Apr 202014
 
Peluru frangible

Peluru frangible

Vicko Gentantyo Anugraha, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi memberanikan diri mengikutsertakan hasil risetnya dalam Lomba Karya Tulis Indonesia yang diadakan oleh Tentara Negara Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Bertemakan pertahanan nasional, Vicko mengenalkan peluru frangible yang belum pernah diproduksi di Asia. Tak disangka, dari 134 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, Vicko berhasil menyabet juara pertama. Peluru frangible ini sekaligus merupakan Tugas Akhir yang tengah dikerjakan Vicko sebagai syarat kelulusan.

Bermula dari ajakan senior tiga tahun lalu untuk mengikuti Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM), Vicko dikenalkan tentang peluru frangible yang memiliki berbagai keunggulan. Penasaran, Vicko mengangkat riset tersebut dalam Tugas Akhirnya. Di tengah Vicko melakukan riset, salah seorang temannya memberitahukan lomba yang diadakan TNI AD. “Kebetulan sekali saya sedang melakukan riset mengenai itu. Temanya pun mengenai sistem pertahanan nasional,” ujar Vicko.

Dalam pengerjaannya, Vicko didukung oleh berbagai pihak. Ia mengaku pengerjaan peluru frangible banyak dibantu oleh teman dalam tim riset tugas akhirnya, Paiman Joni. “Kami banyak berdiskusi dan terkadang mengerjakan bersama,” ujar Vicko. Selain itu, Vicko mendapat arahan dari dosen pembimbing risetnya, Dr Widyastuti SSi MSi yang telah terlebih dulu menekuni sistem pertahanan. Bahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) pun membantu pendanaan riset yang rencananya akan menjadi proyek jangka panjang.

Vicko Gentantyo Anugraha, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi (photo: its.ac.id)

Vicko Gentantyo Anugraha, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi (photo: its.ac.id)

Vicko menjelaskan berbagai keunggulan peluru frangible, salah satunya adalah komposisi penyusun serbuk peluru. Jika biasanya timbal yang menjadi penyusunnya, Vicko menggantinya dengan tembaga. Pasalnya, timbal merupakan zat berbahaya jika sampai kontak langsung dengan manusia. Memang, menurut Vicko, peluru frangible lebih membahayakan daripada peluru biasa, tapi lebih aman. ”Sebab, peluru biasa akan menimbulkan back-splash ketika membentur benda keras dan membahayakan orang sekitar,” ujar Vicko.

Peluru biasa akan mempunyai 2 kemungkinan, kalau tidak back-splash, maka akan menembus tubuh. Sedangkan peluru frangible mampu hancur ketika mengenai permukaan keras atau mengenai tubuh, sehingga disinyalir akan lebih merusak ketika mengenai tubuh sasaran. ”Pelurunya akan mancep dan akan pecah dalam tubuh,” tambahnya. Karenanya, peluru frangible ini akan diaplikasikan dalam ruangan tertutup, misalnya evakuasi terorisme.

Dalam perlombaan itu sendiri, awalnya, Vicko tak mengetahui bahwa dirinya lolos menjadi 12 besar dari 134 peserta dengan kategori umum. Melalui info dari salah seorang temannya seminggu sebelum pengumpulan terakhir, ia baru mengetahuinya. Sehingga, Vicko harus membuat produk jadi sesuai persyaratan lomba dalam waktu yang sebentar.

Merasa tidak sanggup, Vicko pun menghubungi pihak TNI AD bahwa Ia tidak siap mengikuti tahap selanjutnya. “Saya sudah pasrah kala itu. Hingga H-3 saya dihubungi pihak TNI AD bahwa saya harus mengikuti tahap selanjutnya di Jakarta 3 hari lagi,” ujar Vicko. Tak ayal, dalam waktu yang singkat, Vicko hanya mampu membuat pellet peluru saja.

Tak hanya itu, ketika akan melakukan presentasi, Vicko terjebak macet parah di Jakarta. “Ketika saya datang, semua juri sudah bergegas pulang. Yang semula saya adalah kontestan pertama yang maju presentasi, akhirnya saya menjadi kontestan terakhir yang presentasi ketika itu,” kenang Vicko.

Namun, usahanya pun membuahkan hasil, Vicko menyabet juara pertama dalam ajang tersebut. Ia mengalahkan para kontestan lain yang lebih ahli. Para kontestan itu diantaranya mahasiswa S2, dosen, dan para ahli dalam bidang persenjataan. Vicko pun berharap pemerintah dapat mengapresiasi karya-karya pemuda di Indonesia yang ia yakini sangat hebat. “Sayang sekali kalau tidak diapresiasi oleh negara sendiri. Kalau negara lain mengetahui kemampuan pemuda kita, pasti ditarik ke luar negeri,” ujar Vicko.

Frangible bullet saat sentuh benda keras (photo: ruang.com)

Frangible bullet saat sentuh benda keras (photo: ruang.com)

Frangible bullet sentuh benda keras

Frangible bullet sentuh benda keras

Diminati PT PINDAD
Menjadi juara pertama dalam ajang yang berkaitan pertahanan dan keamanan nasional, hasil riset Vicko dilirik oleh PT PINDAD (persero), perusahaan persenjataan milik Indonesia. Menurut PINDAD, peluru yang sangat langka di Indonesia tersebut akan menjadi sesuatu yang baru dan unik dalam industri pertahanan dan keamanan di Indonesia. Perusahaan ini menjanjikan untuk mengadakan uji tembak dalam waktu dekat.

Usai uji tembak, PT PINDAD mencanangkan untuk produksi masal, tetapi hanya untuk case yang spesial. “Masih ada bimbingan lanjutan dari TNI AD. Jika terjalin kontrak kerjasama, akan dilakukan dengan persetujuan dari TNI AD dahulu,” ujar Vicko. (its.ac.id).

Bagikan :

  79 Responses to “Frangible Bullet Made in Vicko ITS”

  1.  

    Alhamdulillah…akhirnyaaaaa….

  2.  

    1st kah??

  3.  

    Test..

  4.  

    Inspirasi bagi pemuda Indonesia

  5.  

    mulai menanjak step by step

  6.  

    Jayalah nkri ku………!

  7.  

    Semoga harapan Vicko bisa terkabul

  8.  

    Wah.. Ngeri n kasiyan juga ya kalau nyasar ke sipil, apa peluru jenis ini hanya bersifat melumpuhkan?

  9.  

    Mantab
    Aset negara tuh

  10.  

    Pelurunya penuh inovasi salutt buat anak ITS. Bangga dengan alumni yg produktif.

  11.  

    Peluru ini biasanya di peruntukan untuk misi pasus, seperti pembebasan sandera, perang jarak dekat dan beberapa misi lainnya. Selain itu peluru ini biasa digunakan untuk polisi, di Amerika polisinya banyak menggunakan peluru ini agar mengantisipasi black-splash. Dan lebih bagus digunakan untuk latihan, keuntungannya mengurangi timah2 yg berhamburan di areal latihan. Kendalanya zat peluru ini termasuk berbahaya, πŸ˜€

    Kembangkan penelitianmu Vicko, semoga menjadi aset bangsa… Amieen.

    •  

      salam kenal bung jalo………..
      klo boleh tolong angkat artikel tentang tukang becak yg
      kerja di luar negri dong kayaknya seru………..TQ

    •  

      aset bangsa yang membanggakan,jangan sampai lepas ke tangan yang salah..selamat untuk Vicko Gentantyo Anugraha…
      @jalo : apabila sudah dilirik oleh Pindad, hak patent akan dipegang oleh individu atau Pindad nih bung??

    •  

      Penggunaan frangible bullets di kalangan US law enforcement masih terbatas pada special applications (misalnya SWAT sniper yg menghadapi hostage situation di lingkungan yg padat dgn innocent by-standers). Patrol officers dan detective masih menggunakan conventinal JHP, terutama bonded-JHP. Bonded-JHP menggunakan teknologi perekat yg menyatukan lead core dengan copper jacket secara lebih kuat. Jenis bullet ini dipilih karena memiliki higher material integrity sehingga bullet dapat menembus solid barrier tanpa mengalami fragmentasi atau deformasi, namun tetap memiliki reliable expansion properties bila menembus tubuh manusia.

      Dalam melaksanakan tugas mereka, US police officers harus memperhitungkan situasi dimana mereka harus menembak suspect yg berada di balik solid barrier (spt pintu mobil, kaca mobil, dan interior drywall di gedung). Non bonded JHP cenderung mengalami deformasi, fragmentasi, atau core-jacket separation bila digunakan utk menembus solid barrier. FMJ maintains a better bullet integrity in penetrating solid barrier. Akan tetapi US police officers juga ingin agar bullet mereka dapat mengalami expansion yg maximum dan reliable bila menembus tubuh suspect. Ini diperlukan to maximize the stopping power via maximum energy transfer dari bullet ke soft tissues. Disamping itu expanding JHP juga lebih aman dan memiliki resiko lebih kecil bila sampai terjadi over penetration (the bullet exits the suspect and hit an innocent by-stander standing behind the suspect).

      Jadi penggunaan frangible bullets di US police service masih terbatas dan belum menggantikan penggunaan bonded JHP with lead core.

  12.  

    dulu ngobrol2 ama orng kemenristek kalo boleh kita mintak sampel roket kosongan or yg terpisah buat kita pelajari
    karena kampus kami msh di bawah naungan kemenristek tetapi di tolak sama petinggi batan karena kita fokus ke kenukliran saja
    padahal kalo dipersiapkan kita pasti mampu karna fasilitas menjamin seperti sinar-X industri 200KVA, lab uji material, bahkan bisa uji implementasi ion buat pelapisan permukaan

    tp sayang perintah atasan dsuruh fokus ke kenukliran jadi terpaksa pengembangan robotik pengangkut bahan radioaktiv aja
    ckckck
    *kesempatan langka padahal

  13.  

    frangible bullet atau peluru yang mudah hancur,, jenis peluru ini sudah lama ada di dunia .
    Yang inovatif bukan jenis pelurunya tetapi bahan yang dipakai dan diteliti oleh mahasiswa yang cerdas ini.

    Dalam kondisi pertempuran jarak dekat/Close quarter batle (CQB) atau Close Quarters Combat (CQC) melimputi..pertempuran jarak dekat.untuk Hostage rescue, Room combat. ,,penyelamatan sandera, perang dalam ruangan yang dilakukan oleh Pasukan khusus (SF) peluru ini sangat berguna karena akan mereduksi “the danger of ricochet” bahaya pantul peluru karena bisa melukai orang lain disekitarnya baik itu sipil,sandera atau teman sendiri,

    Menggunakan peluru jenis ini akan sangat mengurangi efek kerusakan yang tidak perlu bila harus digunakan membebaskan sandera dipesawat terbang ,karena efek perusakannya rendah tetapi tetap akan melumpuhkan

    Bila jenis peliuru ini digunakan oleh densus 88 maka akan mengurangi cibiran masyarakat yang merasa setiap target membekuk teroris dan ada kejadian adu tembak pasti binasa, maka nilai penggerebekan itu akan berkurang lain halnya bila bisa dlumpuhkan dan bisa dikorek keterangannya untuk mengungkap jaringan teroris lainnya,

    Salut untuk kreativitas para pemuda indonesia
    Imho
    Kalau ada bung sukabedil aka garandmand disini bisa diulas lebih dalam

    •  

      @bung waljinah: sepengertian saya, peluru dumdum itu adalah proyektil yang dikikir membentuk tanda silang pada bagian puncak proyektilnya. pengaplikasian pada proyektil full metal jacket akan menghasilkan daya rusak luar biasa pada saat terjadi impact dengan sasaran. biasanya digunakan untuk tujuan menghilangkan nyawa dari sasaran. cmiiw

      •  

        memang sepertinya seperti itu. @om Delik. Akibat pola hasil kikiran. peluru akan berputar, kalau perut tertembak peluru ini dari depan, depannya berlobang kecil tapi punggung mirip sundel bolong.. maaf loh ini ngawur lagi πŸ™‚ kita tunggu pencerahan para sesepuh.

    •  

      @Bung Waljinah
      Tidak sama bung ,,peluru dum dum akan meledak bila sudah berada didalam tubuh manusia sehingga sangat mematikan

      Peluru jenis dum dum sudah dilarang dalam Deklarasi Hague dan tentara yang menggunakan peluru jenis ini dianggap melakukan β€œkejahatan perang” sebagaimana tercantum dalam statuta International Criminal Court

      Diaplikasikan ke peluru berkaliber besar bisa saja ,,tetapi untuk apa ya ?digunakan melumpuhkan kavaleri ya nggak cocok.
      Imho

    •  

      “Peluru biasa akan mempunyai 2 kemungkinan, kalau tidak back-splash, maka akan menembus tubuh. Sedangkan peluru frangible mampu hancur ketika mengenai permukaan keras atau mengenai tubuh, sehingga disinyalir akan lebih merusak ketika mengenai tubuh sasaran. ”Pelurunya akan mancep dan akan pecah dalam tubuh,” tambahnya. Karenanya, peluru frangible ini akan diaplikasikan dalam ruangan tertutup, misalnya evakuasi terorisme”

      dari uraian diatas berdasarkan penuturan pembuat munisi ini, saya ingin bertanya dg bung satrio apakah frangible bullets ini bisa dikatakan sejenis dengan munisi hollow poin +p ?

      dari info yang dibawa oleh hembusan angin yang bertiup, densus lapan lapan sudah lama “di duga” menggunakan peluru jenis hollow point +p ini, itu makanya sebagian besar target teroris yg di gruduk detasemen burung hantu koit karena efek proyektil dari hollow point +p yg punya daya rusak, daya hancur yg luar biasa…justru dgn “diduga” menggunakan munisi +p inilah komnas ham pernah mencak mencak dg detasemen burung hantu dg tuduhan pelanggaran ham

      •  

        Saya belum pernah menggunakan frangible ammo karena harganya yg jauh lebih mahal dari conventional ammo.

        Akan tetapi dari pengalaman saya menggunakan SP (soft point), HP (hollow point), dan JHP (jacketed hollow point — mostly in handguns), maka wound ballistics (terutama atas manusia) sangat bergantung dari dua faktor:

        1). Depth of penetration.
        2). Rate of energy transfer.

        FBI standard utk handgun ammo membutuhkan 12 inches of minimum penetration in ballistic gel test. Bagaimana bullets bisa memiliki penetration ability yg cukup? Momentum. Momentum berbanding lurus dengan massa projectile. Makin berat projectile, makin besar momentumnya. Lalu apa yg terjadi bila projectile pecah saat menembus sasaran? Momentum akan terbagi mengikuti serpihan2 projectile. Masing2 serpihan akan memiliki momentum yg jauh lebih kecil dibandingkan the integral momentum as a unit (bila projectile tidak pecah). Akibatnya penetration yg dihasilkan oleh individual fragment akan lebih dangkal bila dibandingkan dgn penetration of the entire unit as a single unit.

        Memang benar, projectile yg pecah akan menimbulkan luka tembak yg lebih parah karena arah potongan menjadi beragam akibat berpencarnya fragments of bullet. Akan tetapi FBI research juga menemukan bhw kalau fragmentasi ini terjadi terlalu dangkal, maka kerusakan yg ditimbulkan, meskipun tampak lebih parah, namun tidak bisa menjamin quick neutralization of suspects. To drop the suspect quickly, you need to hit vital organs yg cenderung terletak lebih dalam di rongga tubuh manusia. Oleh sebab itu, fragmentation alone is not guaranteed to give maximum stopping power result. Penetration is still required (oleh sebab itu FBI menggunakan 12 inches of minimum penetration requirement).

        Fragmentation juga bisa memberikan massive energy dump dari bullet KE ke tubuh korban (yg dimanifestasikan dalam bentuk shock to organs and tissues, disamping luka tembak robek itu sendiri). Namun fragmentation is hard to control. If you make your bullet too rigid, then it may not fragment at all and penetrate through the target like the FMJ (less effective). Solusinya adalah dgn merancang bullets yg bisa mekar (expansion) tanpa pecah. Expanded bullet akan memberikan contact surface yg lebih besar antara bullet dengan target. Ini mengakibatkan permanent cavity (lubang luka tembak) yg lebih besar. At the same time, larger surface area akan memungkinkan energy transfer utk terjadi at much higher rate. The energy transferred from the expanded bullet to soft tissues will result in temporary cavity (the tissues and organs moved away from the bullets and then come crashing back) yg menghasilkan hematoma (pendarahan dalam) or bruising.

        Bila bullet bisa expand tanpa mengalami fragmentasi, maka massa bullet akan tetap utuh, sehingga momentum tidak akan terbagi. Hasilnya, we also have maximum penetration. So, deep penetration + massive energy transfer is the way to maximize the stopping power of a bullet.

        Bagaimana dgn frangible bullet? Back to the question … ini dirancang utk apa dulu? Apakah bullet ini dirancang utk pecah di dalam tubuh sasaran? OK, if so, maka bullet ini akan menjadi sangat rentan thd just about any barrier out there. Not very practical for field use. Disamping itu merancang frangible bullet utk pecah di kedalaman yg memadai to inflict maximum stopping power is very difficult karena ketebalan dan density tubuh manusia kan berbeda2. Demikian pula dgn pakaian mereka.

        Jadi, IMHO, frangible bullets are mainly designed to minimize ricochet when the bullets hit hard surface. This means, the bullets must be rigid enough to penetrate soft tissues like FMJ (apalagi bila kita bicara within the context of military application). This means, the bullet should not fragment so easily that it breaks apart when penetrating a human body.

      •  

        Menambahkan.

        Kepolisian di negara2 lain sangat umum menggunakan JHP (jacketed hollow point). Alasannya adalah utk maximize stopping power (massive energy transfer) dan to minimize over-penetration effect. Bila bullet KE bisa disalurkan sebanyak mungkin ke tubuh sasaran tembak utama, maka bullet mungkin tidak akan over-penetrate, dan kalaupun over-penetrate bullet sudah kehilangan most of its energy and velocity, shg menjadi “less lethal” utk innocent by-standers yg mungkin berada di belakang sasaran utama.

        +P adalah terminology yg merujuk pada chamber pressure dari ammunition w.r.t. the maximum spec. Setiap ammunition caliber memiliki maximum ppressure yg digariskan oleh SAAMI (utk USA). Maximum pressure ini digunakan oleh gun manufacturers utk merancang senjata mereka agar mampu menahan pressure pada tingkat ini. Akan tetapi, kadang2 diperlukan more power than what the maximum pressure can give us (chamber pressure is correlated with muzzle velocity). So they increase the load by 10% and call the ammunition as +P.

        US police sangat umum membawa +P ammo, terutama bila mereka menggunakan 9×19. I have not seen +P load in 40 S&W. Utk 45 ACP ada +P load, namun banyak orang (termasuk saya) yg memandang ini not necessary (karena 45 ACP sudah memiliki a very large bullet mass to begin with, so you don’t have to worry about penetration). Caliber lain yg banyak tersedia in +P adalah 38 Special.

        Why +P? Karena JHP sering membutuhkan high impact velocity to expand reliably. Oleh sebab itu maximizing the muzzle velocity is viewed as a good way to get this.

        Semua handguns in 9×19 yg saya bawa as my concealed carry piece berisi +P ammo. Demikian pula istri saya yg membawa 38 Special. She has +P ammo in her revolver.

    •  

      Dari yg saya baca, mahasiswa ITS ini menggunakan copper. Tetapi saya tidak menemukan detail apakah dia menggunakan solid copper atau copper particles. Frangible bullet biasanya menggunakan core yg dibentuk dari metal particles yg di pressed. Namun lead-free hunting bullets biasanya dibuat dgn menggunakan solid copper core atau copper alloy.

      Frangible dan green bullets sudah lama ada. Penggunaan copper sebagai core menggantikan timbal pun sudah lama dilakukan utk menghasilkan lead-free bullet. Ini salah satu artikel lama yg bisa dibaca:

      http://www.firearmsid.com/Feature%20Articles/GreenBullets/GreenBullets.htm

      Kalau anda baca di artikel di atas, maka metal particles yg digunakan adalah tungsten yg lebih dense dibandingkan steel. Tungsten adalah core material yg digunakan di NATO spec SS-109 bullet (di US dipakai di M855 ammunition) yg sering disebut sebagai “mild penetrator”. Tungsten lebih keras dari steel shg SS-109 memiliki better penetration ability against solid barrier (steel helmet, old-style Warsaw pact body armor, etc.) Namun SS-109 tidak dikategorikan sebagai ‘armor piercing’ karena dia masih menggunakan lead utk konstruksi bullet core (in addition to tungsten).

      Satu hal yg perlu diperhatikan oleh mahasiswa ITS ini adalah the lower density of copper dibandingkan lead. Bila dia menggunakan copper utk menggantikan lead, maka bullet core yg dihasilkan akan memiliki density yg lebih rendah. This means … bila dia ingin memproduksi bullet yg memiliki berat sama dengan conventional bullet (with lead core) maka bullet yg dia hasilkan akan menjadi lebih panjang (assuming they are from the same calibers). Sebaliknya, kalau dia ingin match the length of the conventional bullet, maka bullet baru yg dia hasilkan akan memiliki berat yg lebih ringan.

      Panjang dan berat dari bullet akan mempengaruhi ballistics properties dari bullet tsb, dan juga mempengaruhi rifling twist requirement yg diperlukan to stabilize the bullet when it is fired from the gun. Longer bullet membutuhkan tighter rifling twist. Jadi kalau si mahasiswa ini membuat all copper bullet dgn berat 55 grain (sama dgn berat M193 bullet spt yg dipakai di M16A1), maka belum tentu the 1:12 twist rate pada M16A1 akan mampu utk stabilize the all copper 55 grain bullet karena his bullet will be much longer compared to the M193 bullet that the M16A1 was designed to use.

      Jadi pertimbangan material pengganti timbal dalam merancang lead-free bullet harus juga memperhitungkan the change in ballistics properties of the new bullet and the guns that will shoot the bullets.

      •  

        Nah itu om Garand, dia baru lomba karya tulis..
        Setelah dapat kontrak dari TNI baru dia diibina di Puslitbang TNI AD untuk mengembangkan karyanya tersebut. Maaf nih om garand, ane gak terlalu ngerti tentang peluru, tapi terima kasih banyak sudah dibantu.

      •  

        Kalau peluru artileri yg saya tulis dibawah gimana om Garand?? saya akan kasih detailnya.

        •  

          MKB yg anda tulis itu kan hanya mencakup casing saja (selongsong). Sedangkan artikel di atas kan membicarakan ttg projectile. Jadi tentu berbeda. Casing stays behind, projectiles fly away.

          •  

            Ok siap om, sebenarnya mau nanya tentang teknologi semi solid… Tapi gak nyambung ya okeh deh om, thanks om sudah bantu..

          •  

            Mungkin anda bisa jelaskan ttg teknologi semi-solid. Saya bukan orang metallurgy.

          •  

            Ok om, mohon maaf kalau kata2 saya menyinggung anda… tadinya saya mau nanya kalau proses semisolid untuk pembentukan adakah bahan lain selain kuningan… saya juga bukan ahli metallurgy saya gak terlalu ngerti juga cuman suka baca hasil pengembangan peneliti kita aja.

            Tadinya saya mau nanya, mungkin om garand tahu… Tapi maaf ya om

          •  

            Kalau ingin melihat material lain yg bisa digunakan sebagai bahan selongsong selain brass, ya sudah banyak kok selongsong yg dibuat dari mild steel (negara2 eastern bloc suka pakai steel casing), lalu aluminum (saya baru lihat di handgun caliber sih, belum pernah lihat yg rifle or larger calibers), dan … polymer. Sekitar 12-15 th yg lalu ada upaya utk membuat casing utk 5.56×45 yg terbuat dari polymer dengan sedikit brass di case head. Bisa sih dipakai, namun reliability kurang memuaskan. Jadi produk ini mati. Saya masih simpan barang 20 butir ammo yg pakai polymer casing ini.

            Kalau utk large calibers sejauh ini saya baru nemu selongsong yg pakai brass. Tapi kalau sudah caliber besar sekali (spt battleship’s main guns) maka mereka tidak lagi menggunakan selongsong. Jadi projectile dan propellant dimasukkan dalam package yg terpisah ke dalam chamber.

  14.  

    Kebetulan ngomongin peluru, saya kasih sedikit gambaran tentang pembuatan Munisi Kaliber Besar (MKB) sejak beberapa tahun lalu. Saat ini tim peneliti kita lagi membuat selongsong kaliber besar dengan harga lebih ekonomis baik dari segi investasi atau biaya proses. Pengembangannya menggunakan teknologi semisolid, dengan adanya pengembangan ini kedepan bahan baku kuningan untuk munisi kaliber besar akan memudahkan pengadaan pasokan bahan baku dan pembuatan selongsong di dalam negeri.

    Kenapa harus dikembangkan?? Kalau warjager mau tahu harga per buah kaliber besar itu sekitar Rp. 10 juta – Rp 30 juta. Bayangkan kalau latihan berapa ratus juta hilang itu belum devisanya. πŸ˜€

    Ini tim lagi test…

  15.  

    keren, hasil RnD asli mahasiswa indonesia, semoga bisa diaplikasikan ke munisi2 pindad nantinya

  16.  

    Wew.. penggunaannya apakah sama dengan hollow jacket bullets bung diego? HJB juga fungsinya sama untuk menghindari collateral damage dari efek ricochet atau tembus badan dan melukai sipil.. cuman kayaknya ini lebih ngeri.. soalnya kemungkinan besar peluru akan pecah dalam tubuh dan efek terhadap korban ga kebayang..!!! Kemungkinan selamat nya kecil kalo kena tembak peluru ini..

    •  

      Kayaknya sama, soft bullet. Kopassus menggunakan jenis peluru ini (soft bullet) saat pembebasan pesawat garuda di Don Muang, Thailand. Tapi peluru seperti ini ada masa kadaluarsanya.

      Pak Sintong pernah cerita, soal fragmen peluru soft bullet ini. Setelah merasa dapat ijin dari Pak Harto, Jenderal Benny Moerdani, memerintahkan pasukan Pak Sintong, untuk bersiap berangkat ke Thailand. Mereka akhirnya berkumpul di bandara halim.

      Sebelum berangkat Jend Benny, bilang: “Sintong, sudah kau coba senjata dan pelurumu”. Pak Sintong bilang: “Belum, tiap hari mereka latihan menembak”.

      Coba dulu, ujar Benny.

      Sintong memerintahkan pasukannya mencoba peluru baru itu di sekitar bandara halim. Pas ditembakkan, peluru tidak keluar. Dicoba beberapa kali tidak bisa.

      Sintong lapor ke Benny: “Tidak bisa ditembakkan”. Jenderal Benny tampak bingung, mengapa senjata itu tidak bisa ditembakkan, sementara pasukan harus bergegas berangkat dari halim ke ke Don Muang.

      Jenderal Benny, cari tahu. Tak lama kemudian, barulah diketahui penyebabnya. Peluru yang mereka pakai, peluru khusus, soft bullet dan sudah kadaluarsa. Soft bullet diganti dengan yang baru dan akhirnya bisa ditembakkan. Lalu berangkat mereka ke Don Muang Thailand dipimpin Pak Sintong.

      Diceritakan Pak Sintong, beberapa tahun lalu kepada saya.

      •  

        Terimakasih pencerahannya bung diego semoga selalu diberikan kesehatan..
        Iya kayaknya bung diego, dan ternyata U.S. Marshals juga pake nie peluru untuk mengatasi hijackers pesawat selain pake HJB..

      •  

        Bung diego mendengarkan cerita pak sintong dimana ?
        Dirumahnya atau dibengkel mobil milik anaknya ? πŸ˜€

        Sepertinya ceritanya kebalik itu bung diego ,yang ngotot mencoba peluru adalah pak sintong
        Mencoba peluru low velocity 9mm itu berkaitan dengan pembagian senapan H&K MP 5 SD 2 kepada team anti teror sebelum berangkat ke Muangthai untuk menggantikan M16 A1 mereka,
        Pak Sintong sempat menolak dan menginginkan mencoba dulu MP 5 dengan menembakkan MP 5 tersebut ke sebuah Tanggul yg digunakan sebagai menahan exhaust mesin jet di Halim PK dan hasilnya semua senjata MP 5 baru tersebut macet karena peluru 9mm Low velicity ini tidak tahan disimpan terlalu lama ditempat yang berkelembapan tinggi

        Maka Letkol Kuntara diperintahkan mengambil peluru 9mm di kantor asisten intel di Tebet ,peluru pengiriman terbaru karena tiap enam bulan sekali menerima kiriman beberapa peti peluru low velocity dari Jerman Barat,.dan setelah mencoba dengan peluru yang paling baru ,MP 5 bisa menyalak dengan sempurna

        maaf kalau salah bung diego

    •  

      Iya, kurang lebihnya seperti itu Bung Satrio. Ketemu beliau di Jakarta.

  17.  

    ada orang2 yang ahli membuat proyektil seperti ini,, bysnya mereka bekerja sebagai pnde besi,, hihihi…

    peluru SEPERTI INI BISA BERBAHAYA kalo di tangan org yg salah.. hehe bcanda,,

  18.  

    kebetulan aku pernah pernah pegang2 tuh pelor di kodam brawijaya waktu peringatan hari juang kartika……heeeeee

  19.  

    Sebaiknya pemerintah mengadakan lomba menciptakan inovasi dan penemuan baru persenjataan tingkat perguruan tinggi,sy yakin dgn kemampuan putra putri indonesia bisa diciptakan senjata2 canggih bwt mempertahankan NKRI,senjata baru misalnya senjata laser,pelumpuh otak musuh,bom elektronik,dll

  20.  

    Kami menyarankan agar para mahasiswa/penemu utk alutsista TNI pemerintah memberikan tanda jasa, spt Jerman memberikan siapa saja yg berjasa kepada negara/angkatan mendpt tanda jasa dan akan memberikan kebanggaan tersendiri terhadap anak2 bangsa yg sudi memberikan sumbangsih utk kemajuan alutsista TNI. Contoh, Pres NKRI mendpt penghargaan dr pemerintah Inggris, termasuk BJ Habibie dr Jerman Salam……………………

    •  

      Ide bagus ….dgn mendapat penghargaan akan menambah motivasi2 anak negri utk berkontribusi trutama dlm hal Riset yg berkaitan dgn Pertahanan/Militer…. ide layak utk dipertimbangkan oleh pemerintah.

  21.  

    Hmm.. cukup inovatif…
    Gimana kalo Pindad juga mengembangkan peluru yang terbuat dari es?.
    Setelah jaringan tubuh tertembus peluru ini, peluru tsb akan langsung mencair di tubuh korban dan hanya akan meninggalkan jejak air saja dengan kerusakan jaringan yang cukup parah…

    Yang mengotopsi pasti akan bingung…….

  22.  

    Assalamualaikum wr.wb
    Lalu bedanya dengan peluru sniper apa?
    Katanya dulu TNI pernah beli senjata sniper dari luar dengan spesifikasi bahwa peluru sniper tersebut cuma merusak target dan tidak sampai tembus ke belakang target.
    intinya bila ada si A dan si B sejajar dalam posisi jalur peluru, dan target adalah si A dimana si B di belakang A, maka peluru tersebut hanya mengenai si A saja.
    kalau sniper biasa bisa jadi si A dan si B bisa kena karena dalam 1 alur tembakan, dan hasilnya sama-sama mokad πŸ˜€
    mungkin ini juga menghindari letak dimana posisi tembakan.

    kalau salah ya maaf πŸ˜€

  23.  

    Yang membuat bangga bukan hanya bang Vicko saja, pemerintah dalam hal ini TNI dan Pt.PINDAD juga membanggakan karena mengadakan sebuah lomba dan langsung merespon sebuah ide maupun karya dari peserta untuk ditindak lanjuti..
    Saya tidak tahu mulai kapan pemerintah melakukan hal semacam ini, tapi saya merasa bahwa apa yang selama ini menjadi kegelisahan dan keinginan setiap forumer, warjager dan kaskuser tentang kerjasama antara pemerintah dan mahasiswa terjawab sudah..Dan kekhawatiran kita tentang seorang mahasiswa atau SDM yang berilmu dan berkualitas akan lari ke luar negeri atau memilih bekerja dengan asing sedikit terkikis..
    Kiranya kedepannya nanti dan seterusnya pemerintah dapat membuat event-event seperti ini lebih sering lagi, agar pemerintah dapat mengetahui potensi-potensi yang ada dalam diri seorang mahasiswa maupun individu yang mungkin akan berguna untuk kemajuan bangsa..
    Saya sebagai warga negara mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang sudah mau dan mulai mengapresiasi sebuah hasil dari intelektualitas, dengan begitu kemajuan dan kemandirian yang diidam-idamkan oleh segenap warga negara Indonesia bukanlah hanya sebuah impian semata..
    Salut dan pantas mendapatkan standing tapuk tangan dari warjager untuk kedua pihak..
    Bravo Indonesia !

  24.  

    tiap tahun harus diadakan sayembara terutama untuk metalurgi, bahan bakar roket, bahan peledak,radar, navigasi, software.

    [URL=http://lookpic.com/O/i2/671/kcxG5NkT.png][IMG=http://lookpic.com/O/t2/671/kcxG5NkT.png][/URL]

  25.  

    mirip dengan peluru yang dipakai tentara sovyet waktu menginvasi Afganistan dulu. Pejuang Mujahiddin yg tertembak dengan peluru tsb, biasanya sukar di selamatkan. dokter dan paramedis akan angkat tangan untuk mengeluarkan serpihan peluru dari tubuh si korban.

  26.  

    Tentara Negara Indonesia…
    Besok mungkin ada Tentara Nanggroe Indonesia, ato Tentara Nagari Indonesia juga boleh.

  27.  

    Photo yg dicantumkan di artikel di atas :
    http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2014/04/frangible-2.jpg

    bukan representasi dari hasil pecahan frangible bullet. Serpihan2 yg ditunjukkan berasal dari conventional design bullet yg menggunakan lead core. Fragmentasi spt ini terjadi bila conventional bullet menghantam hard surface (spt steel backstop pada indoor shooting range). Frangible bullet masih menggunakan copper jacket, namun core yg digunakan dibentuk dari non-lead metal particles. Core pada frangible bullet akan pecah menjadi particles bila peluru menghujam ke permukaan yg lebih keras.

 Leave a Reply