Nov 022018
 

Lion Air Boeing 737-MAX 8. (credit: PK-REN via commons.wikimedia.org)

Musibah kecelakaan pesawat kembali terjadi di tanah air. Dunia penerbangan Indonesia kembali berduka setelah pesawat lion air dengan nomor penerbangan JT-610 dengan rute Jakarta – Pangkal Pinang jatuh diperairan Laut Jawa, di Utara Karawang. Hingga saat ini hampir dipastikan tidak ada korban selamat dari pesawat dengan total 189 orang penumpang dan kru pesawat tersebut.

JT-610 yang pada hari itu menggunakan salah satu pesawat keluaran terbaru pabrikan pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, dengan seri B-737 MAX 8 ini hanya bisa bertahan selama 13 menit ketika mengudara. Pesawat yang dipiloti oleh kapten pesawat bekewarganegaraan India, Bhavve Suneja sempat memberikan informasi kepada ATC jika terjadi gangguan pada flight control 32 menit setelah pesawat take off dan meminta izin untuk mendarat kembali pesawat.

Namun, pesawat yang dipiloti oleh Bhavve Suneja dan Co-pilot Harvino tersebut tidak pernah sempat kembali mendarat. Pesawat tersebut resmi dinyatakan hilang dari radar pukul 06.33. Masalah apa yang terjadi dengan Lion Air JT-610 sehingga sang pilot Bhavve Suneja memutuskan untuk Return To Base.

Hingga saat ini belum ada kepastian apa yang menyebabkan pesawat tersebut limbung dan pada akhirnya jatuh diperairan utara Karawang. Banyak hal yang bisa terjadi dan menyebabkan sebuah pesawat jatuh. Bisa karena kerusakan teknis pada pesawat, human error, atau penyebab lainnya yang dapat menyebabkan sebuah pesawat jatuh.

Penyebab pasti pesawat JT-610 sendiri akan diselidiki oleh KNKT dan dari rilis resminya nantilah kita baru akan mengetahui apa yang terjadi kepada pesawat naas tersebut. Namun, tahukah anda jika dalam penerbangan ada moment yang dinamakan The “Critical Eleven “ Moment  Momen kritis dalam 11 menit di dunia penerbangan.

Menurut situs flightsafety org, “Critical Eleven” moment mengacu pada 3 menit setelah tinggal landas dan 8 menit sebelum mendarat ketika awak kabin dilarang mencoba berkomunikasi dengan kokpit kecuali pada hal-hal penting untuk keselamatan penerbangan dan penumpang, dan awak kokpit diperlukan untuk menahan diri dari aktivitas apa pun yang tidak terkait dengan kontrol pesawat.

Dalam Critical eleven moment ini awak kokpit (Pilot dan Co-Pilot) harus benar-benar fokus dalam menangani instrument flight control yang ada didalam kokpit. Praktek ini dilakukan, karena menurut fakta 80% kecelakaan pesawat komersial terjadi ketika pesawat dalam posisi tinggal landas (take off) atau akan mendarat (landing), moment ketika pesawat udara paling rentan terhadap banyak bahaya.

Memang tidak ada pengumuman secara formal kepada para penumpang ketika “Critical Eleven” moment ini sedang terjadi. Untuk moment 3 menit setelah take off, penumpang hanya bisa mengetahui hingga tanda sabuk pengaman berhenti menyala, dan untuk moment 8 menit landing, biasanya dimulai ketika lampu untuk menggunakan tanda sabuk pengaman menyala kembali dan awak kabin memberi pengumuman jika pesawat akan segera mendarat.

Biasanya titik di mana pesawat turun melalui 10.000 Kaki diterima sebagai awal dari periode delapan menit yang berlanjut sampai pesawat mendarat. Untuk kondisi take off, 3 menit pertama mungkin yang paling penting, karena selang waktu setelah pilot menekan throttle maju penuh kedepan, setelah pesawat melaju melewati ambang batas kecepatan V1, dimana pesawat sudah tidak memungkinkan lagi untuk dapat membatalkan proses tinggal landas.

Maka apabila terjadi kondisi darurat, pesawat harus tetap tinggal landas dengan opsi mendarat darurat di sebuah landasan lain atau return to base menjadi salah satu opsi terakhir yang bisa dilakukan oleh pilot.

Menurut pendapat pribadi saya, apa langkah yang dilakukan oleh pilot, kapten Bhavve Suneja yang segera memutuskan untuk kembali mendarat setelah merasakan ada hal yang tidak beres pada flight control pesawat JT-610 tersebut sudah benar, namun takdir berkata lain. Kapten Bhavve Suneja tidak pernah sempat membawa kembali pesawat tersebut pulang ke bandara Soekarno Hatta.

Saya yakin, seluruh awak pesawat yang bertugas telah berusaha mati-matian dalam menyelamatkan pesawat dengan seluruh penumpangnya dalam moment 13 menit penerbangan pesawat Lion Air JT610, sebelum pada akhirnya pesawat Boeing 737 MAX 8 tersebut hilang dalam layar radar.

Dengan hasil rekomendasi dari tim investigasi nanti, saya berharap semoga ini menjadi kecelakaan pesawat terbang terkahir di dunia dan tidak pernah ada lagi kecelakaan.  Untuk para keluarga korban saya haturkan ucapan duka cita sedalam-dalam nya, semoga para korban yang meninggal dunia dalam kejadian ini mendapat tempat sebaik-baiknya disamping Tuhan Yang Maha Esa. #prayforjt610

Penulis : Prasta Kusuma, S.IP
Alumni Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD

  4 Responses to “Flight “Critical Eleven” Moment …”

  1.  

    biasakan asas praduga tak bersalah sambil nunggu hasil investigasi blackbox

    jgn main tuding2 langsung aksi sepihak jadi ahli maupun pengamat

  2.  

    .. ini jg yg terjadi dgn pilot tetanggaku..pilihan nya antara terbang gliding atau return to base.. dan pilih returns tapi naas saat belok 180° dgn mesin mati dia jatuh.. ketinggian + kecepatannya kurang memadai.. tenanglah di syurga sodaraku T_T

  3.  

    barusan baca, mungkin bisa menambah informasi… sepertinya memang sinkron dengan yang di sampaikan di ILC oleh penumpang pesawat itu sendiri (lupa kapan tayangnya… )…

    https://www.flightzona.com/2018/10/30/sehari-sebelum-jatuh-lion-air-jt610-sudah-terbang-liar-tak-terkendali/

 Leave a Reply