Mei 082019
 

KRI Raden Eddy Martadinata (331)

Light fregat teranyar KRI RE Martadinata milik Angkatan Laut Indonesia baru saja menginstal meriam otomatis Oerlikon Millenium 35 mm.

Meriam otomatis yang mampu menyemburkan amunisi sebanyak 1000 butir permenit ini selain akan menjadi senjata pertahanan udara jarak dekat juga dapat berfungsi sebagai senjata meriam kedua.

Dengan amunisi berjenis Advanced Hit Efficiency And Destruction (AHEAD), Oerlikon dapat menghadang berbagai macam serangan yang mengancam kepal perang, seperti rudal, roket, amunisi dan mortir. Selain itu amunisi AHEAD mampu menghadang target yang sangat kecil seperti drone mini ataupun drone bunuh diri.

Kapal perang KRI RE Martadinata ini akan segera menggantikan jajaran fregat Van Speijk (Ahmad Yani class) saat sudah mulai dilengkapi persenjataannya.

Video oleh PT PAL

 Posted by on Mei 8, 2019

  25 Responses to “Fregat KRI RE Martadinata Dilengkapi CIWS Oerlikon Millenium”

  1.  

    Semoga segera lengkap semua persenjataanya.
    Dan semoga ditambah lagi unitnya jadi 30 unit .

  2.  

    Cwisnya gede bener. Harusnya pasang dua tuh.

  3.  

    Kalo cuma di depan kok nanggung coz bagian belakang ada celah buat rudal musuh menghujam kapal kalo di pasang dua meriam oerlikon 35mm gk kuat di ongkos mungkin di belakang bs di pasang ak-630, palanax atau goalkeeper.

    •  

      Kapalnya gak terlalu besar bung. Mubazir dilengkapi 2 ciws. Dipertimbangkan jg bobot keseimbangan kapal. Bukan sekedar main pasang saja. Krn berkaitan dng manuver kapal nantinya.

      Yg pertama, jika ancamannya brupa pespur, kan ada vls mica yg luncurannya vertikal namun setelah meluncur bisa ngarah 360 drjat.
      Yg kedua, jika ancamannya berupa rudal oerlikon ini bisa 180 drajat, jd cukup manuver 90 drajat utk menghadang ancaman dr belakang yg terdeteksi radar. Manuver kapalpun bisa cpt dijalankan dlm hitungan detik. Toh rudal gak mungkin nyamber dlm sedetik setelah diluncurkab toh.?
      Yg ketiga, saat dlm medan perang pun nih kapal pasti gak pergi sendirian pastinya beserta dkk. Dan musuhpun sdh terprediksi maupun diperkirakan arah kedatangannya berkat bantuan radar dan gps. Jd gak mungkin musih tiba2 nongol dr belakang, itu hanya bisa terjadi waktu ente masih kecil main perang2an dikampung dng anak tetangga kan?

      •  

        Setuju bang Ruskye cuma dalam kondisi perang segala kemungkinan bisa saja terjadi, terpaksa light fregat Sigma kita harus layar sendiri karena sesuatu dan lain hal, setelah sea combat bisa saja ada kerusakan yang buat kapal tidak lagi bisa full manuver lincah saat dalam perjalanan utk perbaikan tiba2 ada pesawat tempur entah dari mana luncurkan rudal atau bisa jadi beberapa rudal menyerang dari banyak posisi namanya juga perang, nah saat itu KRI harus tetap mampu melawan kan ndak ada kesepakatan dengan musuh yg serang satu pesawat saja atau harus battle sea one by one….dan setelah tembak sasaran saat amunisi habis kalau ndak salah butuh waktu utk pasang catridge amunisinya belum lagi oerlikon tidak bisa ditembakkan terus menerus harus ada jeda kalau ndak mau meleleh larasnya nah saat itu harus ada spare senjata yg ready to fire

        •  

          Dalam satuan tempur kapal, disitu pasti ada Destroyer, frigate, corvet, kapal logistik dan kapal bawah permukaan alias kapal selam bung. Itu berlaku dari perang tempo dulu sampe dng perang moderen.

          Tidak dan blom pernah dlm sejarah ada satu kapal tempur pun yg berani berlayar secara solo pergi ke medan pertempuran.. Makanya di kita ada Armada Timur ada Armada Tengah dan ada Armada Barat. Satuan gugus Armada inilah yg bertanggung jawab mengamankan wilayah tanggung jawab mereka dan yg nantinya akan diberangkatkan jika ada pertempuran……ingat bung “pertempuran” bukan ancaman.

          Kalo sdh bicara pertempuran berarti bahasan para perwira sdh memperhitungkan kekuatan dan aset lawannya beserta aspek serangan udara dan serangan permukaan dan bawah permukaan yg akan dilakukan lawan. Dr hitung2an aspek serangan tersebutlah maka disusun satuan kapal perang yg diberangkatkan utk menghadapi musuh. Kalo sdh demikian mustahil.mengirim satu kapal saja utk berperang bung.

          Jadi kita jng berpikirnya bahwa kapal kita akan diserang dari kanan kiri, depan belakang spt imajinasi kjta. Bukan spt itu bung

          Beda lg kalo hanya menghadapi ancaman, biasanya masih berurusan dng diplomatis, ini yg dikerahkan memang hanya 2 kapal patroli biasanya.

          Bung coba baca lagi ulasan pertempuran laut aru yg menewaskan komodor yos sudarso, dan pertempuran laut jawa antara Sekutu dan Jepang.

      •  

        Menambahkan saja dari bang, KRI ini teknologinya OK punya, musuh nun jauh disana pun ke detek, apalagi ada rudal meluncur datar di permukaan laut…Kalau sudah ketambahan 1 meriam otomatis oerlicon 35mm, wahhh bisa di bayangkan kalau bertarung di laut….musuh di udarapun bisa kena….ini KRI sudah sangat galak….

      •  

        Harusnya tetap pasang 2 Cwis aja. Pasang Phalanx aja yg lebih ringan. Bayangkan kalo dalam serangan salvo rudal Cwis depan kehabisan peluru, itu kalo ngisi lagi butuh waktu sekitar 3-5 menitan tergantung keterampilan awak. Walaupun ada 1 eskorta kalo kehabisan peluru ya percuma. Kalo ada 2 yg satu ngisi yg satu nembakin. Kalo mau sih sekalian bangun kapal Destroyer jadi senjata yg diangkut bisa lebih banyak.

        •  

          Emang satunya di pasang dimana??? belakang?….berat di belakang kalau ada momen gaya dari efek tembakan….bisa njengat kapalnya…goyang-goyang senggol….wkwkwkwkwk

          •  

            Emangnya seberat apa sih hentakan tembakan Phalanx dibanding berat kapal, orang beratnya Cwisnya aja cuman 1/200an. Masih kuat lah REM.

          •  

            Gimana sih agato ini, coba sekali2 mampir masuk ke dalam kaprang…lihat bagian buritannya…tengok di dalamnya…pasti loe jadi paham….mentang-mentang hidup di dalam gua….

      •  

        Takut menggangu kinerja kapal yah… memang desain awal Sigma PKR yah pake Milennium gun… PKR memiliki desain semi stealth yakni low radar cross section, low infrared signature, low noise signature menjadikan kapal PKR rada sulit terdeteksi oleh radar kapal lain… Takutnya kalau ganti Ciws mungkin malah meningkatkan rcs kapal ini… Kalau mau ditambah untuk perlindungan kapal tapi tidak menggangu kinerjanya sy rasa cukup pake light naval gun Berkemampuan anti air yg bagus seperti MLG 27… Korvet jerman selain pake RAM juga pake itu… Lagian Nih PKR punya Super Rapid gun sebagai Main canon yg memiliki kemampuan anti air yg bagus juga kok…

      •  

        Di formil lain banyak membandingkan REM 331 dgn fregat vietnam, hasilnya REM 331 menang di sendor sedangkan fregat vietnam menang di persenjataan karena mampu meluncurkan rudal kalibr untuk menghancurkan sasaran di darat.

        •  

          Lah Yakhont dipasang di REM pake VLS juga bisa kok. PAL udah jago modif. Jangkauan Yakhont ama Kalibr varian ekspor juga sama kok. Tapi kalo mau pake Exocet juga gpp secara REM jauh lebih Stealth daripada fregat Vietnam.

  4.  

    Anyar sekali ini! Musuh sekecil atau sebesar apapun bakalan lewat! Top dehhhh

  5.  

    Kapal Perang Destoyer juga harus segera Dibuat / Dipesan…Dengan Persenjataan yg lengkap…Anti serangan Udara , Anti Kapal selam dan Peperangan Elektronik….Karena Indonesia adalah Negara Maritim dan Lautnya sangat Luas….

  6.  

    Martadinata udah… I gusti ngurah rai gimana Di pasang milennium juga ga nih??

  7.  

    Bravo