Jun 152016
 

Presiden Turki Tayyip Erdogan dikabarkan mengirimkan surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Surat ini menjadi surat pertama yang dikirimkan Erdogan kepada Putin pasca-insiden penembakan Su-24. Sebelumnya, Erdogan hanya membuat pernyataan publik, yang ditujukan kepada warga Rusia secara umum.

“Surat itu datang melalui saluran Kementerian Luar Negeri,” ungkap juru bicara Kremlin, Dmistry Peskov dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Russia Today, Rabu (15/6/2016).

Surat Erdogan tersebut berisi ucapan selamat kepada masyarakat Rusia yang baru saja merayakan Hari Nasional Rusia, yaitu pada tanggal 12 Juni lalu. Dalam surat itu pula, Erdogan berharap hubungan bilateral Turki dan Rusia dapat kembali normal dalam waktu dekat.

Moskow dan Ankara memang pernah menjalin hubungan ‘mesra’, terutama di sektor perekonomian. Namun, hubungan kedua negara ini menjadi renggang, bahkan nyaris terputus pasca-insiden penembakan Su-24.

Bukan hanya sang presiden, Menteri Perekonomian Turki Nihat Zeybekci juga sangat berharap hubungan Rusia dan Turki dapat kembali ‘mesra’ dalam waktu dekat.

Pada 24 November 2015, pesawat milik Angkatan Udara Rusia Sukhoi Su-24 ditembak jatuh oleh misil udara yang diluncurkan pesawat tempur Turki F-16 di dekat perbatasan Suriah dan Turki. Berdasarkan hasil penyelidikan, saat ditembak, Su-24 Rusia berada di ketinggian enam ribu meter, di jarak satu kilometer dari perbatasan Turki.

Namun, Kementerian Pertahanan Rusia kemudian menjelaskan bahwa pesawat Su-24 ditembak jatuh dalam perjalanan menuju markas Khmeimim di Suriah. Rusia membantah pesawat keluar wilayah udara Suriah. Berdasarkan data satelit militer Rusia, pesawat ditembak jatuh di dalam wilayah Suriah.

Atas insiden tersebut, Rusia pun langsung memberlakukan berbagai pembatasan terhadap Turki, yang mencakup pembatasan sektor pariwisata, transportasi, tenaga kerja, perdagangan dan ekonomi.

Satu bulan setelah pengumuman tersebut, ekspor Turki ke Rusia pun mendadak terputus. Bahkan, proyek konstruksi TurkStream, jalur pipa yang mengalirkan gas Rusia ke Turki melalui Laut Hitam, ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Seorang pakar ekonomi Turki, Erhan Aslanoglu pun memprediksi ekonomi Turki akan kehilangan sedikitnya US$10 miliar atau Rp133,7 triliun.

Insiden tersebut tentu menjadi pukulan berat bagi perekonomian Turki. Masyarakat Turki bahkan menyebut putusnya hubungan Rusia dengan Turki ini seperti perceraian dua negara.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat mengisyaratkan bahwa Rusia bisa saja memperbaiki hubungan baik dengan Turki, dengan syarat Ankara harus mengajukan permohonan maaf atas insiden Su-24 dan membayar sejumlah kompensasi.

Meskipun Turki sendiri sangat berharap hubungan Ankara dan Moskow membaik, pemerintah Turki bersikeras menolak meminta maaf pada Rusia terkait penembakan pesawat Su-24 karena Su-24 telah dianggap melanggar aturan.