Filipina Borong Senjata Buatan China Dan Rusia, Bukan AS

Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Kiri), Presiden China Xi Jinping (Tengah) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (Kanan). © ABS-CBN News

MANILA – Filipina dipaksa untuk beralih ke China dan Rusia untuk pasokan senjata karena kondisi yang dipaksakan oleh sekutu lamanya dan juga mantan penguasa kolonial Amerika Serikat, kata Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana pada hari Senin, seperti dilansir dari Reuters.

Amerika Serikat berjanji kepada sekutu pertahanannya untuk menjual sebagian perangkat keras utamanya, seperti kapal perang, jet tempur, helikopter dan senjata ringan, namun kini Filipina malah mencari ke China dan Rusia untuk pesawat terbang, drone, kapal cepat serta senapan untuk melawan pemberontak yang dipimpin oleh Maoist.

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana. © Reuters

Lorenzana mengatakan, bahwa akuisisi senjata dan peralatan militer dari AS jadi sulit karena prosesnya yang lamban dan ada persyaratan tertentu terkait dengan penjualan tersebut. Itu sebabnya Filipina tidak “sreg” untuk memperolehnya persenjataan dari AS.

“Kami butuh pesawat tempur, kami butuh pesawat tak berawak, kami butuh kapal cepat. Kami membutuhkan mereka segera untuk digunakan di selatan supaya bisa mencegah penculikan dan mewujudkan pembangunan Filipina”, ujar Lorenzana.

Upaya akuisisi senjata juga bisa dipersulit oleh usaha bipartisan oleh beberapa anggota DPR AS yang melarang pengiriman senjata ke Filipina yang dapat digunakan dalam peperangan melawan narkoba yang telah membunuh ribuan warga Filipina, dan itu semua telah dikutuk oleh pemerintah Barat.

Di sela-sela pertemuan puncak OBOR di Beijing, Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada hari Minggu bertemu dengan sejumlah perusahaan pertahanan pelat merah asal China, termasuk kontraktor pertahanan yang masuk daftar hitam Pentagon, karena telah menjual sejumlah barang kepada Iran yang telah dilarang berdasarkan “undang-undang” AS.

Duterte, sedang bekerja keras untuk memperkuat hubungan dengan China, telah mengakui bahwa dia memiliki dendam terhadap Amerika Serikat dan mengeluhkan atas apa yang dia katakan sebagai barang dagangan dari AS yang tidak berguna – boleh dibeli namun tidak bisa digunakan karena ada beberapa persyaratan.

China sebelumnya dikabarkan telah menawarkan untuk menyumbang sejumlah perangkat keras militer senilai US $ 14 juta kepada Filipina. Ditambahkan pula bahwa China bersedia memberi pinjaman lunak sebesar US $ 500 juta untuk membeli persenjataan buatan China.

Delfin Lorenzana mengatakan bahwa Filipina hanya akan berencana menggunakan bantuan uang dari China apabila anggaran pertahanan selama 5 tahun sebesar US $ 2 miliar (sekitar 100 miliar Peso) bagi militernya untuk modernisasi tidak mencukupi.

Dia akan menandatangani sebuah perjanjian pertahanan dengan mitranya dari Rusia minggu depan untuk pembelian persenjataan dan pesawat tak berawak. Filipina juga berencana akan mengakuisisi pesawat tak berawak dari Israel.

Tinggalkan komentar