JakartaGreater.com - Forum Militer
Aug 092017
 

Pelabuhan Sekupang, Batam (Masgatotkaca / commons.wikimedia.org)

Batam – Untuk menghidupkan kembali ekonomi di Kota Batam, dibutuhkan peralihan industri unggulan dari galangan kapal dan manufaktur, ke bidang lainnya, ujar pernyataan Anggota Komite II DPD RI, Jasarmen Purba.

Jasarmen Purba pada Rabu 9 Agustus 2017 di Kota Batam, Kepulauan Riau mengatakan. “Kita sangat mengunggulkan galangan kapal. Dulu, jalan ke Tanjunguncang (kawasan industri galangan kapal) sulit. Sekarang tidak lagi. Maka perlu unggulan lain di Batam.”

Komite II DPD RI sudah berulang kali melaksanakan kunjungan kerja dan rapat dengar pendapat untuk menggali masalah yang dihadapi yang membuat kota itu mengalami pelemahan ekonomi.

Batam, Kepri yang diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia, justru mengalami pertumbuhan ekonomi terburuk ke-2 di Indonesia, atau nomor 33 dari 34 Provinsi.

Tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada semester pertama 2017 melorot ke angka 1,52 persen. Angka tersebut jelas mengalami penurunan signifikan bila dibandingkan pada triwulan pertama 2017 pada angka 2,02 persen. Padahal, Pemprov Kepri menargetkan untuk tahun 2017, pertumbuhan ekonomi pada angka 5,58 persen.

Menurut Jasarmen Purba, selain sektor unggulan yang sedang jatuh, penurunan ekonomi Batam juga disebabkan perekonomian global yang juga menurun dan perselisihan antara Pemkot dan Badan Pengusahaan Kawasan Batam dalam masalah pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB).

“Kami sudah berusaha mendamaikan,” ujar Anggota Komite II DPD RI itu .

Jasarmen Purba melihat, terdapat 3 unggulan ekonomi yang masih dapat digali di Batam, untuk meningkatkan perekonomian, yaitu pengembangan Kawasan Bandara Hang Nadim Batam, sektor pelabuhan dan sektor perikanan.

Bandara Hang Nadim Batam kini dikembangkan menjadi lokasi industri, terutama untuk perbaikan dan perawatan pesawat.

“Kami sudah 3 kali melasanakan kunjungan ke sana. Di sana ada lahan banyak yang siap untuk industri,” ujar Jasarmen Purba  .

Sekarang ini, manajemen Bandara Hang Nadim sudah menjalin nota kesepahaman dengan Grup Lion dan GMF untuk pengembangan MRO.

“Alangkah baiknya, MoU tidak hanya nasional tetapi juga internasional. Ini harus diperjuangkan,” tutur senator daerah pemilihan Kepri itu.

Jasarmen Purba optimis, bila kawasan industri Bandara Hang Nadim dikembangkan, maka dapat menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Berimbang dengan jumlah tenaga kerja yang berhenti dari industri galangan kapal.

Kemudian, keunggulan kedua, yaitu dengan meningkatkan pelabuhan.

Sekarang ini, Singapura yang hanya berjarak sekitar 40 menit dari Batam mampu melayani jutaan TEUs kargo. Sedangkan Batam tidak sampai  1 juta TEUs.

Menurut Jasarmen Purba, pelabuhan kargo utama di Batuampar memang terkendala adanya pipa gas, sehingga kapasitas pelabuhan sulit ditambah. Oleh sebab itu perlu ada pelabuhan lain untuk menampung kapal-kapal limpahan dari Singapura, sesuai dengan Teori Balon milik BJ Habibie.

“Cari tempat yang lebih baik. Apa salahnya bila ini dilaksanakan. Kita menerima limpahan dari singapura,” ujar Anggota Komite II DPD RI Jasarmen Purba.

Dan potensi yang keempat adalah memanfaatkan kekayaan laut, terutama di Natuna dan Kepulauan Anambas, Kepri. Dirilis Antara 9 Agustus 2017.

Bagikan:

  8 Responses to “Ekonomi Batam Butuh Pengalihan Industri Unggulan”

  1.  

    Teori balon pak Habibie gak bekerja krn Si upil punya backing dan kebijakan yg bisa mengcounter. Contoh aja tax amnesty.

    •  

      ‘Balon’ku Ada 5 Rupa-2 Warnanya Merah,Putih,Kelabu,Merah Muda Dan Biru Meletus Balon Hijau Door… Dan Pertanyaannya Setelah Balon Hijau Meletus Masih Tersisa Berapakah Balon Tersebut?… 😆

      #Edisi Kurang Kerjaan
      #Just Kidding

      •  

        Tergantung…..
        Kalo yg meletus balon hijau. Balonnya bung Tukang Ngitung, Phd tentulah tetap 2, ditambah balon ente jd jumlah semuanya ada 4. Pertanyaannya diantara balon kalian berdua, yg paling kuat punya siapa.? Hayooo….ngaku….xixixi

  2.  

    Solusi batam cuma satu, kembalikan lagi sebagai area free trade zone seperti sediakala (bukan area khusus saja), sejak sri mulyani menghapus free trade zone dulu….., kawasan ini jadi sepi

 Leave a Reply