Apr 112017
 

Tidak Efektif Sebagai Pembom Interdiksi

Dilansir dari POGO.org menyebutkan bahwa ada beberapa alasan utama kenapa jet tempur F-35 akan memiliki manfaat interdiksi yang sangat terbatas meskipun Angkatan Udara dan Korps Marinir telah mendeklarasikan ‘kemampuan operasional awal’.

Misalnya, perusahaan pertahanan di Eropa, Rusia, China dan bahkan Iran telah bekerja keras selama bertahun-tahun mengembangkan dan memproduksi sistem pertahanan udara untuk mengalahkan pesawat siluman. Dan mereka telah memiliki beberapa keberhasilan. Kami melihat ini dengan jelas pada tahun 1999, ketika sebuah unit rudal Serbia menembak jatuh sebuah pesawat tempur siluman F-117 dengan rudal permukaan-ke-udara (SAM) SA-3 usang dari era Soviet, sistem yang pertama kali diterjunkan pada tahun 1961.

Awak pertahanan udara Serbia menemukan cara mendeteksi pesawat siluman dengan radar pencari gelombang panjang menggunakan baterai rudal mereka. Lalu, dengan menggunakan “spotter” dan radar pembimbing pada rudal, pasukan Serbia mampu melacak, menargetkan, dan membunuh satu F-117 siluman. Untuk menunjukkan bahwa tidak ada suatu kebetulan, SAM Serbia menghantam dan merusak F-117 lain dengan begitu buruk dan akhirnya tidak pernah terbang di pertempuran udara Kosovo lagi.

Tak terpengaruh oleh bentuk khusus dan lapisan pelindung dari pesawat siluman modern, radar pencari dapat dengan mudah mendeteksi pesawat terbang siluman saat ini, termasuk F-35. Sejak Perang Dunia II Rusia tidak pernah berhenti membangun radar tersebut dan sekarang telah menjual versi modern, sangat mobile, radar gelombang panjang digital yang terpasang pada sebuah truk di pasaran dapat diperoleh dengan harga terendah US $ 10 juta. China dan Iran telah mengikuti langkah tersebut dengan mengembangkan sistem radar yang sama.

Sebuah sistem yang lebih sederhana dan bahkan lebih sulit ditangkal daripada sebuah radar pencari gelombang panjang adalah sistem deteksi pasif (PDS) yang mampu mendeteksi dan melacak sinyal frekuensi radio (RF) yang dipancarkan oleh sinyal radar pesawat, sinyal radio UHF dan VHF, sinyal identification-friend-or-foe (IFF), sinyal data link seperti Link-16, dan sinyal navigasi transponder seperti TACAN.

Pada bulan Mei 2014, NATO membeli dua set Sistem Deteksi Pasif (PDS) VERA-NG dari Republik Ceko

Sebuah contoh dari PDS modern adalah VERA-NG, sistem yang dijual secara internasional oleh Republik Ceko menggunakan tiga atau lebih antena penerima yang diatur terpisah untuk mendeteksi dan melacak serta mengidentifikasi sinyal RF yang dipancarkan oleh pesawat tempur dan pembom. Modul analisis pusat sistem menghitung perbedaan waktu dari sinyal mencapai penerima (receiver) untuk mengidentifikasi, menemukan, dan melacak hingga 200 sinyal transmisi radar pesawat.

VERA-NG hanyalah salah satu dari sekian banyak jenis PDS yang digunakan di seluruh dunia. Rusia, China dan negara lain juga menghasilkan PDS dan hingga saat ini telah banyak PDS yang diterjunkan selama beberapa tahun.

Setiap pesawat di dunia rentan terhadap PDS, pesawat siluman dan non-siluman sama-sama rentan dan F-35 tidak terkecuali.

Keindahan sebuah PDS dari perspektif lawan yang menggunakannya adalah bahwa radar siluman tidak relevan untuk mampu mendeteksi dan melacak pesawat. Jika suatu pesawat harus menggunakan radar, radio, data link atau sistem navigasi untuk mencapai misinya, PDS memiliki peluang yang baik untuk bisa mendeteksi, melacak dan mengidentifikasinya melalui semua emisi tersebut. Setiap pesawat di dunia rentan terhadap PDS, siluman dan non-siluman sama-sama rentan dan F-35 tidak terkecuali.

Senjata utama udara-ke-udara pesawat siluman F-35 adalah AIM-120 yang merupakan rudal diluar jangkauan visual (BVR), yang berarti F-35 harus menggunakan radar besar yang mengirim sinyal berdaya tinggi untuk mendeteksi target udara dan selanjutnya akan memandu rudal menuju sasaran. Demikian juga, bila pesawat harus memakai sinyal radar pemetaan darat yang bertenaga tinggi untuk menemukan target darat jarak jauh.

Apalagi jika sistem pesawat itu harus berkomunikasi dengan pesawat lain yang ada dalam formasi atau dengan pesawat pendukung seperti AWACS, berarti harus menggunakan radio dan data link. Dengan demikian F-35 rentan terhadap deteksi oleh sistem pelacakan pasif. Beberapa sistem deteksi pasif ini secara signifikan jauh lebih murah daripada radar pencari dan mereka hampir tidak terdeteksi secara elektronik.

Dalam laporan DOT & E juga berisi daftar beberapa alasan utama untuk penggunaan interdiksi terbatas.

Salah satu alasan tersebut adalah bahwa perangkat lunak F-35 Blok 2B (Korps Marinir) dan F-35 Blok 3I (Angkatan Udara) mencegah radar dari mendeteksi berbagai ancaman dan target sambil membatasi jenis persenjataan yang mampu dibawanya. Misalnya, saat ini F-35 hanya dapat membawa beberapa model bom serangan langsung (JDAM).

Tak satu pun dari bom tersebut dapat diluncurkan dari jarak jauh seperti rudal. Sebaliknya mereka jatuh pada lintasan balistik dari pesawat menuju target, yang berarti mereka hanya dapat dilepas dengan jarak yang relatif pendek (dalam jarak pandangan). Untuk saat ini pilot F-35 akan dipaksa terbang lebih dekat untuk menyerang target darat dan tergantung pada tingkat ancaman pertahanan udara musuh dan risiko misi yang bisa diterima, mungkin juga terbatas untuk mengerang target darat yang hanya dijaga oleh pertahanan udara jarak pendek, atau tanpa pertahanan sama sekali.

Sedikitnya jumlah senjata  yang bisa dibawa oleh F-35 tentu sangat membatasi fleksibilitas dalam pertempuran. Perangkat lunak saat ini hanya bisa membawa satu jenis bom, yang menurut DOT & E hanya berguna untuk menyerang satu atau dua target yang sama. Jadi, misalnya, ketika sebuah F-35 terbang sarat dengan bom yang dirancang menghancurkan target permukaan, mereka tidak akan mampu juga menghancurkan bunker karena mereka tidak memiliki bom berat yang diperlukan.

Kemampuan menembus wilayah udara yang dijaga ketat untuk menghancurkan target tetap yang jauh di dalam wilayah musuh selalu dijadikan alasan oleh para pendukung F-35.

F-35 diproyeksikan akan membawa seumlah besar senjata karena lebih akan lebih banyak perangkat lunak, rak bom, dan pengujian untuk memvalidasi yang sedang dikembangkan saat ini, tapi semua itu tidak akan diketahui yang mana senjata yang benar-benar cocok untuk F-35 hingga tahun 2021. Selain itu, dalam rangka untuk membawa sesuatu selain 2 bom JDAM maka harus menggunakan rak senjata eksternal, dan secara signifikan sudah pasti mengurangi dan kemampuan manuver mereka serta tentu saja bisa mengurangi dan bahkan menghilangkan kemampuan siluman pesawat tersebut.

Kemampuan menembus wilayah udara yang dijaga ketat untuk menghancurkan target tetap yang jauh di dalam wilayah musuh selalu dijadikan alasan oleh para pendukung F-35. Tentu saja, jangkauan tempur F-35 itu terbatas bahkan lebih kecil dari jangkauan F-16, berarti bahwa F-35 tidak mungkin dapat melakukan apa yang Angkatan Udara AS sukai yaitu “deep strike” jauh hingga ke daratan negara besar seperti Rusia dan China.

Laporan DOT & E tahun 2016 menjelaskan beberapa pejabat terseret untuk menunda pengujian kemampuan penetrasi F-35. Misalnya, program ini baru sekarang mulai menerima peralatan simulator radar darat kritikal untuk meniru sistem radar musuh, yang diperlukan untuk melakukan pengujian efektivitas F-35 dalam skenario yang sangat menantang. Pengiriman peralatan ini telah dimulai tetapi tidak akan selesai hingga awal 2018 sebab JPO belum pernah merencanakan atau menganggarkan sebelumnya.

Militer melakukan pengembangan dan pengujian operasional pesawat siluman di Western Test Range yang ada Markas Angkatan Udara Nellis, Nevada. Pengujian dilakukan terhadap peralatan simulator radar darat dan peluncur rudal permukaan-ke-udara (SAM).

Pesawat sedang diuji melintasi susunan ini untuk melihat apakah sensor yang terpasang di pesawat, khususnya sistem peperangan elektronik (pernika) dan radar pemetaan darat serta dikombinasikan dengan data intelijen yang disediakan melalui data link dapat mendeteksi ancaman dan merespon dengan tepat, misalnya memberi peringatan pilot, jamming sinyal, atau menembak rudal untuk melumpuhkan pertahanan.

Masalahnya menjadi sangat kompleks karena sinyal radar yang mengungkap keberadaan SAM misalnya, sehingga memungkinkan pesawat untuk menghindarinya atau menargetkan SAM, sinyal tersebut tidaklah selalu khas dan sering sangat mirip dengan sinyal radar biasa yang tidak menimbulkan ancaman segera bagi pesawat. F-35 tidak bisa membawa senjata yang cukup untuk menghancurkan segalanya. Sensor radar dan sensor sistem fusi harus dapat membedakan antara radar SAM musuh yang menimbulkan ancaman asli dan banyak radar berbahaya yang mungkin ada dalam jangkauan deteksi radar deteksi seperti radar pengawasan udara, radar jarak pendek, radar pertahanan udara ketinggian rendah untuk menargetkan senjata dan bukan pesawat terbang, bahkan sistem radar cuaca dan sistem kendali udara sipil yang ada di dekatnya.

Sampai peralatan simulator radar darat ada di tempatnya, program F-35 tidak akan mampu untuk dikembangkan, divalidasi, dan memperbarui kritikal misi atas perangkat lunat pada pesawat F-35 yang disebut Mission Data Loads (MDL), maka F-35 sama dengan cacat.

MDL adalah file besar yang menentukan semua target dan lokasi ancaman bersama-sama dengan tanda tangan elektronik dan atau inframerah, serta semua data pemetaan yang relevan. Tanpa MDL yang update dan akurat, F-35 tidak akan dapat menemukan target dan atau menghindari ancaman. F-35 tidak bisa bertenpur tanpa MDL. Sementara MDL juga perlu diperbarui secara terus-menerus dengan informasi mengenai ancaman, target dan sinyal yang dikumpulkan pada setiap misi F-35.

Para pilot F-35 pilot hanya bisa yakin bisa bertahan hidup apabila MDL yang mereka butuhkan bekerja dengan baik setelah diuji di lapangan dan dilengkapi dengan peralatan simulator radar darat yang diperlukan.

MDL baru dan lengkap harus dibuat untuk setiap teater atau zona konflik oleh lab pusat pemrograman ulang menggunakan input data dalam jumlah besar dari komando tempur yang relevan. F-35 yang beroperasi dari Inggris akan memiliki ukuran file yang berbeda dari F-35 yang berbasis di Jepang, misalnya. Hanya satu lab pemrograman ulang seperti itu yang ada saat ini, karena kesalahan manajemen oleh JPO, baru belakangan ini dijadwalkan untuk menerima upgrade yang diperlukan agar menghasilkan MDL yang valid. Laboratorium butuh 15 bulan untuk menghasilkan MDL lengkap. Apabila tiba-tiba F-35 diperlukan dalam teater pertempuran baru untuk melaksanakan operasi yang tak terduga, maka F-35 tidak akan bisa terbang melaksanakan misi tempur tersebut selama minimal 15 bulan kedepan.

Karena berbagai peralatan simulator radar darat yang diperlukan untuk lab pemrograman ulang belum ada di tempat, DOT & E menyatakan bahwa laboratorium pemrograman ulang awal hanya dapat menghasilkan MDL yang divalidasi untuk IOT & E sekitar Juni 2018.

Itu hampir setahun setelah IOT & E direncanakan akan dimulai bulan Agustus 2017 dan dua tahun setelah Korps Marinir menyatakan Kemampuan Operasional Awal (IOC) dari F-35B. DOT & E lebih lanjut menyatakan bahwa MDL F-35 yang cocok untuk pertempuran tidak akan diuji dan dioptimalkan untuk memastikan F-35 mampu mendeteksi, menemukan, dan mengidentifikasi penempatan ancaman modern hingga tahun 2020.

Bagikan Artikel:

  9 Responses to “F-35 Masih Terus Bermasalah – Kemampuan Pembom”

  1. Selamat pagi..

  2. Indonesia harus borong radar anti pesawat siluman silemin ke negara Balkan Kosovo atau Ceko…Tempatkan didekatkan dan barat untuk menangkal f35 ostrali dan singaporno

  3. pesawat yang benar benar “siluman” belum ada rupanya…

  4. boleh lah borong radar dan bahterai s400 anti siluman dulu, sambil nunggu SU 35 lgi dirakit..hhee

  5. Hihihi… Di Jual Pesawat Cacat Produksi Dgn Harga Sangat Mahal Dgn Kemampuan Terbatas… Jika Minat Hubungi Sales Lockhed Martin Terdekat… 😆

  6. Pesawat yg butuh banyak penyempurnaa, yg harus lbh diwaspadai F22 AS di Darwin apakah kita sudah punya antidothnya?

 Leave a Reply