Frigate Iver Huitfeldt Segera Gunakan Rudal SM-2 Blok IIIA

48
21
Peter Willemoes (Foto : Skyaviator.dk)
Peter Willemoes (Foto : Skyaviator.dk)

Pendanaan untuk memperoleh suplai rudal jarak menengah Standard Missile-2 (SM-2) Blok IIIA untuk frigat Iver Huitfeldt class adalah prioritas utama Angkatan Laut Denmark / Royal Danish Navy’s (RDN’s), ujar senior officer kepada IHS Jane.

Berbicara di kapal perang HDMS Peter Willemoes (F 362), Iver Huitfeldt class, saat mengunjungi pelabuhan Baltimore, Maryland, AS, 18 November 2016, Kepala Staf Angkatan Laut Denmark, Laksamana Frank Trojahn juga mengindikasikan bahwa keputusan itu akan dibuat pada perencanaan pertahanan rudal balistik frigat yang akan diupgrade pada tahun 2018.

Ditugaskan antara Januari 2014 dan Maret 2015, tiga frigat Iver Huitfeldt class – HDMS Iver Huitfeldt, Peter Willemoes, dan HDMS Niels Juel – menggunakan : Thales Nederland-supplied Anti Air Warfare System (AAWS), digabungkan dengan active phased array multifunction radar (APAR) I/J-band multifunction radar, the Signaal Multibeam Acquisition Radar for Targeting (SMART)-L D-band volume search radar, dan associated fire-control cluster, with Terma’s C-Flex combat management system (CMS).

Kapal perang ini juga dapat dilengkapi dengan Vertical Launching Systems (VLS) 4×8 cell yang mampu menembakan berbagai Standard Missile.

HDMS Peter Willemoes (F 362)
HDMS Peter Willemoes (F 362)

Modul AAWS serupa telah diinstal pada empat frigat air-defence and command De Zeven Provinciën, Royal Netherlands Navy Belanda, dan pada tiga frigat air-defence F 124 Sachsen-class Jerman.

anti-ballistic-missiles

Radar APAR radar mendasari kemampuan AAWS untuk menghadapi beberapa ancaman simultan dengan menggunakan semi-aktif radar homing RIM-162 Evolved SeaSparrow Rudal (ESSMs) dan rudal SM-2 Blok IIIA yang disesuaikan untuk kompatibilitas interrupted continuous wave illumination (ICWI) guidance mode. ICWI mengeksploitasi kemampuan APAR untuk mengirimkan serangkaian discrete illumination pulses yang dapat dengan cepat di-switch ke antara beberapa sasaran, menyediakan energi homing diperlukan untuk memandu beberapa rudal ke target yang masing-masing telah ditetapkan.

Sumber : Janes.com / IHS Jane

Link Terkait :

Menteri Pertahanan Ryamizard Cermati Frigate Iver Huitfeldt
Delegasi TNI AL Kunjungi Frigate Iver Huitfeldt Class Denmark
Akankah Indonesia Membangun Frigate Iver Huitfeldt Class ?
Denmark Tawarkan Pembangunan Frigat Iver Huitfeldt di Indonesia

48 KOMENTAR

  1. Sekedar mau nanya ini ada depr sonarnya nggk buat ngelacak submarine ? Klw nggk ad mending nggk usah beli atau minta spek anti submarine atau multipurpose karena indonesia lebih sering kemasukan kapal selam negara asing dan kapal selam sangat sulit dilacak ditambah Indonesia memiliki lautan yg sangat luas lagi setidaknya dengan adanya frigate anti submarine dapat mempersempit gerak gerik kapal selam negara lain.

  2. Frigat iver biasa saje..
    Standar standar frigate saje.
    Kemampuan iver masih dibawah frigate negara utama eropa

    Saran sultan kepada menhan indonesia

    1.utamakan/maksimalkan kerjasama maupun pembelian alat perang/senjata strategis pd negara produsen utama teknologi.

    2.Segera bentuk kerjasama penelitian dan produksi alat perang bersama malaysia tailand dan filipin
    3.segera ambil alih pengelolaan dan pengawasan selat malaka dari singapura.
    4.sekian

    • Oh ternyata bisa CURHAT juga,…. setelah diteliti komen anda pd poin ke 2 knapa butuh indonesia untuk penelitian / produksi ?

      Singapur itu negara YAHUDI Asia mudah saja ditaklukan tanpa NKRI melalui beberapa SANKSI Ekonomi dan pemutusan Bilateral tuh negara Ngemis sendiri jadi miskin

  3. Komentar yang posistif dan jangan meremehkan kekuatan tentara kita…Sampai saat ini saya masih percaya pada strategi yang dibikin oleh TNI. Size kapal tidak menentukan sepenuhnya kemenangan perang. Destroyer KORSEL tenggelam oleh Midget KORUT, 2 kapal Malaysia lari oleh 1 orang KOPASKA. Negara kepulauan kita adalah benteng yang kuat untuk pertahanan, strategi yang dianut oleh TNI-AL adalah “WOLF PACK” diibaratkan Wilder Beast yang besar dikeroyok oleh sekelompok Hyena. Jika ada destroyer yang masuk perairan maka dia akan berhadapan dengan 4-6 KCR yang bersembunyi diantara pulau-pulau kecil dengan 1 light frigate sebagai induk, KCR akan menembak dari berbagai sudut kemudian HIT and RUN sebagai bagian dari gerilya laut…Dengan bentuknya yang kecil, manuver lincah prosentase perkenaan hanya mencapai 75 %. Dan jikapun tenggelam harga yang dikeluarkan oleh musuh dengan mengirim rudal lebih mahal jika dibandingkan dengan harga KCR, setelah amunisi Destroyer terkuras baru Frigate masuk.
    Oleh karena itu kita ngotot TOT C-705 dan jangan kuatir jika negosiasi gagal……..sudah ada RBS….
    Jayalah TNI

    • yes boss,… kitorang mau tanya dia (SULTAN) knapa indonesia yg mengajak bukan negara mereka yang mengajak mesti hati-hati memahami itu? kalau otak sangat encer kayak anda mudah jintik jemari buat kata-kata tentang pemahaman strategy perang (LOGIS) greliya laut…. tapi relity beda dilapangan, konsep perang dengan MALON masih setengah hati, kejadian di AMBALAT buktinya, itu bukan strateghy greliya laut, itu murni semangat TENTARA kita menjaga kedaulatan. ketika strateghy perang terjadi jelas nyata musuh nya dan artilerinya.maaf lagi GALAUUU hahahaaaa

    • Saya kutip dari @chauvinism
      “Jika ada destroyer yang masuk perairan maka dia akan berhadapan dengan 4-6 KCR yang bersembunyi diantara pulau-pulau kecil dengan 1 light frigate sebagai induk, KCR akan menembak dari berbagai sudut kemudian HIT and RUN sebagai bagian dari gerilya laut”

      Xixixi sekelas Destroyer sudah bisa melihat KCR jauh sebelum KCR melihat destroyer. Yang ada KCR udah dirudal terlebih dahulu oleh destroyer, sedangkan KCR masih bengong ngopi-ngopi.

      “Hit n Run”? Kecepatan KCR 28 knot melawan rudal yang mencapai 600 knot?

      “Dan jikapun tenggelam harga yang dikeluarkan oleh musuh dengan mengirim rudal lebih mahal jika dibandingkan dengan harga KCR”
      Harga rudal anti kapal kisaran 2 juta dolar (Rp 27 M). Sedangkan KCR-60 mencapai Rp 200 M

      “setelah amunisi Destroyer terkuras baru Frigate masuk.”
      Xixixi kapal sekelas destroyer itu gudangnya amunisi. Bagaimana ceritanya hanya melawan 4 KCR bisa kehabisan amunisi?

  4. beli kapalnya aja sih murah, beli sensor dan radar mungkin msh d kasih ma belanda, tp bwt rudalnya yg SM-2 pasti ndak dibolehin ma USA
    lbh bagus PKR sigma trus rudal boleh dr mana aja
    misal PKR 1-6 pake sistem eropa, trus bikin PKR advance Nav 2 diinstal rudal rusia
    saya yakin PT PAL pati bisa berimprovisasi seperti pada program LPD

  5. Yang penting rudal…rudal…rudal di tambah banyak….kalau terjadi perang yang panjang…stok logistik rudal masih mumpuni….kapal banyak, stok rudal terbatas…di tembak lawan, ngak punya rudal, rudal cuman 2, nembak musuh meleset, ganti di hajar, tenggelam juga akhirnya. Sebelum itu terjadi, pasokan rudal harus di jamin ada dan tersedia untuk pertempuran yang panjang.

  6. Mendesain kapal dari 105 ke 125 m atau lebih gak semudah itu kalee, kalau kapal lebih panjang dan lebar pasti butuh riset dan pengembangan lagi. Setau saya ya model sigma itu emang udah mentok di fregat gak bisa di buat jadi destroyer apalagi sampe panjang 150 meter dan bobot 6000 ton kayak komen di atas.

    • Harap maklum…
      Yang komentar ukuran tonase serta panjang kaprang hanya besar mulut tanpa ada muatan ilmu.
      Teori membuat kaprang di samakan dengan membuat kapal feri untuk PELNI.
      Mereka pikir kapal tanker sama dengan kapal perang?
      Cukup dengan panjang, lebardan berat jadi ukuran…??

      Setiap hari komentar, tapi isinya hanya sampah…!