Jan 132019
 


Pesawat tempur Gripen (foto:Wikipedia)

JakartaGreater.com – Minggu lalu pers di Israel dan Kroasia telah memberikan liputan besar terkait gagalnya pembelian F-16 bekas Israel ke Kroasia karena mendapat hambatan dari AS.

Pada hari Kamis, pemerintah Kroasia mengumumkan kesepakatan itu secara resmi dibatalkan karena Israel belum menerima persetujuan dari Washington untuk menjual F-16 yang dibangun di AS.

Keputusan AS untuk ‘memveto’ penjualan F-16 oleh Israel memperlihatkan rumitnya kontrol ekspor dalam penjualan senjata yang melibatkan banyak negara.

Kisah F-16 Kroasia juga memiliki beberapa kesamaan dengan kisah yang sekarang terlupakan, yakni pesawat tempur Gripen buatan Swedia yang ditawarkan untuk tender Angkatan Udara India yang jauh lebih besar nilainya satu dekade lalu.

Pada Agustus 2007, setelah Angkatan Udara India mengeluarkan permintaan proposal ke enam perusahaan untuk memasok 126 pesawat tempur, Saab Swedia adalah salah satu vendor yang merespon dan menawarkan pesawat tempur Gripen.

Varian Gripen yang awalnya disodorkan ke Angkatan Udara India memiliki sejumlah besar teknologi buatan perusahaan-perusahaan Israel Aerospace Industri (IAI).

Pada 2009, Jerusalem Post melaporkan pemerintah AS menekan para pejabat Israel dan IAI untuk “mundur” dari kemitraan dengan perusahaan Saab Swedia. Awalnya perusahaan IAI akan menyediakan peralatan radar dan sistem peperangan elektronik untuk varian Gripen yang diusulkan untuk Angkatan Udara India.

AS khawatir teknologinya yang berada “di tangan Israel” akan dimiliki India, meskipun dua pesawat tempur F-16 dan F-18 Super Hornet AS – juga ikut bersaing pada tender yang sama.

Spekulasi keberatan AS kemungkinan karena kerugian yang diderita oleh perusahaan-perusahaan AS karena kehadiran teknologi Israel pada jet tempur Gripen.

Meskipun perusahaan IAI Israel keluar dari kemitraan, Saab terus menawarkan Gripen dengan sistem alternatif kepada Angkatan Udara India.

Angkatan Udara India akhirnya memilih Rafale buatan Prancis pada 2012 setelah proses uji coba yang panjang, namun akhirnya pemerintah Narendra Modi membatalkan negosiasi untuk 126 hingga hanya menjadi 36 unit pesawat pada tahun 2015.

Sebelumnya India sudah memiliki pengalaman yang sama dengan armada Angkatan Laut India yang sekarang sudah mempensiunkan Sea Harrier yang dibeli dari Inggris.

Selama masa pemerintahan Atal Bihari Vajpayee, kemampuan servis dan perbaikan armada Sea Harrier terkena dampak buruk setelah AS menunda pasokan suku cadang penting untuk pesawat tempur tersebut.

Fighter Gripen sekarang menggunakan radar buatan Eropa, kini masih bersaing untuk tender Angkatan Udara India untuk pembelian 114 pesawat tempur baru — bersaing dengan F-16, F -18, Rafale dan pesawat tempur lainnya.

Theweek

 Posted by on Januari 13, 2019

  5 Responses to “Gagalnya F-16 Kroasia, Hampir Mirip dengan Gripen untuk India”

  1.  

    masih banyak negara yang lebih bodoh ternyata, pesawat usang, harga mahal, syarat berbelit, masih mau beli jugak…wtf 😳

  2.  

    deal paling aneh, pesawat usang, harga mahal, kemampuan terbatas, syarat berbelit dan masih ada yang mau beli pulak? wat nde faks 😳

  3.  

    Sudah belinya bekas, jualnya susah… alamak

  4.  

    Makanya jangan beli barang yg ada produk amer, Krn bikin tidak bahagia dunia akhirat, hati2 tuh ifx kita

    😎

  5.  

    Itulah maunya amrik….semua mau di atur…kita dibuat ga boleh mandiri..punya duit sendiri aja msh diatur..alangkah mirisnya