Jan 182019
 

BF-02 Flt 345 First PVWY IV Flutter with Mr. Billie Flynn as the pilot on 13 November 2014

JakartaGreater.com – Pemerintahan Presiden Donald Trump menginginkan militer AS agar mengembangkan senjata laser, drone serta rudal baru untuk menghancurkan rudal musuh dalam beberapa menit pertama setelah rudal diluncurkan ke arah target mereka, seperti di lansir dari laman National Interest pada hari Kamis.

Secara teori, rudal paling rentan ketika meluncur paling lambat. Namun pendekatan “fase pendorong” untuk pertahanan rudal ini sangat berisiko bagi pasukan pertahanan, para ahli rudal AS menjelaskan. Karena alasan inilah, upaya AS sebelumnya untuk mengembangkan pertahanan rudal pada fase pendorong berakhir dengan sebuah kegagalan.

Presiden Donald Trump mengumumkan Tinjauan Pertahanan Rudal pemerintahannya pada 17 Januari 2019 dalam pidato politik yang mengoceh di Pentagon. Trump bersumpah untuk membangun apa yang dicirikannya sebagai perisai rudal yang tidak bisa ditembus. Really?

“Tujuan kita sederhana”, kata Presiden Trump. “Untuk memastikan bahwa kita dapat mendeteksi dan menghancurkan rudal yang diluncurkan terhadap Amerika Serikat, dimana saja, kapan saja dan dari lokasi mana saja”.

Ballistic Missile Defense System Overview © Missile Defense Agency via Wikimedia Commons

Itu termasuk memukul roket selama fase dorongan. “Mencegah rudal ofensif dalam fase dorongan mereka akan meningkatkan kemungkinan keberhasilan melawan ancaman rudal, memperumit kalkulus serangan dari agresor dengan mengurangi keyakinan mereka pada perencanaan serangan misilnya”, menurut tinjauan 2019.

Untuk tersebut, review Trump – ulasan seperti pertama sejak 2010 – menghidupkan kembali skema pertahanan fase yang telah populer selama pemerintahan Presiden Bill Clinton dan Presiden George W. Bush namun ini tak disukai selama pemerintahan yang lebih pragmatis, yakni Presiden Barack Obama.

Clinton dan Bush menghabiskan miliaran dolar hanya untuk mengembangkan YAL-1, yakni Boeing 747 yang membawa laser kimia yang mudah menguap. Idenya adalah agar YAL-1 ini melakukan patroli di dekat landasan peluncur roket musuh dan menembak roket tidak lama setelah peluncurannya.

Akan tetapi YAL-1 itu sendiri adalah target yang besar dan rentan. Robert Gates, Menhan AS di bawah pemerintahan Obama, akhirnya membatalkan YAL-1 pada 2009. “Tidak ada yang berseragam [militer] yang saya tahu, yang percaya bahwa tersebut adalah konsep yang bisa diterapkan dilapangan”, kata Gates.

Pesawat Boeing YAL-1A Airborne Laser Testbed © US Missile Defense Agency via Wikimedia Commons

Telah ada pembicaraan dalam beberapa tahun terakhir, tentang melengkapi drone dengan laser untuk melakukan misi yang sama. Tinjauan pertahanan rudal Trump membuat konsep itu secara resmi.

“Mengembangkan teknologi laser berenergi tinggi yang skalabel, efisien serta kompak memiliki potensi untuk menyediakan kemampuan yang hemat biaya di masa depan untuk menghancurkan pendorong rudal di bagian awal lintasan”, menurut ulasan (review) tersebut.

“Melakukan hal tersebut, akan memanfaatkan kemajuan teknologi sebelumnya, termasuk misalnya kemajuan dalam propagasi dan kendali sinar. [Departemen Pertahanan] kini sedang mengembangkan Demonstrator Laser Berdaya Rendah untuk mengevaluasi teknologi yang diperlukan guna memasang senjata laser di platform udara tanpa awak untuk melacak dan menghancurkan rudal pada fase pendorong mereka”, tulis review itu.

Tinjauan ini juga merekomendasikan modifikasi pesawat tempur siluman F-35 untuk misi penghancur rudal pada fase pendorong, dengan asumsi bahwa pesawat siluman itu mampu terbang di dalam zona pertahanan udara musuh untuk berpatroli didekat lokasi peluncuran rudal balistik.

Rudal balistik taktis Hwasong-5 Korea Utara turunan dari rudal balistik R-17 Elberus (Scud) buatan Soviet © Korean Central News Agency (KCNA)

F-35 “dapat melacak dan menghancurkan rudal jelajah musuh hari ini, dan, di masa depan, dapat dilengkapi dengan pencegat baru atau modifikasi yang mampu menembak jatuh rudal balistik musuh dalam fase dorongan mereka.”

Ada banyak hype di sekitar konsep pencegatan fase-pendorong – menembak jatuh rudal musuh segera setelah peluncuran – karena kecepatan rudal yang relatif lebih lambat dan kurangnya tindakan pencegahan yang bisa diterapkan pada tahap awal penerbangan itu.

Tetapi bahkan drone bersenjata laser atau pembunuh rudal F-35 tidak akan bisa berpatroli sepanjang waktu. “Upaya mencegat rudal di fase-boost pada dasarnya akan membutuhkan pemberitahuan terlebih dahulu mengenai peluncuran rudal untuk memposisikan pencegat AS dalam jarak yang sangat dekat”, tulis pakar rudal Hans Kristensen dan Matt Korda pada Federasi Ilmuwan Amerika.

Tinjauan Trump mengantisipasi permasalahan ini dan merekomendasikan Pentagon untuk mengembangkan sensor berbasis ruang angkasa terbaru untuk memberikan pemberitahuan sebelumnya tentang peluncuran roket potensial.

“Sensor-sensor berbasis ruang angkasa memberi keuntungan yang signifikan”, menurut ulasan tersebut. “Sensor seperti ini memanfaatkan area luas yang bisa dilihat dari luar angkasa untuk dapat meningkatkan pelacakan dan berpotensi menargetkan ancaman tingkat lanjut”.

Satelit © Wikimedia Commons

Tetapi sensor-sensor tersebut akan “mudah kewalahan, mudah diserang dan sangat mahal”, menurut Laura Grego memperingatkan, seorang ahli rudal di Union of Concerned Scientists, Amerika Serikat.

Amerika Serikat dapat menempatkan seluruh sistem pertahanan fase-boost di luar angkasa, menghindarkan perlunya patroli udara setiap saat. Pentagon berencana “mengidentifikasi teknologi yang paling menjanjikan serta perkiraan jadwal, biaya, dan persyaratan personel untuk kemungkinan lapisan pertahanan berbasis antariksa yang bisa mencapai kemampuan operasional awal untuk meningkatkan pertahanan fase”, tulis tinjauan tersebut.

Namun, bahkan pertahanan orbital sekalipun harus berada di dekat dengan target mereka. Pencegat fase-boost berbasis-ruang angkasa tentu “akan membutuhkan pencegat AS untuk ditempatkan sangat dekat dengan targetnya sendiri – hampir pasti mengungkapkan dirinya ke jaringan radar musuh”, menurut catatan Kristensen dan Korda.

“Pencegat itu sendiri juga harus cukup cepat untuk mengejar rudal yang semakin cepat, yang secara teknologi tidak mungkin dilakukan, bahkan bertahun-tahun ke depan”, menurut keduanya.

Berdasarkan studi dari National Academy of Sciences pada tahun 2012 pun menyimpulkan, bahwa pertahanan rudal pada fase-peningkatan – apakah itu energi kinetik atau terarah, dan apakah berbasis darat, laut, udara atau diluar angkasa – tidaklah praktis atau tidak layak”.

“Secara keseluruhan, Tinjauan Pertahanan Rudal pemerintahan Trump telah menawarkan keseluruhan solusi yang mahal, tidak efektif dan tidak stabil untuk masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh pertahanan rudal AS”, tulis Kristensen dan Korda.