Oct 142018
 

dok. Peperangan di Idlib Suriah. (Qasioun News Agency via commons.wikimedia.org)

Istanbul, Turki, Jakartagreater.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat 12 Oktober 2018 mengatakan Turki menyelamatkan jutaan orang dari penderitaan melalui kestabilan yang dipertahankannya di Idlib dan akan terus melakukan itu.

“Turki menyelamatkan puluhan ribu orang dari kematian, jutaan orang dari penderitaan, melalui kestabilan yang dipertahankannya di Idlib,” kata Recep Tayyip Erdogan dalam acara santap malam Pertemuan Puncak Ke-4 Pengadilan Tinggi Internasional.

Recep Tayyip Erdogan menambahkan bahwa dengan menampung lebih dari 4 juta pengungsi dari Suriah, Irak, Afghanistan dan negara Afrika, Turki “memikul beban dan menyelamatkan kehormatan masyarakat internasional”.

“Kami melakukan ini tanpa bantuan berarti organisasi dan masyarakat internasional. Setakat ini, kami telah mengeluarkan 33 miliar dolar hanya buat pengungsi Suriah,” kata Recep Tayyip Erdogan, sebagaimana dikutip kantor berita Anadolu, yang dipantau Antara pada Sabtu 13-10-2018 di Jakarta.

Presiden Turki tersebut mengatakan di Suriah, Turki menangani sistem keamanan dan keadilan, yang pada gilirannya melicinkan jalan bagi perdamaian. Ia menyatakan bahwa pemahaman Turki mengenai keadilan berasal dari sejarahnya dan peradaban, dan mengatakan Ankara terus berperang demi kepentingan utama saudaranya dan semua umat manusia.

Setelah satu pertemuan di Sochi, Rusia, pada September antara Erdogan dan timpalannya dari Rusia Vladimir Putin, kedua negara itu sepakat untuk mendirikan zona demiliterisasi Idlib. Ankara dan Moskow juga menandatangani nota kesepahaman yang menyerukan “stabilisasi” zona demiliterisasi Idlib, tempat aksi agresi dilarang dengan tegas.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, kelompok oposisi di Idlib akan tetap berada di daerah tempat mereka sudah ada, sementara Rusia dan Turki akan melakukan patroli gabungan di daerah itu dengan tujuan mencegah pertempuran baru.

Suriah baru saja keluar dari konflik yang memporak-porandakan negeri tersebut. Konflik meletus di Suriah pada 2011, ketika Pemerintah Presiden Bashar al-Assad menindas demonstrasi dengan kekuatan yang tak pernah terjadi sebelumnya. (Antara).

 Leave a Reply