Aug 152018
 

Rumah EOTS pada F-35 menawarkan bidang pandang yang jauh lebih luas daripada J-20 © USAF via The Drive

JakartaGreater.com – Dalam mengambil langkah ini, Presiden Donald Trump serta Kongres AS bisa mengoreksi untuk mengabaikan keputusan pemerintah sebelumnya terhadap elemen vital dalam pertahanan Taiwan dan mengembalikan Selat Taiwan ke pijakan yang lebih stabil, seperti dilansir dari laman National Interest.

Jika NSS dan NDAA tidak hanya dilihat sebagai secarik kertas, maka kata-kata harus didukung dengan langkah-langkah konkrit dan efektif. Menjadikan F-35 dan F-16V baru sebagai bagian integral dari pertahanan Taiwan adalah tempat yang baik untuk memulai.

Untuk pertama kalinya, Strategi Keamanan Nasional Amerika atau NSS telah secara eksplisit menyebutkan Taiwan. NSS ini termasuk komitmen untuk “mempertahankan hubungan yang kuat antara Amerika Serikat dengan Taiwan sesuai dengan kebijakan “Satu China”, termasuk komitmen dibawah Undang-Undang Hubungan Taiwan demi menyediakan kebutuhan pertahanan Taiwan yang sah dan mencegah pemaksaan.

Menurut bahasa NSS mengenai Taiwan sejajar dengan meningkatnya minat Kongres dalam memperkuat hubungan dengan Taipei. Musim panas lalu, Senator Tom Cotton dan Corey Gardner memperkenalkan Rancangan Undang-Undang Keamanan Taiwan.

Meskipun RUU itu tidak menjadi undang-undang, idenya tentang pertukaran bilateral, pelatihan dan kunjungan pelabuhan akhirnya dimasukkan ke dalam Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA), yang ditandatangani oleh Presiden Trump pada akhir tahun 2017.

Perkembangan ini berasal dari apresiasi bahwa kemerdekaan de facto terhadap pulau itu adalah elemen kunci dalam keamanan Amerika dan sekutu di Asia Timur. Lokasi Taiwan membuatnya menjadi penghalang jalan atau jalur potensial China ke Pasifik yang lebih luas dan merupakan relevansi utama bagi pertahanan Jepang dan Filipina, sekutu dekat Amerika yang terletak tepat disebelah utara dan selatan pulau Taiwan.

Selain itu, Taiwan memainkan peranan yang kurang dimanfaatkan dalam persaingan ideasional antara Amerika Serikat dan China. Taiwan adalah sebagai pengingat bahwa populasi etnis China dapat menjadi liberal, demokratis dan sukses.

Pulau ini telah menjadi lebih menjengkelkan bagi Beijing sejak Tsai Ing-wen terpilih sebagai presiden Taiwan pada tahun 2016 dan telah menolak untuk mengakui bahwa Taiwan adalah bagian dari “Satu China”. Sejak itu, China telah meningkatkan tekanan terhadap pulau itu, mengadopsi kebijakan yang dirancang untuk membebani ekonomi Taiwan, bahkan mengisolasi secara internasional dan mengganggu keamanannya.

Awal bulan ini, China secara sepihak meluncurkan empat rute udara komersial baru di atas Selat Taiwan, yang oleh dikhawatirkan oleh perencana keamanan Taiwan bahwa militer China mungkin akan menggunakannya untuk tujuan non-komersial.

Dalam beberapa minggu sejak itu, kapal induk tunggal China telah dua kali berlayar melalui Selat Taiwan, melewati garis tengah saat melakukannya. Perkembangan ini diikuti oleh laporan dari Kementerian Pertahanan Taiwan di bulan Desember bahwa pesawat militer China telah mengelilingi pulau itu lima belas kali lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Angkatan Bersenjata Taiwan tentu saja melacak semua kegiatan China tersebut dan pesawat tempurnya mencegat rekan daratan mereka di udara. Kecepatan kegiatan PLA semakin meningkatkan tekanan pada Angkatan Udara Taiwan yang saat ini banyak pesawatnya terlalu tua untuk terbang dengan layak.

Mengingat pentingnya Taiwan sebagai pertahanan Amerika Serikat di Asia Timur, maka masalah Taiwan adalah masalah Amerika. Dan tidak ada masalah yang lebih besar dari peningkatan kenggulan China dalam domain udara yang sangat penting. Lantas, apa yang harus dilakukan?

Pemerintahan Trump harus membatalkan keputusan tim Obama untuk tidak menjual jet tempur F-16C/D baru kepada Taiwan sebagai ganti armada F-16A/B Taiwan. Dan upgrade akan sangan berguna dan perlu untuk menyediakan F-16C/D baru. Taiwan tidak hanya membutuhkan jet canggih tetapi juga peningkatan jumlah.

Tetapi untuk benar-benar bisa mengatasi ketimpangan di udara saat ini, maka semua membutuhkan lompatan kuantum dalam pemikiran Washington mengenai apa yang harus tersedia bagi Taiwan.

Dan tentunya tidak ada aset lain yang lebih berpotensi menguntungkan seperti F-35B. Kemampuan siluman membuatnya jauh lebih mudah bertahan ketika menghadapi sejumlah besar pesawat tempur musuh dan pertahanan udara modern. Sementara itu sistem peperangan elektroniknya yang canggih memiliki kapasitas untuk menemukan dan meretas radar serta sistem sensor musuh.

Sedangkan memberikan pesawat lain, seperti F-16V Taiwan, kesempatan yang lebih baik untuk bertarung dan bertahan hidup. Selain itu, F-35B dengan kemampuan lepas landas yang pendek dan pendaratan vertikal mengurangi kebutuhan akan landasan yang besar dan merupakan ??kemampuan yang penting saat menghadapi musuh dengan persenjataan rudal jelajah dan rudal balistik yang akurat.

Butuh beberapa waktu bagi Taiwan untuk bisa mengakuisisi F-35B bahkan jika mereka dimasukkan dalam daftar akuisisi besok. Sementara itu, Korps Marinir AS harus mulai melakukan latihan udara di sekitar Taiwan dengan F-35B untuk terbang dan mendarat di pulau tersebut.

Walaupun tidak hanya latihan seperti itu yang diperlukan untuk memvalidasi utilitas pesawat di pertahanan Taiwan, tetapi mereka akan mengirim sinyal yang diperlukan ke Beijing. Lebih konkrit lagi, mengirim jet tempur F-35 untuk Taiwan akan membuat rusak kepercayaan Angkatan Udara China bahwa mereka dapat mendominasi ruang udara di Selat Taiwan dan di atas pulau itu sendiri.

Berbagi

  5 Responses to “F-35B dan F-16V Akan Pastikan Taiwan Aman dari China”

  1.  

    Indonesia Darurat Skuadron Stealth F-35

  2.  

    Kwokwokwok … Judulnya itu tuh

    😎

  3.  

    aneh dgn negara yg satu ini.tiap hari bikin undang undang.
    tiap liat celah selalu bikin undang2 .

  4.  

    Main kucing-kucingan nihhh….tapi kalau sudah ketemu, masing2 balik kanan wkwkwkwkwk

 Leave a Reply