Mei 132013
 

F-35-Joint-Strike-Fighter

Tak lama setelah Pentagon merilis laporan tahunan tentang kemajuan pesawat stealth F-35, Turki mengumumkan penundaan pembelian terhadap  Lockheed Martin F-35 Joint Strike Fighters. Kenapa? “Biaya produksi tinggi” namun kemampuan tempur “tidak pada tingkat yang diinginkan”. Singkatnya, F-35 tidak bekerja dan terlalu mahal.

Reaksi Turki ini hanyalah puncak gunung es untuk program pengadaan militer paling mahal dalam sejarah. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana sikap mitra lain yang tergabung dalam proyek pembelian F 35. Apakah mereka akan pernah mendapatkan apa yang awalnya dijanjikan ?. Turki yang pertama membuka lembar keraguannya.

Lockheed Martin membangun prototipe X-35 yang terbang pertama  tanggal 24 Oktober 2000. Sekarang, lebih dari 12 tahun sejak penerbangan pertama, sekitar 65 pesawat F-35 telah dibuat meski ujicoba terhadap pesawat-pesawat itu jauh dari komplit. Sebagian ujicoba justru dilakukan di komputer, bukan di lapangan yang sesungguhnya.

Kini diketahui banyak persoalan yang muncul dari F-35, padahal tahun 2012, seharusnya telah memasuki masa produksi penuh. Dana yang dikucurkan pun membengkak dari estimasi tahun 2011 seharga  USD 233 miliar menjadi USD 397 miliar. Membengkaknya dana pembuatan F-35 menyebabkan naiknya harga per pesawat. Tahun 2001 harga F -35 dibandrol USD 81,7 juta, kini  membengkak menjadi USD 162,5 juta / satu pesawat.

Harga itu diperkirakan terus meningkat karena masih ditemukan berbagai macam kerusakan, antara lain: masalah sayap roll off, kemampuan landing di kapal induk, kemampuan stealth dan kemampuan dog fight, jika terdeteksi  lawan.

Menurut laporan Director of Operational Test and Evaluation (DOT&E) tahun 2012, sistem tampilan helm-mount pilot tidak bekerja untuk semua versi F-35. Pesawat F-35C  belum berkualifikasi carrier  karena hook ekor tidak bekerja dan harus dirancang ulang. Kursi lontar di semua model menempatkan pilot pada risiko serius dalam penerbangan dogfight.

Perangkat lunak kontrol penerbangan masih dalam pengembangan dan sistem kontrol penerbangan tidak memiliki kemampuan yang ditargetkan. Komponen struktural utama retak dan memerlukan desain ulang.

Fatalnya, Lockheed Martin maju terus untuk mengeluarkan F-35 dalam segala kemuliaan cacat mereka. Akibatnya sekitar 100 pesawat yang sudah diproduksi  harus di-retrofit perangkat lunak dan perangkat keras-nya.

Masalah Struktural

Temuan DOT & E dalam laporan pengujian dan pengembangan F-35 tahun 2012:

* Kerusakan pada stabilisator horizontal dan coating siluman saat  high-speed di penerbangan high altitude (halaman 30, 32, dan 33 laporan DOT & E)

* Sebuah sayap retak (36) menghentikan pengujian daya tahan selama lebih  satu tahun sampai bisa dianalisis dan diperbaiki;

* Kelemahan di pintu masuk udara tambahan pada versi F 35 veri B menyebabkan perlu disain dan pengujian ulang (32);

* Retak  ditemukan pada tulang F-35A  sayap kanan. Retak serupa dilaporkan di FY11 DOT & Laporan Tahunan E (36);

* Retak  F 35 A ditemukan pada mesin kanan(37);

* Beberapa retakan muncul di bagian bawah badan pesawat sekat flange (37), secara efektif menghentikan pengujian F-35 B;

* Retak sebelumnya ditemukan di dalam pesawat sisi kananF 35 -B serta di bawah sayap tempat mengikat tiang dan senjata (37) dan satu lagi dalam struktur  internal.

Konsekuensi

Semua itu memerlukan desain ulang untuk memperkuat bagian yang lemah, namun akan membuat penambahan massa komponen sebagai bagian dari desain ulang. Penambahan berat sebuah komponen meski hanya 1 persen akan memunculkan masalah baru dan terus menjadi tantangan yang signifikan.

Struktur pesawat juga masih bermasalah, seperti drive shaft untuk mengangkat fan (31)  yang kini menjalani desain ulang kedua, ditambah pintu rusak (31), dan lain lain. Dengan demikian pesawat yang telah diserahkan harus ditarik kembali untuk retrofit.

jsf-family-variants

Target dan Kemampuan F 35

Kemampuan yang dipatok Pentagon untuk F 35 adalah: sanggup terbang di ketinggian 50.000 kaki, Kecepatan 700 kts / 1,6 mach, Maximum G rating of 9.0 (Pesawat F 35-A), 7.0 (F 35-B), 7.5 (F 35-C) ;  Turn performance of 5.3 sustained g’s F 35 -A), 5.0 sustained g’s (F 35-B), and 5.1 sustained g’s (F 35-C); Akselerasi dari 0,8 ke 1.2  mach dalam 65 detik; sudut serang (AoA)  hingga 50 derajat.

Melihat kondisi F 35 saat ini, maka keinginan itu hanya angan-angan belaka. Uji laboratorium dan komputer ternyata memberi hasil yang mengecewakan dalam tes penerbangan dunia nyata.

Kondisi F 35 saat ini hanya mampu terbang hingga  ketinggian 39.000, sementara yang diharapkan 50.000 kaki. Angle of attack tidak lebih dari 18 derajat, sementara yang diminta 50 derajat. Penerbangan terbatas pada kecepatan tertinggi 550 tidak pada 700 kts. Maksimum G rating jauh dari harapan. Percepatan transonik dari 0,8 ke 1,2 mach cacat secara signifikan karena dibutuhkan 8 detik lebih lama dari yang dipatok.  16 detik lebih lama dengan F 35 versi B, dan 43 detik lebih lama dengan F 35 versi C.

Kemampuan akselerasi yang buruk ini akan sangat fatal dalam pertempuran.

Satu sayap kehilangan daya angkat lebih cepat dari yang lain ketika pesawat mencapai kecepatan suara akibat gelombang kejut di bagian atas sayap. Seluruh pesawat bergetar saat hendak dipacu di kecepatan maksimal 700 kts akibat bentuk  permukaan yang menimbulkan syok gelombang dan lapis aliran udara menjadi bergolak. Masalah ini muncul di semua versi pesawat.

Penurunan performa pesawat itu menyebabkan dalam operasi high altitude akan bermasalah dalam menghindari serangan SAM surface-to-air missile modern Rusia “double digit” seperti the Almaz-Antey S-300PMU2 atau SA-20 Gargoyle (NATO). Buruknya airframe pesawat juga membuat pilot susah menjalankan operasi di low altitude.

Banyak Pertanyaan

Banyak pengamat penerbangan bertanya-tanya, mengapa tes terowongan angin dan komputerasi permodelan fluida dinamis tidak memprediksi masalah itu dari awal, termasuk masalah tekanan grafitasinya ?. Mengapa akselerasi transonik  F 35 akibat gelombang kejut pesawat kecepatan supersonik tidak terprediksi sejak awal ?.

Banyak yang menduga menyebabnya adalah jumlah uji terbang pesawat sangat minim, tidak lebih dari satu jam per bulan, sementara keinginan dan tuntutan dari militer terus berubah-ubah. Lebih parah lagi, pesawat ini lebih banyak diuji di komputer daripada di dunia nyata.

f-35_armament

Senjata dan Bom Pintar

Sebagian besar senjata telah diujicoba kemampuan dan safe-release-nya. Sejauh ini bekerja dengan baik di level penerbangan normal. Yang dikhawatirkan adalah pesawat tidak stabil pasca melepaskan tembakan rudal saat terbang digrafitasi  tinggi atau saat melakukan manuver banking atau diving karena uji coba mode ini belum dilakukan.

Teknologi penghubung komputer helm pilot yang mengontrol senjata juga belum sempurna. Tampilan layar video helm pilot tertunda 0,15 detik dari fakta sesungguhnya. Dalam dogfights dengan kecepatan  lebih dari 1000 knot, keterlambatan kumulatif lebih dari seperempat detik dapat berpotensi fatal.

Ketajaman gambar di video helm pilot juga masih bermasalah sehingga rudal udara-ke-udara berteknologi tinggi serta bom pintar bisa tidak dapat diluncurkan.

Canon gatling  25 mm 4 barel hanya dipasang pada versi F 35 A. Pesawat F 35 versi C dan B tidak memiliki canon. Hal ini hanya mengulang kisah F-4 dalam Perang Vietnam yang tidak memiliki canon. Saat radar dan rudal Sparrow-nya tidak bekerja, F 4 hanya menjadi bulan bulanan Mig 17 dan 21. Pesawat F 4 E akhirnya didisain ulang dan membawa canon internal 20mm.

Mungkin pada awalnya pembuat pesawat berpikir pesawat ini 100 persen stealth sehingga tidak akan terjadi dog fight. Namun seiring kemajuan teknologi, Rusia telah menemukan teknologi penjejak pesawat stealth dengan cara mendeteksi emisi dari radar pesawat stealth tersebut.

Canon 25 mm 4 barel di di F 35 juga belum diujicoba menghadapi lapis baja. Sementara fakta menunjukkan canon GAU-8/A Avenger 7-barrel 30m milik A-10 Warthog yang mampu menghancurkan tank tank Saddam Husein dalam Perang Teluk.

Sungguh Ironi, Pesawat  All in One yang akan menggantikan sekaligus peran  F/A-18s  dan AV-8B Harrier II STOVL  Marinir untuk keperluan ground attack, justru menjadi sosok pesawat tempur yang tidak jelas.

Combat Survivability

Dalam uji tembak,  tak satu pun dari varian F-35 lolos dari  ancaman HEI  yang ditimbulkan dari  fragmen dan ledakan canon 30 mm. Mirage 2000, MiG-29, dan Su-27 dan turunannya, serta  T-50/PAK-FA  stealth semua membawa meriam 30mm dan bisa dianggap musuh potensial untuk F-35.

Bukan hanya canon  30mm yang menimbulkan ancaman: berbagai jenis senjata 20mm, 7.62mm, 5.56mm atau fragmen dari yang terkecil seperti  rudal panggul anti pesawat bisa menembus kulit F-35 dan memicu bencana hilangnya pesawat.  F 35 varian A dan C memiliki volume bahan bakar yang besar di sekitar inlet mesin, dan sistem listrik 270-volt menyediakan tenaga yang cukup untuk percikan fatal dalam campuran udara dan bahan bakar. Karena bahan bakar ini juga digunakan sebagai penyerap panas ke dingin untuk sistem avionik dan lainnya  yang memang  sudah bersuhu tinggi. Bahan bakar pre-heated dan volatile ini digunakan sebagai cairan yang beroperasi di “sistem fueldraulic” F 35-B yang memutar mesin sangat panas exhaust nozzle selama mode STOVL.

Apa yang terjadi ketika peluru senapan nyasar ke bagian  fueldraulic yang menyemprotkan bahan bakar pada tekanan 4000 psi ke dalam bay mesin di dekat nozzle knalpot bersuhu 1500-1700 derajat  fahrenheit ?

Semua F-35 model bergantung kepada fly-by-wire flight control system tingkat komputerasi tinggi,  dengan tempat avionik utama berada di bawah  pesawat,  sehingga rentan terhadap percikan api. Bahkan bila ada satu tembakan mengenai komputer kontrol penerbangan, pilot akan langsung kehilangan kendali.

Masalah lebih lanjut: Angkatan Udara menemukan sistem melarikan diri (ejected) yang memiliki  “risiko serius” karena “interaksi antara pilot, kursi ejeksi, dan kanopi selama urutan ejeksi tidak tersusun dengan baik” .

Jadi, jangan pernah masuk ke pertempuran udara dengan MiG-29s atau Mirage 2000-an atau Su-27s atau PAK-FA atau kendaraan tempur lain yang dipersenjatai meriam 30mm, karena F 35 tidak bisa bertahan terhadap tembakan meriam mereka.

F-35B_Joint_Strike_Fighter

F-35B: Misi STOVL Risiko Tinggi

Sistem Kipas F-35B  belum teruji melawan lidah api  saat operasi pendaratan dan benar-benar berbahaya bagi F-35 B. Kemampuan STOVL  F-35 B  bisa berakibat  kerusakan panas pada deck kapal dan permukaan lainnya. Laporan Angkatan Laut bulan Januari 2010 mempertanyakan bagaimana caranya untuk memastikan knalpot F-35 B tidak menyala dan menghasilkan bunga api saat mendarat.  Hal itu bukan sepele. Bantalan vertikal landing akan terkena 1.700 derajat  fahrenheit dan knalpot itu akan mencairkan aspal dan  merusak permukaan beton lapangan udara.  Dengan kondisi ini dibutuhkan konstruksi ulang pada lapangan pendaratan seperti: beton bertulang, pelapis khusus dan akan terus bertambah daftar perbelanjaan.

Dengan kondisi lapangan yang ada sekarang puing-puing akan terlempar dan tersedot ke dalam intake  F-35 B.  Tentu hal ini menjadi persoalan bagi Angkatan Laut, karena mereka telah membayangkan apa yang akan menjadi  pada efek jangka panjang dari deck operator. Fatalnya pembahasan masalah ini dan solusinya  tidak muncul dalam Laporan DOT & E  2012.

F-35 C: Kemampuan Carrier ?

F 35 C didisain agar bisa mendarat di kapal induk/ carrrier namun kemampuan operasinya masih cacat:

Kait alat penangkap kabel di dek kapal pengangkut tidak operasional  dan sepenuhnya harus  didesain ulang.  Disain dasarnya bermasalah karena jarak antara roda pendaratan utama F-35C dengan kait ekor terlalu pendek, sehingga tidak memberi waktu yang cukup  bagi kawat untuk tersangkut  kail . Hook baru sedang diuji untuk menangkap kabel  di landasan  dek kapal, namun tes ini kurang  berhasil. Keretakan diperkirakan akan terjadi di kerangka di tempat sistem hook melekat yang membutuhkan disain tambahan dari struktur tambahan dan  diperkirakan akan menambah bobot pesawat.

Landing approach pesawat bermasalah  dengan bukaan flap 30 derajat untuk mencapai kecepatan maksimum 145 knot agar handling menjadi baik. Ketika bukaan flap diubah menjadi 15 derajat, handling menjadi lebih baik namun meningkatkan kecepatan approach pesawat ke dek kapal rawan mendatangkan kecelakaan.

Kebutuhan 43 detik untuk tambahan akselerasi dari 0,8 ke  1,2  mach  bersama munculnya hentakan transonik  yang parah dan roll off  pada sayap,  menunjukkan F 35 -C hanya menjadi sebuah pesawat  subsonik (kecepatan rendah) untuk operasi intercept udara dan serangan darat.

Transfer data taktis tidak bekerja. Pilot tidak dapat mentransfer data video atau data misi penting yang berhasil direkam ke sistem intelijen kapal induk . Kapal induk juga tidak bisa menerima transmisi 16 datalink imagery.

Pemeliharaan dan perbaikan datalink tidak lengkap, padahal datalink ini menjadi tempat  dari banyak perangkat untuk terkoneksi. Pertanyaannya, bagaimana Lockheed Martin  memberikan lebih dari 65 pesawat ketika bagian dasar atau sistem pesawat belum dirancang sempurna ?. Kejadian ini membuat banyak waktu terbuang karena harus mendisain ulang  serta merevisi sitem untuk semua versi pesawat.

Dengan demikian dapat dikatakan F 35 mengalami kegagalan kritis secara struktur dan perangkat lunak. Masalah pertahanan diri dalam operasi tempur juga menjadi persoalan besar karena sistem secara keseluruhan masih dalam pengembangan. Selain itu pemeliharaan F 35 mmbutuhkan 44-50 orang/ jam, dua kali lipat dari jumlah orang yang melakukan pemeliharaan F 16.

Meskipun waktu persiapan pra-penerbangan diperpanjang,  namun penerbangan F 35  varian A dan B rata-rata sekitar lima kali dibatalkan per 100 jam penerbangan,  sebagai ambang batas memulai evaluasi kesiapan sistem untuk pelatihan. Lalu bagaimana kesiapan untuk pertempuran?

marines_scuttlebutt_F35HMDS

Software  Mencekik F-35

F-35 didisain untuk menjadi pesawat tempur serba otomatis,  seperti helm pilot yang bisa memetakan medan pertempuran dan memilih senjata untuk dikirim ke datalink  sebagai transmisi sensor pesawat lainnya. Jika F 22 Raptor, saudara tua F 35 memiliki  2,2 juta baris  kode komputer, maka komputer F 35 akan berlabuh 8,6 juta baris  kode komputer. Dikhawatirkan banyaknya data yang harus diinstal dan diintegrasi, penyelesaian software pesawat akan terus tertunda  dan sebagian modulnya tidak bisa diterapkan lagi. Kasus yang muncul antara lain software Blok 3i,  yang bertugas sebagai pengiriman Lot  6 data pesawat dan host pada prosesor upgrade, telah tertinggal dalam integrasi dan pengujian laboratorium.

Software Blok 2B  yang diperlukan untuk  kemampuan tempur senjata internal yang dipilih (AIM-120C, GBU-32/31, dan GBU-12) juga masih terkendala dalam hal integrasi saat dilakukan pengujian laboratorium perangkat lunak. Tidak ada kemajuan nyata menuju apa pun yang menyerupai kemampuan tempur yang nyata. Bisa jadi semua ini belum tentu selesai pada tahun 2017 nanti. Apakah Turki mau menunggu lebih lama ?. Atau jangan-jangan negara lain ikut mundur teratur dari proyek F 35. (JKGR).

  20 Responses to “F 35 : What Money Can Buy ?”

  1.  

    kata siapa F-35 ngak hebat ? tapi hanya untuk di film aja…khan
    bukan tanpa alasan Rusia tidak tertarik dengan STOVL, karena mereka udah mencobanya tahun 60-an
    bukan tanpa alasan Inggris memensiunkan dini Harrier-nya.
    kelemahan pokok dari F-35 adalah semua teknologi canggih itu terlalu dipaksakan kedalam pesawat yang mungil itu, kecuali F-35 diperbesar sebesar B1 atau B2 itu lain lagi ceritanya, mungkin tambah lucu.
    mungkin tambah lucu lagi mendengar biaya maintenance F-35 per tahunnya berapa ?

    •  

      Ane malah kepikiran KFX bang.. Lha ini yg udah pengalaman panjang bikin pesawat aja ampun2an bikin Gen-5 (padahal nyata2 udah bisa bikin F-22), apalagi korea ama kita yak. Apa nggak senasib sepenanggungan ama yg bikin F-35 ini.. ( Ane malah berharap proyek batal trus duitnya buat lisensi FA-50 buat belajar ngerakit pespur )

      •  

        Sebetulnya KFX ga sesusah F-35, disini F-35 jadi susah sah sah karena harus mengakomodir keinginan semua angkatan Ameriki, dari USAF, Navy sampe USMC.
        Dengan target commonality, tapi karena banyak pinginnya ya jadinya begitu… malah bingung gimana ngejadiin 1nya.
        Coba kalau bikinnya cuma untuk kepentingan USAF mungkin udah mass production skr ini.

    •  

      ngak papa, belajar KFX itu saya anggap sangat-ngat murah, mumpung ada yang nalangi (Korea 80% ya ?), apalagi kita udah dapat modelnya dll, kalau batal kita bisa meneruskan sendiri.

      kita boleh menyerah, kalau dunia udah kiamat…

      buat apa FA-50, nanggung bang…

      sama dengan pak Habibi dulu yang langsung lompat galah dengan bikin pesawat daripada bikin mobil..khan ?

    •  

      Betul jalani saja terus KFX … Persoalan terbesar kalau Indonesia jalan sendiri adalah sulitnya mendapatkan komponen-komponen yang memadai dalam pesawat stealth: avionic, radar, mesin, dst … . Kalau hanya membuat pesawat yang bisa menembus kecepatan suara dan jungkir balik macam FA-50, PT DI bisa jalan sendiri asal pemerintah (& DPR) serius kasih modal & waktu (max 10tahun) krn perlu riset & develop dari awal.
      Seandainya Korea membeli F-35, diharapkan ada komponen2 canggih yang bisa dibeli juga untuk KFX. Salah satu kualifikasi yg diperlukan dalam pesawat stealth, selain bentuk dll, adalah mesin nya yang bisa supercruise… .

    •  

      IMHO, menurut ane kita belum ada pengalaman bikin pesawat tempur meski cuman kelas latih dengan speed mach 1. Kita cuman pengalaman di pesawat angkut dengan mesin prop bukan jet (bang WH lebih tau) dengan kecepatan rendah. FA-50 menurut ane lumayan loh (mau bilang lisensi Rafale koq ya ane merasa ketinggian, dari pada Gripen yg 11-12 sama FA-50 kita kan punya sejarah manis TOT LPD dari korea), kelas light multi mision bisa gantiin armada hawk dan calon pencetak pilot2 pespur di masa depan. Belum pernah bikin pespur kok lompat jauh bikin pespur Gen 4.5/5 even korea ane nggak yakin bang (lha bilangnya baru nguasai 60% teknologinya je). Takutnya ane nih proyek bakalan ribet kaya F-35, banyak problem, biaya mbengkak karena waktu molor dan berakibat nilai akuisisi bengkaknya berkali2 lipat dengan hasil akhir yg belum tentu memuaskan. Ane pikir belajarlah dari yg kecil2 dulu baru meningkat ke yg medium apa heavy sekalian. Lagian FA-50 bukan pesawat jelek, haqul yakin kedepan bakal laris manis dibeli negara budget rendah yg pingin pespur yg cukup bisa diandalkan. Daripada nunggu korea ngelanjutin proyek yg setengah hati akan diteruskan, mending bikin line produksi baru di PT.DI buat bikin nih barang, buat pemanasan bikin yg lebih superior di masa depan. Gimana bang..

  2.  

    Apes bener nih pesawat.. Digadang-gadang sebagai pesawat multirole tercanggih malah kenyataannya jadi pesawat paling bermasalah. Kira2 siapa lagi calon pembeli yg bakalan mundur yak.. Muke gile ongkos akuisisi sama maintenis-nya, bisa bangkrut ngurusin pesawat nganggur yg sakit-sakitan kek gini.. Habis ini ane jamin Rafale sama SU-35 bakalan laris manis diborong ama pemesan yg pindah langganan..

  3.  

    Harga su-35 berapa ya komplet??? Diluar persenjataan kyk rudal.
    Klo murah bungkus 1 skawdron

    •  

      Katanya sih sekitar $ 65 juta-an, nggak tau sekarang gan dibanding F-35 sekitar $ 160 juta-an. Umur frame berkisar 6000-an jam dan umur mesin sekitar 300-an (ada yg bilang 500) jam. Harga mesin sekitar $ 6 juta-an per biji kali 2, klo komponen lain ane kurang tau gan. CMIIW..

  4.  

    Sayapnya engga dirakit di IPTN khan.???

  5.  

    Yang menarik adalah dengan kesediaan US Navy tidak menggunakan standard bakunya. Pesawat F-35 yang akan dioperasikan di kapal induk (versi C) ternyata masih tetap pakai 1 engine. Padahal pesawat2 sebelumnya yang dioperasikan di kapal induk harus pakai 2 engine. Tujuannya agar kalau 1 engine mati masih bisa kembali ke kapal induk.

    Dulu US Navy menolak untuk pakai F-16 di kapal induk karena hanya 1 engine, padahal waktu itu F-16 sudah sangat canggih di kelasnya (light fighter). Alih-alih memodifikasi sedikit untuk versi aircraft carrier, US Navy lebih memilih keluarkan dana lebih besar untuk mendevelop light fighter, yang penting pakai 2 engine. Waktu itu ada teori, pesawat yang makin ringan akan semakin lincah dalam manuver. Meskipun sudah ada F-14 Tomcat dan F-4 Phantom (berat 35 ton), tapi dirasa masih kurang lincah dalam manuver. US Navy meminta Northrop mengembangkan light fighter berdasarkan model F-5 Tiger (2 engine) yang sudah terkenal. Model sudah jadi dan memuaskan, namun Norhtrop kurang pengalaman membuat fighter untuk kapal induk. Akhirnya prototip ini diteruskan MacDonell Douglas, yang sudah pengalaman di kapal induk dengan F-4 Phantom, dan jadilah F-18 Hornet, Super Hornet dan kemudian F-18 Growler hingga sekarang.

    So, bisa jadi satu-satunya engine di F-35C akan sama atau lebih handal dibanding 2 engine di semua jenis pesawat berbasis kapal induk?

    •  

      Nasib Northrop YF-17 (nicknamed Cobra) memang istimewa, dikalahkan dalam kompetisi Lightweight Fighter (LWF) USAF oleh YF-16 General Dynamics, langsung diadopsi oleh program Naval Fighter Attack Experimental (VFAX)-nya US Navy dan akhirnya bermetamorfosa menjadi F/A-18.
      Normalnya ‘bayi’ yang tersisih dalam kompetisi tipe/kelas pesawat tempur baru langsung dikubur, seperti YF-23 Northrop kalah dari (Y)F-22 Lockheed dalam kompetisi Advanced Tactical Fighter (ATF) USAF dan X-32 Boeing yang kalah dari (X)/F-35 Lockheed Martin dalam kompetisi JSF 3 angkatan.

      http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/1a/YF-16_and_YF-17_in_flight.jpg

  6.  

    klo gitu China ambil langkah strategis dg memborong lusinan Sukhoi SU35S super flanker.. meski belum trmasuk generasi 5, 35S bs menjadi penyeimbang bagi gen 5 AS dan sekutunya.

    nsb baik lg beralih k Rusia, penyakit F22 dan F35 jd bhn referensi jg buat PAKFA, jd pas brojol ntar bener2 udah bebas dr borok.

  7.  

    Semoga saja tidak terjadi pada projek KIF/IFX…

  8.  

    Sebelumnya, pada Selasa lalu, Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen telah menyatakan bahwa Angkatan Udara Singapura telah mengidentifikasi F-35 sebagai pesawat yang cocok untuk memodernisasi kekuatan udara negara kota itu di masa depan.

  9.  

    Kami percaya sama Bp Pres pasti akan membeli 1skaderon Su-35, setelah beliau telah menyelesaikan jabatannya sbg Pres dan beban politik sdh tdk ada lagi bagi beliau serta beliau memberikan jaminan TNI AU sampai tahun 2020 tdk akan ketinggalan dg luar. AS akan gigit jari he………..he………..

  10.  

    ayo maju terus

  11.  

    bungkus su35BM 2 skuadron maju terusssssssssss

  12.  

    udah beli ajaaaaa, biar banyak pesawat tempur kita, kan seru juga tuh

  13.  

    Ayoo dah indo bungkus su-35 2 skuadron buat gantiin f-5 yg ud ageing…and 2 skuadron gripen ng…buat gantiin hawk punya british yg jg ud mau habis waktuny…biar indonesia bnyak pespur…buat jaga nkri