Nov 072014
 
Gripen NG

Gripen NG

Ada keterangan menarik dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko, saat ditanya wartawan tentang pengganti F-5 Tiger. Coba, mari kita dengarkan pernyataannya seperti yang dikutip Antara 6/11/2024:


Jakarta (ANTARA News) – Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko, mengungkap lagi tiga besar calon pesawat tempur TNI AU yang diproyeksikan menggantikan jajaran Northrop F-5E/F Tiger II, yakni Sukhoi Su-35 Flanker, JAS-39 Gripen, dan F-16 Block 52+ Fighting Falcon.

“Belum diputuskan… Gripen memang juga kami pertimbangkan selain Su-35 dan F-16 itu. Faktor politik juga jadi pertimbangan,” katanya di sela kehadirannya di gerai besar perusahaan pertahanan Amerika Serikat, di Indo Defence 2014, Jakarta, Kamis siang.


Pada keterangan di atas, Panglima mengatakan,  Gripen juga menjadi pertimbangan, selain SU 35 dan F-16  Block 52.

Yang manakah yang dipilih?.

Dalam sebuah wawancara di TV ONE, jelang HUT  TNI ke 69, Panglima TNI mengatakan, ingin mendatangkan SU 35, karena dinilai sebagai pesawat handal. Dalam info grafik TNI di Kompas, jelang HUT TNI ke 69, juga dimasukkan rencana pengadaan SU-35.

Namun yang menarik, yang saya tangkap setidaknya  Panglima sudah dua kali menyatakan “faktor politik juga akan menjadi pertimbangan” dalam pengadaan pengganti pesawat F-35.

Apa yang dimaksud dengan faktor politik itu ?.

Ini kata kunci yang harus dipecahkan. Alternatifnya adalah:

1).  Indonesia sudah membeli 16 pesawat tempur SU-27/30, sehingga akan mengambil pesawat tempur dari  block lain. Dengan asumsi ini, pilihannya bisa jadi F-16 Block 52.

2). Selain sudah membeli SU 27/30, Indonesia juga sudah membeli 24 F-16  block 25 (refurbished), dari AS, sehingga akan membeli dari blok lain non Rusia dan AS, yakni Eropa. Ini berarti alternatifnya: Gripen atau Eurofighter.

Kalau kata-kata “faktor politis” dimasukkan ke dalam pembelian pengganti F-5 Tiger, berarti kecil kemungkinan mengambil SU-35, karena Indonesia sudah membeli satu skadron SU 27/30.

Kalau berbicara “faktor politis”, bisa kita kaji, siapa negara yang memiliki faktor politis yang kuat, tidak lain adalah AS, jika faktor politis itu diartikan “tekanan”. Berarti pilihannya adalah F-16 Block 52.

Bila, faktor politis itu diartikan,mkeseimbangan dan 24  F-16 block 25, dimasukkan ke dalam daftar, maka pilihannya adalah pesawat dari Eropa. Jika mengacu ke tiga pesawat yang disebut Jenderal Moeldoko, maka jatuhnya ke pesawat tempur Gripen.

Tentu ini, hanya sebuah analisa dangkal yang berbasiskan sedikit data dan informasi. Bagaimana tanggapan  Anda ?

  175 Responses to “Faktor Politis Pengganti F-5 Tiger”

  1.  

    ya semoga aj.kl udh dpt pengganti f5 apapun gt..ga ada lg ulasan ktika pespur kita intercept psawat lain tp dknai denda g sbanding dg biaya oprasionalnya..entah bner ato kaga..tp ttp aj bkn ganjel ati…

  2.  

    cuma bisa bilang Welcome JAS 39 gripen buat proyeksi kepentingan yg lebih besar

  3.  

    betul bung .. faktor politik sebagai negara yg pernah di embargo habis habisan oleh usa dan sekutu mulai f16 , HERCULES dan hawk 100/200 ( bahkan pernah pesawat hawk ditahan di eropa karena embargo ) membuat pemerintah kita mikir secara politis untuk pengadaan pesawat utama …. pesawat lapis ke 2 bisa saja f`16 hibah , gripen atau rafale atau typhon
    tidak ada pesawat yg jelek semua mempunyai kelebihan n kekurangan masing2 .. tq

  4.  

    Realisasi program alutsista primer AU 2014-2017

    1. Pespur: Su-34 (36), Su-35 (72), Rafale (54), EF Typhoon (48), F-16C Block 52 (40)
    2. Pesawat latih tempur: Yak-130 (24)
    3. Pesawat tanker: A330 MRTT (12)
    4. Pesawat AEW&C: C-295 + EMB-145 (8+8)
    5. Pesawat angkut berat: C-17 Globemaster III (5)
    6. Pesawat angkut sedang: A400M + C-130J Super Hercules (16 + 16)
    7. Radar taktis Nebo SVU (provisi 12 situs)
    8. Sistem hanud berbasis darat S-400 (14 baterai)
    9. Sistem hanud berbasis darat HQ-16 (22 baterai)

    – Realisasi program alutsista primer AL 2014-2017

    1. Kapal Perusak Kawal Rudal: CGN Petr Veliky (provisi 2017), CG Slava (2), DDG Sovremenny (2), DDG Udaloy (2), DDG De Zeven Provincien (6), FFG Talwar (4), FFG Krivak II (5), FFG Sigma II (4),
    2. Kapal selam: SSGN Akula (2), SSB Typhoon re-powered (1), SSG Amur 950 (3), SSG Kilo 636 (2), SSG Changbogo (2), U214+ (3), U212 (2)
    3. Sistem pertahanan pantai Klub K

    – Realisasi program alutsista primer AD 2014-2017

    1. Tank Tempur Utama: Leopard 2A4 + RI + Pz87 (120+180+64)
    2. Sistem artileri medan gerak sendiri berbasis meriam: Caesar (206)
    3. Sistem artileri medan berbasis roket multilaras: Astross II (110)
    4. Sistem artileri medan berbasis meriam 155 mm: Kh-79 (430)
    5. Sistem artileri pertahanan udara ringan Pantsyr S1 (120)
    6. Helikopter serang: AH-64D/E Apache Longbow/Guardian (14/36)
    7. Helikopter angkut/serbu: UH-60/MH-60 Blackhawk (60)
    8. Helikopter angkut berat: CH-47 Chinook (24)

  5.  

    pak komandan baru telpon katanya mau ambil gripen…biar sekalian bisa bikinya pas dengan program pemerintah menuju kemandirian alutsista joss..

  6.  

    “Kalau pembelian jet kita hanya menitik beratkan pada pada pengganti F5 semata,sudah pasti kita kan smakin tertinggal di pertahanan udara,menurut saya TNi sudah harus jg merealisasikan armada tempur udara di kawasan timur,nggak harus setiap pangkaan mengkonsentrasikan pada satu jenis saja,tapi dalam skuadron minimal ada 4 jenis yg memiiki kemampuan berbeda dari kelas jet super ringan(t50,yak141,skyhawk ),jet ringan(f16),jet menengah(gripen) dan jet berat(su ,rafale,typhn) + pembom(bisa di isi su 30 yg memiliki kesamaan fungsi dgn su 34)
    TNI memiliki jet figter berat sejati seperti su 27 yg tentunya harus di tambah dgn su 35 yg memiliki keefektifitas tinggi dalam menghadang dan menghancurkan sasaran lebih baik dari su 27 sendiri di generasi 4,5 nyaris 5.kalaupun TNI ingin memiliki gripen utk di kelas jangkauan 2000km knapa tidak di beli sekalian,sehingga TNI melakukan 3 jenis jet pengadaan yg berbeda,F16 52 IDN,gripen dan su 35 yg masing bisa di bagi rata di setiap skuadron yg sudah ada dan yg harus di buat seperti di nusa tenggara dan irian.kalau belum memadai beli saja su 35 2 skuaron penuh,gripen 2 skuadron penuh mk kedepan TNI hanya berfikir tentang 50 jet IFX/F33 hasil kerjasama dgn korsel yg tentu harus lebih di kebut melihat persaingan militer dan perdagangan di kawasan asia pasifik yg semakin memanas menyusul konflik ukraina.semoga TNI segera ambil keputusan yg tepat berdasar fungsi dan ngiritnya dari setiap peran tugas yg ada.tanpa harus mengesampingkan pembuatan cadangan BBM guna persediaan pertahanan perang dan utk cadangan lebaran tentunya(satu proyek dua fungsi).”

 Leave a Reply