Feb 162019
 

JakartaGreater.com – Pesawat tempur generasi keenam Rusia di masa depan dan juga pesawat tanpa awak generasi berikutnya dapat dilengkapi dengan apa yang disebut sebagai “radar radio-fotonik”, menurut pakar militer Dave Majumdar yang dilansir dari laman majalah National Interest.

Jika Rusia berhasil mengembangkan sistem seperti itu, maka Moskow akan memiliki sensor dengan jangkauan serta resolusi yang jauh lebih besar, cukup tinggi untuk mengembangkan gambar tiga dimensi dari sasaran yang mengudara, lebih canggih daripada radar yang saat ini beroperasi di seluruh dunia.

Dengan sistem radar seperti itu berpotensi, memungkinkan Rusia mengembangkan senjata berkualitas untuk melacak pesawat siluman jika terbukti berhasil. Berdasar klaim pihak Rusia selama ini bahwa Su-35 mereka mampu menaklukkan jet tempur F-35 dan bahkan F-22 Amerika Serikat, apakah ini berarti Moskow telah berhasil memiliki teknologi tersebut?

Menurut kantor berita milik negara TASS bahwa RTI Group Rusia diperkirakan akan menyelesaikan penelitian dan pengembangan awal, serta membangun purwarupa dari radar radio-fotonik X-band tahun ini. Mereka akan menentukan skema utama membangun pelacak radio-fotonik. Yang nantinya akan memungkinkan perusahaan “dalam beberapa tahun ke depan untuk membangun prototipe radar super-ringan dan berukuran kecil untuk kendaraan udara nirawak.

Kompleks radar mobile penangkap siluman, 55Zh6M Nebo-M © Vitaly V. Kuzmin via Wikimedia Commons

“Radar fotonik akan dapat memberikan pencitraan gelombang radio dengan gambar yang memiliki detail lebih besar dan kemungkinan untuk bisa mengidentifikasi jenis target”, kata RTI Group kepada TASS. Itu mencerminkan pernyataan sebelumnya dari Radio-Electronic Technologies Group, yang lebih dikenal dengan KRET.

“Radar radio-fotonik akan dapat melihat lebih jauh daripada radar yang ada. Dan, saat kita menyinari musuh dalam rentang frekuensi ini yang belum pernah terjadi sebelumnya, kita akan mengetahu iposisinya dengan akurasi tertinggi. Dan setelah memprosesnya, kita akan mendapatkan gambar yang hampir sejelas foto tentang hal itu”, kata Vladimir Mikheyev, penasihat wakil kepala eksekutif pertama KRET.

KRET mengklaim telah mengembangkan prototipe kerja dari berbagai subkomponen untuk radar fotonik mereka. KRET sekarang bekerja untuk membangun prototipe skala penuh dari sistem radar tersebut.

“Baik emitor dan penerimanya telah dibangun berdasarkan prototipe eksperimental sebagai bagian dari pekerjaan R&D. Semua ini bekerja dan melakukan lokasi – kami memancarkan sinyal dengan frekuensi sangat tinggi, dipantulkan kembali dan kami menerima serta memproses dan mendapatkan gambar radar dari suatu objek. Kami sedang melihat apa yang perlu kami lakukan untuk membuatnya lebih optimal lagi”, kata Mikheyev.

Jet tempur siluman F-35 (atas) dan F-22 (bawah) © US Air Force via Wikimedia Commons

“Sekarang bentuk lengkap dari susunan antena radar fotonik radio-optik tersebut sedang dikembangkan sebagai bagian dari litbang, yang akan memungkinkan kami untuk menguji karakteristik seri purwarupanya”, lanjut Mikheyev.

Rusia bukan yang pertama memulai pengembangan radar fotonik. Sebuah proyek yang didanai oleh Italia sebagai PHOtonic-based full DIgital Radar (PHODIR) telah mengembangkan “sistem radar koheren” berbasis fotonik sepenuhnya pada tahun 2014.

Sebuah radar fotonik menggantikan sirkuit elektronik tradisional radar konvensional dengan laser, filter optik dan fotodioda untuk menghasilkan sinyal frekuensi radio berkualitas tinggi dan sangat akurat.

“Sementara radar fotonik masih menggunakan gelombang radio untuk menemukan objek seperti pada sistem konvensional, laser memungkinkan untuk menghasilkan pulsa frekuensi yang sangat tinggi dalam pita emisi luas dari puluhan megahertz hingga mungkin hingga ratusan gigahertz”, menurut rilis pers General Electric.

“Radar laut dan kontrol lalu lintas udara saat ini biasanya beroperasi dalam kisaran 1 hingga 12 gigahertz, dengan frekuensi yang lebih tinggi biasanya berarti deteksi objek yang lebih tepat”, sebut rilis itu.

Ilustrasi Radar © Vladimir Smirnov via TASS

Paolo Ghelfi, peneliti utama PHODIR yang merupakan seorang insinyur elektronika di Konsorsium Antar Universitas Nasional untuk Telekomunikasi (CNIT) dari Italia, menggambarkan beberapa penelitian tim terhadap Txchnologist.

“Kami dapat menentukan posisi, kecepatan dan bahkan bentuk kapal kargo yang ada di dalam dan di luar pelabuhan”, menurut Ghelfi. “Menggunakan laser sebagai pengganti elektronika radar tradisional berarti kita dapat mendeteksi posisi objek yang lebih akurat. Kita juga bisa mendeteksi objek yang lebih jauh karena sistem kita menghasilkan noise lebih rendah dalam sinyal radar”.

Tim PHODIR menerbitkan temuan mereka ini dalam jurnal ilmiah Nature pada tahun 2014.

“Arsitektur yang diusulkan mengeksploitasi laser pulsa tunggal untuk menghasilkan sinyal radar yang dapat mengirim dan juga menerima gema mereka, menghindari konversi frekuensi dan naik turun frekuensi radio dan menjamin pendekatan yang ditentukan oleh perangkat lunak dan memiliki resolusi tinggi”, menurut abstrak dari makalah tersebut.

“Kinerjanya melebihi elektronika tercanggih pada frekuensi pembawa di atas dua gigahertz, dan deteksi pesawat yang tidak bekerjasama menegaskan efektivitas dan presisi yang diharapkan dari sistem”.

Radar anti siluman YLC-8B buatan CETC, China © mil.huanqiu.com

Peneliti lain, termasuk dari China juga telah menindaklanjuti pekerjaan tim PHODIR untuk mengatasi beberapa keterbatasan teknologi radar fotonik saat itu.

“Pemrosesan sinyal pada penerima sampling masih merupakan batasan utama dari frekuensi dan bandwidth operasi radar tersebut”, demikian bunyi sebuah makalah oleh ilmuwan China, Fangzheng Zhang, Qingshui Guo dan Shilong Pan di Nature.

“Untuk mengonversi sinyal RF frekuensi tinggi diperlukan konversi frekuensi fotonik gelombang mikro dan teknik konversi analog ke digital telah diusulkan, akan tetapi masih sulit bagi penerima radar tradisional untuk memproses baseband yang telah dikonversi pita-pita sinyal jika bandwidth operasi yang sangat besar diadopsi”, tulis mereka.

Para peneliti China lantas mengajukan solusi untuk masalah itu di makalah mereka.

“Kami mengusulkan dan mendemonstrasikan radar dengan resolusi tinggi real-time berbasis-fotonik yang menggabungkan generasi optik dan pemrosesan sinyal LFM broadband”, tulis para peneliti.

“Dalam pemancar, sinyal LFM broadband dihasilkan oleh frekuensi empat kali lipat dari sinyal listrik berkecepatan rendah yang menerapkan modulator elektro-optik terintegrasi tunggal. Pada penerima, sinyal LFM yang dipantulkan itu didefinisi ke sinyal frekuensi rendah berdasarkan pencampuran frekuensi fotonik. Implementasi de-chirping fotonik tersebut bisa langsung memproses sinyal frekuensi tinggi dan bandwidth besar tanpa konversi frekuensi listrik. Setelah penghapusan fotonik ini, ADC dengan laju pengambilan sampel yang moderat bisa digunakan pada penerima dan pemrosesan sinyal real-time dapat direalisasikan. Dan dalam sistem yang kami diusulkan, batasan bandwidth karena pembangkitan dan pemrosesan sinyal listrik dihilangkan. Bandwidth operasi maksimum, terutama ditentukan oleh perangkat elektro-optik, dapat mencapai puluhan atau bahkan ratusan gigahertz. Hasilnya, deteksi radar real-time dengan resolusi sangat tinggi dapat direalisasikan”.

Sementara itu Rusia telah mulai berinvestasi dalam aplikasi militer teknologi radar fotonik, Pentagon memiliki awal yang cukup besar. Memang, Pentagon memiliki sejumlah program pengembangan teknologi berbasis fotonik ini, tak hanya untuk radar tetapi juga untuk sinyal intelijen dan aplikasi lainnya.

Fakta bahwa Moskow dan Beijing juga bekerja pada teknologi seperti itu hanya menyoroti bahwa pada saat ini, Pentagon sudak tak lagi mampu mempertahankan keunggulan teknologi yang sangat besar atas musuh potensialnya dalam jangka panjang.

Bagikan: