Mei 112017
 

Pulau Thitu, bagian dari kelompok pulau Spratly yang disengketakan di Laut Cina Selatan. (© AFP)


Seorang pejabat militer Filipina menyampaikan bahwa pihaknya telah mulai memindahkan pasukan dan peralatan ke sebuah pulau yang disengketakan di Laut Cina Selatan yang diklaim oleh Manila dan Beijing. Tindakan ini dilakukan menjelang konstruksi, termasuk memperpanjang landasan terbang di pulau ini.

Kepala Komando Barat Komando Militer Filipina, Letnan Jenderal Raul del Rosario, seperti dikutip AP, mengatakan bahwa pasukan dan pasokan awal tiba di Pulau Pag-asa pada pekan lalu.

Sekitar 1,6 miliar peso (32 juta dolar AS) telah disisihkan untuk pembangunan di pulau itu, yang akan mencakup penguatan dan pemanjangan landasan terbang serta bangunan dermaga.

Tenaga surya, pabrik desalinasi dan peremajaan perumahan militer, serta lokasi penelitian kelautan dan wisatawan, direncanakan dibangun di pulau ini.

Awal bulan ini, Duta Besar Tiongkok Zhao Jianhua memperingatkan bahwa pembangunan di pulau tersebut, yang dikenal secara internasional sebagai Thitu, akan menjadi ilegal.

“Kami melihat pendudukan oleh pihak Filipina dari pulau-pulau tersebut sebagai ilegal. Jadi bangunan di atasnya juga ilegal,” katanya, seperti dikutip Manila Times.

Zhao menambahkan bahwa Tiongkok akan memberikan “peringatan” pada pesawat terbang yang mengganggu di wilayah udara pulau itu, serta pesawat tak diizinkan terbang di wilayah udara Kelompok Kepulauan Kalayaan.

Departemen Luar Negeri Filipina mengabaikan pernyataan Zhao, juru bicara Robespierre Bolivar menyatakan bahwa pulau itu dan Pulau Kalayaan adalah “sebuah kotamadya Palawan,” sebuah provinsi di Filipina.

Tiongkok memprotes kunjungan pemimpin pertahanan dan militer Filipina ke pulau itu pada bulan lalu, beberapa minggu setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte berjanji untuk menduduki dan memperkuat pulau-pulau di Laut Cina Selatan guna membuat “titik kuat” di tengah perselisihan teritorialnya dengan Beijing.

Pag-asa merupakan pulau terbesar kedua di kepulauan Spratly, yang juga diklaim oleh Taiwan dan Vietnam.

Kepulauan Spratly telah lama menjadi pertanda antara Filipina dan Tiongkok, karena Beijing mengklaim hampir semua Laut Cina Selatan. Tiongkok mencoba mempertaruhkan klaimnya dengan mengubah tujuh terumbu karang menjadi pos terdepan, beberapa di antaranya memiliki landasan pacu, radar dan sistem senjata.

Sumber: RT

 Posted by on Mei 11, 2017