Dec 102013
 
Model Flying Boat Gever-OS

Model Flying Boat Gever-OS

Indonesia berhasil menciptakan perahu terbang pertama berkapasitas empat penumpang yang diberinama Flying Boat Gever-OS. Perancang Flying Boat Gever-OS, Erid Rizki mengungkapkan, perahu ini dapat terbang hingga ketinggian 150 meter di atas permukaan laut dengan kecepatan mencapai 400 km/jam. “Flying boat  menempuh perjalanan selama 3-4 jam dari Tanjung Priok ke Surabaya (Tanjung Perak),” ujar Erid saat launching Flying Boat Gever OS di Jakarta. Flying boat ini diharapkan bisa menjadi kendaraan alternatif bagi masyarakat Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

Saat ini sebagian besar (65 persen) komponen perahu terbang buatan Indonesia Maritime Institute (IMI), masih berasal dari luar negeri, terutama terkait dengan urusan mesin. Bobot penuh dengan penumpang maksimal 900 kilogram. IMI mengklaim perahu terbang ini menggunakan bahan bakar bio ethanol (premium) dan pertamax.

Model Flying Boat GEVER-OS

Model Flying Boat GEVER-OS (photo: Liputan6.com)

Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) KKP, Sudirman Saad meminta agar pengembangan flying boat didorong dan didukung penuh oleh semua pihak, agar sampai dalam tahap produksi dan sesuai harapan. Karya flying boat ini merupakan inisiatif yang bagus untuk penguatan sistem angkutan transportasi laut Indonesia di masa depan.

Berdasarkan catatan KKP, harga flying buat buatan Indonesia Rp 1,5 miliar, jauh lebih murah dibanding produk serupa buatan Korea Selatan yang dibandrol Rp 15 miliar/unit. Flying Boat hasil karya IMI diharapkan bisa diterima pasar.

Aron7-M50

Kerjasama dengan Kementerian Pertahanan
Gayung bersambut, uluran tangan datang dari Kementerian Pertahanan. Balitbang Kemenhan  menandatangai kesepakatan bersama (MoU) dengan IMI untuk pengembangan Flying Boat GEVER-OS type khusus, untuk kepentingan pertahanan Indonesia. Direktur Eksekutif IMI, Y Paonganan mengatakan perahu terbang ini akan diluncurkan kembali pada bulan April 2014.

Flying Boat Bavar 2 Militer Iran

Flying Boat Bavar 2 Militer Iran

Selain Korea Selatan, negara lain yang menggunakan flying boat untuk keperluan pertahanan adalah Iran. Flying boat Bavar-2 milik Iran dilengkapi senjata mesin, night vision dan peralatan pengintai, untuk merekam dan mengirim gambar dan data. Pengamat militer menduga flying boats Bavar 2 Iran telah mengadopsi teknologi yang membuatnya dapat menghindari radar.

  44 Responses to “Flying Boat Gever OS Indonesia”

  1. selamat atas hasil karya anak bangsa..semoga produk ini didukung penuh oleh pemerintah. jangan sampai terlantar seperti yang sudah2

  2. Itu flying boat punya Indonesia baru prototipe atau sudah mass production?
    dibanding punya Korea dan Iran punya kita kok culun banget ya? so naked….
    apa karena versi sipil?

    • presentasinya emang culun dan minimalis banget, biasa kan model pesawat diberi penyangga dengan dudukannya di atas meja, gak perlu ditutupi taplak begitu.

      kalau sudah berhasil terbang Jkt – Sby, tempel dong foto2 / poster di dinding belakang

  3. Komponen bagus untuk penegakan kedaulatan RI di ZEE.

    Setelah drone patroli memergoki maling ikan dan memanggil drone bersenjata agar pelaku tidak kabur, tak lama kemudian petugas datang naik flying boat (naik boat kelamaan) untuk melakukan boarding dan penggeledahan…

    Hanya ukurannya perlu diperbesar…

  4. Sepertinya masih perlu disempurnakan lagi di bagian sayap. Perlu ditambah lunas di samping kiri dan kanan supaya seimbang saat dipacu di air… Rangkanya harus diperkuat supaya bisa menggotong senjata.syukur2 bisa menggotong torpedo atau rudal anti kapal….Mudah2an di bulan April nanti sudah lebih sempurna dan menggetarkan…

  5. semoga cepat terwujud..

    Daripada ada maling masuk petugas kita gak bisa ngapa2in, Kapal TNI juga lama untuk sampe ke lokasi. Mungkin dengan ini bisa lebih baik, loncat kesana kemari dengan kecepatan 400 KM/jam. Terus di kasih senjata yg manteb plus di isi prajurit2 bernyali besar (dg mandat khusus tentunya), bisa jadi maling ikan pada kabur kalo liat ini

  6. mirip ARON MK2..made in indonesia juga

  7. salah satu karya anak bangsa yg patut memperoleh penghargaan,,
    sama halnya dengan hovercraft gandiwa,yg masih mmenjadi opini,,masih diatas kertas,, semoga saja ini segera terealisasi dan bisa menjadi penjaga di laut,dan di tempatkan di perbatasan spt natuna,ambalat,dan di pulau terluar lainya,,
    tapi jangan lupa untuk mmencatoli dgn senjata mesin serta roket,bahkan kalao perlu kapasitas angkutnya diperbesar sehingga bisa di cantoli P-800,R-HAN,atau roket” made in pindad sama halnya dgn heli serang..yg bisa melumat pelabuhan” musuh,,

    kalao ini bener terealisasi dan mjd kenyataan patut di banggakan,jgn cm sebatas prototype,,apalgi skrg APBN sudah mengalami kenaikan,smg dgn naiknya anggaran belanja negara,naik pula istilah biaya penelitian dan jgn cuma di patok sekian ,yg spt UAV,meskipun dgn dana yg terbatas. Masih bisa memberikan penemmuan untuk dlm negri mmeskipun itu blumm bisa di katakan powerr,,

    jangan sampai Hal seperti ini djustru di jegal oleh punggawa” yg duduk manis di HEWAN PERWAKILAN RAKYAT (HPR/DPR),,KARENA HEWAN TERSEBUT CUMA BISA MENGERUCUTKAN NIAT DAN TEKAT RAKYAT,DGN MENCURI UANG RAKYAT DAN MEMINIMALISIR PENEMUAN DLM NEGERI,JANGAN SAMPAI HASIL ANAK NEGRI TIDAK DI KEMBANGKAN DAN HANYA SEBATAS PROTYPE,

    BUKAN MMAKSUD SAYA MENCELA,TAPI ITU KENYATAANYA,,ANDAI UU HUKUM GANTUNG BISA TEREALISASI UNTUK TIPIKOR DAN BANDAR NARKOBA,, SAYA YAKIN UANG RAKYAT AKAN MELIMMPAH,APBN PUN MELIMPAH PULA SEIRING BERJALANYA WAKTU DAN TERLEBIH PULA BISA DI NASIONALISASIKAN SEMUA ASET NEGARA SPT MMIGAS,FREPOT DAN BLOK” LAINYA,, BUKAN UNTUK BAA**RI ATAUPU SKK MIGAS,,SAJA.MELAINKAN HASIL BUMI INDONESIA UNTUK RAKYAT DAN BUKAN UNTUK KEPENTINGAN POLITIK ATAUPUN SAKU..

    Sori kalao kommen saya tidak berkenan dan sedikit nyerempet..tp saya udah muak lihat aset negara hanya milik pribadi semata spt halnya partai kuning yg memiliki lapindo dan pengeboran minyak..
    Masak kalah sm petronas..

  8. @ bung danu..
    Kalo boleh usul : Ukuran dan kapasitas angkut nya di perbesar jgn cuma 900kg saja,,kalo bisa 2000/3000kg spy bisa mengankut P-800,dan SUT,,saya yakin sebelah jiran kt mikir 2x,,
    dan simulasi anda spt bisa di bayangkan apabila di simpan di natuna,

    • wacch keblabasen,salah arah

    • Setuju bung Patech, jika diperbesar bisa mengangkut MBT Leopard. dan jika diperlukan membawa ICBM seperti “monster laut kaspia”nya Rusia http://en.m.wikipedia.org/wiki/Ground_effect_vehicle
      Benda ini memang tidak seheboh kilo class atau S300 tapi menurut saya memiliki nilai strategis: kita bisa menggelar pasukan dan alutsista di pulau/ pantai manapun yg kita mau dalam jumlah besar secara cepat

      • wkwkwkw bung @Loai terlalu berlebihan kalao bs mengangkut Icbm/leopard, mengangkut P-800 aja wes bejo istilah jawanya,,kok mau ngangkut sejenis leo dan icbM kalao ukuranya bs diperbesar nah itu baru oke,tp kl smkin besar flying nya krg flexible ,asal bs angkut persenjataan saja itu sdh lbh dr cukup,asal tidak kosong aja..

        • Hovercraft Gandiwa.? Apa tuh.?
          Ngangkut P-800.? Yg bener aja ah, ngaco. Berat P-800 aja 3000 kg.

          • joko tingkir….
            maksud saya heli gandiwa dan hovercraft bosss..

            Untuk ngangkut P-800 mksd sy,kapasitas angkutnya diperbesar, jgn cm 900kg saja kl bisa 2000/3000kg lebih,, spy lbh propen bos..

  9. Selamat atas kreasi dan usaha anak bangsa ….dukung inovasi dan kemandirian.

    Tapi sedikit masukan buat pemerintah (semoga warjag dibaca pemerintah ataw anggota dewan)
    Sering saya berdiskusi dgn “teman” saya yg mempunyai background sbg “peneliti disalah satu lembaga penelitian milik pemerintah (gak sebut nama).

    Mereka para peneliti antusias melihat perkembangan2 (trutama alutista) teknologi yg sedang dikembangkan.
    Tapi sayang …..mereka tidak diajak (kurang diajak) berpartisipasi dalam memenuhi teknologi kemandirian bangsa.

    Pesan dr “mereka” adalah :
    1.Satukan peneliti dalam satu wadah (seluruhnya hrs dibawah menristek) agar ada komando,sinergi dan konsolidasi utk lebih terarah.
    Jangan terpencar2 dimana mana….banyak balai2 penelitian ataw lembaga2 penelitian sperti saat ini.
    2.Adanya perhatian masalah alokasi dana penelitian, termasuk juga “sistem2” terkait dana penelitian.
    Jangan samakan pengucuran dana penelitian dgn pengucuran dana pembangunan proyek fisik (jembatan,jalan dll).
    3.Adanya kejelasan regulasi/peraturan mengenai output hasil penelitian (terkait hak paten)

    Andaikata semua terpenuhi ….mereka yakin, tidak ada satu teknologipun yg tidak bisa oleh anak bangsa Indonesia.

  10. Salam utk smua,….

    Selamat atas keberhasilan para peneliti Indonesia, kedepan tentu sangat diharapkan kreativits dan pengembangan tekhnologi yg full Indonesianiss, sehingga harga lebih terjangkau bagi masyarakat kita.

    Saya sangat setuju dgn pandangan bung S&Y, dengan demikian maka kemandirian dlm bidg tekhno cepat terealisasi, disamping mengeliminir ketersiaan kretifitas, wktu, dan tentunya anggaran.

    Majulah Indonesiaku, semangatlah para peneliti Indonesia dlm sgala bidang.

  11. prototype only

  12. Harus langsung didukung dengan dana ya pak Pur, seperti pak JK mendukung ANOA.
    Kalo gak didukung dana, pasti akan layu sebelum berkembang……..

  13. halah, baru bisa bikin prototipe ginian dibanggain, dasar orang2 primitif.

    • orang primitif adalah mereka yang nyaman diam di dalam gua. Perubahan kebudayaan menjadi lebih maju terjadi ketika manusia gua berani keluar da menjelajah, mencoba hal2 baru, melakukan inovasi dan penyesuaian along the way dan berkembanglah teknologi.

      design pesawat ini memang tidak sebagus design produk Korea. saya juga punya mata 😀 , terlihat seperti pesawat amphibi biasa yang dimodifikasi. kemungkinan itu karena design “aman” akibat keterbatasan dana R&D, makanya biayanya juga lebih rendah.

      namun intinya di sini adalah anak bangsa sudah mulai berani “keluar dari gua”, berani mencoba artinya membuka pintu bagi kegagalan2 namun juga keberhasilan dan lompatan ke depan

    • lebih baik orang primitif tetapi mau berpikir dan membuat sesuatu,
      daripada orang yg hidup di jaman modern tapi bertindak dan berpikiran primitif

    • meskipun baru sekelas prototype,,tapi wajib di syukuri,karena seiring bertambahnya APBN maka akan smkin canggih pula,dan 2014 mendatang akan di produksi,,tidak seperti anda yg cuma mmengkritik saja , tapi tidak bisa berbuat apa” bilangnya primitif tp hati dan fikiran anda lbih primitif ..

  14. klo anda sendiri sdh bisa menghasilkan/berbuat apa untuk bangsa?

  15. 900 kg itu bobot perahu+dengan muatan full, bukan mampu mengangkut 900 kg muatan. Maksimal penumpang aja cuman 4, sekitar 250-300 kg (4×75 kg) muatan full nya. Baca dgn teliti atuh…

  16. dengan kapasitas 4 orang ini tidak efektif sebagai pesawat transport, dan jika ukurannya diperbesar juga rasanya kurang efektif mengingat design pesawat penumpang amphibi sudah matang dan umum. kecuali diketahui design ini mempunyai keuntungan2 tertentu yg tidak dipuyai pesawat penumpang amphibi konvesional

    IMO, pesawat ini cocoknya untuk pesawat TNI/POLRI dan pihak2 yang terkait dengan pengawasan perairan. monong pesawat bia diisi radar dan peralatan elektronik yg berkaitan dengan pengawasan wilayah. bisa juga dipersenjatai senapan mesin untuk nguber bajak laut dan pencuri ikan.

    Harganya juga sangat bersaing, produksi masal akan membuat harganya semakin bia ditekan. Dan ini produk dalam negeri 🙂 usulan saya sebaiknya IMI berkerjaama dengan produsen Korea itu. IMI/Indonesia bisa menyerap teknologinya dan produsen Korea mendapatkan pasar yang besar

    • monong! 😀 , moncong pesawat maksudnya

    • Kalau N219 (yg juga masih prototype) dikembangan untuk amphibi harusnya bisa kan?
      tidak perlu biaya R/D lagi dai Nol.
      paling dikuatkan saja struktur sayapnya, juga mesinnya

      • memang lebih aman mengembangkan dari design yang sudah mapan daripada mulai lagi dari scratch. Su-27, Su-35 sampai jadi T-50 adalah contoh pengembangan pesawat dgn basic design yg mapan. Menghemat banyak waktu dan biaya hingga bisa menekan harga jual

        perubahan utama pesawat konvensional menjadi amphibi yg terlihat hanya ban menjadi pelampung. lain2nya mungkin hanya di penyesuaian kekuatan struktur pesawat dan penyesuaian2 instalasi elektronik agar sesuai dengan lingkungan operasionalnya

  17. Mohon diperlengkapi dengan : Torpedo 4 biji (kiri-kanan), Exocet 2 biji, Maverick 2 biji, Yakhont 1 biji (dibawah body), AIM-9X Sidewinder 2 biji (untuk dogfight) dan senapan mesin Gatling di moncong.

    • Kalau sukses uji coba, Su-35 tidak diperlukan lagi… 🙂

      • Bener bgt, ga perlu lg Su-35. Mungkin armada TNI-AU bkn elang tempur lg, tapi bebek tempur. Heran degh…

        • 900 kg itu bobot perahu+dengan muatan full, bukan mampu
          mengangkut 900 kg muatan. Maksimal penumpang aja cuman 4,
          sekitar 250-300 kg (4×75 kg) muatan full nya. Baca dgn teliti atuh…

          maksud saya kan di perbesar lg kapasitas angkutnya boss. Bukan cuma 900 saja.tp lebih,,spy bisa buat pertahanan juga ,entah itu full mmuatan apa tidak intinya kalao keedepanya bisa di perbesar muatanya,,faham tidak maksud saya boss..

          Saya juga nyadar kalao anda tak faham maksud saya boss.

  18. Tadinya saya berpikir tentang kapal induk, bukan pembawa tank atau rudal

  19. lbh pas utk mendukung patroli sat polair,dkp,custom..

  20. nice moving, utk revisi n pemutakhiran kedepan mngkin bisa merapat ke Iran untuk menjalin kerjasama.

  21. oooohhh…. jadi juga launching ke publik, syukulah 😀

 Leave a Reply