Feb 262018
 

Jet tempur Shenyang J-11 buatan China yang dibangun berbasis pada Sukhoi Su-27 Rusia. © US Air Force via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Rudal jarak jauh terbaru China menjadi bukti atas meningkatnya pengeluaran pertahanan Eropa, menurut temuan penilaian tahunan terhadap militer dunia, seperti dilansir dari laman Defense One.

Menurut dokumen keamanan nasional terbaru menunjukkan bahwa AS tidak sendirian dalam dimana banyak keunggulan teknis militer yang Amerika Serikat serta sekutunya miliki selama dua dekade terakhir telah terkikis.

Ada lebih banyak bukti ditemukan dalam data edisi terbaru The Military Balance, yakni sebuah penilaian kuantitatif tahunan untuk angkatan bersenjata di dunia oleh Institut Internasional untuk Studi Strategis, sebuah lembaga think tank asal Inggris.

“Hal kedua yang keluar dari data The Military Balance adalah bahwa kekuatan besar tengah bersiap menghadapi perang untuk memperebutkan kekuasaan”, kata Kori Schake, Wakil Direktur IISS.

Dengan pemikiran tersebut, ada empat hal yang layak kita saksikan pada tahun 2018 dan beberapa tahun depan.

Kemampuan rudal China akan meningkat 12 bulan ke depan.

Itu merupakan rudal udara-ke-udara jarak jauh pertama China dalam satu dekade lalu, namun PL-12 lebih sebagai “senjata transisi” di saat Beijing beralih dari negara pembeli rudal Rusia menjadi negara pembuat rudal sendiri.

Kemungkinan besar sebagai tindak lanjut yang lebih baik, dari rudal sebelumnya, rudal PL-15, akan diluncurkan pada tahun 2018 atau awal 2019.

Ada dua alasan penting untuk itu, yaitu bahwa rudal PL-15 hampir pasti memiliki radar pencari yang aktif secara elektronik, kemampuan yang hanya dimiliki segelintir negara.

Selain itu, rudal tersebut telah diupgrade memiliki jangkauan yang jauh lebih jauh dari pada pendahulunya, yang bakalan menyebabkan masalah pada jet tempur AS bahkan pada jarak 60 atau 70 km jauhnya.

Pesawat tempur yang mampu bermanuver 9G melawan senjata generasi yang ada saat ini memiliki peluang bertahan yang masuk akal, tetapi melawan senjata kelas PL-15, itu menjadi jauh lebih sulit.

Drone bersenjata semakin banyak.

Bahkan jika perang dengan China atau Rusia tak pernah terjadi, situasi dunia semakin berbahaya, sebagian berkat usaha negara-negara lain untuk mengembangkan industri pertahanan dan pengaruhnya diluar negeri.

China sendiri saat ini  telah mengekspor drone bersenjata ke sembilan negara berbeda, menurut The Military Balance. Itu termasuk negara-negara yang bahkan sebagai mitra kuat AS, yang dengannya AS telah menolak berbagi teknologinya, termasuk Arab Saudi, Mesir, Pakistan dan juga Nigeria.

Ditambah dengan turunnya harga teknologi yang berguna secara militer, ekspor seperti ini berarti bahwa lingkungan berisiko rendah yang sebelumnya sudah dikerahkan untuk pasukan Barat harus dikaji ulang untuk lingkungan operasional masa depan.

Eropa meningkatkan kerjasama litbang pertahanan.

Tahun lalu, Uni Eropa sepakat untuk memulai Dana Pertahanan Eropa sebesar 90 juta atau sekitar $111 juta antara tahun 2017-2019, untuk mengembangkan teknologi dan produk pertahanan yang inovatif.

Jika tahap kedua inisiatif Eropa tersebut didanai sepenuhnya mulai tahun 2020, maka Uni Eropa akan menjadi pemboros terbesar keempat dalam Litbang di benua biru, di belakang Prancis, Inggris dan Jerman.

Itu ditambah lagi dengan tinjauan tahunan terkoordinasi, yang dimaksudkan sekaligus menyelaraskan proses perencanaan pertahanan negara dengan lebih baik. Dan diakhir tahun lalu, 25 negara Eropa juga bergabung dalam Permanent Structured Cooperation, atau PESCO, sebuah kesepakatan untuk secara kolektif mengembangkan kemampuan keamanan.

Kemampuan cyber berbagai negara semakin berkembang

Anda bisa saja membandingkan alokasi dana, atau mungkin personil yang ditugaskan. Namun itu semua tidak berarti apa-apa dengan apa yang sebenarnya dapat dilakukan negara-negara tersebut di dunia cyber.

Dan di era pesawat udara IED dan drone yang berkerumun, platform kecil itu menjadi bagian yang semakin relevan dari persenjataan musuh. Tetapi melacak mereka adalah masalah yang lain lagi. Ini sama seperti mencoba membandingkan kekuatan militer antar negara dengan mengangkat persenjataan kecil mereka.

Sudah pasti itu semua akan menjadi masalah. Teknologi yang tersedia secara komersil dan orang-orang yang di berdayakan memiliki kekuatan untuk dapat mempengaruhi keseimbangan militer.

Bagikan Artikel :

  13 Responses to “Erosi Atas Keunggulan Teknologi Pentagon”

  1.  

    Nahh itu diaaa..

  2.  

    Shenyang J-11 – Chinese version of the Sukhoi Su-27SK

  3.  

    Ah ga takut amrik katanya pl 15 delay ini hihihi ,pengamat disini lebih pintar dari IIss london coba simak apa kata bastian giegerich

  4.  

    Dan lagi….China sekarang telah berangsur2 mengumpukan dan menimbun target jutaan ton bijih besi/iron ore, sepertinya Industri baja akan di seting 5 tahun kedepan, kemandirian industri baja nasional mereka dengan menunjang industri kendaraan tempur berat, laut dan darat China.

 Leave a Reply