Aug 042017
 

Pabrik Perakitan Mobil (Bahnfrend)

Jakarta – Kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang mesti dilaksanakan beragam bidang usaha di Tanah Air dinilai memberikan efek domino yang positif terhadap pengembangan perekonomian nasional ke depannya.

“Kebijakan ini sangat strategis bagi pembangunan industri nasional dan akan memberikan efek domino yang cukup besar bagi perekonomian nasional,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Global Justice (IGJ) Rachmi Hertanti, Kamis, 3/8/2017.

Menurut Rachmi Hertanti, dengan penerapan kebijakan TKDN tersebut maka Indonesia juga bakal semakin berpeluang menjadi pemain aktif dalam agenda rantai nilai dari pasar global.

Karena itu, pihaknya juga mendukung langkah Pemerintah Indonesia dalam pembuatan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tingkat Kandungan Dalam Negeri atau TKDN.

Saat ini, Pemerintah Indonesia sedang menyusun Peraturan presiden tentang TKDN guna mendorong pemanfaatan potensi dalam negeri mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Di tempat terpisah, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Peraturan Presiden tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang sedang disinkronisasi akan memungkinkan pemerintah pusat maupun daerah mengumumkan perencanaan teknis untuk program yang akan dilaksanakan.

“Dalam Perpres ini, kita minta rencanan pembelian pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebelumnya sudah diumumkan,” kata Airlangga.

Dengan demikian industri dalam negeri memiliki persiapan untuk menyediakan berbagai produk yang dibutuhkan, sekaligus dapat memperkirakan kapan produk tersebut dibutuhkan.

“Jadi, perusahaan nasional bisa memproduksi, bisa memprediksi kapan mau beli kapal laut, kapan mau beli kapal penumpang, kapan mau beli perencanaan yang lain. Sehingga, itu bisa dirancang jauh-jauh hari,” ungkap Airlangga.

Kebutuhan pemerintah pusat dan daerah kerap disampaikan mendadak, sehingga industri dalam negeri tidak memiliki waktu yang cukup untuk memproduksinya.

Misalnya, kebutuhan komponen untuk membangun infrastruktur, membangun pembangkit tenaga listrik atau proyek lainnya, membutuhkan waktu yang relatif tidak sebentar.

Perpres tersebut tidak akan membedakan terhadap produk yang diproduksi oleh BUMN atau swasta, yang paling penting adalah penggunaan TKDN akan mendorong daya saing produk dalam negeri.

“BUMN dan yang lain sama saja. Kita tidak membedakan apakah swasta atau BUMN, tapi seluruhnya apabila menggunakan TKDN bukan hanya mendapatkan insentif tetapi competitiveness,” ujar Airlangga. Dirilis Antara, 3/8/2017.

  14 Responses to “Efek Domino Kebijakan TKDN Bagi Perekonomian Nasional”

  1. Perpres tersebut tidak akan membedakan terhadap produk yang diproduksi oleh BUMN atau swasta, yang paling penting adalah penggunaan TKDN akan mendorong daya saing produk dalam negeri.

    Good joob,
    Tinggal efek nyata nya saja dilihat nanti apa efektif atau tidak.
    Karna sekedar Kata2 saja tak cukup tanpa Angka2 di Perpres tsb.

  2. Good….. Good….

  3. TKDN kalo dalam industri otomotif sangat2 diperlukan. Saat ini pada industri otomotif walaupun sdh ada yg 70% namun sisa yg 30% itu pada komponen vital pd mesin.
    Utk mesin baru sekedar block dan head cylinder sserta crank dan camsaft beserta item2 nya. Dan itupun masih dalam tahap meracik bukan menciptakan atau memperbaharui resep utk peningkatan type baru. Namun itu sdh sangat bagus dan memberikan angin segar di industri otomotif dalam negeri.
    Bersyukur ada Astra dan anak perusahaannya serta traktor nusantara yg sdh bisa menguasai dan memproduksi suku cadang kendaraan dan alat berat, dan msh ada beberapa pabrikan yg lainnya sehingga tdk bergantung dr luar, sehingga produk otomotif kita bisa bersaing dipasaran regional.
    Dilihat dr TKDN nya sebenarnya utk memproduksi kendaraan sejenis Avansa, Xenia masupun Kijang Inova yg 90% TKDN itu hal yg mudah bagi pabrikan Indonesia namun utk bicara model dan perkembangan teknologi mesin pastinya akan berjalan ditempat krn masih baru memulai melangkah kesana. Memang tidak ada industri otomotif yg bisa 100% TKDNnya mengingat pesatnya perkembangan teknologi otomotif.
    Salam warjag…selamat pagi.

    • Wong iki ngomong opo toh…pagi2 sdh nyocot…..xixixi

    • Kalo bicara industri otomotif,, sudah mampu kita bung mau TKDN 100% juga.. Tinggal pihak pemerintahnya aja mau atau ga.. Industri komponen otomotif jg udah banyak,, hanya saja masih di monopoli perusahaan besar.. Yg penting jng ada unsur politik yg trlibat kalo mau serius buat mobil/motor nasional dgn TKDN. . Pemerintah cukup mengawal dan melindungi industri dalam negeri..

      Dicoba 1 aja dulu utk mobil nasional utk sukses dipasar dlm negeri,, ane yakin pengusaha besar indonesia yg lain bakal latah utk membuat mobil nasional juga.. Harusnya pemerintah bukan hanya membangun infrastuktur tp membangun industri manufaktur dan industri kreatif dlm negeri yg pangsa pasarnya sangat besar utk selalu berkembang yg jauh lebih produktif.. Sekarang momentnya,, terbukti ekonomi kita udah sangat, karena bisa melewati banyak krisis dr th 2007 sampe skrng.. Trauma krisis 98/99 harus mulai dilupakan (move on).. Industri manufaktur yg telah digaungkan di thn 80-90an harus dilanjutkan.. Salam bung@Ruskye..

      • Lha kita klo buat mobil murah malah bener2 murahan kualitasnya mas bro. Saking memaksakan utk menjasdri mobil rakyat yg murah meriah tp murahan. Mana ada yg mau beli klo spt itu. Contohnya saja desain mobil Tawon yg jadul banget. Konsep itu yg salah selama ini. Knp gak mendesign yg sekelas dan semewah Rush atau Avanza atau sekelas Yaris. Yg teknologinya pun bersaing dng mobil jepang atau korsel. Saya yakin asal design dan teknologinya spt Rush, Avanza atau Yaris atau Honda Jazz, peminat mobil kelas menengah di Indonesia akan meliriknya bung.
        Jng lagi konsepnya asasl murah dan menekan harga akibatnya menghilangkan unsur comfort, elegan dan prestisius. Akibatnya di cap sbg mobil murahan yg dilirikpyn bikin gatel mata memandang bung @welleeeh.
        Salam NKRI

        • Kalo tawon awalnya emang mau gantiin bajaj.. Makanya dibuat seminimalis mungkin.. Desainnya jg ya ga jauh dari bajaj.. Walaupun udah di minimalis trnyata tetep lebih mahal dari bajaj BBG.. karena kurangnya dukungan pemerintah,, ya nasibnya jd trbengkalai.. Kalo aja ada instruksi dari pemerintah dgn dibantu biaya pengembangan dan kewajiban bajaj diganti tawon.. Udah sliweran tuh si tawon..

          Kalo masalah design,, itu mobil listrik hasil pengembangan BPPT sama pak dahlan cakep2 bung.. Karena ada dukungan dari pemerintah utk pengembangan mobil listrik..

  4. Saya menanti kebijakan pemerintah untuk membangun BUMN MESIN itu saja.
    Mengungat ini teknologi inti.
    Mesin pesawat,mesin kapal,mesin mobil/truk.
    Sejauh ini saya perhatikan belum ada pabrikan lokal dalam Bumn yg memproduksi mesin lokal.
    Paling tidak lisensi lah dari negara lain.
    Turki saja saat ini memiliki lisensi mesin jet typhoon.
    Kapan lah indonesia punya pabrik mesin sendiri.
    Kemarin mobil komodo buat mesin numpang ke pabrik di cina,mengingat di indonesia tidak ada pabrik mesin.
    Padahal mesin mobil komodo itu asli di rancang oleh anank bangsa,hanya saja pembuatannya berlangsung di negara luar mengingat di indonesia tidak ada sarana penunjang untuk membuatnya.
    Mesin RUSNAS sampai saat ini belum ada perkembangannya,entah hilang di telan alam.

  5. tepat sekali @bang ruskye,
    100 untuk Anda
    silahkan kan di ambil di warung terdekat
    sarat dan ketentuan berlaku,,

  6. Tergantung dukungan penuh pemerintah, maka harus siap dan mampu menghadapi tekanan politik dan persaingan dr asing yg sdh berpuluh tahun menikmati gula2 dlm negri!

  7. wowww ada yg sampai 70-90% tkdn nya.. kata bung di atas.. mantap.. kalau mau sudah jadi mobil nasional lho.. padahal mobnas tetangga aja gak sampai segitu kandungan lokalnya.. jd sebenernya kita sudah punya mobnas sendiri dong.. cuma masih pakai merk luar.. gak papa yg penting tkdn nya melebihi dr mobnas tetangga heheheheheh.. sudah di eksport lagi.. banyak peminatnya jg lho di luar negeri mobnas kita ( meski pakai nama luar)

 Leave a Reply