Mar 062018
 

Citra komputer fregat Angkatan Laut Filipina. © HHI Korea Selatan

JakartaGreater.com – Setelah selesai dibangun dan dikirim, sepenuhnya berfungsi pada tahun 2020, dua kapal perang rudal yang dibeli dari Hyundai Heavy Industries (HHI), akan berfungsi sebagai platform rudal anti-udara pertama Angkatan Laut Filipina.

Ini sebagai tanggapan dari Komandan Angkatan Laut Filipina, Laksamana Muda Robert Empedrad saat ditanya apakah PN (Philippine Navy) memiliki “kemampuan anti-akses atau area” saat dengar pendapat dengan Senat mengenai Proyek Akuisisi Frigate (FAP) pekan lalu, seperti dilansir dari laman Kantor Berita Filipina.

“Dalam inventaris PN saat ini, kita tak punya kemampuan untuk melakukan penyangkalan udara. Kita tidak punya kemampuan rudal anti-udara yang bisa menembak pesawat yang masuk. Kecuali fregat baru kita pesan, ini akan menjadi yang pertama kalinya bahwa kita memiliki kemampuan untuk melakukan penyangkalan udara”, tambahnya.

Fregat yang saat ini sedang dibangun oleh HHI, akan dipersenjatai dengan senjata yang mampu menetralkan ancaman permukaan, sub-permukaan dan ancaman udara selain memiliki kemampuan peperangan elektronika.

Desain fregat Angkatan Laut Filipina merupakan varian dari HDF-3000 buatan Hyundai Heavy Industry, Korea Selatan. © Roy Kabanlit via Wikimedia Commons

Kedua fregat yang disebutkan diatas dibeli Filipina dari Hyundai Heavy Industry, Korea Selatan seharga 18 miliar Peso atau sekitar $ 347,4 juta, dan sudah termasuk amunisi dan sistem persenjataan lengkap.

Dalam dengar pendapat Proyek Akuisisi Frigate (FAP) tersebut, isu tentang merek dari sistem manajemen tempur yang akan dipasang juga termasuk dalam pembahasan.

Berbagi

  15 Responses to “Fregat Modern Filipina Adalah Platform Anti Udara”

  1.  

    BUNGKUS

  2.  

    radarnya kurang byk, hanggarnya kurang besar.

    ga ada vls….ini jelas bukan feigat, tpi masuk ke light frigat

    •  

      Jika hanggarnya kurang besar maka hanggar Martadinata class juga kurang besar karena sama2 menampung helo 10 ton. VLS nya 8 dan lebih banyak.

      FYI mereka membelu Full Armament so mawas diri lah sebelum mencela orang lain:

      HHI Filipina frigate:
      Hanggar
      15.6m x 7.24m x 5.7m (free space) + space appurtenances = berat max hello = 10 ton

      Search radar:
      Hensoldt TRS – 3D multi-mode phased array C-band radar
      Navigation radar:
      Kelvin Hughes SharpEye I, E/F band radars
      Fire control radar:
      Selex ES NA-25X fire control radar

      Berat:
      HHI Filipina frigate: 2600 ton
      Kyan Sittha-class Myanmat frigate; 3000 ton
      Martadinata-class frigate: 2365 ton

      VLS:
      HHI Filipina frigate: 8
      Kyan Sittha-class Myanmat frigate: 6
      Martadinata-class frigate: 12

  3.  

    Korea beruntung sejak RI beli alutsista buatannya negara lain jd ikut membeli. Fregat TNI AL kpn jdnya ya? Apakah Ivert jd dibeli?

  4.  

    Kelihatannya masih murah kelas Martadinata kita….antara harga dan isian yg didapat…mungkin ada yg lebih tahu silahkan ditambahi..

    •  

      Klau Harga Sudah Jelas Punya Philipin Lebih Murah. Nilai Kontraknya Proyek Fregat Masa Depan Pinoy Untuk 2 Kapal Ke HHI Cuma 308 Jt USD Sedangkan Dulu Proyek Pengadaan Sigma 10514 Kita Per Unitnya 220Jt USD Dan Untuk Spek Keduanya Hampir Sama “Mungkin” Untuk Sensor Punya Pinoy Lebih Unggul. Tapi Wajar Lah Sigma Lebih Mahal Karena Ada ToT Nya.

  5.  

    Indonesia is looking to build the BTR-4 for Korps Marinir (IMF)

    Indonesia and Ukroboronprom, Ukraine’s state-owned defence industry holding group, are expected to commence talks before the end of the year focused on the Southeast Asian country’s licenced production of the BTR-4 8×8 amphibious wheeled armoured personnel carrier (APC).

    There are also understood to be amphibious APC requirements in the Indonesian Army (TNI-AD).

    “After official acceptance we will talk about expanding technology transfers to Indonesia and about expanding the order,” said a Ukroboronprom official. “We know [KORMAR] has a requirement for another 50 vehicles. This could mean some of these vehicles are built in Ukraine followed by technology transfers and local production in Indonesia.”

    The official added that this programme could expand even further if the TNI-AD’s interest in the vehicle results in an order.

    The BTR-4s delivered to the KORMAR have been equipped with one ZTM-1 30 mm automatic cannon as a primary weapon, and complemented with one AGS-17 30 mm automatic grenade launcher. The vehicles, manufactured by the Kharkov Morozov Machine Building Plant in Ukraine, have also been equipped with a nuclear, biological, and chemical (NBC) filtration system

    Lumayan udah beli 100 BTR nya utk Marinir…
    Jaya TNI

  6.  

    Bagus juga punya…tni Al…apalagi kalo udah weapon nya sudah komplit.

  7.  

    Melihat langkah filiphin dlm pembelian alusista dan ancaman laut yg di hadapi bisa jadi fhilipin kelak bisa jadi salah satu negara dgn alusista terhebat

 Leave a Reply