Apr 172014
 

Garuda Pancasila Lambang Negara (image bin.go.id)

“Yaa Garuda Pancasila adalah lambang negara Republik Indonesia. Garuda yang mulai mengepakkan sayapnya yang sudah lama terpasung. Garuda harus mulai terbang setelah terbius oleh kekuatan kekuatan yang tidak menginginkannya untuk bangkit.

Tulisan ini terinspirasi oleh komentar Bung Nara bahwa bila Potensi Sonotan, Sonora dan upil dijadikan satu, Mamarika akan tetap memilih potensi Indonesia.

Burung Garuda mungkin hanya sebagai mitos, ada yang meyakini bentuknya mirip dengan elang jawa. Kisah burung Garuda diceritakan di dalam kitab Mahabarata dibagian pertama Adiparwa. Dalam kitab itu diceritakan Garuda adalah anak dari Begawan Kasyapa yang mempunyai dua istri yaitu: Sang Kadru dan Sang Winata.

Setelah sekian lama berumah tangga mereka tidak juga mempunyai anak maka Kasyapa memberikan seribu telur kepada Sang Kadru dan memberi dua telur kepada sang sang winata. Telur milik sang kadru menjelma menjadi seribu ular sakti, sedangkan milik sang winata belum menampakkan hasil. Karena merasa malu sang Winata memecahkan satu butir telur dan munculah seekor burung kecil yang belum sempurna bentuknya, cacat tidak berkaki, dan diberi nama Anaruh. Telur yang tinggal satu dijaga dengan sungguh sungguh oleh sang winata.

Suatu hari sang winata kalah bertaruh dengan sang kadru karena dicurangi, yang konsekuensinya sang winata harus menjadi budak melayani sang kadru beserta seribu ularnya. Akhirnya satu telur yang dijaga baik baik itu menetas menjadi Garuda yang besar, gagah, bersinar dan SAKTI.

Untung menolong ibunya Garuda menyanggupi perintah mengambil air Amerta (Air Kehidupan) milik dewa Amerta yang dijaga para dewa dan dikelilingi api menyala yang besar. Ibunya berpesan “Bila garuda menelan orang dan lehermu terasa panas itu tandanya dewa Brahmana ikut termakan maka Muntahkanlah, karena beliau seperti ayahmu begawan Kasyapa, dan kamu harus menghormatinya“.

Garuda pun berangkat untuk mengambil Air amerta dan bertempur melawan para Dewa yang menjaga air tersebut. Api menyala yang menjaga Air amerta dipadamkan dengan disembur menggunakan air laut, maka berhasilah Garuda merebut air Amerta dan diserahkan ke sang Kadru untuk menyelamatkan dan membebaskan ibunya. Seribu ular sudah sangat senang melihat air amerta dan segera membebaskan sang winata, tetapi garuda yang cerdik mengibas ngibaskan sayapnya agar ular yang kotor itu pergi ke sungai membersihkan badannya dulu dan garuda membebaskan ibunya dan pergi meninggalkan tempat itu sambil tetap membawa Air amerta.

Di tengah perjalanan Garuda bertemu Dewa Wisnu dan meminta Amerta diserahkan kembali ke para dewa dan akhirnya sang Garuda pun menjadi Tunggangan Dewa Wisnu.

Makna cerita di atas mengapa Garuda dipilih menjadi lambang negara kita dikarenakan sosok Garuda yang mau berkorban mengeluarkan Ibunya dari penderitaan akibat perbudakan.

Garuda kita ibaratkan pemuda generasi bangsa ini yang mulai Besar (sumber daya manusia yang berlimpah) Gagah (mempunyai identitas bangsa yang mandiri) Bersinar (pemuda yang berbudi luhur) dan Sakti (Cerdas dan berpendidikan) yang rela mati matian membebaskan ibunya (ibu pertiwi) dari cengkraman penjajahan putih bangsa asing yang sudah lama mengeruk sumberdaya Indonesia dan tetap menghormati ayahnya yang dilambangkan sebagai angkasa dan Ibunya (wanita) Tanah tempat kita berpijak.

Bila Garuda kita Ibaratkan TNI yang siap membela ibunya maka Garuda yang Besar (Jumlah personil yang melimpah), Gagah (berjiwa sumpah prajurit dan bersapta marga) Bersinar (dihormati karena Bhirowo Anurogo) dan SAKTI (Alutsista nya yang mumpuni).

Garuda pernah membebaskan ibunya ditahun 1945 dari penjajahan yang telah dialami ratusan tahun, tetapi Garuda pernah dibius dan dininabobokan sejak masa orde baru. Garuda mulai bangkit dipertengahan tahun 1990an mulai mengepakan sayap dan cakarnya tetapi kembali dibius secara paksa agar tidak bisa membela Ibu dan Ayahnya yang digonjang ganjing dan dipaksa menelan perjanjian LOI IMF agar tetap menjadi Budak sapi perahan asing dan membuka Gudang harta karun pasar indonesia yang maha dahsyat.

Garuda yang matanya terbuka tetapi badannya lumpuh hanya bisa melihat, mengeluarkan airmata, dan REMUK hatinya melihat ibu dan ayahnya kembali terjebak dalam penjajahan yang tidak bisa dibelanya. Asing menganggap ibu dan ayah Garuda adalah Intan dan Permata yang gampang dijarah dan tidak berharga karena mudah dikangkangi karena tidak ada pembelaan dari sang anak Garuda yang sedang Lumpuh.

Saat ini Garuda mulai Besar karena  kaki kakinya dan sayapnya yang lumpuh mulai.sembuh ,,Gagah karena sumber daya manusianya semakin teruji dan berkualitas. Bersinar karena, bulu bulunya mulai memancarkan sinar keemasan menunjukan semua aji aji kesaktiannya mulai kembali ampuh tetapi tetap Bhirowo Anurogo. Sakti karena alutsistanya mulai berdatangan baik yang tampak maupun tidak tampak.

Garuda siap MENGHENTAK dengan tak terduga kembali membela ibunya dan menghormati ayahnya agar terlepas dari penjajahan untuk kemerdekaan sepenuhnya.

Asing sebenarnya tahu bahwa Garuda sudah tidak lumpuh lagi tetapi asing belum melihat hentakan sang garuda, asing tahu diri mulai bersikap manis dengan menawarkan banyak bingkisan berbalut hibah, retrofit, TOT dan lain sebagainya kepada sang ibu dan ayah untuk dipersembahkan kepada sang Garuda agar tidak menghentak dan menerkam, tetapi asing tetap asing yang serahkah dengan prinsip ekonominya memberi sedikit menginginkan hasil yang banyak, tetapi paling tidak asing sudah tidak menganggap ibu dan ayah garuda mudah dikangkangi seperti dulu saat Garuda menangis tetapi tidak berdaya, karena Garuda sudah siap menerkam.

Garuda harus pandai menerima persembahan persembahan dari asing yang banyak gula gula yang kadang terlalu manis atau terlihat manis tetapi bahan dari obat pemanis karena akan merusak kesehatan jangka panjang sang Garuda itu sendiri, Garuda juga harus pandai menciptakan kesaktian sendiri dengan ajian ajian dalam negeri.

Kami rakyat mendukung bangkitnya sang Garuda agar segera mengepakkan sayap dan merentangkan kukunya membela ibu dan ayahnya agar asing tidak mudah mengangkangi dan sopan dalam beretika walaupun belum terbebas dari penjajahan putih sepenuhnya, Ayah dan ibunya sudah melewati masa pemilu yang ditakutkan mencerai beraikan bangsa ini, tinggal menunggu selangkah lagi mengawal Pilpres agar terpilih pemimpin yang mampu seperti Dewa Wisnu yang menunggangi Garuda yang terbang dengan Gagahnya. Amin dan semoga terlaksana.

Tetapi ada yang kita lupakan bagaimana dengan saudara tiri Garuda yaitu seribu ular yang kotor yang biasanya mendukung asing tetap menjajah Ibu Garuda dan serakah dengan Air Amerta (Air Kehidupan milik para dewa), bagaimana Garuda menyikapinya ?  (By Satrio)

  189 Responses to “GARUDA YANG MULAI BANGKIT”

  1.  

    Mantap…..wejangannya monggo dilanjut wedarannya ..Purwa….Madya…Wasana..he..he… Tak leyeh2 mojok. Di sini tempatnya luas dan bersih. Karena yg punya rumah open( care ), ada sampah sedikit dibuang….silahkan ditunggu wedaran selanjutnya.

  2.  

    mantap@Bung Satrio artikelnya..perbanyak lagi artikel yang seperti ini…
    saya selaku lulusan rendahan sangat yakin negara ini adalah negara yang hebat,.kuat..tegar dan pemaaf.dibalik masalah yg terus mendera negeri ini,tp merah-putih dan garuda masih bertahan.itu sudah cukup bukti dan harus tetap dijaga.mari kita bersihkan lebih dulu parasit yg tumbuh di pepohonan kita.agar pohon kita tumbuh rindang dan Garuda nyaman dirumahnya

    bentar lagi perayaan KONFERENSI ASIA AFRIKA,,dan dulu dunia pernah terkejut dengan adanya CANEFO saingan PBB dan blok timur.. 🙂

  3.  

    Nggenapin 50.
    Bagus artikelnya, Bung Satrio……

  4.  

    Om Satrio@….nyambung anal isisnya dg news yg beredar. CMIIW

    VIVAnews – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, Kamis 17 April 2014, mengaku binggung harus berbuat apa untuk membuat PT Freeport membagikan dividen kepada pemerintah. Padahal, diketahui bahwa keuangan salah satu perusahaan tambang emas terbesar tersebut dalam posisi untung hingga Rp6 triliun.

    Dahlan menjelaskan betapa posisinya sebagai Menteri BUMN menjadi serba salah mengatasi polemik tersebut. Di sisi pemerintah, Kementerian BUMN harus menyetorkan dividen BUMN, termasuk dari Freeport, karena ada saham pemerintah di sana.

    Sedangakan di sisi perusahaan, Dahlan tidak bisa memaksakan untuk mendapatkan dividen apabila Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memutuskan untuk tidak membaginya.

    “Saham negara di Freport itu cuma 9,3 persen. Ketika RUPS mereka memutuskan tidak bagi dividen, kemudian BUMN tidak setuju, lalu bagimana?” ujar Dahlan, saat ditemui di Jakarta.

    Dengan saham minoritas, Dahlan melanjutkan, pemerintah jelas tidak bisa memaksakan dividen itu untuk dibagi. Sebab, keinginan pemerintah itu tidak didukung pemegang saham lainnya.

    “Kami minta harus bayar dividen, karena sudah ditetapkan dalam APBN. Nah, mereka (Freeport) ngotot tidak bagikan, mereka pungut suara, dan mereka menang,” kata Dahlan.

    Pemerintah, ia menambahkan, akan terus melakukan negoisasi dengan Freeport. Salah satunya, mengupayakan Freeport membayarkan dviden interim atau dividen yang dibagi sebelum tutup buku perseroan berakhir. Tapi ia tetap tidak yakin permintaan itu bisa dipenuhi.

    Untuk diketahui, Freeport yang merupakan perusahaan asal Negara Paman Sam itu sudah tidak membayar dividen selama dua periode tahun buku 2012-2013. Freeport hanya membayar pajak dan royalti kepada negara dalam dua periode itu.

    Secara kebetulan, selama peride tersebut pula Dahlan Iskan menjabat sebagai Menteri BUMN. Dahlan ditunjuk Presiden menggantikan Mustafa Abubakar pada 17 Oktober 2011 lalu.

    Dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan M. Chatib Basri, Kamis 17 April 2014, menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi Freeport tidak menyetorkan dividennya kepada pemerintah. Apalagi ini sudah dilakukan dua tahun, padahal perusahaan itu untung.

    “Freeport itu kan untung. Pemerintah punya saham di situ. Kalau untung, mbok ya diperjuangkanlah, mintakan dividen,” ujar Chatib di Jakarta.

    Chatib menyadari bahwa pembagian dividen merupakan hasil keputusan RUPS. Namun, sebagai pemegang saham, pemerintah harus tegas akan keinginannya, dalam hal ini perwakilan pemerintah adalah Kementerian BUMN.

    “Apalagi, sekarang lagi pada ngomongin subsidi BBM naik dan di BUMN ada target Rp40 triliun dividen, yang kemungkinan tidak dapat. Nah, bagian-bagian yang bisa diperjuangkan itu mesti dikejar dong,” kata Chatib.

    Kementerian Keuangan, menurut Chatib, memang ngotot dividen Freeport itu harus disetor. “Kalau tanya Kemenkeu, jelas, kami minta dividen ditagih. Apalagi, sudah dua tahun. Di situ kan, ada perwakilan pemerintah, kami minta Kementerian BUMN untuk tagih dividen itu ,” kata Chatib.

    Sebelumnya, PT Freeport Indonesia mengumumkan tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2013. Sepanjang tahun lalu, volume penjualan perusahaan tambang emas dan tembaga itu lebih rendah.

    “Tidak ada pembayaran dividen termasuk kepada perusahaan induk dan pemerintah RI,” ujar Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia, Daisy Damayanti, dalam keterangan tertulis, Jumat 28 Maret 2014. Selengkapnya, baca: Freeport Tak Bagikan Dividen ke Pemerintah RI. (asp)

  5.  

    Dikasih kemudahan membeli senjata yg dulu “tabu” untuk RI dan diberi gula-gula hibah pespur meski hrs bayar uang upgrading yg lumayan utk memperpanjang profit dan kasih kerjaan engineer2, krn kita memang lg butuh. Dg imbalan freeport profit 6t cuma untuk freeport…..belum profit utk perusahaan2 hilir dan puluhan industri turunan negara tersebut yg kaya atas ‘tanah jarang’ yg super mahal hasil turunannya.
    Indahnya politik mamarika…..

    •  

      Penguasaan RI adalah utk mengamankan ‘jalur distribusi’ sumber alam yg sangat dibutuhkan utk kepentingan negara…..mengamankan freeport sama dengan mengamankan kepentingan strategis nasional mereka. IMHO…..cuman melukiskan utk diri sendiri betapa penting Papua bagi “keamanan” nasional mereka……
      Doktrin: keamanan nasional terancam maka…..?????!!!!!

      •  

        Sekedar anal isis org ngawur…….

        Sy berharap semoga kontributor dan sesepuh warjag ada yg menulis tentang tema ‘Hasil-hasil tambang apa saja yg bisa diperoleh dr freeport di tanah papua dan industri serta barang2 apa saja turunannya yg bisa dihasilkan’……biar kita yg awam ini tahu seberapa besar pengaruh freeport papua terhadap “keamanan nasional” mamarika…..
        Matur tengkyu

        •  

          Wah ini spesialis Bung danu
          kita menunggu tulisan bung danu bareng bareng yuk..

        •  

          saya mau olahraga, untuk sementara summary aja dulu:

          hasil tambang kompleks grasberg incl. underground:
          Cu, Au + Ag (alias tembaga, emas, perak)

          kalaupun ada uranium sebagai ikutan pasti jumlahnya amat sangat kecil sekali.
          uranium bersifat radioaktif, menambangnya butuh prosedur K3 dan teknik khusus dan pelindung khusus, penambang FI tidak pernah menggunakan perlengkapan khusus dan tidak ada masalah kesehatan yang spesifik dan mencurigakan pada mantan karyawan seperti kanker akibat paparan zat radioaktif.

          aplikasi Cuprum/copper/tembaga tergolong low-tech, seputar konduktor/powerline/kabel listrik.

          “keamanan nasional” terlalu luas, tapi sebagai negara kapitalis, pantau aja CNBC, perusahaan2 mana aja mereka perhatikan, freeport-mcmoran gak masuk hitungan kok.

          cek lis fortune-500 ini, fm hanya peringkat 156;
          http://money.cnn.com/magazines/fortune/fortune500/2013/full_list/index.html

  6.  

    Bung Satrio..! Hebat banget..!
    Its real good, excellent, extraordinary alias luar biasa..! Hehehe..!
    Satu hal yang saya kagumi dari anda adalah penguasaan aspek detail yang begitu rinci dan lengkap. Anda seolah bisa menjadi ahli dalam bidang apapun. Sebuah cerminan bahwa anda seorang yang gila membaca. Salut Bung..! Saya sangat menyukai tulisan-tulisan anda, karena sangat humanis, nasionalis dan tidak melulu berkutat pada hal teknis. Betul-betul berkonsep morale, welfare and recreation(MWR). Saya juga sehaluan dengan anda dalam hal semangat pencerdasan. Mari kita lakukan bersama-sama..! Ditunggu tulisan berikutnya bung..! Terima kasih, salam..!

    •  

      Terimakasih dan salam hangat Juga bung Yayan
      Saya Juga mengagumi anda..

      Warjager asal mau menerapkan rumus dibawah ini pasti bisa kok membuat tulisan tulisan seperti saya ,,rumusnya adalah
      Saya dengar..saya catat..
      Saya baca…saya ingat
      Saya lakukan ..saya mengerti ..

      Membaca Tulisan materi kewiraan diatas bila didadanya masih ada nasionalisme dan garuda didiadanya,,maka dadanya akan bergelora..akan lain ceritanya bila seorang komprador yang membacanya.
      Sama halnya dengan camo loreng TNI yang terlihat sederhana motif nya dan terlihat kuno
      Tetapi camo loreng TNI tersebut bila dipakai oleh para satrio pembela tanah air dan kain loreng itu bersentuhan dengan kulit para satrio maka akan mendidihkan darah meningkatkan semangat Juang.
      Juga bila kita melihat bendera merah putih dengan tatapan mata biasa saja maka hanya terlihat sebentuk kain berwarna merah dan putih yang dijahit ,,tetapi bila kita melihat bagaimana nenek moyang kita sudah memakai bendera merah putih sebagai panji panji kejayaan dan mengenang darah pahlawan yang menebus dan mempertahankan bendera merah putih untuk tetap berkibar maka dada kita akan terasa sesak,air mata akan berlinang dan ingin serasa mencium bendera merah putih dan menangis sesengukan.

      Saya tunggu tulisan anda selanjutnya bung yayan

  7.  

    Perang Palembang 1819-1821 ; Perang Laut Terbesar di Nusantara

    Pertama saya mohon maaf, karena selama ini saya hanya menjadi penyimak di forum Warjag ini. Adapun Tulisan ini didasari terpancing dan mengelegaknya Nasionalisme saya atas artikel yang ditulis Bung Satrio di atas (sesepuh Warjag yang sangat saya idolakan), serta tanggapan dari Bung Raymond (Nomor 46) atas tulisan Bung Satrio tersebut.

    Sejak dari sekolah menegah pertama (SMP), berdasarkan berbagai sumber buku sejarah tentang kerajaan-kerajaan Nusantara dalam masa kolonialisme Belanda, tidak terbantahkan bahwa tidak mudah bagi Belanda untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Bahkan ketika para sahabat saya ataupun orang lain mengatakan Bangsa Indonesia dijajah selama 350 tahun lebih, saya selalu menyanggahnya, bahkan suatu ketika saya berbeda pendapat dengan guru saya semasa SMA tentang angka 350 tahun tersebut. Waktu itu saya katakan hanya daerah- daerah tertentu yang dapat terjajah diatas 300 tahun !. Dan mohon hendaknya pencinta Warjag jangan katakan saya tidak Nasionalis dan cinta NKRI kalau pendapat saya mengatakan Sumatera Selatan (Kesultanan Palembang Darussalam) baru dapat ditahlukkan oleh penjajah Belanda ada tahun 1821. Itupun melalui politik De Vide Et Impera

    Oleh sebab itu saya melalui tulisan ini tentang sejarah kesultanan Palembang Darussalam ini hendaknya dapat menjadi ikhtibar kita bersama, bahwa benar ada selalu upaya perkerdilan terhadap kebesaran sejarah Bangsa Indonesia/kerajaan-kerajaan Nusantara, dahulu, kini dan yang akan dating. Pengkerdillan tersebut terkadang kerab dilakukan oleh Bangsa kita sendiri, melalui berbagai pernyataan-pernyataan seperti “Bangsa Bermental Tempe” dsbnya.

    Oleh sebab itu sebelumnya mohon maaf, kalau tulisan ini kurang terstruktur, maklum baru belajar menulis… Salam NKRI

    Sejarah Benteng Kuto Besak Dulu dan Kini.

    Benteng Kuto Besak (BKB) adalah sebuah benteng yang dikelilingi oleh bangunan batu yang tinggi dan parit pertahanan yang melingkarinya. Lokasi benteng dipilih pada spot strategis yang dapat dengan mudah mengawasi keadaan perairan Sungai Musi. Pada masa itu, BKB adalah sebuah benteng berbentuk pulau, di tengah perairan yang merupakan persimpangan 4 sungai, yaitu Sungai Tengkuruk pada sisi Timur, Sungai Musi di sebelah Selatan, Sungai Sekanak di bagian barat dan Sungai Kapuran di sebelah Utara. Dibangun dengan panjang 288,75 meter, lebar 183,75 meter dan tinggi 9,99 meter (30 kaki), Benteng Kuto Besak memiliki ketebalan dinding yang mencapai 1,99 meter (6 kaki). Di keempat sudut bangunan terdapat Bastion (baluarti), di mana Bastion pada sisi Barat Laut memiliki kesamaan arsitektur dengan Bastion pada benteng-benteng lain di Nusantara, namun ketiga Bastion lainnya adalah Bastion dengan arsitektur khas yang hanya dapat di temukan di benteng ini saja.

    Dibagian sisi Timur, Selatan dan Barat terdapat pintu masuk menuju ke dalam benteng. Pintu gerbang utama yang disebut Lawang Kuto berada pada sisi sebelah Selatan yang langsung berhadapan dengan Sungai Musi, sementara dua buah pintu samping yang berada pada sisi Timur dan Barat, disebut Lawang Buritan. Pada bagian dalam benteng terdapat Rumah Sirah atau Dalem yang merupakan tempat tinggal Sultan. Untuk mencapai Rumah Sirah, terdapat beberapa pintu yang harus dilalui. Selain memiliki daya tahan bangunan yang begitu solid dan kokoh, Benteng Kuto Besak juga dibangun atas dana swadaya dari masyarakat Palembang, khususnya keluarga Sultan Mahmud Badaruddin (SMB I). Benteng ini dipergunakan dalam upaya rakyat Palembang untuk melawan penjajahan oleh orang Eropa, sehingga tidak diberi nama Eropa seperti mana beberapa benteng lain yang ada di Indonesia

    Dari catatan sejarah pembangunan Benteng Kuto Besak (BKB) mengalami fase pembangunan selama 17 tahun, maka tak heran bila bangunan ini memiliki kekokohan yang mampu menahan serangan meriam-meriam pasukan Belanda tanpa mengalami kerusakan signifikan, dalam beberapa kali serangan yang dilancarkan dalam kurun waktu 1819 hinga 1821. Benteng Kuto Besak dibangun dalam kurun waktu antara tahun 1780 hingga 1797. Pemakaian benteng ini diresmikan pada hari Senin, 21 Februari 1797. Sultan Mahmud Badaruddin I merasakan perlunya membangun sebuah pusat pertahanan tangguh yang akan mempersulit musuh untuk memasuki Kota Palembang. Maka ia berinisiatif mambangun sebuah benteng, dengan mengundang para konsultan arsitektur pekerja Negeri Tiongkok yang telah dikenal di seluruh dunia karena pembangunan Tembok Raksasa-nya.

    Perang Kesultanan Palembang 1819-1821 ; Perang Laut Terbesar di Nusantara

    Serangan Inggris yang pertama dan satu-satunya terhadap Palembang terjadi pada tahun 1812. Armada laut yang dipimpin oleh Komandan Pasukan Inggris, Mayjen R. R. Gillespie, atas perintah Thomas S. Raffles sebagai Gubernur Inggris di Nusantara. Dengan mengkonsentrasikan kekuatan di pedalaman Sungai Musi (Muara Rawas), Sultan Mahmud Badaruddin II berhasil menggagalkan rencana Inggris menguasai Palembang.
    Setelah diterbitkannya Konvensi London pada tanggal 13 Agustus 1814, Inggris menyerahkan kembali kepada Belanda semua koloninya di seberang laut, yang sempat dikuasai sejak Januari 1803. Dan karena Palembang belum pernah ditaklukkan baik oleh Inggris maupun Belanda, Sultan Mahmud Badaruddin II tidak bersedia menyerahkan tampuk kekuasaan pada Belanda. Walau demikian, pada awalnya Sultan membiarkan pasukan Belanda menempati Keraton Lama (Kuto Kecik/Lamo/Batu) yang bersebelahan dengan Keraton Dalam (Kuto Besak) sebagai jantungnya pertahanan Palembang.

    Perang Palembang 1819
    Pertempuran pertama yang terjadi sejak kembalinya Belanda ke Nusantara ini pecah pada tanggal 12 Juni 1819. Pemicu langsungnya adalah pengusiran seorang perwira Belanda yang ingin mencuri dengar kesibukan di Kuto Besak. Dalam upaya membantu rekan mereka, pasukan Belanda menewaskan 3 orang anak buah Sultan, yang kemudian menyulut kontak senjata antara kedua pasukan. Duel 2 benteng antara salvo milik pasukan Sultan dan korvet milik pasukan Belanda ini menjadikannya sebagai pertempuran paling dahsyat bagi Palembang pada saat itu. Kontak senjata yang berakhir pada waktu magrib akhirnya berhasil memaksa pasukan Belanda untuk meninggalkan Keraton Lama dan kembali ke kapal-kapalnya. Pada waktu itu mereka dipimpin oleh Komisaris Belanda di Palembang, Edelheer Muntinghe. Keesokan paginya (13 Juli), duel artileri kembali berlanjut dengan keadaan yang semakin menguntungkan bagi pasukan Sultan, karena posisinya yang berada di daratan (BKB), sementara pasukan Muntinghe melakukan penyerangan dari perairan Sungai Musi.
    Setelah dipecundangi, Muntinghe mengadu ke Batavia lalu menyiapkan penggempuran besar-besaran ke Palembang. Penyerbuan balasan itu melibatkan 1200-an orang pasukan plus armada kapal bermeriam. Armada yang dipimpin oleh Panglima Angkatan Laut Hindia Belanda, Laksamana J. C. Wolterbeek, bertolak dari Batavia tanggal 22 Agustus 1819, namun baru tiba di muara sungai Musi pada tanggal 18 September. Dari catatan Kapten A. Meis mengenai ekspedisi ini, dapat dibayangkan betapa menderitanya mereka selama perjalanan : “…pembuatan peta tidak teliti, kekurangan pengetahuan tentang jalur sungai, banyaknya jumlah kapal yang kandas di dasar sungai, arus yang deras pada waktu air surut, kelelahan yang melanda para anggota pasukan, hujan yang terus-menerus turun, serangan meriam-meriam tersembunyi di balik-balik pohon serta banyaknya rakit-rakit api yang dikirim untuk mengikuti arus sungai disertai banyaknya tiang-tiang penghalang pada jalur pelayaran….”. Meski berhasil memasuki perairan Sungai Musi, armada Belanda masih membutuhkan waktu 1 bulan untuk mencapai Plaju dari muara Musi, sehingga mereka telah menghabiskan waktu 2 bulan hanya untuk menempuh perjalanan ke Palembang.
    Tanggal 20 Oktober, Kapten Insinyur Van Der Wijck menuliskan laporan pengintaiannya atas Benteng Plaju-Kembaro. Ia merinci betapa hebatnya sistem pertahanan Plaju-Kembaro. Sementara itu, pasukan Palembang yang telah mengetahui kedatangan armada, pada malam itu melepas 30-an rakit api dan mulai melepaskan tembakan. Pertempuran benar-benar dimulai pada tanggal 21 Oktober dan kejayaan masih berada bersama pasukan Palembang, berhasil memukul mundur armada sebelum magrib. Fregat Wilhelmina nampak seperti ayakan dengan banyaknya lubang peluru meriam di bodinya. Pada malam harinya Palembang masih tetap mengirimkan rakit-rakit api. Besok paginya pertempuran masih berlanjut, namun terhenti setelah Wolterbeek mengirim kurir untuk menyatakan kalah. Ia menjemput sisa pasukan di Eendragt Arimus Marinus (terkandas semalaman) dan kembali ke Batavia.

    Perang Palembang 1821
    Kegagalan serangan kedua tersebut membuat pemerintah Belanda menjadi semakin tertantang untuk menaklukkan Benteng Kuto Besak. Rentetan peristiwa perlawanan rakyat Palembang terhadap Belanda, sejak peristiwa Loji Sungai Aur Tahun 1811 (sebelum Konvensi London), perlawanan terhadap Komisaris Muntinghe tahun 1989 (yang disebut Perang Menteng oleh rakyat Palembang), dan terakhir ekspedisi Laksamana Laut Wolterbeek pada tahun yang sama, tidak ada yang berhasil dimenangkan oleh Belanda.
    Maka dirancanglah gerakan penyerbuan ketiga yang melibatkan pasukan dan peralatan dalam jumlah yang jauh lebih masif. Serangan ini dipersiapkan dalam kurun waktu 2 tahun, dan direncanakan sesempurna mungkin. Mereka menyusun pasukan dalam jumlah total 4200-an personil (2500-an personil AL dan 1600-an pesonil AD). Sebagian di antaranya merupakan prajurit Napoleon Bonaparte (Perancis) yang direkrut oleh Pemerintahan Hindia Belanda pada masa itu, krisis ekonomi setelah perang Napoleon memudahkan perekrutan orang-orang Perancis, Swiss dan Jerman. Tidak tanggung-tanggung, Jenderal De Kock yang terkenal dengan politik de vide et empera (memecah belah persatuan dan kesatuan musuh sebelum menyerang) turun tangan memimpin langsung serangan kali itu sebagai Komandan Armada. Pasukan Belanda juga diperkuat keikutsertaan Kepala Staf dari AL Letkol Bekker, Komandan Infanteri Kolonel Bisschoff, Komandan Artileri Letkol Riesz dan Komandan Zeni serta Kolonel Cochins. Tak kurang dari 90 kapal armada laut dari berbagai jenis, termasuk juga perahu-perahu pendarat ikut disertakan dalam penyerbuan ini, lengkap dengan 414 pucuk meriam. Sementara itu Pasukan Sultan juga di upgrade dengan perombakan pimpinan pasukan dan pelatihan bagi rakyat yang ingin membantu mempertahankan Palembang. Menarik untuk dicermati bahwa para keturunan Cina dan Arab pun ikut berjuang demi Palembang.
    Jenderal De Kock sebelumnya menggunakan kepandaian politisnya untuk bisa memasuki Kota Palembang dan kembali menggunakan “lagu lamo” nya, yaitu melancarkan strategi politik de vide et empera untuk melemahkan pertahanan Benteng Kuto Besak. Ia berhasil merekrut beberapa pengusaha Palembang, di antaranya saudara kandung Sultan Mahmud Badaruddin II, Sultan Husin Diaduddin. De Kock menjanjikan akan menjadikan Sultan Husin Diaduddin sebagai Susuhunan, sementara putra tertuanya (Prabu Anom) akan diangkat sebagai Sultan. Demikian juga beberapa bangsawan lainnya, memperoleh penawaran untuk menempati jabatan yang penting dan nyaman, apabila bersedia membocorkan rahasia pertahanan Palembang.
    Merasa cukup menggalang dukungan untuk memperlemah pertahanan BKB, De Kock kembali ke Batavia untuk memfinalkan rencana serangannya. Maka pada tanggal 8 Mei 1821, ekspedisi dilepas oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen dengan upacara militer dan bertolak dari Batavia keesokan paginya. Tanggal 11 Juni 1821 terjadi kontak senjata pertama antara Belanda dan Palembang, kapal-kapal perang Belanda untuk ketiga kalinya memasuki perairan Sungai Musi. Kapten Laut L. Van Adnard bersama beberapa perwira turun dari kapal untuk melacak dan memantau pertahanan Palembang. Benteng Palembang memberikan “ucapan selamat datang kembali” berupa tembakan-tembakan untuk menghalau mereka. Belanda juga menghalangi pekerja-pekerja yang tengah memperbaiki pagar/cerucup di tengah Sungai Musi (setelah sebelumnya dicabut diam-diam). Gencarnya tembakan meriam dari pihak Palembang berhasil memaksa rombongan Van Adnard kembali ke kapalnya.
    Setelah berada cukup lama berada di perairan Palembang tanpa melakukan apapun, Belanda akhirnya berani melancarkan serangan pada tanggal 16 hingga 20 Juni (sebagian mencoba menyerbu pertahanan depan Palembang melalui daratan). Namun betapapun besarnya keinginan pasukan Belanda untuk menguasai Benteng Kuto Besak, penyerbuan kali ini juga menemui kegagalan, bahkan setelah kapal perang Belanda yang sudah berada di perairan Sungai Musi juga dikerahkan untuk membantu. Nasib baik masih berada di pihak Sultan. Sistem pertahanan Benteng Kuto Besak masih cukup solid untuk dapat diandalkan, karena dibantu oleh benteng-benteng kawal (penjaga) yang terletak di Plaju, Pulau Kembaro, Manguntama dan Benteng Tambakbaya di perairan Sungai Musi. Sistem pertahanan Sungai Musi yang tangguh ini kembali mempecundangi pasukan Belanda. Dalam jurnal, De Kock menulis bahwa “…kedudukan musuh yang sangat kuat, terutama disebabkan oleh tiang-tiang yang dipancangkan dalam sungai dan tembakan-tembakan musuh ke arah tali sauh kapal kita, adalah penyebab utama yang menghalangi kita untuk memperoleh kemenangan”.
    Menyadari keadaan yang tidak berpihak pada pasukannya, Jenderal De Kock memberi isyarat untuk menghentikan peperangan. Ia ingin mengulur waktu yang cukup untuk menyusun kembali kekuatan pasukannya, di samping mencari taktik baru untuk menghadapi pasukan Sultan. De Kock mengadakan perjanjian perdamaian dengan Sultan untuk tidak akan saling menyerang pada hari Jumat dan Minggu, dan Sultan menyetujuinya. Hari Jumat adalah hari suci bagi Kesultanan, sementara hari Minggu adalah hari suci bagi Belanda.
    Pada hari Minggu tanggal 22 Juni 1821 sekitar pukul 3 dini hari, warga Palembang, khususnya Sultan Mahmud Badaruddin II dan pasukannya sedang sahur, pada saat itu bulan Ramadhan. Setelah secara diam-diam mencabuti cerucup-cerucup di sepanjang Sungai Musi, Pasukan Belanda melancarkan serangan terhadap benteng-benteng tersebut dengan cara tidak ksatria, pasukan Belanda harus mengorbankan ratusan personil prajuritnya yang tewas dalam pertempuran itu.
    Dengan dikuasainya benteng-benteng kawal oleh pihak Belanda, maka pertahanan Benteng Kuto Besak telah kehilangan sistem pendukungnya, sehingga posisinya kini terjepit. Pada akhirnya Sultan dan para pengikut setianya tertahan dalam benteng yang telah terkepung oleh Belanda. Hingga pada tanggal 26 Juni 1821, De Kock mengirimkan kurir kepada Sultan untuk menyampaikan surat yang isinya meminta kesediaan Sultan Mahmud Badaruddin II untuk menyerah, dengan mempertimbangkan keselamatan warga Palembang dan sudah tidak ada lagi jalan bagi Sultan untuk keluar dari Benteng Kuto Besak.
    Sultan Mahmud Badaruddin II yang tidak memiliki alternatif lain, akhirnya menyetujui permintaan tersebut, dengan syarat bahwa penyerahan akan dilakukan melalui saudara kandungnya, Husin Diaduddin dan putranya, Prabu Anom (kelak bergelar Sultan Ahmad Najamuddin IV). Peristiwa tanggal 29 Juni 1821 tersebut mengakhiri kekuasaan Kesultanan Palembang. Menjelang tengah malam pada tanggal 13 Juli 1821, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarganya dibawa ke Batavia dengan kapal Dageraad. Dari Batavia, Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian dibuang ke Ternate, Pulau Sulawesi dan wafat pada tanggal 26 September 1852.

    *Begitu gagah dan berani dan kuatnya perlawanan yang dlakukan Sulthan Mahmud Badaruddin II….., dan itu terabadikan dengan penyematan sebagai Pahlawan Nasionala Republik Indonesia pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri, Namun, adakah kebesaran dan kegagah beraniannya ter-abadikan di di sebuah haluan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) ?

    **Besar dan Kokohnya Benteng Kuto Besak merupakan bukti otentik Kebesaran kesultanana dan kepahlawanan Sulthan Mahmud Badaruddin II…. Tetapi bukti kebesaran Benteng Kuto Besak yang juga merupakan bukti kebesaran Bangsa Indonesia ini ternyata tergerus dan terkebiri oleh ulah oknum TNI sendiri, yang sejak Proklamasi Republik Indonseia 1945, menghancurkan sebagaian besar situs sejarah tersebut dengan mendirikan rumah sakit TNI AD disana.

    Arie Kinjeng, Dari berbagai Sumber.

    •  

      bener bung, rasonyo idak katek yang lengket namonyo di KRI
      padahal klu soal nasionalisme, wong palembang tu tahan didepan tuk belanyo, kapal selem musuh be pacak dimakan apolagi roket2 nyo.

      maaf bung diego dll, soalnyo raso nasionalisme ni lg menggelegak nian di dado

      NKRI hargo mati

    •  

      betapa perkasa dan ksatrianya sultan mahmud badaruddin ke dua beserta rakyat palembang, terima kasih anda sudah mengisahkannya, sayang sekali kisah se heroik ini tidak pernah saya dan mungkin kita semua baca di buku pelajaran sejarah saat kita sd, smp maupun sma. semoga pengabdian beliau menjadi catatan kebajikan yg kemilau disisi sang khaliq. nama beliau sangat pantas untuk diabadikan menjadi nama salah satu kapal tempur kita, insya allaah.

  8.  

    pak W.R. Soepratman udah ngasih petunjuk biar garuda bangkit, ingat syair ” bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia rayaaaaa”. kalo sudah ingat , d kunyah, dan diresapi yuk mari kita upacara bendera doeloe.

    •  

      Jaman sekarang upacara bendera banyak yang pingsan bung…tapi aneh ya,nonton konser Kpop koq kuat goyang ber jam2… 🙂

      •  

        Assalamualaikum wr.wb
        Tidak tau tapi mungkin ada yang salah dengan sistem otaknya, khususnya memory 🙂
        Tapi kalau di perhatikan upacara bendera setiap pagi hari itu sangat bagus, mengingat sinar matahari yang di pancarkan dapat membantu membentuk vitamin D, yang juga bagus untuk penguatan tulang, di tambah posisi upacara bendera yang berdiri tegak lurus. dan tentunya saat pagi hari sinar ultraviolet tidak di pancarkan berlebihan.

      •  

        cmiiw 😀
        kalau salah ya maaf 😀
        maaf oot 😀

  9.  

    Tulisan yang membangkitkan dan menggugah rasa kebangsaan, thanx Bung Sat…

  10.  

    Bung Kelana @ Kwkwkwkwkkww…….
    “Bangsa yang besar selalu menghargai jasa Pahlawannya”…. Bapak_Bapak kita TNI yah yang paling sering mengucapkan ini dalam berbagai kesempatan peringatan hari Kemerdekaan RI, Hari Pahlawan dan dan hari besar lainnya. Bahkan Bung Karno selalu mengingatkan kita untuk jangan pernah mellupakan sejarah.

    Begitu banyak kapal 2 TNI AL alangkah lebih baik mengutamakan mengabadikan nama-nama Pahlawan. Nasional, dari pada mengabadikan nama nama Ikan. teluk, senjata tradisonal dsbnya.

    Saya yakin pengabadian nama-nama Pahlawan Nasional dari berbagai daerah di Tanah Air dapat meningkatkan dan menggelokan rasa Nasionalisme yang kini sejak Otonomi Daerah dan Rerformasi kian mulai tergerus.

    Mudah 2 an aspirasi ini dapat diteruskan oleh idolaku Bung Satrio serta para sesepuh Warjag yang punya akses dan kedekatan dengan para petinggi TNI.

    Salam, NKRI Harga Mati…

    •  

      bung arie kinjeng, mari kita semua berdoa agar kelak salah satu pkr kelas fregat yg sedang dibangun di belanda dan pt.pal surabaya adalah kri. sultan mahmud badaruddin ii.

  11.  

    Kalo menurut ilmu numerologi, sebenarnya Indonesia sejak awal kemerdekaan sudah menjadi salah satu dari 5 negara yang disegani di dunia. tapi ilmu numerologi juga melihat adanya kelemahan dan kebobrokan yang membuat Indonesia menjadi macan ompong.seperti pejabat korup, aparat yang menjadi beking transakasi ilegal dan Lain-lain. Sehingga satu-satunya cara untuk memperbaiki Indonesia adalah membawa Indonesia keluar dari zona nyamannya.Presiden harus membenahi para pejabat dan anak buahnya dengan peningkatan kesejahteraan,Reward dan Punishment, menghukum setinggi-tingginya pejabat dan aparat pemerintah yang menjadi beking dengan perampasan kekayaan dan hukuman mati, memperbaiki supply chain, Penambahan pelabuhan kapal besar,melarang penjualan tanah pertanian untuk perumahan dan industri dan lain-lain

 Leave a Reply