Jan 242014
 
Tank Leopard 2A4 TNI AD

Tank Leopard 2A4 TNI AD

Tentara Nasional Indonesia (TNI) mulai mendaptkan ancaman yang meningkat dari negara lain, sehingga TNI mempercepat usahanya dalam memperkuat daya tangkal dengan merombak struktur agar bisa lebih cepat menggelar dan menempatkan pasukan, termasuk mengembangkan korps marinir serta pengadaan persenjataan ofensif jarak jauh.

Tindakan ini akan menjadi salah satu terobosan kebijakan militer Presiden Susilo Yudhoyono, yang aturannya akan diterapkan Juni 2014, untuk pembentukan formasi komando gabungan wilayah pertahanan regional yang disingkat Kogabwilhan.

Rencana ini akan mengintegrasikan kekuatan regional: Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara ke dalam kelompok pertahanan terpadu, yang akan diposisikan di flashpoint pertahanan tertentu, untuk menjaga integritas teritorial dan kedaulatan negara.

“Tapi fungsi Kogabwilhan tidak sebatas hal itu. Kogabwilhan juga berfungsi memberikan deterrence/ daya gentar terhadap negara-negara lain karena perintah komandonya fleksibel, dan memiliki sumber daya untuk dengan cepat menggerakkan pasukan”, ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Setiap kelompok Kogabwilhan akan dilengkapi armada kapal perang sendiri, skuadron jet tempur dan unit Angkatan Darat. Komandan setiap kelompok, seorang jenderal bintang tiga, akan diberikan wewenang untuk merespon tanpa harus melalui birokrasi dari markas TNI di Jakarta .

Dalam struktur yang ada saat ini, TNI tidak bisa langsung menanggapi sebuah insiden, misalnya ada serangan asing ke wilayah timur, sampai komando pusat menugaskan seorang perwira bintang tiga sebagai commanding officer dan menyusun penempatan pasukan dan perintah pengadaan logistik.

“Kami selalu waspada atas ancaman di masa depan dari negara lain. Tapi struktur dan Komando yang ada, tidak cukup untuk melakukan respon dengan segera. Kogabwilhan akan menambal lubang tersebut,” ujar Dirjen Renhan, Kementerian Pertahanan Marsda TNI FX Bambang Sulistyo.

Pemerintah berencana memiliki empat kelompok Kogabwilhan mencakup beberapa Flashpoint, yang menurut pejabat kementerian adalah: Aceh, Natuna Kepulauan Riau, Papua dan Attambua Nusa Tenggara Timur.

Aceh termasuk dalam rencana, karena kekhawatiran munculnya gerakan separatis lain, dan juga karena letaknya yang strategis di mulut Selat Malaka yang super sibuk .

Sementara itu, Natuna terletak dekat Laut Cina Selatan, di mana negara China sengketa perbatasan dengan beberapa negara ASEAN yang sebagian besar didukung Amerika Serikat. Indonesia tidak terlibat dalam sengketa teritorial. Papua dipilih karena adanya konflik separatis dan Attambua karena kedekatan wilayahnya dengan Timor Timur (Timor Leste) dan Australia.

Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia (photo: FB Jiwa Merah Putih)

Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia (photo: FB Jiwa Merah Putih)

Markas (HQ) dari masing-masing kelompok Kogabwilhan tidak harus berada di lokasi penempatan pasukan/deployment. Misalnya, untuk mengkover Natuna, Komandonya bisa saja dibentuk di ibukota Kalimantan Barat, Pontianak atau di ibukota Riau Pekanbaru.

“Kami belum memutuskan apakah akan memiliki tiga atau empat kelompok Kogabwilhan. Jika kita memiliki empat maka harus mencakup bidang timur, barat dan tengah Indonesia. Komando untuk pulau Jawa akan berdiri sendiri, ” ujar Menteri Pertahanan.

Untuk mendukung kebijakan tersebut kementerian sedang melakukan apa yang disebut “right-sizing” dalam penugasan personilnya, di mana prioritas ditujukan bagi pasukan pemukul daripada pasukan pendukung.

“Tidak akan ada penambahan jumlah pasukan. Apa yang kita lakukan adalah memilih dan menugaskan kembali prajurit ke dalam divisi-divisi yang prioritas,” ujar Purnomo. Pada tahun 2013, Indonesia memiliki sekitar 460.000 personil dan setiap tahun ada 13000 yang pensiun.

Sebagai bagian dari restrukturisasi, Kementerian Pertahanan sedang melakukan proses pengembangan satuan Marinir, dengan penambahan terbaru, Batalyon Marinir ke-10 di Pulau Setokok, sekitar 4 kilometer sebelah tenggara dari Pulau Batam, Kepulauan Riau. Presiden Yudhoyono dijadwalkan meresmikan batalion yang ditugaskan dengan 600 personil, pada bulan Maret 2014.

Tanda-tanda bahwa TNI serius dalam menyusun cara memandang dunia luar, baru-baru ini disetujui pembelian selusin kapal selam Kilo Class Rusia. Sebuah tim dijadwalkan terbang ke Moskow pada akhir bulan untuk memproses pembelian melalui fasilitas kredit ekspor Rusia, yang disertai suku bunga rendah.

“Apa yang akan menjadi game changer bukanlah kapal selam kilo, tetapi rudal jelajah Club- S yang diangkut kapal selam tersebut,” ujar Purnomo. Ia menambahkan bahwa rudal itu bisa mencapai target sejauh 400 km.

Indonesia ini juga sedang menunggu pengiriman 30 pesawat tempur F-16 yang diperbaharui (refurbished) dan selusin helikopter serang Apache dari AS, yang dimulai tahun ini, serta 103 Tank Tempur Utama Leopard refurbished dari Jerman.

Anggota DPR Komisi Pertahanan, intelijen dan urusan luar negeri Susaningtyas Handayani Kertopati mengatakan, TNI harus memperkuat pendekatan “outward looking” pada saat tanda-tanda ancaman meningkat.

“Ancaman terbesar jelas akan berasal dari Australia, ” katanya.

Baru-baru ini, Australia meminta maaf kepada Indonesia setelah kapal patroli perbatasan mereka, memasuki perairan Indonesia tanpa izin dalam upaya menghentikan migran/ manusia perahu.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan telah memperingatkan bahwa kebijakan “tow-back” Australia akan menyulut konflik. Kebijakan tersebut mencakup tindakan Angkatan Laut Australia yang mencegat kapal manusia perahu menuju Australia dan memaksanya kembali ke perairan Indonesia.

“Sekarang kami memiliki tiga frigat di perbatasan, bentrokan bisa saja terjadi ketika Angkatan Laut kita mencegah towing- back yang dilakukan Australia”, ujar pejabat yang tidak mau disebutkan namanya, terkait isu sensitif tersebut .

Selama empat dekade TNI telah berhasil memadamkan ancaman dalam negeri -terutama, konflik separatis di Aceh dan Papua, serta kekerasan komunal dan sektarian di Kalimantan dan Maluku. Sumber daya pasukan dan struktur komandonya sebagian besar disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Tapi setelah ancaman dalam negeri surut dalam delapan tahun terakhir, TNI secara bertahap mengalihkan fokusnya untuk membangun kemampuan daya tangkal/ deterrent dan mulai mengambil pendekatan yang lebih serius terhadap ancaman dari pihak asing. (thejakartapost.com).

  123 Responses to “Kogabwilhan TNI dan Ancaman Luar Negeri”

  1.  

    indonesia wajib pya payung udara s300/400,krn serangan lawan akn d mulai dr udara,stelah it perkuat pertahanan laut dgn memperbyk kilo class,,krn inti dr peperangan adlah d udara dan laut,,krn untk pertempuran d darat negara manapun tdk akan mampu menghadapi indonesia,krn di samping rakyatx militan,tentarax pun sangat di segani d dunia..jayalah NKRI.

  2.  

    kemampuan aster 30 itu sampai 70km, padahal diameter negara-nya saja ga nyampe 60km 😀 good for them, mudah2an TNI menjadi terpacu untuk melebihinya, ga bisa jadi macan asia kalo sama singa mini saja kalah otot

    dan KS mini Vietnam itu luar biasa, sangat strategis jika untuk perang asimetris melasan China

  3.  

    Hohoho.. sebelumnya di thread “Indonesia kirim 2 KRI ke perbatasan austarali” disitu ane sdh bocorin dikit klw laut selatan kita sdh lama dijaga kraken-kraken berkulit baja yg lbh seneng nyelem didasar nemanin nyi roro kidul sambil ngawasi p cocos. Makanya itu ausie nyediain cocos utk jd pangkalan marinir US, krn mrk baru sadar dan ngeh belakangan stlh peristiwa timtim, klw kita jg melihara kraken-kraken sjk dulu selain dua U209 dan dua kilo yg gambarnya akhirnya dijadikan kalender. tp yg jls kraken-kraken ini yg plg serem gotongannya dan plg lama nahan napasnya dibanding dua jenis diatas. krn itulah pak wiranto sbg panglima dgn ykn dan prcy memperingatkan kpd ausie dlm hal mslh timtim, klw dia mau TNI khususnya AL mampu dlm tempo 45 menit bisa meratakan darwin dgn tanah, bila sj gotongannya si kraken dilempar ke sana. Nah.. gootongannya si kraken apa hayoo..? yg bisa ke darwin dari laut selatan dlm tempo 45 menit ?? dan olh krn itu pula knp sngt jarang cakra dan nenggala patroli di pesisir laut selatan. yah.. couse sdh ada siluman kraken yg jaga. Waduh.. moga2 gak dimarahi ane.. sama..
    sama..
    nyi roro kidul.. gkgkgkgk..

    •  

      yang mau diratakan sebetulnya canberra atau darwin ?

      •  

        hahaha.. dalam strategi dunia militer, target yg mw dihancurin A blm tentu A bung. pastinya C atw D. strategi itu mutlak dianut militer.. agar musuh bingung.

    •  

      Mumet n deg-degan. Semoga masuk diakal. Masak perbatasan laut selatan sama sekali nggak dijaga? Impossible. Kasus kapal nylonong itu mungkin jebakan dari Diplomasi RI buat PM Abot Tenan.

    •  

      Pada tahun 1999 saat operasi Interfet Kapal selam Indonesia sempat terdeteksi oleh Koalisi pimpinan Australia.
      ________________________________________________________________________
      From Wikipedia :
      “The International Forces East Timor (INTERFET) coalition began deploying to East Timor on 20 September 1999, as a non-UN force operating in accordance with UN Resolutions. Led by Australia, who contributed 5,500 personnel and the force commander, Major General Peter Cosgrove, it was tasked with restoring peace and security, protecting and supporting UNAMET, and facilitating humanitarian assistance.[1] While 9 ships initially served the area, the fleet’s number varied over time. The Royal Australian Navy deployed a total of 16 ships to the taskforce including: HMAS Adelaide, HMAS Anzac, HMAS Balikpapan, HMAS Brunei, HMAS Darwin, HMAS Farncomb, HMAS Jervis Bay, HMAS Labuan, HMAS Success, HMAS Sydney, HMAS Tarakan, HMAS Tobruk, HMAS Waller, HMAS Westralia, HMAS Newcastle, and HMAS Melbourne. The fleet was further supplemented by the New Zealand ships HMNZS Canterbury, HMNZS Endeavor, HMNZS Te Kaha as well as ships from other countries including the Portuguese NRP Vasco da Gama, British HMS Glasgow, Canadian Armed Forces HMCS Protecteur (AOR509) and American USS Belleau Wood, USS Mobile Bay, and the USS Peleliu.

      The lead up to the operation remained politically and militarily tense. Australia re-deployed frontline combat aircraft—F/A-18s and F-111s—northward to act as a deterrent against escalation of the conflict by the Indonesian military. An Indonesian submarine was detected by Coalition surveillance within the vicinity of Dili Harbour as INTERFET forces approached. While the intervention was ultimately successful, Australian–Indonesian relations would take several years to recover
      _________________________________________________________________________
      From http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/australiaandthepacific/australia/1312500/Australia-was-set-to-bomb-Jakarta-in-Timor-conflict.html :

      Dr Dickens quoted Rear Adml Peter McHaffie, the Royal New Zealand Navy chief of staff, as confirming that the frigate Canterbury “detected an unidentified submarine contact” as troops sailed to the East Timorese town of Suai. At one stage, an Indonesian T209 submarine disappeared, sparking an intense search by Interfet aircraft and warships. Dr Dickens said: “There was a definite concern about naval attack from the submarines and all the other things.”

      “But the real thing that worried them was that the submarines could have been used to slip in at night near the fleet and offload special forces who might have gone out and sunk one of the ships while it was in Dili harbour or just outside.” The 10-day military stand-off between Sept 20 and 30 ended when senior Australian officers confronted their Indonesian counterparts with intelligence showing them that their submarines had been detected

      •  

        Australia memang memang tetangga yang tidak bisa dipercaya, persis seperti Malaysia saat mencaplok pulau Ligitan & Sipadan. Australia menyiapkan F/A-18 dan F-111 untuk mengebom Jakarta dalam eskalasi situasi Timor karena bakal tidak ada perlawanan berarti, apalagi balasan ke daratan Australia.

        MEF-1 memang baru untuk perang di Indonesia sambil malu-malu untuk menangkis serangan udara. Masih diperlukan yang bisa menyerang daratan negara lain ribuan kilometer jauhnya.

        Wahana semacam KS Kilo, Amur, dan Fighter Bomber Su-34 Fullback yang bisa membawa cruise missile supersonik Klub-S perlu diadakan dalam MEF-2 untuk land attack. Su-34 bisa membawa 3 Klub-S dengan hulu ledak 450 kg setara cruise missile Tomahawk. Su-34 malah bisa juga membawa 1 rudal Yakhont. Cukup lumayan membalas ke sasaran darat di Australia jika mereka mengebom Jakarta dan objek vital RI.

        •  

          Sasaran darat di Australia itu tidak perlu dicari jauh-jauh. Ada Pulau Natal (Christmas Island) yang hanya berjarak kurang lebih 200 mil laut dari Ujunggenteng (pantai selatan Jawa Barat). Meski kecil pulau ini memiliki beberapa fasilitas strategis termasuk peluncuran satelit.

          Mengunci posisi/koordinat obyek statis mestinya lebih mudah daripada obyek bergerak. Setidaknya 2 buah rudal Yakhont wajib diarahkan ke sana. (landbased sudah waktunya dipertimbangkan)

          •  

            kurang lah…masa 2…harus 100..rudal atau 1000 roket rx 550/770
            nah silahkan alut sista canggih ausie cs menangkis hujan rudal dan roket. dari indonesia..(ujung genteng)
            boleh pakai iron dome,patriot, dll.
            miniman 50% rudal atw roket pasti lolos…masuk p natal…
            2 menit rata itu pulau…..
            dan para penjudi besar indonesia tak bisa ke sana lagi..!
            he he he

 Leave a Reply