Filipina Minta Bantuan Amerika Jika Perang dengan China Pecah

Pemerintah Filipina sudah ancang-ancang meminta bantuan Amerika Serikat (AS) jika konfrontasi atau perang dengan China benar-benar pecah di Laut China Selatan. Permintaan bantuan itu disampaikan presiden terpilih Filipina, Rodrigo Duterte.

Permintaan bantuan kepada Amerika itu disampaikan Duterte kepada Duta Besar AS di Manila, Philip Goldberg, dalam sebuah pertemuan. ”Apakah Anda dengan kami atau Anda tidak dengan kami?” tanya Duterte. Goldberg pun menjawab, “Hanya jika Anda diserang.”

Presiden terpilih Filipina Rodrigo Duterte meski terlihat geram terhadap China, Namun Ia memutuskan meminta bantuan AS jika terjadi perang lawan China.

Langkah meminta bantuan kepada negara adi daya itu, diambil pasca Presiden terpilih Filipina Rodrigo Duterte menolak untuk melakukan pembicaraan bilateral dengan China terkait sengketa Laut China Selatan (LCS).

Sebagaimana dikutip dari Philippine Daily Inquirer, Rabu (22/6/2016) Mantan Menteri Luar Negeri Filipina, Albert del Rosario pada Jumat pekan lalu menuturkan bahwa Duterte sudah menegaskan bahwa tidak akan ada pembicaraan bilateral dengan Negeri Tirai Bambu untuk menyelesai permasalah LCS dalam dua tahun ke depan.

Rosario menegaskan, Manila tidak akan menggelar pembicaraan bilateral dengan Beijing sampai ada keputusan pengadilan internasional (Pengadilan Arbitrase PBB) di Den Haag terkait LCS.

Menurut Pejabat Mahkamah Agung (MA) Filipina, Antonio Carpio, jika Filipina dapat memenangkan kasus ini di pengadilan internasional maka kemenangan ini dapat menjadi tamparan keras terhadap klaim-klaim dari China selama ini.

Kapal Perang AS telah disiagakan di Laut China Selatan.

China sebelumnya sempat mengatakan, Filipina telah mengabaikan proposal mekanisme pembicaraan bilateral atas masalah maritim. Pernyataan ini mengulangi kebijakan Beijing yang menyatakan pintunya selalu terbuka untuk pembicaraan bilateral dengan Manila.

Filipina telah membawa kasus di LCS ke pengadilan internasional di Den Haag, Belanda. Kebijakan ini ditentang oleh China yang menginginkan memecahkan masalah lewat jalur bilateral. China bahkan menegaskan akan menolak apapun hasil keputusan pengadilan internasional.

Sementara itu, Di Washington, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa departemen tidak akan mengomentari rincian percakapan diplomatik, termasuk kemungkinan AS membantu Filipina jika terjadi konfrontasi dengan China di Laut China Selatan.

Hanya saja, departemen itu menegaskan bahwa aliansi AS-Filipina merupakan aliasi “ketat”, dan AS akan berdiri memenuhi komitmen seperti dalam perjanjian tersebut.

”Presiden Obama telah jelas bahwa kita akan berdiri dengan komitmen kami untuk Filipina, seperti yang kita lakukan untuk setiap perjanjian pertahanan bersama sekutu,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, Anna Richey-Allen, seperti dikutip ABC, Rabu (22/6/2016).

Presiden As, Barrack Obama komitmen bantuan terhadap Filipina.

”Ketergantungan kami dan kehandalan sebagai sekutu telah berdiri selama puluhan tahun. Di luar itu, kami tidak akan mengomentari hipotesis,” katanya lagi.

AS tidak ambil bagian dalam sengketa teritorial Laut China Selatan. Kawasan itu, hampir seluruhnya diklaim oleh China. Namun, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei dan Taiwan juga ikut mengklaim.

Indonesia tidak terlibat dalam sengketa klaim maritim itu. Namun, beberapa hari ini Indonesia terlibat ketegangan dengan China, setelah kapal nelayan China masuk perairan Natuna, Indonesia, di kawasan Laut China Selatan.

Terakhir, kapal perang Indonesia menembaki kapal nelayan China yang diduga mencuri ikan di Natuna. Alih-alih minta maaf, China justru protes dan menyalahkan Indonesia. China bahkan mengklaim kapal nelayannnya beroperasi di perairan tradisional China. (marksman/ sumber : sindonews.com dan okezone.com)