Jun 082018
 

Jet tempur multiperan FA-50PH Angkatan Udara Filipina © Gazette of Philippines via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Sumber militer mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) sedang berusaha untuk mendapatkan dua skuadron pejuang multirole (MRF) dan sebuah fregat sebagai bagian dari revisi Horizon Kedua, program modernisasi Angkatan Bersenjat Filipina, seperti dilansir dari laman Manilla Buletin.

Rencana pengadaan itu terungkap setelah Presiden Rodrigo Duterte menyetujui Program Modernisasi “Horizon 2” AFP bulan lalu. Total anggaran untuk Horizon 2 adalah sekitar $ 5,46 miliar.

Horizon 2 adalah transisi menuju pertahanan eksternal dari operasi keamanan internal.

Menurut sumber militer, mereka ingin mengakusisi setidaknya 12 unit jet tempur multi peran untuk meningkatkan aset udara Angkatan Udara Filipina.

Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana seperti dikutip mengatakan bahwa Presiden Filipina Rodrigo Duterte secara pribadi telah memerintahkan pengadaan lanjutan saat dia melihat betapa efektifnya FA-50PH dalam memerangi militan ISIS di Marawi City pada 2017.

“Kami mungkin mengakuisisi tambahan 12 unit, namun itu tergantung pada keinginan pembangunan Angkatan Udara Filipina”, kata Lorenzana kepada publikasi Manila Bulletin. KAI tidak menanggapi permintaan Jane untuk konfirmasi pada saat publikasi.

Angkatan Udara Filipina (PAF) telah mengakuisisi 12 unit FA-50 saat ini pada tahun 2014 senilai $ 361 juta pada saat itu. KAI mengirimkan dua pesawat pertama pada akhir 2015, dua lainnya di akhir 2016, dan sisanya pada tahun 2017.

  10 Responses to “Filipina Ingin Tambah 12 Unit FA-50PH Lagi”

  1.  

    body korea, mesin amrik……
    model kaya gini banyak yg ngidam..hehehe

  2.  

    Hebat ni korea…

    Korea taiwan sudah bisa bikin f16 kw….

    Indo pasti bisa bikin kl sekelas f16 aja..
    Asal mo bersekutu dg china..

    Ha ha ha

  3.  

    baiknya filipina melirik trlebih dahulu yak pespur latih multirole

    hahhaahaaaa

    •  

      Asal feenya gedhe itu yg dipilih pilipine
      Disamping faktor lain, unsuk manipulatip kentara bgt di filipine..

      •  

        Learning from the Philippines, decision making process is similar to many other corrupt-driven governments. — too many hidden budgets and always too slow.

        Not only do they make money-driven choices but also many of them are politically incorrect.

        As most advance economy strive for domestic industry and research, any geopolitical and economic obstacles could profits both ways. It’s a win-win!

        Indonesia has changed so much and is pursuing the right direction, buying for research and domestic industry.

  4.  

    Secara tdk lgsg RI turut mempromosikan dgn menjadi pengguna pertama diluar Korsel.

 Leave a Reply