Apr 082014
 
eurofighter-typhoon (photo: baesystems)

eurofighter-typhoon (photo: baesystems)

Membeli Pesawat tempur yang produsennya bersedia berbagi teknologi memang layak untuk dibeli. tujuannya adalah untuk kemandirian di masa depan.

PT. DI memberikan opsi Typhoon, karena PT. DI melihat bahwa produsen Typhoon bersedia berbagi teknologi. Jika pemerintah Indonesia menuruti opsi dari PT. DI dan akhirnya memilih Typhoon, Pemerintah Indonesia harus meminta jaminan dari PT. DI bahwa ditahun 201*, PT. DI sudah bisa membuat pesawat tempur sendiri. tentunya dengan kualitas tidak jauh dari spesifikasi Typhoon.

Jika ternyata di tahun yang sudah ditentukan PT. DI gagal, tentunya harus ada yang bertanggung jawab atas kegagalan itu dan recomendasi dari PT. DI untuk pembelian Typhoon perlu di selidiki oleh BIN dan KPK.

Secara serampangan, pilihan para pilot TNI AU itu juga perlu diperhatikan, mereka cenderung memilih SU-35. Sebagai orang yang memang dilatih dan dididik menjadi pilot tempur dengan segala resikonya, para pilot TNI AU itu lebih mengerti dan lebih memahami medan pertempuran udara yang mungkin kelak mereka hadapi. Para pilot TNI AU tentunya ingin memenangkan setiap insiden pertempuran udara karena kalau mereka kalah berarti nyawa mereka sendiri sebagai taruhannya.

Sangat wajar para pilot cenderung memilih SU-35 karena Australia membeli F-35 dalam jumlah yang efective ( kisaran 75 – 100 ) dan Singapura juga membeli F-35 ( kisaran 45 – 75 ) selain itu mereka juga mempunya F-18 dan F-15. Jika tetangga membeli F-35, tentunya akan terbuka peluang mereka juga akan membeli F-22.

SU 35

SU 35

Jika Indonesia membeli SU-35 dan dikemudian hari ternyata tetangga mempunyai F-22, Indonesia “tinggal melanjutkan” membeli SU-T50 Pakfa. itu juga berlaku untuk negara-negara eropa anggota NATO, jika ternyata pesawat NATO semacam Typhoon dan Rafale banyak yang rontok atau ketinggalan teknologinya, mereka tinggal telpon ke Amerika agar mengirim F-35 atau F-22. itu mudah karena NATO adalah sekutu amerika.

Karena konsorsium eropa “sudah menawarkan” ToT pesawat tempur Typhoon walau agak “aneh” karena tiba-tiba royal berbagi teknologi, mungkin Typhoon perlu dibeli dalam jumlah minimal seperti yang disyaratkan produsennya agar PT. DI mampu berkembang dan memproduksi pesawat tempur sendiri sekaligus untuk opsi cadangan IFX korea selatan.

Jika Typhoon sudah menawarkan ToT, untuk pesawat tempur SU-35, sepertinya pemerintah Indonesia harus berusaha dan memaksa Russia untuk berbagi teknologinya, mungkin dengan membeli dalam jumlah lebih banyak, bekerja sama dalam banyak hal, peluang itu ada karena Russia juga memerlukan partner dalam segala bidang setelah hubungan Russia dengan NATO dan USA bermasalah.

Dengan membeli SU-35 dalam jumlah sekitar 4 sampai 6 skadron, Indonesia akan memperoleh keuntungan ganda.

Keuntungan Pertama adalah : Dengan Skill pilot Indonesia yang terkenal handal, dengan Su-35, maka Indonesia akan mempunya skadron pemukul kelas berat yang mampu membuat tetangga meriang, panas dingin, muntah-muntah dan kadang kencing di celana.

Keuntungan Kedua adalah :
Untuk keutungan ke-2 tolong dipikirkan sendiri karena sudah waktunya saya sarapan dan minum susu dulu. (by Mbah Moel).

  170 Responses to “Eurofighter Typhoon dan Sukhoi SU-35”

  1.  

    Nyimak dulu

  2.  

    Next…

    •  

      Sebaiknya pemerintah menawarkan opsi kerusia dulu beli su-35 1 skuadron sekaligus beserta TOT klo bs joint produksi dgn pt.di seperti dilakukan dgn heli fennec saya rasa rusia sudah mw berbagi apalagi rusia dikucilkan dgn barat mrk butuh tmn pelibur lara (pake ilmu ibu2 lgi belanja dipasar “mas,mw kagak klo g’ guw beli ditempat lain”pura2 ninggalan),klo tdk terpaksa kita memilih typon beserta TOT tpi sukro 35 tetap diambil dgn opsi lain buat duet dgn f-35 ausis ama singaporno.

      •  

        kan sudah, duluan malah..

        tapi cara berpijaknya kan barat-timur, keduanya harus ada.
        😀

      •  

        ya indonesia tidak kapok-kapok beli alutsista dari negeri inggris.nanti hanya untuk pajangan tak boleh dipakai seperti kasus timtim dulu semua pesawat dari barat di embargo pada nungkrong semua Nah pelajaran yang sangat berharga pesawat itu tak laku dieropah mau dijual obral di negeri kita masalah t.o.t hanyalah akal akalan aja

  3.  

    lama jadi sr salam kenal

  4.  

    Masih sepi neh. Setuju dengan Mbah Moel, perlu pendekatan yang intens ke Russia untuk mendapatkan SU-35 dalam jumlah besar sehingga dapat ToT.
    Sejauh ini kemampuan F-35 belum bisa di ukur, yang dilaporkan hanya masalah masalah pengembangan, tapi kalau mereka lanjut, artinya ada sesuatu yang disembunyikan.

    •  

      “dipikir karo mlaku sambil ngombe susu” 🙂 akuisisi SU-35 sebagai penempur kelas berat memang sangat dibutuhkan, statement Pak Moel sudah menunjukkan keinginan itu, cuma apakah bisa Russia memberikan TOT apabila RI hanya mampu membeli dalam jumlah yang tidak lebih dari 1 skuadron??
      opsi pembelian Thypoon pun jangan dianggap remeh, sesuai dengan proposal yang diajukan oleh pihak Eurofighter, hanya saja pihak RI harus lebih pintar dan belajar dari sejarah mengenai pahitnya berurusan dengan Mama Ely… “no lunch free”

  5.  

    Hmm…..

  6.  

    Topan+sukro…….kombinasi yg bagus.. Ikut sarapan dulu ah….

  7.  

    udah wajib indonesia punya su 35 mlihat perkembangan d kawasan. . .

  8.  

    Ane lbh setuju dgn su-35 aja yang tni akuisisi,melihat perkembangan kawasan ke depan rasa2nya su-35 pantas jadi pilihan no.1.apalagi kalau pihak rusia Mau berbagi tot,,,weeww maknyus bgt buat pengembangan pespur tni…jujur,saya pribadi kurang sreg dengan penawaran typhoon mskipun dgn iming2 teknologi.ga ada jaminan di masa depan kota tidak diembargo militer,,,cmiiw,,maaf newby Ni para sesepuh

  9.  

    saya ja udah sampai ke bawa mimpi klau su 35 udah memekak d atas rumah saya. . .saking idola nya tu ma su 35. . .hehe

  10.  

    polemik yg di ulang :
    * su 35 ttp sebagai pemukul kls berat
    * TOT di perlukan utk kemandirian bangsa dlm membangun alutsista sendiri, msk di bayar mahal n terkesan jor”an belanja maruk sana sini.

    •  

      yang terpenting adalah memiliki teknologi pespur modern diantaranya :
      – max speed : > mach 2
      – range : min 3.500Km
      – combat radiusnya mst : 1.800Km
      – perawatan n oprasional rendah
      – rate of climb : 320m/s
      – Berat kosong: 18.400 kg
      – Berat terisi: 25.300 kg
      – Berat maksimum lepas landas: 34.500 kg
      – Dorongan kering: 8.800 kgf (86,3 kN) masing-masing
      – Dorongan dengan afterburner: 14.500 kgf masing-masing
      – Radar Cross Section (RCS) < 0.25
      – max playload : 9 ton
      – dll
      silahkan tambahkan sendiri utk detailnya ttg ECM, n radarnya
      yg jelas mesti mandiri meliliki AAM sekelas AAM 120 max 250Km.
      syukur" yg bs 500Km.

  11.  

    Betol kata choky no.1 sukhoi aja.dengan teknologi yg d benamkan dapat memberi penyeimbang buat pesawat tetangga nantinya.aman embargo lg

  12.  

    su 35 4 skuadron??? kyknya masih jauh dri mimpi….

  13.  

    Perimbangan kekuatan dengan negara tetangga memang sangat penting, biar kita gak dir3mehkan dan diinjak2 sama tetangga sebelah

  14.  

    kita memang negara netral / Non Blok, tapi ingat sejarah panjang negeri ini dari sebelum kemerdekaan (penjajahan)sampai semua isu2 keamanan Papua, Timor Timur, Sampit, dan lain2. siapa aktor di balik layar????
    So, masak di kasih donat harga murah aja udah kepincut.. plus Tot n Bonus mungkin.
    saya khawatir kita belum sempet produksi sendiri udah terjadi pergesekan, dan support senjata atau suku cadang pasti lngsung di stop sama inggris/nato

    kita harus tahu siapa yang benar benar teman atau hanya pura2,

  15.  

    Ane lbh setuju dgn su-35 aja yang tni akuisisi,melihat perkembangan kawasan ke depan rasa2nya su-35 pantas jadi pilihan no.1.apalagi kalau pihak rusia Mau berbagi TOT, KALAU TYPHOON RAWAN EBARGO. apa kita mau jatung ke lubang yg sama

    •  

      Indonesia adalah negara dgn konsep ‘politik bebas aktif’ tdk bersekutu dgn salah satu kekuatan poros dunia …konsep ini memiliki keuntungan tapi juga ada kerugian…salahsatunya dalam membeli senjata harus dari kedua belah pihak…krn tdk adanya jaminan pasokan dari hanya satu pihak saja…TNI menyadari hal ini…dan semua petinggi Indonesia jg mengerti hakul yakin posisi ini…Tapi dibalik itu Indonesia mempunyai daya tawar lebih dibanding Malaysia dan Singapura ….terbukti dimasa lalu Indonesia bisa memyelesaikan masalah Kamboja yg tingkat kesulitannya melebih Afghanistan sebetulnya…kemudian dgn Myanmar (walau negara yg satu ini suka mencla-mencle kejelasan politiknya dan cenderung ‘rasis’)…jangan hanya meneriakkan slogan NKRI harga mati , kita jga harus meneriakkan slogan ‘BEBAS AKTIF adalah HARGA MATI….daripada politik sekutu kita tetap memilih ini(bebas aktif)…biarlah Malaysia maju dan kaya , Aussie kaya dan kuat …tapi mereka tetap ‘negara vazal’…dimata Uncle Sam dan Britania..sama dgn Papua niugini…lihatlah nasib Ukrania ketika berusaha pindah majikan…diobok2..oleh majikan lama mereka(Rusia)…

  16.  

    semoga SU 35 tetep jadi di akuisisi, kedaulatan dan kemerdekaan harganya lbh mahal di bandingkan apapun.

  17.  

    asalamu’alaikum para sesepuh dan warjagers semua, newbie izin berpendapat.

    jika memang typoon rekomendasi dr ptdi, perlu ditindaklanjuti utk kemandirian bangsa. tapi klo ingat clue bung nara seharusnya rafale hrz dibungkus jg. kalau untuk SU-35 wajib dibungkus krn melihat perkembangan kawasan. tapi saya yakin petinggi tni pasti tahu yg terbaik untuk bangsa ini.

    maaf komennya tidak berbobot, izin jadi SR lagi…

  18.  

    WKWKWKWK…tulisan yg lucu dan gak layak untuk ukuran Jakartagreater.com….

  19.  

    Ya elah masih aja di perdebatkan di syukurin saja lha bung lagian secara kualitas typoonnn lebih baek dr kita punya hawk/f16.

  20.  

    Waaaah…pdhl ntar september Rafale udah datang… Plus typhoon, ditambah su-35, gripen. Blm lg tu-22 uuuh amajiiiiiing…… Jkgr cucok degh.!

  21.  

    Aku Setuju seksli pendapatnya….Indonesia jangan melenceng dari program semula untuk membeli pesawat tempur Sukhoi 35 Bm ( Jauh – jauh hari Robosport membuka pintu lebar – lebar agar Indonesia membeli pesawat Su-35 Bm ) . Tujuannya agar langit Nusantara NKRI Tidak diacak – acak Negara lain , karena Su – 35 Bm pengawal yang handal dan disegani oleh pesawat musuh . Kalo Indonesia mau beli pesawat tempur Thypon atau Rafael atau Saab Griben aku setuju – setuju aja , malah bagus buat membantu Ronda .langit Nusantara syukur – syukur dapat TOT. Khusus SU-35 BM Sebagai Herdernya atau Penggentarnya …Supaya Negara lain tidak macam – macam.

  22.  

    syukuri apa yg ada,hidup adlh anugrah..pespur 4++ jln terusss..tot gak boleh d tinggalkn buat kemandirian bangsa yg bebas aktif…jayalah NKRI ku..

  23.  

    pagi ini saya dapet 4-5 usulan berita 😀

  24.  

    KUDU DI BUNGKUS DUA2NYA ………….

  25.  

    mau si typhoon tetep saya mah nunggu SU35….biar hati tenang gitu

  26.  

    maaf oot nih..
    ada gosip Freeport di perpanjang sampe 2041 ya..bener ga tuh..?
    Bonus apa kira2 yg pantas menjadikan freeport diperpanjang..?

    •  

      dan apakah pemerintah Indonesia mempunyai strategi rahasia dibalik ini (jadi-tidaknya diperpanjang) ? kl ada, bolehkah sedikit dibagi infonya disini? agar kami rakyat tidak mudah dihasut dan hanyut oleh apa yg kasat mata smntara tidak mengetahui hal-hal lain yg tersembunyi.

      saya khawatir, dg banyaknya pemberitaan yg beredar (mayoritas bernada negatif thd langkah pemerintah) akan mengikis rasa nasionalisme dan persatuan bangsa ini. LSM-LSM ramai-ramai mengkritik kebijakan pemerintah terkait freeport, pdhl mrka sendiri digerakkan oleh kekuatan asing yg ingin memecah Indonesia (mungkin malah dr freeport sendiri?)

      terimakasih JakartaGreater yg selalu mencerdaskan dan membesarkan hati kami sbg bangsa Indonesia.

    •  

      Kayaknya sih benar diperpanjang tp ijinnya berubah dr kontrak kerja menjadi ijin penambangan, trus areal penambangannya diperkecil, dividen atau royalti ke pemerintah ditingkatkan, dan setuju membangun smelter.

      Maaf kalau saya salah dan silahkan yang lebih paham untuk mengkoreksinya.

  27.  

    Wah yg kasihan insinyur PT DI dong. Udah kurang orang krn mengembangkan IFX/KFX, buat torpedo, buat RKN, padahal saat ini RI sedang krisis insinyur dan tenaga ahli. Meskipun yg belajar di LN sedang ditarik. Sisdiknas kita tdk mendukung insinyur berkualitas.

    •  

      masak sih, emang insinyur kita yg pada belajar diluar itu, belajar lagi dielementary sono yah?

    •  

      insinyur dan tenaga ahli di indonesia bejibun cak wie, hanya saja yang menjadi PNS untuk duduk di PT DI kan terbatas…..

      jadi mungkin bisa lebih spesifik lagi bung, mungkin pernyataan yang benar:

      “Insinyur dan tenaga ahli PNS di PTDI sedang krisis”
      banyak insinyur dan tenaga ahli kita yang lari ke luar negeri menyumbangkan tenaga dan fikirannya ke tempatnya bekerja, karena tidak “dianggap” oleh pemerintah.

      Saran buat Pemerintah – DPR – TNI, untuk tidak hanya merekrut insinyur dan tenaga2 ahli dibidangnya HANYA melalui JALUR PNS melulu…!!!!!
      HUH…!!!

      Stake-holder2 tadi dalam pengerjaan satu proyek tertentu di departemennya,
      sebaiknya TIDAK HANYA MELULU MEREKRUT PNS2 DI KALANGANNYA SAJA, tapi rekrutlah individu2 dengan latar belakang dan sepak terjang yang “amazing” di bidangnya, untuk pencapaian hasil yang optimal……

      Banyak individu2 terbaik bangsa yang lari ke luar negeri akibat pola pemerintahan RI yang hanya mengandalkan ORANG2 PNS SAJA!!! (termasuk sipil dan militer)

      •  

        ksalahan terbesar kalo kita mengelola industri BUMNIS dengan pendekatan PNS, ini salah secara fundmental, BUMNIS harus diklola secara swasta, kalo di PNS kan ane yakin nasibnya kagaak jauh ama……

      •  

        betul itu bang saya setuju banget itu..dan itu juga pernah langsung sya usulkan langsung kepihak kementerian tetapi yaaa malah saya dideskriminasikan dan dipantau…para insinyur indonesia yang pandai jika sudah menjadi PNS justeru kebanyakan malah keahlianya jarang dipakai kerana tugas dan bidang yg diembankan tidak ada bersangkutan dengan basic keahlian.
        dan perlu diketahui,,orang pinter berorientasi keberhasilan memandang jumlah gaji di urutan no,2,3ataupun 4 yang merka utamakan adalah terus belajar meningkatkan keahlian dan mencapai matlamat..bebas bereksperiment mencipta sesuatu yang berguna,dan kesempatan membuktikan suatu teori (pengakuan)
        jadi ada baiknya dibentuk wadah khusus yaitu semacam ( PEGAWAI KHUSUS NEGARA ) yang isinya hanya orang2 pinter2 yang kerjanya melakukan riset dan mencipta sesuatu untuk kemajuan negara,,
        cara merekrut mereka adalah dengan semacam audisi indonesian idol dsb.dengan dewan juri dari ; PT.DI , PINDAD , DISLITBANG, PT.AIU , ITB , IPB , UI , ITS , TNI , dll, dengan peserta tidak harus mempunyai ijazah pendidikan formal…
        dengan demikian dapat disaring orang2 berbakat dari putra putri indonesia untuk mengabdikan diri memajukan bangsa secara langsung,
        untuk mendapatkan intan permata harus dipilih dan diasah bebatuan2 dari dalam bumi,dalam lumpur ataupun dalam lautan….maka kita akan mendapat intan permata yang berkualitas
        maaf ini hanya usul dari orang terpinggir

    •  

      Insinyur PT DI yang dikirim ke program IFX itu sekitar 40-an orang…
      Sekarang PT. DI lagi memperbanyak SDM-nya, cuman masalahnya rata2 mereka ini masih belum berpengalaman, dan untuk pengalaman ini awalnya harus ada pelatihan dan ini biaya besar lagi. Dan sekarang PT DI lagi disibukkan dengan berbagai macam order dan juga pengembangan N-219. Nah nasib2 calon karyawan PT DI ini yang agak kesulitan. Ini yg harus dilihat anggota yg mengaku terhormat di senayan sana dan BUMN.

  28.  

    Salam Kenal Mbah Moel, saya mencalonkan anda jadi pendamping pak Jokowi, beli SU-35 BM 6 squadron, S-400 6 Batalyon

  29.  

    Sebagai Rakyat kecil kami memilih Rafale dan Su 35 , untuk Rafale pun hrs Full TOT dan ada jaminan no embargo dan menolak Typhoon krn kental dg Embargo dan bila terjadi konflik dg negara FPDA gak bisa di pake alias jadi macan ompong .

  30.  

    sepertinya elit tni diatas sudah berikhtiar untuk mulai memblokade diri sendiri untuk pengadaan alutsista seperti wacana bung satrio dulu..

  31.  

    Saya sebenarnya sangat memimpikan pesawat SU-35…
    Saking senangnya hampir tiap hari saya lihat nih pesawat di youtube dan juga pamerin nih pesawat ke teman2 bahwa kita akan membelinya. Cuman saya kurang setuju dengan tulisan mbah moel (maaf ya mbah cuman pandangan orang awam aja) :”Dengan membeli SU-35 dalam jumlah sekitar 4 sampai 6 skadron, Indonesia akan memperoleh keuntungan ganda.”

    Ok saya kasih penjelasan dikit, kalau skadron sebanyak itu apakah bbm-nya harus diambil dari matra lain. Beli sih boleh, tapi ingat nih pesawat sekali terbang alpahrd melayang, :-)… Takutnya gara2 6 skadron, radar, kapal perang, kapal patroli, kapal selam, tank, dan panser gak jalan gara2 bbmnya diprioritaskan ke Skadron2 sukhoi. Seperti kita ketahui rusia pelit berbagi, insinyur2 kita mengatakan akan membuat IFX setara dengan sukhoi. Nah jadi saya rasa insinyur2 kita sudah sedikit tahu atau Basic Knowledge dan self improvment sudah dikuasai beberapa persen (bahasa yg disebut para insinyur )… Nah sekarang tinggal pengembangannya, kita mau mengembangkan sendiri tapi keterbatasan dana dan pemerintah kita gak berani gambling akhirnya nebeng Korea yg kebetulan juga sedang mengembangkan teknologi pespur.

    Mbah moel, maaf nih saya juga gak suka dengan negara mama Ely gara2 kita pernah di embargo. Saat ini para insinyur kita sudah berasa nih IFX bakalan terlambat, karena belum ada jaminan dari pihak Korea bahwa 2025 tuh KFX/IFX bisa diproduksi massal. Sekarang diperlukan plan B, yaitu rencana cadangan. Nah kebetulan nih Eurofighter Typhoon termasuk dalam produksi EADS, dan kita dengan EADS sudah memiliki kerjasama yang panjang dan juga sudah saling percaya. Dan sampai sekarang baru Eurofighter yg menyanggupi pembuatan airframe dan avionics di negara kita, minusnya kita belinya gak perlu banyak2 seperti yang lain.

    Saab mau berbagi ilmu, tapi sebagai tukang jahit. Rafale mau cuman jumlahnya itu berat dan masih dipikirkan Kemenhan. Nah kalau sukhoi mereka pasti akan bekerjasama dengan kita asal kita membeli produk mereka super banyak. Seperti contoh India, yg telah beli banyak baru dikasih ToT apalagi saat ini ada masalah lagi, hhmmm… Coba sekarang ada gak satu contoh kasus pemerintah kita membeli pesawat sebanyak 2 skadron full atau 1 skadron gak ketengan. Kalau F-16 sistemnya hibah, :-), T-50 Golden Eagle full tapi radar gak ada.

    Nanti kalau sudah bisa membuat sendiri kan kita sudah anti embargo, mau di embargo mama ely gak apa2 lah wong spare partnya bisa kita buat sendiri, sekarang ilmunya yang terpenting. Dalam pengembangan Transfer of Technology ada tiga unsur penting yg harus disiapkan, pertama Basic Knowledge, Self Improvment dan Program ToT…. Nanti kalau ilmunya sudah dikuasai kita tinggal membuat SU-35 rasa Indonesia dengn nilai efisien yang tinggi, harga kompatitif mau buat berapa skadron juga gak masalah.

    Tapi tetap, saat ini SU-35 menjadi prioritas karena masalah panasnya politik di kawasan. Dan ini memang akan dibeli tapi gak mungkin sampai 4-6 skadron. Karena TNI bukan AU aja, masih ada yang lain. Makanya kenapa proses tender panjang, karena segala unsur dinilai dari ekonomis, ToT, politik, kebutuhan, teknologi, dll…

    Salam hormat buat mbah moel
    IMO

    •  

      Saya gak ngerti sebenarnya harapan ToT itu seberapa jauh ? Kalau mereka ngasih engine sama avionics, saya pikir itu susah ya. Meskipun dikasih tau formula nya, untuk bikin engine pesawat tempur itu susah. Di dunia ini hanya ada 3 pembuat mesin pesawat, General Electric (US), dan Pratt and Whitney (British), dan satu nya dari Russia apa itu namanya Saturn ?

      Bahkan KAI T-50 dan juga Embraer Tuscano pun ambil mesin dari dua pabrikan tersebut. Jadi tawaran dari Gripen untuk jadi tukang jahit, saya pikir itu sudah sangat bagus. Apakah dengan ToT, terus dalam 10 tahun kita bisa bikin engine sendiri ? kayaknya susah deh. Industri hulu di Indonesia seperti steel-making, foundry, metallurgy and manufacturing, itu harus di kembangin dulu.

      Untuk software avionics, mungkin bisa mengembangin sendiri. Disinilah SAAB atau Dassault bisa membantu kita. Mereka punya pengalaman, terutama Dassault sebagai raksasa perangkat lunak dunia.

      Menurutku sekarang gak usah minta muluk2 buat ToT, sekarang penuhi dulu kebutuhan MEF ( jika anggaran udah ada), pelan pelan bikin pesawat latih tempur dulu kayak tuscano, kemudian T-50 baru kemudian pespur beneran.

      •  

        Bung Phoenix, yang perlu diketahui dalam dunia teknologi itu ada Basic Knowledge dan Self Improvment. Nah 2 ini harus tahu sudah sampai sejauh mana, wong kita bisa bikin pesawat N-250 kok itu hasil Basic Knowledge dan Self Improvment. Nah taruhlah 2 unsur diatas kita telah memiliki 50%, 50% sisanya kita cari melalui program ToT. Kalau anda sudah tahu rencana proposal Gripeen saya rasa anda akan mundur. Saya cuman tertarik ama Rafale, tapi masalahnya kembali lagi ke anggaran. Berapa sih PMN pemerintah yg bisa diberikan ke industri strategis tanah air? apakah sudah mencapai 100%?

        Untuk masalah Avionics dan Airframe, memang gak langsung kita dikasih ilmunya. Pasti awalnya kita akan belajar Airframe dulu lalu berlanjut ke tahap berikutnya. Lihat kasus C-212, dari belajar pelan2 akhirnya rencana kita akan membuat rasa Indonesia yaitu N219. C-235, pelan2 Insyallah kita bisa naik ke CN-245 rasa Indonesia. Kenapa harus pesimis duluan??

        Ilmu itu gak bisa langsung meningkat, untuk masalah komponen hilir rencana itu ada, sekarang pemerintah berani gak?? PT Krakatau Steel sia membuat tuh barang, tapi mereka minta pemerintah bantu R&D-nya dan juga dalam pembuatan baja itu bahan yg diperlukan itu GAS. Dan sekarang GAS yg mau digunakan KS itu rata2 masih import karena Kementrian ESDM lebih mementingkan ekspor ke negara luar. Pindad pernah minta bantuan KS membantu membuat materialnya, tapi KS minta bantuan pindad untuk anggaran R&D-nya, kan kasihan kok induknya gak lihat permasalahan ini. Dan Alhamdulillah bentar lagi kita akan kedatangan pabrik baja khusus antara Ponco Korea dan KS. Untuk nilai saham Ponco dapat jatah 70% dan KS sisanya, tapi nanti nilai KS akan naik terus, disini mudah2an enginer KS bisa serap ilmu dari Korea.

        Kebutuhan MEF itu terus diperhatikan dan menjadi prioritas negara. Tapi tolong jangan campurkan Politik dengan kemandirian?? SU-35 menjadi prioritas karena masalah politik dan Typhoon ini untuk kemandirian… Jadi berbeda

        •  

          PT Krakatau Steel sia membuat tuh barang —-> maksudnya :pernah berencana membuat tuh barang

          •  

            Om jalo salam kenal klau sy rakyat kecil pilih Su 35. Rafale 2015 & eurofighter typhoon semua klau bisa dpt totnya sy kira tni au bisa ngoprek/repair klau sda sy pernah kesiemen turbine sda kita itu pintar cuman licency aja sama juga ingersold turbo machinery trus just info posco setau saya masi memproduksi baja karbon untuk vessel spt sa 516 gr 70 itu juga mutunya kurang bersaing jika posco produksi ks sebagian kecil tutup spt bag slab bilet info lagi senin kmr demo lsm ke posco sekali lg sy pingin 3 tiganya data ya mau 1satu skwadron dulu keburu situasi memanas thanks salam

        •  

          sedikit koreksi bung jalo. bukan ponco tetapi posco berikut web rujukan

          http://www.posco.com

      •  

        Untuk software Avionics kita sudah ada pengembangannya di Resntra 2015-2019 salah satunya dengan negara eropa…

        •  

          bagaimana dengan pembuat avionics PT INDOGLOBAL yang produknya sudah dpakai pada F5 dan F!6 lama,bahkan kabarnya malaysia sudah makai produknya

          •  

            Tuh ada lagi info dari bung BLaaa…. (namanya aneh, hehehehe, joke)
            Yakin kita gak bisa membuat Avionics??

            Bung, saya belum dapat infonya. Terima kasih sudah share, kayaknya nih perusahaan menarik juga. 🙂

          •  

            Yakin kita gak bisa bikin avionics??
            hehehehehe, joke lagii…

        •  

          SEKILAS INFOGLOBAL

          Didirikan sejak 9 September 1992, Infoglobal berkembang menjadi perusahaan yang berkompeten dalam bidang teknologi elektronika dan informasi. Produk-produk yang dihasilkan difokuskan dalam bidang elektronika penerbangan atau biasa disebut Avionik, pengembangan perangkat lunak aplikasi serta layanan training dan implementasi.

          Infoglobal memproduksi sejumlah perangkat avionik pesawat tempur untuk menggantikan perangkat sejenis yang sudah tidak diproduksi lagi oleh produsennya. Dengan dukungan teknologi terkini, avionik yang diproduksi oleh Infoglobal lebih unggul daripada perangkat aslinya, “plug and play”, dan mudah dioperasikan.

          Infoglobal juga memproduksi sejumlah aplikasi perangkat lunak, khususnya untuk segmen pertahanan, utilitas, dan kesehatan. Pada segmen pertahanan, Infoglobal mengembangkan aplikasi pemantauan situasi udara nasional dengan mengintegrasikan sistem radar sipil dan militer. Di samping itu, Infoglobal mengembangkan aplikasi simulasi latihan tempur untuk matra udara.

      •  

        catatan pembuat mesin pesawat lebih dari 3, (p&w = amrik), masih ada cfm, rolls royce, snecma, eurojet gmbh.
        turboprop allison, garrett.

    •  

      Gerilya gado-gado ToT Indonesia terlihat jelas sebagai sebuah upaya Indonesia untuk melakukan lompatan teknologi. Dibandingkan dengan mengembangkan secara mandiri ongkos yang dikeluarkan sama-sama tidak murah tapi dengan kesulitan yang jauh lebih kecil dan ini adalah pilihan yang realistis. Terlihat juga Indonesia ingin meracik pespur dengan cita rasa Indonesia, sebagai bentuk kemandirian dan terutama untuk menghindari intervensi asing. Indonesia sudah kenyang dengan embargo dan ingatan itu belumlah luntur. Hal ini menjelaskan mengapa meskipun telah bekerjasama dengan Korea, Indonesia masih juga berusaha mencari teknologi pespur dari luar dan dengan biaya yang tidak murah pula. Selain sebagai opsi B seperti yang bung Jalo sebutkan, ini juga untuk menghindari takling dari pihak lain ditengah jalan. Well, secara umum saya sependapat dengan bung Jalo.

      IMHO, terbersit dalam pikiran saya jika penguasaan teknologi pespur Indonesia telah matang, kelak jeroan dari seluruh pespur yang diakuisisi (Typhoon, Gripen, Su-family, Jitenbi) akan di ganti dengan onderdil made in Indonesia dengan cita rasa nasional. Dengan tujuan menyamakan level combat capability (namun masih berbeda dalam karakteristik tempur), integrasi satu sistem tempur, no more logistic nightmare dan manajemen operasional yang lebih efektif dan efisien, sekaligus antidote bagi barat maupun timur. Ini akan menjadi sebuah rencana yang sangat “kolosal” menurut saya.

      Jujur saja, dalam pandangan saya mengoperasikan begitu banyak jenis pespur bukanlah keputusan yang bijak/cerdas bahkan cenderung kacau balau (saya sempat habis pikir), sekilas saja terlihat gagah dan wah namun didalam sesungguhnya rapuh. Jika pespur yang rencananya akan diakuisisi + IFX telah operasional seluruhnya, bisa dibayangkan betapa ribetnya komposisi penempur Indonesia dan sangat tidak efisien dalam segi operasional. Namun akan berbeda ceritanya bila ada embel embel ToT dibelakangnya yang mendukung Indonesia untuk memiliki teknologi pespur secara keseluruhan, segala hambatan maupun permasalahan yang mungkin akan terjadi dari mengopersikan berbagai macam pespur akan teratasi. Katakanlah body boleh beda, tapi dalemannya tetap sama – Indonesia, jadi No Problem!

      Memang keputusan itu sangat tidak efisien di awal, namun akan memberikan efektifitas dan efisiensi serta kemandirian penuh di akhir. Berakit rakit ke hulu berenang renang ketepian, bergerilya memburu kepingan teknologi untuk disatukan dalam gambaran utuh oleh tangan sendiri. Istilahnya menimba ilmu dan pengalaman dan memang pengalaman itu berharga dan memiliki harga yang harus ditebus. Sebab sekedar mampu belum berarti berpengalaman, tapi berpengalaman sudah pasti mampu.

      Salam bung Jalo,

      STMJ

    •  

      Sangat mencerahkan penjelasannya @Bung Jalo. Biaya operasional sukhoi konon katanya tinggi sekali… Saya memang lebih setuju kalau Rafale jadi diakuisisi mengingat kelebihan teknologinya dibanding Typhoon. Tapi kalau memang TNI lebih memilih Thypoon…maka perlu diperjelas mengenai klausul2 TOT nya… dan artikel di atas sudah menjelaskan bhwa pemerintah bisa meminta jaminan dari PT. DI mengenai keberhasilan mendapatkan TOT dari Thypoon.

      IMO… Sya rasa Rusia tidak akan berbagi TOT dengan membeli 1 atau 2 skuadron SU 35…namun SU-35 adalah sebuah kebutuhan mendesak pilot TNI AU kita, mengingat hot nya perkembangan kawaasan…. Mungkin ini seperti keinginan TNI AD di Perbatasan untuk mengakuisisi MBT Leopard. Tentu saja satu hal yang pasti kehadiaran MBT LEO bisa meningkatkan wibawa dan moral prajurit.

      Maaf ini hanya komen orang awam … mohon maaf kalau ada salah kata

      •  

        kalau china sudah menginfiltrasi natuna, ataupun AS dan ausy sudah menginvasi papua, saya fikir kita tidak akan memikirkan berapa harrier yang akan melayang, kalau perlu sejuta harrier kita bikin melayang untuk membela NKRI…

        salam buat om om sekalian….

    •  

      masya Allah…
      apa yg menjadi alasan pemerintah memperpanjang kk priprot ya?
      mudah2an ada alasan yg cukup kuat dr pemerintah.
      saya berbaik sangka aja dulu sm pemerintah

    •  

      apakah dengan ini pendanaan alutsista kita yang sebegitu banyak????!!!!!
      apakah ini menguntungkan rakyat indonesia????!!!!
      rakyat papua khususnya????!!!!
      para sesepuh tolong diberikan penjelasan,,,,,,,,,,,,,,,,,,

    •  

      setahu saya, maaf kalau sok tau, freeport diberi perpanjangan karena bersedia merubah kerjasamanya dr kontrak kerja menjadi ijin penambangan, mengurangi areal penambangan, menambah royalty kepada RI, dan membangun smelter.

      Tinggal pemerintah dan rakyat Indonesia yg wajib mengawal klausul diatas, terutama penerimaan balik ke RI yg bukan saja berasal dr royalty tp juga pajak dll. Menurut suatu sumber totalnya itu mencapai 30%an. Yg menjadi pertanyaan kenapa ygmasuk anggaran sangat kecil? Menguap kemana semua itu? Ini yg perlu kita kawal dan jaga.

      Mohon maaf kalau saya salah.

  32.  

    Lha bukannya SU 35 teknologinya open source….kan bisa aja abis menguasai rancang bangun IFX tinggal karoseri pasangin mesin, IRST, dan bagian2 lain termasuk rudal dari onderdil SU 35. Kalo SU 35 batal dan tiba2 beralih ke Typhoon pasti ada kongkalingkong yang perlu diselidiki detektif KPK

    •  

      Jadi ghini bung Ayoeng, maksudnya itu Typhoon tetap diambil untuk kebutuhan ToT-nya untuk program IFX/LFX. Kalau masalah panasnya politik kawasan yang tetap kita ambil beberapa unit SU-35 atau 1 skadron (kalau ada duitnya).

      Kenapa artikel “Welcome Eurofighter Typhoon TNI AU” gak bisa dibuka ya… Bung Satrio ijin copy paste tulisan anda tentang penggantian F-5. Kayaknya teman2 masih belum mengerti dengan penggantian ini.

      Satrio says:
      April 5, 2014 at 10:18 am

      “Masalah Penggantian F 5 Tiger ,,
      Semua pembelian pesawat akan dihubungkan ke Tiger kita yang usianya paling Tua,untuk mengelebahui sorotan pihak asing,biar tidak gunjang kawasan,
      Lucu juga kan deal typhon dari tahun kemarin tetapi wacana penggantian F 5 Tiger tetap dipakai untuk alasan membeli Su 35 ..padahal Tiger kita belum tentu pensiun dalam waktu dekat dan tambah bingungnya untuk mengganti F 5 tiger yang mana ? karena kita tidak hanya mempunyai 1 ska Tiger

      Untuk pembelian Gripen opsi ini ada karena untuk mengantisipasi bila typhon gagal,,tetapi Rafael keburu masuk penawaran sehingga Gripen digantung dulu,
      Bila Dasault sanggup memenuhi syarat dan kebutuhan dari kita maka semua opsi akan dibuang dan kita konsen ke dasault rafael dalam pembelian pesawat baru dan pengembangan IFX,
      Ini lah enaknya jadi pemuda tampan yang nonblok

      Maaf analisa ngawur saja semoga warjager pandai memahami dan tidak bingung dengan segala hingar bingar pemberitaan,,”

      Semoga membantu…

  33.  

    Mungkin warjagers belum tahu kalau kata “Typhoon” ini berasal dari bahasa Indonesia yaitu “Tipu” –> “Tipuan”, tapi oleh pihak Barat disesuaikan pengucapannya dg lidah mereka (sehingga menjadi Typhoon). 😀

  34.  

    Efek deteren ke 2:

    Memberikan garansi keamanan wilayah kedaulatan RI dari negara tetangga skaligus merebut kembali FIR dari tangan singapore 😀

    Tahun ini pemerintah telah membukukan dan mencatat wilayah kepulauan-kepulaun RI dalam buku yg telah diresmikan beberapa hari yang lalu termasuk pulau-pulau terluar baik yg sudah berpenghni maupun yg belum berpenghuni

    •  

      Bung @arjuna, Pengembalian FIR Natuna dari Singapore gak ada hubungannya dgn Pespur..tp terkait dgn kebijakan penerbangan sipil oleh Kementrian Perhubungan. Perintah pengambil-alihan sdh dituangkan dlm UU Penerbangan

  35.  

    wah bang Jalo bikin tambah onar & galau dunia intelijen aja nich…
    abis ada KFX –> IFX —> sekarang ada LFX…. yang artinya kira2 London Fighter Experimental yo…

  36.  

    “Jika ternyata di tahun yang sudah ditentukan PT. DI gagal, tentunya harus ada yang bertanggung jawab atas kegagalan itu dan rekomendasi dari PT. DI untuk pembelian Typhoon perlu di selidiki oleh BIN dan KPK.”
    Saya paling suka dengan pernyataan dini karena memang harus ada pertanggungjawaban atas “Keputusan Strategis”. Bila gagal maka seluruh jajaran Komisaris dan Direksi PT. DI harus bersedia mundur

    •  

      Haduuh susah juga ya, kenapa gak sekalian itu tank sbs yg dikembangkan sejak lama gak diperiksa BIN atau KPK. Kenapa gak sekalian pesawat N-250 yg gagal diproduksi sampai sekarang gak diselidiki KPK dan BIN. Kenapa gak sekalian roket RX-550 yg kemarin gagal terbang tidak diselidiki KPK atau BIN.

      Ini berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau nanti ada aset pengetahuan ini yg disalahgunakan baru KPK turun tangan. Ada yg niat membangun pesawat tempur dalam negeri kok sudah di antipati dari masyarakatnya.

      •  

        Ok saya jelasin sedikit, kita memang bener2 harus belajar dari embargo yg dilakukan negara2 besar kepada kita.Dari pelajaran itu ada namanya UU no. 16 tahun 2012, saya tahu dipikiran teman2 itu kalau Typhoon dibeli SU-35 gak jadi dibeli. Kalau menurut saya itu salah? pembelian alutsista ini melihat kondisi politik Internasional juga. Contoh kasus kenapa kita harus membeli kilo dan changbogo, saya rasa teman2 sudah tahu jawabannya. Pak poer pernah mengatakan bahwa kita ada rencana membangun 10 Skadron di seluruh Indonesia untuk memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apakah semuanya cuman untuk sukhoi?

        Masalah mama Ely, kita takut di embargo tapi kita beli Shoradnya. Kenapa gak beli dari negara lain, karena dia memberikan kita ToT. Nah ini yg kita cari, Saya rasa Insinyur2 kita sudah memiliki Self Improvment dan Basic Knowledge tentang teknologi pespur. Nah tinggal program ToT yg dibutuhkan untuk mengisi berapa persen kekurangan kita. Sekarang kenapa kita mau belajar pengembangan radar dari Thales UK, kenapa gak dari industri radar lainnya? Kan kita benci banget nih negara mama Ely…

        Maaf kalau ada kata2 saya yg kurang enak atau menyinggung teman2…
        Mari kita dukung kemandirian bangsa kita biar bisa sejajar dengan negara lain…

      •  

        Saya rasa teman2 tahu kondisi dana R&D kita seperti apa?

      •  

        Bung Jalo, jangan uring-uringan, nanti cepat tua .. :).
        Sepakat bung.
        Setiap anggaran keluar memang harus ada pertanggungjawabannya. Tapi untuk riset rasanya dibedakan dari proyek pembangunan, sebab resiko tidak tercapainya luaran sesuai target bisa dibilang lebih tinggi dari proyek pembangunan/pembuatan. Biasanya kalau riset tidak mencapai target bisa dihentikan atau diberikan kesempatan lagi (selama tidak ditemukan indikasi korupsi).
        Maka desain N219 dilakukan Lapan, secara keuangan selain untuk tidak membebani kas PTDI sebagai perusahaan yang harus profit, juga untuk memberi ruang seandainya ada capaian desain tidak sesuai target, karena Lapan bukan untuk profit (cmiiw).
        Yang terpenting adalah monitoring, sejauh mana dana benar-benar digunakan secara tepat dan tidak mengada-ada (mis: mark-up). Apalagi teknologi maju, sangat mungkin penguasaannya meleset dari target karena ada faktor-faktor di luar dugaan yang tidak masuk dalam perhitungan meski sudah sangat bagus perencanaannya.
        Saya kira teman-teman mesti lebih dalam melihat masalahnya.

      •  

        Kalau akhirnya jadi ambil si typhon, maka salah satu yang krusial adalah apakah teote itu full proyek pembuatan, atau ada risetnya? ini yang harus dipikirkan benar, agar jika teote nya jalan, PTDI sebagai perusahaan tidak terbebani. Bahwa tenaga ahli PTDI dibebani tugas teote itu ya, tapi bukan PTDI nya. Caranya, kalau memang kandungan risetnya dinilai besar, sebaiknya bukan PTDI yang melakukan teote, tetapi bisa LAPAN, yang dalam aktivitas itu terlibat tenaga ahli PTDI.
        Tapi saya setuju dengan semangat bahwa anggaran negara harus dipertanggungjawabkan dengan baik dan benar. Untuk itu harus dipastikan sistem dan pelaksanaan monitoringnya memang bagus, dengan tujuan selain memenuhi good governance, juga memelihara profesionalitas.

  37.  

    Keuntungan Kedua adalah :
    Untuk keutungan ke-2 tolong dipikirkan sendiri karena sudah waktunya saya sarapan dan minum susu dulu. (by Mbah Moel).

    KEUNTUNGAN KEDUA ADALAH :
    KALAU TNI-AU DAPET SU-35, TNI-AL PASTI MINTA KILO DOOOONG.. (NGAREP..PANTANG MENYERAH NIH..!)

  38.  

    sukhoi Su-35 semoga cepat terealisasi dan segera bisa masuk skuadron udara kita. harapan rakyat yang peduli pertahanan dan keamanan Indonesia. ❗

  39.  

    nyimak…

  40.  

    Heheheheh siap Bung LOg, mari kita berjoke ria…
    Ini ada foto, tentara Amerika aja segan lihat pesawat hercules kita apalagi yg lain… hehehhe, just joke biar turunin tensi…

    •  

      just joke 🙂 awas bung Jalo, nanti ada yang bilang itu foto hasil sotoshop terus dikasih tulisan nama “jalo” xixixixi….biar tensi turun “disambi mlaku karo ngombe susu”

  41.  

    bung now/diego ada yg mnta di banned nih..
    Diartikel2 sblumnya udah brulah skrang kmbuh lgi. Skat 🙂

  42.  

    bung now/diego ada yg mnta di banned nih..
    Diartikel2 sblumnya udah brulah skrang kmbuh lgi ponari. SIKAT 🙂
    SR lagi ah hehe

  43.  

    Maaf ya hari ini saya kayak jadi sales Typhoon, hehehhe
    Saya gak ada rencana jadi sales, cuman mau berdiskusi aja soal kemandirian bangsa kita soal teknologi Pespur… Maaf kalau ada salah2 kata atau ada kata2 yg membuat teman2 tersinggung…
    Saya out dulu ya, istri sudah marah2… 🙂

    •  

      Di luar banyak yang segan, tetapi kalau di rumah, ternyata ????

      Hahahaha

      ( kalau tertawa dilarang sambil guling-guling )

    •  

      Hahahahahaha…… untung bini gw gak pernah ngomel kl seharian gw tongkrongin warjag…. xixixxixixixixiii…… 🙂

      •  

        Sama donk…
        Istri saya malah sampai heran lihat tiap hari dari pagi bangun sudah tongkrongin ni stasiun JKGR. Semua ulasan suhu2 di sini (jkgr.red) luar biasa…sangat berbobot dan membangkitkan rasa cinta akan tanah air kita sendiri. APalagi kalau diulas mengenai perkembangan produksi beragam alutsista dalam negeri…rasanya WOW gitu…

        OKE…lanjutkan lagi para sesepuh…jangan bosan2 ya menampilkan informasi mengenai alutsista kita.

        Oya…maaf ada mau tanya nih atau lebih sekedar usul (maaf sebelumnya kalau usul ini tidak berkenan di hati pemilik situs ini dan sesepuh JKGR yang terhormat…)…sama bung @Diego…
        Mengingat Jakartagreater merupakan sebuah situs yang menampilkan portal2 berita mengenai perkembangan alutsista negara Indonesia (secara nasional), dan bahwasannya berita2 di situs ini lebih ditujukkan untuk seluruh rakyat Indonesia maka bolehkah nama “Jakartagreater.com” diubah menjadi “Indonesiagreater.com”? Ini mungkin identik dengan acara Indonesian Lawyers Club di TVOne yang sebelumnya bernama “Jakarta Lawyers Club”

        Mohon maaf sebesar2nya kalau usul saya ini terkesan menggurui para sesepuh khususnya pemilik stasiun ini (@Bung Diego)

      •  

        [email protected] bini ngomel…bilang aja,…” ga dikasih uang jajan nanti buat soping ke mall” dan “klo malam ga di kasih yg anget anget” hehhe

      •  

        Hehehehehe, jadi malu saya…
        Soalnya yg dirumah strees, kalau libur malah sibuk ama laptop… 🙂

  44.  

    “jangan buat tetangga meriang sebelum waktunya”.
    apa iya kita kogabwilhan cuma 1/2 jenis burung yang dipelihara…?