemuo (Nigeria), Ang Kim Soei (Belanda), Tran Thi Bich Hanh (Vietnam), Namaona Denis (Nigeria), dan Marco Archer Cardoso Moreira (Brasil).

Lima orang akan dieksekusi di hadapan regu tembak di Nusakambangan, sedangkan untuk Tran Thi Bich Hanh dilaksanakan di Boyolali.

Sebelumnya, Indonesia mengumumkan 20 eksekusi akan dilaksanakan tahun ini. Desember lalu, Presiden Jokowi telah menolak sedikitnya grasi atas 64 individu yang divonis hukuman mati terkait narkoba.(TEMPO.CO)

 Posted by on January 17, 2015

  68 Responses to “Dunia Desak RI Batalkan Hukuman Mati”

  1.  

    Ada upaya terstruktur untuk menghancurkan NKRI melalui narkoba sama halnya upaya menghancurkan China melalui candu oleh bangsa Barat pada waktu yg lampau. Namun konspirasi bangsa barat menemui jalan buntu karena kegigihan Pemimpin Besar dan rakyatnya bahu membahu dalam memerangi candu (opium) sehinga akhirnya menemui jalan keberhasilan.

    Bagaimana dg Indonesia?
    Intinya yg harus kita lakukan sekarang adalah mendukung bahu membahu upaya Pemerintah/Presiden bersama2 seluruh komponen rakyat untuk PERANG terhadap narkoba dan keturunannya, dan jadikan negeri ini menjadi negeri yang bebas narkoba selama2nya, titik!!

    Selanjutnya konsisten pada kedaulatan kita sendiri, jangan mempercayai siapapun di zaman yg penuh “Konspirasi Global yang Terstruktur” meskipun itu datangnya via lembaga PBB (bentukan AS dkk), maupun kepentingan terselubung negara2 yg kita anggap sahabat apalagi calon musuh atau musuh nyata NKRI.

  2.  

    Hehehehe…..lu mabuk ya ndro ech ndra….u sempat gk mikir bila Allah swt mengutus malaikat izrail sebagai eksekutor2 hukuman mati itu utk menyelamatkan ribuan nyawa umatnya

 Leave a Reply