Jun 032018
 

Letkol Christine Mau, pilot wanita pertama jet tempur F-35. © US Air Force via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Skuadron pelatihan utama F-35 Korps Marinir AS saat ini sedang mencetak pilot baru, namun ketersediaan suku cadang yang rendah dan sistem logistik terus menyebabkan sakit kepala bagi pengelola di Marine Corps Air Station Beaufort, seperti dilansir dari laman Defense News.

MCAS Beaufort di South Carolina adalah rumah bagi Marine Fighter Attack Training Squadron (VMFAT) 501, pusat layanan Korps Marinir AS untuk melatih para pilotnya menerbangkan jet tempur generasi kelima F-35B, varian lepas landas dilintasan pendek dan mendarat secara vertikal (STOVL).

Namun ketika Defense News mengunjungi pangkalan itu pada 17 Mei, para pengelola di pangkalan mengumandangkan kekhawatiran pada armada F-35. Sebagai rumah bagi beberapa F-35 tertua, ketersediaan pesawat siluman menderita karena harus terduduk menunggu suku cadang dan modifikasi perangkat keras dan perangkat lunak utama.

Ketika pengelola pangkalan memasukkan pesanan untuk komponen yang diperlukan guna memperbaiki F-35B, Sistem Informasi Logistik Automatis F-35 atau (ALIS) yang memandu pengguna melalui pemeliharaan dan membantu mengelola rantai pasokan, kadang-kadang malah memproyeksikan perkiraan kedatangan komponen “beberapa tahun ke depan”, kata Sersan Pedro, petugas pemeliharaan dari VMFAT-501.

“Itu perkiraannya”, Pedro cepat menambahkan. “Kemudian kami telepon dan mencari tahu bagaimana itu sebenarnya, jadi kami bisa mendapatkan komponen lebih cepat dari tanggal perkiraannya”.

Salah satu fitur ALIS adalah memungkinkan untuk dapat melihat jumlah dan jenis suku cadang yang tersedia di seluruh rantai pasokan, yang dibagi oleh layanan militer AS dan operator F-35 internasional. Sistem dapat memprioritaskan komponen, jadi terkadang pengelola benar-benar dapat menerima komponen dalam 3 hingga 5 hari bahkan jika tanggal prediksinya lebih panjang.

Namun, tak jarang untuk komponen-komponen tertentu membutuhkan waktu sekitar satu bulan, kata Pedro.

Dalam sejumlah skenario, pengelola terpaksa “mengkanibal” F-35 lainnya – mengambil komponen yang tidak tersedia dari satu jet untuk memperbaiki jet lainnya. Praktek tak biasa itu ada di seluruh armada tempur dan telah digunakan untuk melayani F-15 dan F/A-18, tetapi Pedro mengatakan bahwa kanibalisasi pesawat adalah opsi terakhir.

“Sebelum kami mulai mengorbankan komponen itu, jika disebut satu tahun keluar, kami akan memantaunya”, katanya. “Karena laporan berikutnya bisa jadi kami memiliki komponen itu. Itu akan diprioritaskan untuk unit tersebut, tetapi Anda butuh lebih banyak.  Jadi itu akan diprioritaskan kembali komponen itu”.

Beaufort bukan satu-satunya pangkalan yang terkena dampak kekurangan suku cadang, masalah mencapai semua pangkalan F-35.

Karena kurangnya suku cadang yang tersedia, F-35 di seluruh dunia yang tidak dapat terbang sekitar 22 persen dari Januari – Agustus 2017, menurut Kantor Akuntabilitas Pemerintah (GAO) pada tahun 2017.

GAO menawarkan satu penjelasan untuk masalah: Departemen Pertahanan hanya tidak memperhitungkan waktu yang diperlukan untuk menempatkan onderdil itu di bawah kontrak dan menghasilkan mereka ketika sedang melakukan perencanaan anggaran.

“19 persen onderdil F-35 memiliki waktu pesan lebih dari 2 tahun”, catat GAO. “Namun, pejabat kantor program dan dinas militer berkata bahwa waktu pemberian otorisasi layanan sebelumnya dan penghargaan kontrak tidak memperhitungkan waktu yang lama untuk mendapatkan onderdil, sehingga komponen terlambat untuk memenuhi kebutuhan operasional layanan militer”.

Modifikasi F-35 tua berkontribusi pada rendahnya ketersedian

Sebanyak 30 unit F-35B berbasis di Beaufort, dengan rincian 11 unit jet milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris dan 19 unit milik Korps Marinir AS.

Pesawat-pesawat tersebut masih memakai perangkat lunak versi awal yakni 2B dengan cakupan penerbangan dan kemampuan membawa senjata terbatas, yang mana dengan perangkat lunak 3I akan lebih baik (digunakan Angkatan Udara AS) pada tahun 2016, dan perangkat lunak 3F akhir memungkinkan kemampuan perang penuh.

Semua F-35B di Beaufort pada akhirnya akan dibawa ke standar 3F, namun untuk dapat memodifikasi perangkat lunak, diperlukan perangkat keras tambahan untuk mengubah versi awal menjadi versi berkemampuan penuh.

Pada waktu tertentu, ada beberapa pesawat yang menjalani modifikasi baik di Beaufort atau Fleet Readiness Center di Cherry Point Marine Station di North Carolina, AS, kata Mayor Andrew, asisten operasional VMFAT-501.

“Selalu ada aktivitas modifikasi konstan”, katanya. “Saat onderdil tersedia, pesawat akan dimodifikasi, namun butuh waktu untuk menyelesaikannya, program akan menjadwalkan modifikasi pada pesawat-pesawat itu”.

Pangkalan itu memiliki salah satu tingkat ketersediaan terendah untuk armada F-35. Pada tahun fiskal 2017, 28 unit F-35B milik Beaufort mengakumulasi 38 persen tingkat ketersediaan rata-rata yang suram, yang berarti bahwa hanya sepertiga dari model B di pangkalan yang siap untuk beroperaso, menurut data yang diterbitkan dalam laporan 2018 oleh direktur uji operasional dan evaluasi Pentagon.

  2 Responses to “F-35 USMC Rusak Akibat Kekurangan Onderdil”

  1.  

    He3.ambisi besar dlm pemasaran tetapi tdk diimbangi dgn sistim purna jual, bs jd demain yg besar tetapi tdk didukung pasokan sucad yg memadai membuat harga semakin tinggi! Jgn lupa aspirinnya diminum mister!

  2.  

    Hehehehe… negara produsennya mh jg puyeng ngadepin F-35….

 Leave a Reply