Jun 042018
 

Jet tempur siluman F-35 Angkatan Udara Inggris © SAC TIm Laurence via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Jet tempur F-35 pertama yang akan berbasis di Inggris tidak dapat tiba di Norfolk saat ini seperti yang telah diperkirakan sebelumnya karena kekhawatiran Angkatan Udara Inggris mengenai cuaca buruk, seperti dilansir dari laman The Register.

Rahasia umum soal tanggal kedatangan pesawat itu sedang banyak dibicarakan di media sosial, setelah Sekretaris Pertahanan Gavin Williamson mengumumkan bahwa jet tempur supersonik siluman akan “mudik” ke Marham, Pangkalan Angkatan Udara Inggris yang baru bulan ini.

Empat dari lima belas jet tempur F-35, yang Inggris miliki saat ini direncanakan terbang melintasi Samudera Atlantik dalam perjalanan maraton sejauh 6.440 km atau sekitar 4.000 mil. Perjalanan seperti itu penuh dengan risiko yang tak pasti, paling tidak karena jet membutuhkan beberapa kali pengisian bahan bakar di udara selama perjalanan.

Bagi pembaca biasa, ide bahwa pesawat tempur baru seharga £ 85 juta atau sekitar $ 114 juta tak dapat terbang dalam cuaca yang kurang sempurna tampaknya gila (saat artikel ini ditulis, sebagian wilayah Inggris berawan), gambaran lengkapnya lebih kompleks dari itu.

Menyebrangi Samudera

Penerbangan trans-atlantik bersifat rutin, pesawat terbang melakukannya setiap hari dan sepanjang waktu. Saat jet tempur siluman generasi kelima, F-35 Angkatan Udara Inggris (RAF) tidak dapat melakukannya dengan pesawat baru, tentu hal ini akan menjadi bahan tertawaan, bukan?

Tidak begitu juga. Penerbangan transatlantik dengan pesawat terbang adalah rutin karena pesawat tersebut memiliki dua atau lebih mesin, setidaknya dengan dua orang pilot, toilet dan dapur. Jika salah seorang pilot menjadi tak sehat atau membutuhkan secangkir kopi untuk membantu tetap waspada, yang lain akan mengambil alih dan minuman tersedia.

Jika salah satu mesin berhenti bekerja, Anda dapat menggunakan mesin kedua yang telah dirancang untuk mengambil alih beban dan akan membawa Anda ke lapangan terbang pengalihan.

Dalam dunia pesawat bermesin ganda, hal itu disebut ETOPS, yang merupakan standar kinerja operasional mesin ganda yang diperluas. Sebuah pesawat yang disertifikasi untuk penerbangan ETOPS dapat melakukan penerbangan yang akan memakan waktu terbang beberapa jam dari lapangan udara terdekat yang cocok untuk pendaratan darurat.

Pesawat ETOPS yang lebih canggih seperti Airbus A330 dan Boeing 787 tersebut bahkan dapat mengudara hingga 330 menit (5,5 jam) dari bandara pengalihan. Sertifikasi, secara kasar, didasarkan kepada keandalan mesin.

Pesawat Mesin Tunggal

Berbeda halnya dengan jet tempur berkursi dan bermesin tunggal yang tak memiliki fitur kenyamanan, selain kursi dan pasokan udara. Ini juga jauh lebih berisiko bila dilihat dari sudut pandang perencanaan untuk melakukan penerbangan di atas samudera pada jangka waktu yang lama. Jika mesin berhenti memberikan tenaga penuh, maka pesawat itu akan jatuh.

Jadi Anda harus mulai mempertimbangkan masalah praktis yang potensial. Dalam kasus penerbangan trans-atlantik F-35, bagaimana Anda akan menyelamatkan pilot jika ada hal buruk terjadi?

Jika cuaca buruk atau samudera berombak besar, bagaimana tim SAR akan mencari dan menemukannya? Berapa lama mereka akan sampai di sana dan benar-benar menemukan pilotnya? Mengingat suhu laut dan tingkat harapan hidup, berapa lama peluangnya hidup di laut sementara Anda mencarinya?

Eksekutif BASARNAS di Inggris menerbitkan sebuah studi beberapa tahun lalu ke tingkat kelangsungan hidup manusia di Laut Utara dalam kondisi musim dingin yang khas, dengan fokus pada para pelaut yang terpaksa meninggalkan kapal mereka.

Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa grup korban tak terluka yang tenggelam di Laut Utara dalam kondisi musim dingin yang khas dan mengenakan baju pelampung twin-lobe dan pakaian berselaput imersibel, mungkin akan mulai mati dalam waktu 30 menit setelah memasuki lautan.

Tidak peduli bagaimana benar-benar menguji pesawat itu pada pengerahan jet siluman itu dimasa damai. Anda tidak bisa mengambil risiko yang tak perlu dengan jet tersebut, meski jet tempur F-35 mudah digantikan namun mencari pilot pengganti tidaklah begitu.

Bagaimana dengan cuaca?

Selain penerbangan F-35 yang telah direncanakan bergantung pada pengisian bahan bakar di udara untuk menyelesaikan penerbangan sejauh 6.440 km, pesawat ini hanya memiliki jangkauan sekitar 900 mil laut dengan daya tahan ekstrim sekitar 1.800 mil.

Dengan demikian, diperkirakan minimal ada dua kali pengisian bahan bakar selama F-35 dalam perjalanan dari lokasi mereka saat ini di pangkalan udara Korps Marinir AS di Beaufort, Carolina Selatan, menuju pangkalan udara Marham di Norfolk, Inggris.

Untuk alasan yang jelas, pengisian bahan bakar di udara butuh cuaca yang cerah supaya berhasil dilakukan, turbulensi dan awan tebal adalah kripton untuk mengisi bahan bakar.

Sekali lagi, mengapa harus mengambil risiko ketika Anda dapat menunggu beberapa hari dan melihat bagaimana cuaca berjalan dengan baik? Skenario terburuknya adalah bahwa pengisian bahan bakar di udara seperti yang sudah direncanakan tidak terjadi dan empat jet tempur baru termasuk pilotnya harus buru-buru kembali ke AS, ini membuang-buang waktu, uang dan usaha, atau memaksa mereka mendarat atau bahkan meninggalkan jet dan keluar, memicu operasi penyelamatan dan pemulihan.

Keputusan Inggris melakukan penerbangan trans-atlantik sekaligus untuk F-35B barunya adalah opsi untuk “pamer” kepada dunia bahwa Inggris belum kehilangan keterampilan mengoperasikan pesawat tempur di jarak yang sangat jauh dari pangkalan mereka.

Opsi pengiriman F-35B lainnya adalah melalui Kanada utara, Islandia serta Greenland, meskipun itu membawa seluruh tingkat diplomatik untuk menjamin izin bagi pesawat militer untuk mendarat dan mengisi bahan bakar di negara-negara tersebut dan juga memperpanjang perjalanan menjadi lebih dari dua atau tiga hari.

Tentu saja, ada pilihan yang paling aman yakni dengan mengemas F-35, memasukkannya ke dalam kontainer untuk dikirimkan dari AS ke Inggris, meskipun menurut pepatah lama menyebut bahwa “Sebuah kapal di pelabuhan itu aman, namun kapal itu dibuat bukanlah untuk pajangan di pelabuhan”.

Berbagi

  15 Responses to “F-35 Inggris Tak Bisa Mudik Akibat Buruknya Cuaca”

  1.  

    Sikilat masih alergi hujan petir!he3

  2.  

    Dan itulah sebabnya kenapa dulu F-16 blok 52 ID kita yg terakhir mengalami kendala saat mau terbang ke Indonesia dari USA. Itu karena mereka melakukan penerbangan trans Pasifik. Jangkauan dan jaraknya jauh lebih panjang dari apa yg ditempuh oleh F-35B UK ini.

    •  

      yg batch pertama F-16 blok52ID malah dari daratan AS menuju Alaska kemudian Hawaii lanjut guam terakhir di iswahyudi. Kata para mbahe waktu itu sih mau mencoba mesin sekaligus daya jelajah. Sampai ada yg menyebut daya jelajah F-16 kita lebih baik dari F-16 singapur.

  3.  

    Krn pilotnya blm dpt THR ahahahah

  4.  

    Bungkus

  5.  

    itu f35 dioperasikan trbang diketinggian rendah, tdk dioperasikan terbang diketinggian tinggi, walau cuaca cerah, karna bisa merusak cat silumannya, apa lg trbang marathon, klu selamat ditujuan? itu f35 bakalan masuk perawatan serius, klu tdk? paling nyemplung ke laut

    hahhaahaaaa

    •  

      Sotoy lu, Emangnya terbang rendah gak bikin boros BBM apa??

      •  

        bukan cuma boros bbm, mesin pun bisa meledak, untuk itu f35 dioperasikan tempur tebang diketinggian rendah, paling lama selama satu jam, jk lbh? maka itu f35 mesinnya bisa meledak, klu trbang diketinggian tinggi? mesin msh awet walau terbang selama brjam jam, tapi cat rusak semua, loe punya sotoy pun rusak

        hahhaahaaaa

        •  

          terbang pun itu f35 diketinggian tinggi, selama brjam jam blm tentu juga awet mesinnya sampai tujuan, kemungkinan bisa meledak itu mesinnya,
          klu terbang diketinggian rendah tdk bisa lbh dr satu jam, karna bisa meledak itu mesinya tapi cat silumannya msh mungkin awet

          hahhaahaaaa

 Leave a Reply