Apr 142018
 

Rudal anti kapal jarak jauh LRASM terpasang dibawah sayap F/A-18 Super Hornet © US Navy via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – F/A-18 Super Hornet sedang dipersiapkan untuk menguji coba Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) buatan Lockheed Martin Corp., untuk menguji jangkauan yang diharapkan dilaksanakan tahun ini, seperti dilansir dari Military.com pada hari Selasa.

“Saat ini, kami sedang melakukan pengujian captive-carry, dan kami akan melaksanakan live shot pertama dari jettempur F-18 akhir tahun ini,” kata Alan Jackson, wakil presiden sistem serangan Lockheed Martin.

Ia pun menambahkan bahwa rudal AGM-158C LRASM tersebut akan beroperasi pada bulan September 2019.

F/A-18E/F Super Hornet telah berhasil melakukan tes “pelepasan jettison” di Naval Air Station Patuxent River, Maryland, tahun lalu. Langkah tersebut membuka jalan bagi uji captive-carry yang sedang berlangsung di Navy Air Weapons Station di China Lake, California.

Rudal anti kapal berpemandu presisi LRASM diharapkan akan diturunkan pertama kali pada pembom B-1B Lancer. Pada bulan Desember, kru B-1 meluncurkan LRASM itu di Point Mugu Sea Range, California. Ini pertama kalinya diuji pada pesawat pembom B-1B pada bulan Agustus.

“Ini adalah rudal anti-permukaan yang dicari oleh Angkatan Laut AS. Uji coba penerbangan berjalan dengan baik. Kami menguji enam dan berhasil enam pada program B-1”, menurut Jackson.

Dua uji penerbangan lagi diharapkan musim panas ini sebelum rudal secara operasional melengkapi pesawat pembom non-nuklir pada bulan September. Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS bekerja sama untuk merampingkan proses pengujian yang berlaku untuk masing-masing pesawat mereka, kata Jackson.

“Kita memiliki lebih rudal dengan jangkauan lebih dari 200 mil. Sehingga salah satu dari platform pesawat tempur itu tidak dalam bahawa jika melepaskan senjatanya”, kata Jackson.

LRASM juga bisa diluncurkan dari dek dari sistem peluncuran vertikal pada perusak Angkatan Laut, katanya.

Dibandingkan dengan rudal jelajah Tomahawk, LRASM memiliki tingkat survivabilitas yang lebih baik karena memiliki teknologi yang dapat diamati rendah sehingga sulit dideteksi. “Tomahawk adalah senjata yang bagus, tapi itu desain yang lebih tua,” kata Jackson.

“Kami berada pada produksi LRASM Blok 1”, tambah Jackson.

Jakson menambahkan ada persyaratan kontrak untuk menyediakan 23 rudal tersebut untuk Angkatan Udara AS sejauh ini. LRASM sangat cocok untuk B-1 karena LRASM pun sudah dapat meluncurkan Joint-to-Surface Standoff Missile-Extended Range, yang dikenal sebagai JASSM-ER.

Rudal ini memiliki semua kemampuan yang dimiliki JASSM-ER, seperti hulu ledak 1.000 pon yang mematikan, akurasi yang tepat dengan sensor infra merah, dan navigasi GPS dan anti-jamming. Tetapi LRASM dapat mendeteksi, mengidentifikasi dan menyerang target maritim yang bergerak.

Bagikan Artikel :

  14 Responses to “F/A-18 Super Hornet Akan Uji Tembak LRASM Tahun Ini”

  1.  

    kok sepi, males sama ameriki ye?

  2.  

    Good Job. Tinggal dipasang pada F-35. Dengan desain Siluman, akan membuat F-35 yg membawa LRSAM tetap akan sulit dideteksi. Membawa 450 kg warhead dan jangkauan hingga 480 km seharusnya bisa diekspor pada Sekutu tanpa menabrak MTCR. LRSAM juga bisa ditingkatkan jangkauannya hingga 1600 km dg mengurangi hulu ledaknya.

    Yang menarik dari LRASM adalah sensor IR, dan datalink multi jaringan yg memungkinkan untuk melawan semua jamming yg ada. Sangat cocok untuk membungkam armada perang Rusia yg dijaga S-500 versi maritim sekalipun. Hhhhhhhhhh

  3.  

    Manuver F/A 18 lumayan keren jg nih…

    https://youtu.be/PMAHCeYFA6Y

  4.  

    Psu suriah keren bisa tembak jatuh 13 tomahawk usa ,cepet dah tni beli s400 keren habis

  5.  

    Militer as sdh serang suriah,,.perang dingin sdh dimulai,,,

  6.  

    Sangat mengawatirkan apabila uji coba ini berhasil, maka akan jadi momok buat kapal perang, karena hornet ini hanya di miliki US Navy, bisa jadi ini menjadi ancaman apabila beroperasi di pasifik nanti. KCR dan KRI lain bisa kemungkinan menjadi sasaran empuk apabila terjadi perang di laut, resiko ini perlu di cermati.

 Leave a Reply