Aug 102013
 

captain-westerling
Pemerintah Belanda menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas kejahatan yang dilakukan oleh tentaranya di Indonesia pada periode pendudukan antara 1946-1947. Pemerintah Belanda juga memberikan ganti rugi terhadap keluarga korban pembantaian yang dilakukan tentara mereka di Indonesia, pada masa itu.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kamis (8/8/2013) waktu setempat, disebutkan, Duta Besar Belanda di Indonesia yang mewakili negara ini akan menyampaikan permintaan maaf.

Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) pendamping kasus ini mengatakan ada sepuluh janda korban penembakan yang akan menerima ganti rugi sebesar 27.000 dollar AS atau Rp 277 juta / orang. “Jumlah nilai ganti ruginya sama dengan yang diberikan kepada keluarga korban peristiwa Rawagede,” ujar Ketua Yayasan KUKB, Jeffry Pondaag. “Secepatnya akan kami transfer dana ini kepada para janda, pertengahan atau akhir Agustus nanti.”

Korban Kekejaman Westerling di masa Penjajahan (photo: Dok RI)

Korban Kekejaman Westerling di masa Penjajahan (photo: Dok RI)

Permintaan Maaf

Suami dari kesepuluh janda penerima ganti rugi itu, merupakan korban pembantaian di desa-desa yang terletak di Sulawesi Selatan. Sejarah Indonesia mencatat peristiwa itu dikenal sebagai “Pembantaian Westerling” yang diambil dari nama pemimpin pasukan khusus Belanda, Raymond Pierre Paul Westerling.

Pengacara para janda dalam kasus pembantaian di Sulawesi Selatan, Liesbeth Zegveld mengatakan, para janda ini mencari keadilan atas meninggalnya suami mereka. Perkara ini diselesaikan dengan kesepakatan, yang dasar penyelesaiannya mengacu pada kasus kekejaman serupa.

“Kami gembira dengan hasil ini, tapi ini hanyalah langkah kecil dalam sebuah proses yang besar: Pemerintah Belanda harus meminta maaf terhadap semua kasus pembantaian dan eksekusi di Indonesia,” kata Zegveld seperti dikutip dari AFP.

Dia memperkirakan kasus pembantaian yang terjadi di Sulawesi Selatan pada Desember 1946 hingga Februari 1947 telah mengakibatkan 40 ribu orang tewas. Namun, laporan media Belanda mengatakan kasus tersebut memakan korban jiwa yang jauh lebih sedikit dari angka yang disebutkan oleh Zagveld yaitu antara 3.000 hingga 5.000 orang, dan masih ada keluarga korban lain.

Ketua Yayasan K.U.K.B, Jeffry Pondaag mengatakan, dalam kasus di Sulawesi Selatan setidaknya ada 28 keluarga korban yang harus diberi ganti rugi oleh Pemerintah Belanda.

“Ini masih merupakan tahap pertama masih ada 18 lagi yang akan kita ajukan,” kata Jeffry. “Kami juga masih memperjuangkan ganti rugi bagi 135 anak korban, hanya Pemerintah Belanda tidak mau memberi ganti rugi kepada anak-anak korban jadi kita akan perjuangkan lewat jalur hukum.”

Kasus pembantaian di Sulawesi Selatan ini telah diselidiki sejak tahun 2009 hingga kemudian akhirnya keluar pernyataan Pemerintah Belanda yang mengakui kesalahan mereka pada hari Kamis kemarin. “Yang terpenting bagi keluarga korban bukan jumlah ganti ruginya yang paling penting adalah permintaan maaf terbuka”, ujar Jeffry.

Sebelumnya pemerintah Belanda ernah meminta maaf dan memberi ganti rugi terhadap keluarga korban pembantaian pada peristiwa Rawagede yang terjadi pada 1947 lalu. (BBC/Indonesia)

  12 Responses to “Ganti Rugi Korban Kekejaman Westerling”

  1. Semoga tidak ada orang yg bikin kafe westerling atau kafe nazi atau kafe idi amin atau kafe dgn nama2 kontroversial lainnya

  2. kenapa dengan nazi…?
    kenapa harus percaya dengan bualan barat tentang nazi…?
    nazi bukan momok bagi indonesia, bukan pula komunis, bukan rasis…
    bahkan siapa yang tahu bila nazi ikut membantu pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan mengirimkan persenjataan…
    nazi itu sejarah dan bukan untuk ditakuti…

    http://m.inilah.com/read/detail/1965336/ternyata-hitler-kirimi-soekarno-senjata#.UewJjdKLBrI

  3. Hehe ada ada saja orang yang sebodoh Sieg Heil spt ini …

  4. Masih ada yang Orang primitif kayak anda.
    Jangan membodohkan orang lain, setiap orang memiliki pemikiranya sendiri.
    Belajar berdiskusi secara sehat, kalau mau serang, serang argumenya. Bukan Individunya.
    Anda tidak memberi argumen sedikitpun kok membodohkan orang lain.

  5. sayang si westerling ini meninggal dunia dengan tenang di kampung halamannya…
    alangkah indahnya bila saat itu dia meninggal dengan ‘jejak’ keterlibatan intelijen indonesia di dalamnya.
    tentunya pemerintah RI secara resmi akan menyangkal keterlibatan kita.

    terlalu banyak orang2 yg menyakiti bangsa ini yg dibiarkan hidup dan mati dengan tenang di masa tuanya.

  6. uang sebanyak apapun tak bisa gantikan nyawa seba nyawa sangat berharga bila uang dapat habis tetapi kalau nyawa yang dapat mengambil hanya tuhan yang maha esa dengan ini saya sangat keberata dengan sikap belanda

  7. daripada di transfer yg kemudian penggunaan uangnya tidak jelas kenapa tidak di berikan dalam bentuk beasiswa saja kepada keturunan / anak atau cucu dari korban untuk menempuh pendidikan minimal sampai dengan tingkat S2 di Belanda? bukannya yg seperti ini yg lebih bermanfaat?

  8. Belanda …………..adalah penjajah sejati….yg selalu berteriak atas nama HAM.
    jangan ajari kami soal HAM .

 Leave a Reply