Aug 042017
 

Mobil Listrik (Pixabay.com)

Jakarta – Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mencari teknologi baterai yang tepat untuk merealisasikan pengembangan mobil listrik di Indonesia.

“Kalau dari (Kementerian) ESDM, kami lagi melihat soal baterai yang (jadi bagian) sensitif di (pengembangan) mobil listrik,” ujar  Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar setelah selesai diskusi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Jumat  4 Agustus 2017 di Jakarta.

Menurut Arcandra Tahar, Kementeriannya mempertimbangkan teknologi baterai untuk mobil listrik yang bisa diganti di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). “Bisa kita ganti di sana dan mereka cas, Apalah namanya, kita sedang pikirkan,” ujar Wakil Menteri ESDM.

Arcandra Tahar mengatakan relaksasi pungutan pajak untuk mobil listrik diharapkan dapat menggeliatkan industri otomotif untuk mau mengembangkan mobil listrik.

“Relaksasi pajak itu di Kementerian Keuangan. Kita dorong agar industri mobil listrik ini suatu waktu bisa terlaksana sebab di luar negeri sudah berkembang pemakaiannya, sementara kita belum apa-apa,” ujar Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral .

Untuk itu, lanjutnya, apabila memang ada hal yang dapat menyokong berkembangnya mobil listrik di masa depan, seperti stimulus, maka kita lakukan.

Dalam waktu dekat, ia mengatakan dipersiapkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait pengembangan mobil listrik ini. “Ini langkah pertama dulu. ‘Step by step’, ‘one slice at the time'”.

Sebelumnya Arcandra Tahar mengatakan transportasi masal, mobil listrik adalah usaha-usaha yang ingin menyokong terpenuhinya komitmen Indonesia untuk mengurangi efek gas rumah kaca sesuai Kesepakatan Paris. Dirilis Antara 4 Agustus 2017.

Bagikan :

  6 Responses to “ESDM Cari Teknologi Baterai Mobil Listrik”

  1.  

    Itu dia masalahnya.

  2.  

    Masalahnya itu dia

  3.  

    tebakanq import dr cina batrainya

  4.  

    Merk nya….Vivan ..apa hippo ya…huehhee

  5.  

    semoga bisa dipasarkan di indoensia
    dan semoga bs masuk ke pangsa pasar dalem negeri

  6.  

    Ujung2nya import semua, karena untuk dana R&D pemerintah gak seserius wacananya!

 Leave a Reply