Feb 182019
 

JakartaGreater.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mencatat bahwa AS tidak dapat memenuhi dua syarat dasar Ankara untuk memperoleh sistem rudal darat-ke-udara (SAM) Patriot, yakni memberikan kredit dan produksi bersama, seperti dilansir dari laman Hurriyet Daily, hari Sabtu.

“Produksi bersama, pemberian pinjaman dan pengiriman awal adalah kriteria yang kami anggap penting. Meskipun mereka [Amerika Serikat] positif untuk pengiriman awal, namun mereka tidak bisa berjanji untuk memberikan kredit serta produksi bersama”, kata Erdogan kepada wartawan.

Presiden Erdogan juga menegaskan kembali komitmen negaranya untuk membeli sistem pertahanan udara jarak jauh S-400 Triumph buatan Rusia, yang disebut oleh aliansi NATO sebagai SA-21 Growler.

Sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumf Rusia © Vitaly Nevar via TASS

“Kami telah membuat kesepakatan S-400 dengan Rusia. Oleh karena itu, sebuah langkah mundur jangan dipertanyakan. Ini sudah final. Kami sedang bekerja untuk penyebaran S-400 pada bulan Juli seperti yang dijanjikan”, kata presiden Turki.

Menurut juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, kemungkinan pembelian sistem Patriot buatan AS, tidak akan mempengaruhi perjanjian Ankara-Moskow pada pembelian sistem S-400.

Operasi Melawan Militan di Idlib

Turki, Rusia dan juga Iran dapat melakukan operasi militer bersama-sama terhadap gerilyawan di provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 16 Februari.

“Operasi bersama dapat diadakan kapan saja sejalan dengan perkembangan. Tidak ada hambatan untuk itu. Tindakan yang ada sekarang adalah untuk kenyamanan, kebahagiaan dan kemakmuran masyarakat di Idlib. Yang penting bagi kami adalah keamanan orang Idlib”, kata Erdogan kepada wartawan.

Peralatan militer Turki dekat perbatasan dengan Suriah. © Ria Novosti

Dia menambahkan bahwa tentara Turki dan Rusia akan terus bekerjasama dalam implementasi memorandum Rusia-Turki 17 September tentang situasi di Idlib serta untuk memerangi terorisme di wilayah tersebut.

Pada 14 Februari, presiden Rusia, Turki dan Iran mengadakan pertemuan trilateral keempat untuk penyelesaian konflik Suriah di kota peristirahatan Sochi di Rusia. Menurut Erdogan, pertemuan itu difokuskan pada situasi di Idlib.

September lalu, penjamin gencatan senjata Suriah yakni Rusia dan Turki sepakat untuk membentuk zona demiliterisasi disekitar zona eskalasi Idlib, dimana sejumlah militan bersenjata dan kelompok teroris masih aktif.

Zona demiliterisasi itu, diperkirakan telah dibentuk pada 15 Oktober 2018 namun meskipun ada kemajuan dalam penarikan senjata berat dan militan dari daerah itu, kelompok-kelompok yang tersisa secara teratur melakukan pelanggaran gencatan senjata, dan menyerang provinsi terdekat.

Pangkalan udara Al-Tanf militer Amerika di Suriah © Rodi Said via Reuters

Erdogan Mencela AS Soal Manbij

Pada pertanyaan tentang rencana AS untuk mengerahkan kekuatan pengamatan yang dibuat oleh negara-negara koalisi ke zona ini, Erdogan mengatakan bila Turki tidak menyetujui rencana semacam itu. “Bagian timur Efrat harus dibersihkan dari organisasi teroris”, katanya.

Erdogan juga mengeluhkan laju implementasi peta jalan untuk penarikan YPG dari kota Manbij di Suriah. “Itu juga sangat penting. Ada penundaan. Mereka awalnya mengatakan 90 hari [untuk penarikan] tetapi kini sudah hampir setahun. Mereka masih mengatakan akan mengimplementasikannya”, tegasnya.